<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605</id><updated>2012-01-04T07:23:56.843-08:00</updated><category term='Setengah Baya'/><category term='Tukar Pasangan'/><category term='Sedarah'/><category term='Pesta Sex'/><category term='Sesama Wanita'/><category term='Tante'/><category term='Daun Muda'/><category term='Swinger'/><title type='text'>SWINGER PARTNER</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-1464683955775510891</id><published>2010-06-25T09:56:00.000-07:00</published><updated>2010-06-25T09:57:05.834-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Swinger'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Aku Istri yang Nakal</title><content type='html'>&lt;p&gt;Usia perkawinan kami menjelang 10 tahun, untuk menghindari kejenuhan biasanya kami refreshing dengan menginap di ubud. Anak anak ditinggal di Surabaya karena mereka juga sudah cukup besar. 2-3 hari suami cuti sudah cukup mencharge ulang hubungan percintaan kami.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kali ini kami berdua kembali menginap di ubud bali. Kamar yang kami dapat sungguh luar biasa karena berada di puncak bukit dengan kaca yang terbuka di sekeliling kamar. Pemandangan yang luar biasa terhampar di depan mata. Bercinta di tempat seperti ini sungguh menggairahkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Belum lagi acara di malam hari yang diadakan oleh pihak hotel, sungguh menarik, dimulai dari pementasan tari bali yang indah, acara makan malam yang romantic dan diakhiri dengan melepaskan kepenatan di diskotik yang mulai dibuka pukul 10 malam sampai pagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;. Sengaja aku memakai pakaian yang mengundang, rok mini sexy yang melekat erat di tubuhku dengan belahan dada yang sangat terbuka menyembulkan buah dadaku yang montok. Suamiku tidak keberatan bahkan menikmati ketika para mata lelaki melihatku dengan pandangan nafsu. “Rin..lihat cowok di ujung itu, matanya tidak lepas dari tubuhmu…heheheh” Suamiku berbisik sambil senyum senyum bangga. “mas nggak cemburu, Rini dilihat sama cowok cowok itu…”bisikku sambil memeluk pinggangnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“hmmmm…rasa bangganya memiliki kamu mengalahkan cemburuku…sayang…eh coba Rin mereka kamu goda…ajak kenalan gitu…aku pengen tahu sejauh mana keberanian mereka.” Suamiku mencoba bermain api.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Eh…jangan mas..!” Bisikku “ Kalo kebablasan gimana hayo…”&lt;br /&gt;“hahahaha nggak papa sekali kali ngedate ama cowok lain gak papa asal nggak keterusan…” Suamiku tersenyum senyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku sempat berkenalan dengan beberapa pemuda menarik, mereka ganteng ganteng juga. Andi, Budi, …hmmm cowok cowok brondong yang menggairahkan. Suasana yang mulai menghangat membuatku berpikir untuk mencoba sedikit nakal. Dari dulu aku mempunyai fantasi threesome atau gang bang…mungkin tidak ada salahnya dicoba, mumpung suamiku sedikit memberi keleluasaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan sepertinya sangat menggairahkan, bercinta dengan orang lain disaat suami ada di dekat kita. Hmmm tapi bagaimana caranya..?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku biarkan suasana mengalir , lebih panas, lebih menggairahkan, dan mereka mulai berani memelukku. Bahkan Andi sempat meremas payudaraku. Kucari suamiku ternyata dia mabuk di pojok. Aku lebih berani untuk mengundang mereka dan mengutarakan keinginanku dan ternyata mereka antusias sekali, tentu saja…bercinta gratis dengan istri orang..masih sexy lagi…hm..hmmm.hmm..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cuma aku harus berpikir bagaimana caranya agar suamiku tidak tahu…timbul ide bagus di benakku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rin…dimana kamu ingin making love ? suamimu kan menempel kamu terus tuh..” Bisik Andi. “Tenang…gw bisa kasih obat tidur..kita nanti main di sampingnya…ok ? “ Kataku tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Hoho..kamu nakal sekali Rin…ML disamping suami…? ” Tawa Andi.&lt;br /&gt;Seperti yang sudah aku rencanakan, suamiku ketika masuk kamar sudah dalam keadaan mabuk, aku beri sedikit dosis rendah obat tidur di minumannya, membuatnya terlelap dengan cepat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rencana nakalku berhasil, dengan cepat aku buka pintu kamar hotel dimana Andi sudah menunggu. “ Rin…aku ajak Budi ya…supaya lebih seru..gimana” Tanya Andi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hmmm aku sungguh tidak keberatan, karena seperti yang sudah aku jelaskan bahwa threesome salah satu fantasi liarku. Aku mempunyai fantasi seks yang cukup liar dimulai dari threesome dan bondage. Memang belum ada salah satupun fantasi yang terealisasi tapi aku sudah memutuskan di bali ini semua harus terlaksana, terutama bondage…entah terkadang aku menikmati kalau suamiku bercinta dengan sedikit kasar, sedikit ganas…sungguh berbeda…entah..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum menutup pintu Andi sudah memelukku erat dan meremas pantatku. “ hmmmm sekel banget pantatmu Rin…kamu sexy sekali. “ Bisik Andi sambil melumat bibirku. Sementara Budi hanya tersenyum sambil melepas kemejanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku memang menyukai sex singkat. Session pertama harus cepat, session kedua baru santai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rin bener neeeh suamimu gak bangun…hehehe asyik banget dong bercinta di samping suami yang ketiduran…bisa aja idemu…lebih merangsang ya Rin ? “ Tanya Rudi, kini tubuhnya sudah sepenuhnya bugil , terlihat batangnya yang sungguh menarik. Tidak terlalu panjang tapi diameternya mantap, yang penting beda dengan milik suamiku. Ukuran tidak terlalu penting.&lt;br /&gt;Tangan Andi sudah menyelusup ke balik bra ku dan meremas lembut, sementara Budi sibuk menciumi paha…hmmm geli geli enak…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Andi menghempaskan tubuhku di samping suamiku yang tertidur nyenyak, dengan cepat melumat buah dada kiriku yang kini terbuka lebar. Budi tidak mau kalah dengan merebahkan badannya di samping kanan tepat di sebelah suamiku, juga sibuk melumat buah dada kananku. Wow..wow.wow sungguh menggetarkan, dadaku bergemuruh mendapatkan perlakuan seperti ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“ Rin…jantungmu kok keras banget berdetaknya….gue jadi ngeri “ Bisik Budi sambil sibuk menggigit gigit telingaku. “ hei guys….gue belum pernah tidur sama cowok lain…langsung threesome lagi !…kalian beruntung banget…ngerti nggak…”protesku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Baru pertama kali !? “ Budi terkaget kaget, Andi sampai harus melepas kuluman bibirnya dari putting dadaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Huuussss…ngapain dilepas..”tanganku menarik kepala Andi dan membenamkannya kembali ke payudaraku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sambil tersenyum nakal, lidah Budi menari nari dari perut ke bawah dan makin ke bawah. “ Tenang Rin…kamu bakal puas dan nggak akan melupakan pengalaman pertamamu…ok ?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Gilaaaa jilatan Budi lebih canggih dari suamiku. Nafasku mulai tersengal sengal. Aku sungguh tidak menduga kalau kenikmatannya melebihi ekspetasiku.&lt;br /&gt;Tiba tiba aku merasa benda tumpul menyelusup penuh ke miss V ku…ups enaaakk..tapi…” Bud !! pake kondom !! gue gak mau tanpa kondom ! ok ? tarik lagi..! jangan merusak mood ku..”kataku tegas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sorry…sorry Rin…ok ambil dulu. “Sambil berjingkat Budi mengambil kondom di saku celana jeansnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kalo gitu gue dulu..hehe” Andi yang memasang kondomnya dengan buru buru segera memposisikan batangnya ke hadapan miss V ku, dan dengan tidak menunggu lama segera menghunjamkan dalam dalam…uuuffff.. sekali lagi nikmat.!!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Budi yang tidak jadi mengambil kondomnya segera mengarahkan batangnya ke mulutku. Ahhh threesome memang nikmat….Andi mengocok lebih cepat kali ini, , kulirik suamiku yang meskipun tempat tidur berguncang keras, dia sama sekali tidak terganggu. Memang bercinta di depan suami yang tertidur memberi sensasi yang berbeda. Getaran yang lain dari yang lain, antara takut ketahuan, kenikmatan tiada tara bercampur menjadi satu…hehe gue nakal banget ya…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Gantian dong…”rintihku, aku ingin disetubuhi bergantian kali ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Gimana Rin?…nikmat Rin?… enak Rin?…ahhhh kamu sexy sekali… kamu nakal sekali “ Kata Andy sambil menepuk keras pantatku. Batangnya makin kencang menghajar miss V ku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“ Tepuk lagi dooong…please…yang agak keras…ahhh!” Rintihku.&lt;br /&gt;“Lebih keras !! Andi..please ….gigit punggungku…please ahhhh…”Teriakku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Plak ! tiba tiba Budi menampar pelan pipiku, tangannya segera menjambak rambutku dan menariknya ke atas. Kepalaku yang mendongak ke atas membuat mulutku terbuka lebar, dengan cepat Budi mengisinya dengan batang mantapnya. Ufffff…gue sampe kesedak tapi nikmat…batang Budi tidak panjang tapi diameternya 1,5 kali milik suamiku. Aku lebih suka yang begini, kalau terlalu panjang malah nggak nyaman karena terlalu mentok. Hmmm…baunya khas…beda dengan milik suamiku. Sengaja aku gigit gigit karena gemas. Gila…ada juga batang yang sexy kaya begini. Nggak bosan aku menjilatinya. Kocokanku dan lumatan bibirku membuat keluar cairan bening di ujung batangnya….hmm mulai terangsang neeehh..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sepertinya kamu suka bondage Rin…gimana kali kita coba juga ok ? mau ?” Tanpa menunggu jawabanku Andi sibuk merobek robek gaun tipisku menjadi tali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kalo nikmat begini kenapa harus menolak “ Terserah kalian …yang penting gue pengen puas malem ini…! Ayo…Bud..jangan berhenti please…!” Teriakku histeris saking nikmatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ayo Rin aku ikat tanganmu ya…jangan kuatir nggak terlalu keras kok…pengen posisi nungging atau gimana ?….”Tanya Andi mengikat lembut tanganku ke besi tempat tidur, lidahnya menari nari kadang di leherku, buah dadaku membuatku kegelian.” Nungging please Bud..please…masukkan dalam dalam ya…janji lho….yang keras pokoknya…siksa aku please perkosa aku please….ayoooo..”.Rintihku&lt;br /&gt;Posisiku benar benar menggairahkan. Menungging dengan kedua kaki dan tangan terikat di tempat tidur, sementara suamiku menggeletak tertidur dengan nyenyak. Bisa kalian bayangkan…sexy bukan ?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Andi benar benar tidak membuang waktu, posisi yang menungging membuat batangnya menghunjam penuh dalam dalam. Kedua tangannya dengan keras menarik pinggangku agar batangnya masuk seluruhnya. Deritan tempat tidur besi membuat suasana lebih menggairahkan. Badanku terasa bergetar hebat…menjelang orgasme…uhhhh…kedua pahaku terasa kaku. Aku pejamkan mataku, sementara Andi makin mempercepat hentakannya. “Ahhhh !!! aahhh!! Andi ternyata ejakulasi terlebih dahulu. Batangnya terasa berdenyut denyut. “Gantian cepet…aku belum nyampe…cepet! Teriakku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sigap sekali Budi mengganti posisi Andi, karena tahu aku menjelang orgasme, Budi tidak mengurangi ritme hentakan yang sudah dibangun oleh Andi. Luar biasa nikmat sekali. Mataku terasa gelap…ohhhhhhh aku …aku orgasmeeee..!!! denyutan vaginaku bertambah cepat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiba tiba suami mengerang pelan disebelahku ! kami terdiam terpaku….ups !! mungkin suamiku terganggu gara gara tempat tidur terlalu bergoyang keras. Aku gosok gosok pelan punggungnya agar tertidur lagi…hihihi gue bener bener nakal ya. Budi tersenyum senyum sambil mengocok pelan batangnya di vaginaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Agar aman, Budi menurunkan ritmenya, kali ini dia ingin menikmati persetubuhan ini. Sementara tubuhku lemas sekali, tetapi karena kondisi terikat tubuhku tidak bisa bergerak leluasa. Tiba tiba terasa batang Andi mengganti posisi batang Budi…uhhhh kok lebih enak ya… Mataku masih terpejam menikmati. “Kok kamu lagi sih An…Budi kan belum keluar…kasihan dong” Kataku pelan.&lt;br /&gt;Tidak sampai 5 menit, Andi sudah mengerang keras hmmm sudah dua kali dia ejakulasi. Aku masih memjamkan mata menikmati. Budi kembali menghunjamkan batangnya tetapi kali ini tangannya meremas rambutku..uhhhh ..”hmmm batang kalian kok lebih enak sihh…kok lain…? Bisikku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penasaran aku buka mataku menoleh ke belakang..hah !! Ada beberapa laki laki lain masuk kedalam kamarku ?! Mereka semua sibuk mengocok batangnya masing masing “Andiii! Apa apan ini !!..Teriakku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tenang …tenang..Rin…kenalkan ini Robert..”Kata Andi sambil menunjuk laki laki yang tengah menyetubuhiku dari belakang. “Dan yang sebelumnya tadi, kenalkan Doni…”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kami ber enam sekarang, kamu nggak keberatan kan dipuaskan oleh 6 laki laki ? Fantasimu bakal terpenuhi Rin”…Kata Andi kalem..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Aaaaah jangan begitu dong…gue ngeri…aduuuhhh gimana sih….”Aku mulai panik. NGeri juga kalo digilir banyak cowok begini meski aku pernah berfantasi gila gilaan digilir puluhan cowok. Tapi apa harus malam ini…rasanya aku belum siap…Dan lagi kalo suamiku tiba tiba bangun terus melihat aku lagi disetubuhi habis habisan gimana hayo….aduhhh tapi batang Robert yang mengaduk aduk vaginaku sungguh enak..Aku kembali meracau “ lebih cepaaaat…lebih cepat….uhhhh…ayooo…” Robert mengayun pinggangnya lebih kuat membuat pantatku berbunyi keras kena hempasan pahanya. Robert cepat mengerang, dan didalam vaginaku terasa ada cairan mengalir…kurang ajar ! rupanya mereka tidak memakai kondom.&lt;br /&gt;“Hei ! pakai kondomnya dong..! eh kok kalian tambah banyak ?“ Aku protes berat karena kuatir juga kalo mereka nggak bersih dan mengapa sekarang ada 15 cowok ?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rin kalo pake kondom dengan 15 cowok begini kamu bakal lecet, mending tanpa kondom deh, aku jamin temen temen bersih kok. Mereka semua masih perjaka loh…bayangin kamu merawanin 13 perjaka…asyik kan ? Andi sibuk promosi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“nggak mau ! Andi please jangan dong…jangan masukin sperma kalian ke tubuhku……pake kondom dong please…pokoknya jangan masukkan sperma kalian…please”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rin…mereka kan masih perjaka…dijamin gak sampe 5 menit semburatlah…ok ? tapi oklah kita semua pake kondom….ok guys !! setuju !! kata Andi ke mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanpa menunggu jawabanku lagi, mereka langsung menggilirku habis habisan. Aku hanya bisa pasrah nikmat ketika batang batang mereka bergantian menyetubuhiku. Memang benar rata rata Cuma 3 menit…tapi masalahnya mereka tidak berhenti di ronde pertama, istirahat 5 menit sudah recovery lagi, artinya masing masing cowok rata rata 3 kali menyetubuhiku… sama saja, rasanya bibir vaginaku menebal. Tapi terus terang saja aku mengalami multi orgasme.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku benar benar kelelahan ketika Andi mencoba memasukkan batangnya ke anusku. “Andi please jangan dong…gue belum pernah…” rengekku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi Andi tidak menghentikan usahanya. Gila anak ini…” Please jangan dong..”rengekku lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Hmmm..Rin kamu bilang tadi pengen coba bondage…nanggung dong kalo Cuma begitu aja, gue masukin ya…pokoknya gue masukin deh..loe nangis gue nggak perduli, pokoknya kita semua menikmati tubuhmu sepuas puasnya…bukankah itu yang kamu minta Rin ? “Kata Andi mulai kasar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Andi mulai menekan batangnya ke anusku…duuuhhh perih banget ! Sementara Robert, Doni, Agung dan cowok cowok lain mengocok batangnya di wajahku sambil sesekali memukulkannya ke wajahku. Agung bahkan memaksa aku melumat batangnya. sementara batang Andi mulai masuk makin dalam…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“jangan keluarkan sperma kalian di wajahku ok ? gue nggak mau…ok ? Pintaku memelas…Aku memang menikmati digilir tapi tidak untuk merasakan sperma mereka, bagiku hanya sperma suamiku yang boleh masuk ke dalam tubuhku. Tadi aku kecolongan si Robert, kurang ajar banget..!!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ayo Rin ! nikmati ! ini yang kamu minta bukan ?! “ Andi mulai menggoyangkan batangnya perlahan. Aku belum pernah anal, dan memang ternyata cukup menyakitkan. Tetapi karena sudah terlanjur basah aku harus bisa menikmatinya. Ahhh ternyata masuk depan belakang ini memang nikmat…gila nikmat banget.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rin sekarang teman teman ingin mengisi vaginamu dengan sperma mereka bagaimana ….mau kan…? “ Tanya Andi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Jangan Di…gue udah bilang jangan…udah nikmati aja…kenapa sih harus masukin sperma kalian…becek..nggak enak…” Rengekku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Hmmmm, tapi kamu tidak ada pilihan lain bukan kalau kami paksa….”Senyum culas Andi mengembang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ayolah Rin….Cuma 15 cowok kok….udah gini aja, mereka nggak usah coitus lagi, tadi kan udah..kali ini cuma onani didepan vaginamu, trus vagina elo gue buka lebar lebar agar sperma mereka masuk semua…ok ? Mereka penasaran neeeh …sperma 15 cowok muat nggak ke dalam satu vagina… ok ya Rin…” Rayu Andi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Duuuhhh Di..please gue nggak bisa nikmatin…dan lagi sprei jadi basah semua dong…kalo suami gue bangun gimana dong lihat sperma berceceran…ayolah plesase bukain ikatan gue ya…udah puas semua kan ? Dan lagi suami gue bentar lagi bangun, gue gak sempat bersih bersih dong “ Gue kuatir juga kalo mereka melaksanakan aksinya. Terus terang gak siap deh kalo vagina gue di isi sprema mereka…gila apa !&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi dasar mereka cowok bandel, tangan tangan mereka sudah sibuk mengocok masing masing batangnya. Arrrghhh !! gue bener bener sebel …hhhh tangan dan kaki gue bener bener terikat, mati kutu sama sekali tidak bisa bergerak. Sementara Jemari Andi sibuk mengobok obok vaginaku…aduh..diapain sih punya gue…!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Budi mulai mendekatkan batangnya ke vaginaku dan….ahhh kurang ajar…! Spermanya disemprotkan keras keras, tentu saja langsung masuk karena bibir vaginaku dibuka lebar oleh jari jari Andi..&lt;br /&gt;Doni mengikuti dari belakang…diikuti Rudi, Robert, Syuman dan aaahhh…sungguh kurang ajar mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Rin…coba lihat…terisi penuh kan…semua bisa masuk lohhh…” Andi tersenyum senyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Di…coba gue masukin batang gue…luber nggak hahahaha “ Robert segera menghunjamkan batangnya, tentu saja sprema di dalamnya muncrat keluar kena tekanan dari luar…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ok ..Rin gimana kalo kamu kami biarkan terikat begini…surprise untuk suamimu…ok ? hehehe”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Andi..jangan dong please…lepasin dong ikatan gue…please..” Aku mulai panik.&lt;br /&gt;“Nggak mau…biar suamimu tahu kalo kamu nakal…ok ? kami pergi thanks honey….” Andi menepuk nepuk pipiku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Arggghhh bang**t..!! Andi !! lepasin gue dong…gue teriak neeeh !!!” Ancam ku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ups !!! kalo gitu mulut kamu perlu ditutup sayang…”Tangan andi mengambil sobekan kain bajuku untuk menyumpal mulutku…ahhhh kurang ajar !!!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka menutup pintu dan membiarkan aku terikat, aduhhh bagaimana kalau suamiku bangun nanti…!! Aduhhh gimana alasanku nanti ? …mataku jadi gelap…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bonus Pic:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://dot.ngalih.com/c8Fkf" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img255.imagevenue.com/loc529/th_94430_u11_123_529lo.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://dot.ngalih.com/EqKhE" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img135.imagevenue.com/loc566/th_94431_u12_123_566lo.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://dot.ngalih.com/ejh9p" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img238.imagevenue.com/loc426/th_94432_u13_123_426lo.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-1464683955775510891?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/1464683955775510891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/aku-istri-yang-nakal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/1464683955775510891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/1464683955775510891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/aku-istri-yang-nakal.html' title='Aku Istri yang Nakal'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-1469043598193437985</id><published>2010-06-25T09:51:00.000-07:00</published><updated>2010-06-25T09:53:52.565-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Gejolak Napsu Terpendam</title><content type='html'>&lt;p&gt;Ini adalah pengalamanku yang kesekian kalinya bersetubuh dengan wanita setengah baya. Kejadiannya pada saat kenaikkan kelas, aku mendapat liburan satu bulan dari sekolah. Untuk mengisi waktu liburanku, aku mengiyakan ajakan Mas Iwan sopir Pak RT tetanggaku untuk berlibur dikampungnya. Disebuah desa di Jawa Barat. Katanya, sekalian mau nengok istrinya. Aku tertarik omongan Mas Iwan bahwa gadis-gadis di kampungnya &lt;a href="http://ceritadewasa.17tahun.us/" target="_blank"&gt;cantik-cantik&lt;/a&gt; dan mulus-mulus. Aku ingin buktikan omongannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan mobil pinjaman dari ayahku, kami berangkat ke sana. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sekitar jam 17.00 WIB kami tiba di kampungnya. Rumah Mas Iwan berada cukup jauh dari rumah tetangganya. Rumahnya cukup bagus, untuk ukuran di kampung, bentuknya memanjang.&lt;br /&gt;di rumah Mas Iwan kami disambut oleh Mbak Irma, istrinya dan Tante Sari mertuanya. Ternyata Mbak Irma, istri Mas Iwan, seorang perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih bersih dan bodynya sangat sexy. Sedangkan Tante Sari tak kalah cantiknya dengan Mbak Irma. Meskipun sudah berumur empat puluhan, kecantikannya belum pudar. Bodynya tak kalah dengan gadis remaja. Oh ya, Tante Sari bukanlah ibu kandung Mbak Irma. &lt;a href="http://bit.ly/2b0LCi" target="_blank"&gt;Tante Sari&lt;/a&gt; kawin dengan Bapak Mbak Irma, setelah ibu kandung Mbak Irma meninggal. Tapi setelah lima tahun menikah, bapak Mbak Irma yang meninggal, karena sakit. Jadi sudah sepuluh tahun Tante Sari menjanda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekitar jam 20.00 WIB, Mas Iwan mengajakku makan malam ditemani Mbak Irma dan Tante Sari. Sambil makan kami ngobrol diselingi gelak tawa. Walaupun kami baru kenal, tapi karena keramahan mereka kami serasa sudah lama kenal. Selesai makan malam Mas Iwan dan Mbak Irma permisi mau tidur. Mungkin mereka sudah tak sabar melepaskan hasrat yang sudah lama tak tersalurkan. Tinggal aku dan Tante Sari yang melanjutkan obrolan. Tante Sari mengajakku pindah ke ruang tamu. Pas di depan kamar Mas Iwan.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;Saat itu Tante Sari hanya mengenakan baju tidur transparan tanpa lengan. Hingga samar-samar aku dapat melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang sexy. Tante Sari duduk seenaknya hingga gaunnya sedikit tersingkap. Aku yang duduk dihadapannya dapat melihat paha mulusnya, membangkitkan nafsu birahiku. Penisku menegang dari balik celanaku. Tante Sari membiarkan saja aku memelototi paha mulusnya. Bahkan dia semakin lebar saja membuka pahanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semakin malam obrolan kami semakin hangat. Tante Sari menceritakan, semenjak suaminya meninggal, dia merasa sangat kesepian. Dan aku semakin bernafsu mendengar ceritanya, bahwa untuk menyalurkan hasrat birahinya, dia melakukan onani. Kata-katanya semakin memancing nafsu birahiku. Aku tak tahan, nafsu birahiku minta dituntaskan. Akupun pergi kekamar mandi. Sampai di kamar mandi, kukeluarkan penisku dari balik celanaku. Kukocok-kocok sekitar lima belas menit. Dan crot! crot! crot! Spermaku muncrat kelantai kamar mandi. Lega sekali rasanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah menuntaskan hasratku, aku balik lagi ke ruang tamu. Alangkah terkejutnya aku. Disana di depan jendela kamar Mas Iwan yang kordennya sedikit terbuka kulihat Tante Sari sedang mengintip ke dalam kamar, Mas Iwan yang sedang bersetubuh dengan istrinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nafas Tante Sari naik turun, tangannya sedang meraba-raba buah dadanya. Nafsu birahiku yang tadi telah kutuntaskan kini bangkit lagi melihat pemandangan di depanku. Tanpa berpikir panjang, kudekap tubuh Tante Sari dari belakang, hingga penisku yang sudah menegang menempel hangat pada pantatnya, hanya dibatasi celanaku dan gaun tidurnya. Tanganku mendekap erat pinggang rampingnya. Dia hanya menoleh sekilas, kemudian tersenyum padaku. Merasa mendapat persetujuan, aku semakin berani. Kupindahkan tanganku dan kususupkan kebalik celana dalamnya. Kuraba-raba bibir vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Don.. Enakk,” desahnya, ketika kumasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya yang telah basah. Setelah puas memainkan jari-jariku dilubang vaginanya, kulepaskan dekapan dari tubuhnya. Kemudian aku berjongkok di belakangnya. Kusingkapkan gaun tidurnya dan kutarik celana dalamnya hingga terlepas. Kudekatkan wajahku ke lubang vaginanya. Kusibakkan bibir vaginanya lalu kujulurkan lidahku dan mulai menjilati lubang vaginanya dari belakang, sambil kuremas-remas pantatnya. Tante Sari membuka kedua pahanya menerima jilatan lidahku. Inilah vagina terindah yang pernah kurasakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Oohh.. Don.. Nik.. mat,” suara Tante Sari tertahan merasakan nikmat ketika lidahku mencucuk-cucuk kelentitnya. Dan kusedot-sedot bibir vaginanya yang merah.&lt;br /&gt;“Ohh.. Don.. Luarr.. Biasaa.. Enakk.. Sedott.. terus,” pekiknya semakin keras.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cairan kelamin mulai mengalir dari vagina Tante Sari. Hampir setiap jengkal vaginanya kujilati tanpa tersisa. Tante Sari menarik vaginanya dari bibirku, kemudian membalikkan tubuhnya sambil memintaku berdiri. Dia mendorong tubuhku ke dinding. Dengan cekatan ditariknya celanaku hingga terlepas, maka penisku yang sudah tegang, mengacung tegak dengan bebasnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Luar biaassaa.. Don.. Besar sekali,” serunya kagum.&lt;br /&gt;“Isepp.. Tante, jangan dipandang aja,” pintaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tante Sari mengabulkan permintaanku. Sambil melepaskan gaun tidurnya, dia lalu berjongkok dihadapanku. Wajahnya pas di depan selangkanganku. Tangan kirinya mulai mengusap-usap dan meremas-remas buah pelirku. Sedangkan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku dengan irama pelan tapi pasti. Mulutnya didekatkan kepenisku dan dia mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku. Aku meringis merasakan geli yang membuat batang penisku semakin tegang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Akhh.. Tan.. Te.. Nikk.. matt,” seruku tertahan, ketika Tante Sari mulai memasukkan penisku kemulutnya. Mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang besar dan panjang. penisku keluar masuk di mulutnya. Tante Sari sungguh lihai memainkan lidahnya. Aku dibuatnya seolah-olah terbang keawang-awang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tante Sari melepaskan penisku dari kulumannya setelah sekitar lima belas menit. Kemudian dia memintaku duduk dilantai. Dia lalu naik kepangkuanku dengan posisi berhadapan. Diraihnya batang penisku, dituntunnya ke lubang vaginanya. Perlahan-lahan dia mulai menurunkan pantatnya. Kurasakan kepala penisku mulai memasuki lubang yang sempit. Penisku serasa dijepit dan dipijit-pijit. Mungkin karena sudah sepuluh tahun tidak pernah terjamah laki-laki. Meski agak susah, akhirnya amblas juga seluruh batang penisku ke dalam lubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tante Sari mulai menaik-turunkan pantatnya, dengan irama pelan. Diiringi desahan-desahan lembut penuh birahi. Sesekali dia memutar-mutar pantatnya, penisku serasa diaduk-aduk dilubang vaginanya. Aku tak mau kalah, kuimbangi gerakkannya dengan menyodok-nyodokkan pantatku ke atas. Seirama gerakkan pantatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oh, senangnya melihat penisku sedang keluar masuk vaginanya. Bibirku menjilati buah dadanya secara bergantian, sedangkan tanganku mendekap erat pinggangnya. Semakin lama semakin cepat Tante Sari menaik turunkan pantatnya. Nafasnya tersengal-sengal. Dan kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin keras.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Don.. Aku.. Mau.. Keluarr,” pekiknya.&lt;br /&gt;“Tahan.. Tan.. Te.. Akuu.. Belumm.. Mauu,”sahutku.&lt;br /&gt;“Akuu.. Tak.. Tahann.. Sayang,” teriaknya keras.&lt;br /&gt;Tangannya mencengkeram keras punggungku.&lt;br /&gt;“Akuu.. Ke.. Ke.. Luarr.. Sayangg,” jeritnya panjang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tante Sari tak dapat menahan orgasmenya, dari vaginanya mengalir cairan yang membasahi seluruh dinding vaginanya. Tante sari turun dari pangkuanku lalu merebahkan tubuhnya dipangkuan. Kepalanya berada pas diselangkanganku. Tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Dan mulutnya mengulum kepala penisku dengan lahapnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perlakuannya pada penisku membuat penisku berkedut-kedut. Seakan-akan ada yang mendesak dari dalam mau keluar. Dan kurasakan orgasmeku sudah dekat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkanganku. Hingga penisku semakin dalam masuk kemulutnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Akhh.. Tante.. Akuu.. Mau keluarr,” teriakku.&lt;br /&gt;“Keluarin.. Dimulutku sayang,” sahutnya.&lt;br /&gt;Tante sari semakin cepat mengocok dan mengulum batang penisku. Diiringi jeritan panjang, spermaku muncrat ke dalam mulutnya.&lt;br /&gt;“Ohh.. Kamu.. Hebatt.. Don, aku puas,” pujinya, tersenyum ke arahku. Tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati dan menelan sisa-sisa spermaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suara ranjang berderit di dalam kamar, membuat kami bergegas memakai pakaian dan pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Kemudian masuk ke kamar Masing-masing. Beberapa menit kemudian kudengar langkah kaki Mbak Irma ke kamar mandi. Dari balik jendela kamarku dapat kulihat Mbak Irma hanya mengenakan handuk yang yang dililitkan ditubuhnya. Memperlihatkan paha mulus dan tubuh sexynya. Membuatku mengkhayal, alangkah senangnya bisa bersetubuh dengan Mbak Irma.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekitar jam 02.00 dinihari, aku terbangun ketika kurasakan ada yang bergerak-gerak di selangkanganku. Rupanya Tante Sari sedang asyik mengelus-elus buah pelirku dan menjilati batang penisku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Akhh.. terus.. Tante.. terus,” gumanku tanpa sadar, ketika dia mulai mengulum batang penisku. Dengan rakus dia melahap penisku. Sekitar sepuluh menit berlalu kutarik penisku dari mulutnya. Kusuruh dia menungging, dari belakang kujilati lubang vaginanya, bergantian dengan lubang anusnya. Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya yang basah dan memerah. Sedikit demi sedikit penisku memasuki lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam, hingga seluruh batang penisku amblas tertelan lubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku mulai memaju mundurkan pantatku, hingga penisku keluar masuk lubang vaginanya. Sambil kuremas-remas pantatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ooh.. Don.. Nikk.. Matt.. Bangett,” rintihnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku semakin bernafsu memaju mundurkan pantatku. Tante sari mengimbangi gerakkanku dengan memaju mundurkan juga pantatnya, seirama gerakkan pantatku. Membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Semakin lama semakin cepat gerakkan pantatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Don.. Donnii.. Akuu.. Tak.. Tahann,” jeritnya.&lt;br /&gt;“Akuu.. Mauu.. Ke.. Keluarr,” imbuhnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan menjepit penisku. Tangannya mencengkeram dengan keras diranjang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ooh.. Oo.. Aku.. Keluarr,” lolongnya panjang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan kurasakan ada cairan yang merembes membasahi dinding-dinding vaginanya. Tante Sari terlalu cepat orgasme, sedangkan aku belum apa-apa. Aku tak mau rugi, aku harus puas, pikirku. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kuarahkan ke lubang anusnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Akhh.. Donn.. Jangann.. Sakitt,” teriaknya, ketika kepala penisku mulai memasuki lubang anusnya. Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku lebih keras hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Dan kurasakan nikmatnya jepitan lubang anusnya yang sempit. Perlahan-lahan aku mulai menarik dan mendorong pantatku, sambil memasukkan jari-jariku ke lubang vaginanya. Tante sari menjerit-jerit merasakan nikmat dikedua lubang bawahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Enak khan Tante?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Hemm.. Enakk.. Banget.. Sayang,” sahutnya sedikit tersipu malu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semakin lama semakin cepat kusodok lubang anusnya. Sambil kutepuk-tepuk pantatnya. Kurasakan penisku berkedut-kedut ketika orgasmeku akan tiba dan crott! crott! crott! Kutumpahkan spermaku dilubang anusnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Penismu yang pertama sayang, memasuki lubang anusku,” katanya sambil membalikkan tubuhnya dan tersenyum padaku.&lt;br /&gt;“Kamu luar biasa Don, belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti ini,” imbuhnya.&lt;br /&gt;“Tante mau khan, setiap malam kusetubuhi?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Siapa yang menolak diajak enak,” sahutnya seenaknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejak saat itu, hampir setiap malam kusetubuhi Tante sari. Ibu tiri Mbak Irma yang haus sex, yang hampir sepuluh tahun tidak dinikmatinya, sejak kematian suaminya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak terasa sudah lima hari aku berada di rumah Mas Iwan. Selama lima hari pula aku menikmati tubuh Tante Sari, mertuanya yang haus sex. Tante Sari yang sepuluh tahun menjanda, betul-betul puas dan ketagihan bersetubuh denganku. Meski telah berusia setengah baya, tapi nafsu birahinya masih meletup-letup, tak kalah dengan gadis remaja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sore itu, sehabis mandi dan berpakaian, Mas Iwan mengajakku jalan-jalan. Katanya mau ketemu seorang teman yang sudah lama dirindukannya. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, sampailah kami di rumah teman Mas Iwan. Sebuah rumah yang berada dikawasan yang cukup elite. Kedatangan kami disambut dua orang wanita kakak beradik, Mbak Rina dan Mbak Vira. Keduanya sama-sama cantik dan sexy. Mas Iwan memperkenalkanku pada kedua teman wanitanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Mas Iwan, aku kangen banget,” katanya sambil memeluk Mas Iwan.&lt;br /&gt;“Aku juga Rin,” sahut Mas Iwan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sambil meminum kopi susu yang disuguhkan Mbak Rina, kami bercakap-cakap. Mbak Rina duduk dipangkuan Mas Iwan. Dan Mas Iwan merangkulnya dengan mesra. Mbak Rina tanpa malu-malu menceritakan, kalau Mas Iwan adalah pacar pertamanya dan Mas Iwanlah yang membobol perawannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mbak Vira hanya tersenyum mendengar cerita kakaknya yang blak-blakan. Makin lama kelakuan Mbak Rina makin mesra saja. Tanpa malu-malu, dia mengecup dan melumat bibir Mas Iwan dan Mas Iwan menyambutnya dengan sangat bernafsu. Aku jadi risih menyaksikan kelakuan mereka. Sekitar sepuluh menit mereka bercumbu di depan kami.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kita lanjutin di kamar aja say,” kata Mbak Rina pada Mas Iwan. Mas Iwan mengangguk tanda setuju, sambil membopong tubuh Mbak Rina ke dalam kamar.&lt;br /&gt;“Kalian jangan ngintip ya,” kata Mas Iwan pada kami sambil tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku dan Mbak Vira hanya bengong melihat kemesraan mereka. Tanpa menghiraukan larangan Mas Iwan, Mbak Vira beranjak dari tempat duduknya sambil meraih tanganku menuju kamar Mbak Rina. Kami kemudian berdiri di depan pintu kamar Mbak Rina yang terbuka lebar. Dari situ aku dan Mbak Vira melihat Mas Iwan merebahkan tubuh Mbak Rina diatas ranjang dan mulai melepaskan gaun Mbak Rina. Aku terkesima melihat mulusnya dan sexynya tubuh Mbak Rina, ketika seluruh pakaiannya dibuka Mas Iwan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nafsu birahiku tak tertahankan lagi, penisku menegang dibalik celanaku. Tanpa sadar kupeluk tubuh Mbak Vira yang berdiri di depanku. Mbak Vira diam saja dan membiarkanku memeluknya. Malah tangan dibawa ke belakang dan disusupkan ke balik celanaku. Mendapat perlakuan seperti itu, nafsuku semakin memuncak dan penisku semakin menegang. Apalagi saat Mbak Vira menggerak-gerakkan tangannya mengocok-ngocok batang penisku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara di dalam kamar, Mas Iwan menarik tubuh Mbak Rina ketepi Ranjang. Kedua paha Mbak Rina dibukanya lebar-lebar. Maka terpampanglah vagina Mbak Rina yang indah, dihiasi bulu-bulu yang dicukur rapi. Mas Iwan kemudian berjongkok dan mendekatkan mulutnya kebibir vagina Mbak Rina.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Say.. Yang.. Nikk.. Mat,” desah Mbak Rina tertahan, ketika Mas Iwan mulai menjilati vaginanya. Lidah Mas Iwan menari-nari dan mencucuk-cucuk vagina Mbak Rina. Pantat Mbak Rina terangkat-angkat menyambut jilatan Mas Iwan. Kedua pahanya terangkat dan menjepit kepala Mas Iwan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Sudah.. Say.. Aku.. nggak tahan.. Masukin punyamu say,” pinta Mbak Rina penuh nafsu. Mas Iwan kemudian berdiri dan melepaskan semua pakaiannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan sedikit membungkukkan badannya, Mas Iwan memegang penisnya dan mengarahkannya ke lubang vagina Mbak Rina yang telah basah dan merah merekah. Slepp! Kepala penis Mas Iwan mulai memasuki vagina Mbak Rina.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Aow.. terus.. Say.. terus.. Genjot,” seru Mbak Rina, ketika Mas Iwan mulai mendorong pantatnya naik turun. Penisnya keluar masuk dari vagina Mbak Rina.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Melihat Mas Iwan dan Mbak Vira sedang bersetubuh di depanku, membuat nafsu birahiku semakin tinggi. Kususupkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dapat kurasakan vaginanya yang telah basah, pertanda Mbak Vira juga bangkit nafsu birahinya. Kucucuk-cucuk vaginanya dengan jari-jariku. Dia mendesah penuh nafsu. Mbak Vira mengimbangi dengan semakin cepat mengocok-ngocok penisku. Sekitar sepuluh menit Mbak Vira mengocok penisku. Mbak Vira kemudian menyudahi kocokkannya dan membalikkan badannya, menghadap ke arahku. Ditariknya celanaku hingga terlepas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah celanaku terlepas, keluarlah penisku yang tegang penuh dan mengacung-acung dengan bebasnya. Mbak Vira terpukau melihat penisku yang besar dan panjang. Mbak Vira kemudian berjongkok dikakiku, wajahnya berada pas di depan selangkanganku. Mbak Vira mendekatkan mulutnya kebatang penisku. Mula-mula dia menjilati penisku dari kepala hingga pangkalnya. Terus dia mulai mengulum dan menghisap kepala penisku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian sedikit demi sedikit batang penisku dimasukkannya ke dalam mulutnya sampai kepala penisku menyodok ujung mulutnya. Dan mulutnya penuh sesak oleh batang penisku. Dengan lihainya, Mbak vira mulai memaju-mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar-masuk dari dalam mulutnya. Mataku merem-melek merasakan nikmat dan badanku serasa panas dingin merasakan kulumannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mbak Vira sangat lihai mengulum penisku. Kudorong maju pantatku dan kujambak rambutnya, membenamkan kepalanya ke selangkanganku. Sekitar lima belas menit berlalu Mbak Vira menyudahi kulumannya, dan melepaskan seluruh pakaiannya. Kemudian dia berdiri menghadap ke dinding.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Oohh.. Akhh.. Akuu.. nggak tahann.. Don,” serunya tertahan.&lt;br /&gt;“Entot aku.. Entott.. Don,” imbuhnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kutarik sedikit tubuhnya dari belakang, hingga dia menungging. Kuraih batang penisku dan kuarahkan pas ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku, hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Aow.. Pelan-pelan Don,” pekiknya, ketika seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya yang masih sempit. Pekikkan yang keluar dari mulutnya membuatku semakin bernafsu dan pelan-pelan kumaju-mundurkan pantatku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Akhh.. Enakk.. Don.. Enakk.. Banget,” desahnya sambil menoleh ke belakang sambil tersenyum padaku.&lt;br /&gt;“Akhh.. Akuu.. Ke.. luarr, Rin,” teriakkan Mas Iwan dari dalam kamar mengejutkanku, namun tak menghentikan sodokkanku pada Mbak Vira.&lt;br /&gt;“Aku.. jugaa.. Sayang,” sahut Mbak Rina pada Mas Iwan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedetik kemudian Mas Iwan dan Mbak Rina mencapai orgasme bersamaan. Mas Iwan menumpahkan spermanya di dalam vagina Mbak Rina. Kemudian Mas Iwan merebahkan tubuhnya disamping tubuh Mbak Rina, dan tertidur pulas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara itu, aku semakin cepat memaju-mundurkan pantatku, membuat Mbak Vira berteriak-teriak saking nikmatnya. Kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin lama semakin cepat dan menjepit penisku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Donn.. Donii.. Akuu.. Mauu.. Keluarr,” teriaknya panjang.&lt;br /&gt;“Tahann.. Mbak.. Aku.. Belum.. Apa-apa,” sahutku.&lt;br /&gt;“Akhh.. Akuu.. Tak.. Tahan.. Don.. Akuu,” jawabnya terputus dan vaginanya semakin keras menjepit penisku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak lama kemudian Mbak Vira mencapai orgasme. Kurasakan ada cairan-cairan yang merembes didinding vaginanya. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kusuruh dia berjongkok dihadapanku. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkangku. Mbak Vira mengerti maksudku. Dia mulai menjilati dan menghisap-isap penisku lalu mengulumnya. Sambil tangan kirinya mengusap-usap buah pelirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedetik kemudian Mbak Rina datang membantu, dan langsung berjongkok dihadapanku. Lidahnya dijulurkan untuk menjilati buah pelirku. Tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Secara bergantian, kakak beradik, Mbak Rina dan Mbak Vira, mengocok-ngocok, menjilati dan mengulum penisku. Penisku keluar dari mulut Mbak Vira kemudiam masuk ke mulut Mbak Rina, kemudian keluar dari mulut Mbak Rina lalu masuk kemulut Mbak Vira, begitulah seterusnya. Hingga kurasakan penisku berkedut-kedut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Mbakk.. Akuu.. Mauu.. Ke.. Keluarr,” jeritku.&lt;br /&gt;“Keluarin di mulutku Don,” sahut mereka hampir bersamaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan crott! crott! crott! Spermaku muntah dimulut Mbak Vira yang sedang kebagian mengulum. Mbak Vira menelan spermaku tanpa rasa jijik sedikitpun. Kemudian Mbak Rina merebut penisku dari Mbak Vira dan memasukkan ke mulutnya. Dan tak mau kalah dengan adiknya, sisa-sisa spermaku dihisap dan dijilatinya sampai bersih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kamu puas Don,” kata Mbak Vira.&lt;br /&gt;“Puas sekali Mbak, Mbak berdua luar biasa,” sahutku.&lt;br /&gt;“Kamu mau yang lebih seru nggak,”kata Mbak Rina.&lt;br /&gt;“Mau, mau Mbak,”sahutku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka kemudian mengajakku ke kamarnya, dimana Mas Iwan sedang tertidur pulas sehabis bersetubuh dengan Mbak Rina. Mbak Rina menyuruhku tidur terlentang diranjang. Mbak Rina kemudian menarik kakiku, hingga pantatku berada ditepi ranjang dan kakiku menjuntai kelantai. Lalu Mbak Rina berjongkok dilantai dengan wajah berada pas di depan selangkanganku. Mbak Rina mulai mengusap-usap dan mengocok-ngocok batang penisku yang masih layu, sehabis orgasme. Kurasakan sedikit ngilu tetapi kutahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mbak Rina menyudahi usapan dan kocokannya. Dan mulai menjilati dan menghisap-isap penisku dimulai dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Lidahnya berputar-putar dan menari-nari diatas batang penisku. Puas menjilati penisku, Mbak Rina kemudian memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk kemulutnya. Dan kurasakan sedikit demi sedikit penisku mulai menegang didalam mulutnya, hingga mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang sudah tegang penuh. Mbak Rina sangat pintar membangkitkan birahiku. Mulutnya maju mundur mengulum penisku. Pipinya sampai kempot, saking semangatnya mengulum penisku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Melihat kakaknya yang sedang menjilati dan mengulum batang penisku, Mbak Vira nafsunya bangkit lagi. Dia meraba-raba dan memasukkan jari-jari tangan kirinya ke dalam vaginanya sendiri, sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah dadanya hingga mengeras dan padat. Diiringi desahan-desahan penuh birahi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Puas bermain-main dengan vagina dan buah dadanya sendiri, Mbak Vira kemudian naik ke atas tubuhku. Dan mengangkangi wajahku. Lubang vaginanya berada pas diatas wajahku. Dia menurunkan pantatnya, hingga bibir vaginanya menyentuh mulutku. Kujulurkan lidahku untuk menjilati vaginanya yang telah basah. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya, dia mengerang-erang merasakan nikmat. Mbak Vira menarik rambutku, membenamkan wajahku diselangkangannya. Kepalaku dijepit dengan kedua paha mulusnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kini kami bertiga, aku dan kakak beradik sedang berlomba mencari kepuasan. Mbak Vira sedang kujilati vaginanya, sedangkan pada bagian bawah tubuhku Mbak Rina dengan asiknya mengulum batang penisku. Beberapa waktu berlalu Mbak Rina melepaskan kulumannya, dan berjongkok diatas selangkanganku. Dengan tangannya, diraihnya batang penisku dan diarahkannya ke lubang vaginanya. Bless! Dengan sekali dorongan pantatnya, masuklah seluruh batang penisku ke dalam vaginanya yang basah tapi hangat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu Mbak Rina menaik turunkan pantatnya, sambil mengeluarkan desahan-desahan nikmat dari mulutnya. Sesekali pantatnya diputar-putar hingga penisku serasa dipelintir. Saat menikmati goyangan Mbak Rina, aku terus menjilati vagina Mbak vira sambil memasukkan jari-jariku ke lubang anusnya. Sedang asiknya aku menjilati vagina Mbak Vira, kurasakan vaginanya berkedut-kedut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa detik kemudian ada cairan yang keluar dari dalam vaginanya. Mbak Vira mencapai orgasme. Pahanya makin keras menjepit kepalaku. Tanpa rasa jijik kusedot dan kutelan cairan vaginanya.&lt;br /&gt;Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, Vagina Mbak Rina juga berkedut-kedut, otot-otot vaginanya menegang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Don.. Aku.. Keluar,” teriak Mbak Rina.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Air maninya mengaliri deras dan membasahi batang penisku. Kemudian dia terkulai lemas sampingku. Membuat penisku yang masih tegang terlepas dan mengacung-acung. Mbak vira yang kondisi sudah pulih sehabis orgasme, kemudian berjongkok diatas selangkanganku, menggantikan kakaknya. diraihnya penisku dan diarahkannya ke lubang anusnya. Mbak Vira menurunkan pantatnya sedikit demi sedikit hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Kurasakan penisku seperti dijepit dan dipijit-pijit oleh sempitnya lubang snusnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Oohh.. Mbak.. Nikk.. Matt.. Enakk,”teriakku, ketika Mbak Vira mulai menaik turunkan pantatnya, membuat penisku keluar masuk dari lubang anusnya. Sesekali dia menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, membuatku merasakan nikmat yang luar biasa. Sekitar tiga puluh menit Mbak Vira menggenjot tubuhku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Mbakk.. Akuu.. Ke.. Keluarr,” jeritku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kurasakan penisku berkedut-kedut dan crott! crott! crott! kutumpahkan seluruh spermaku di dalam lubang anusnya. Mbak Vira kemudian merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Sambil menindihku dia tersenyum puas. Malam itu, aku dan Mas Iwan menginap disana. Dan berpesta sampai pagi, sampai kami sama-sama puas dan kelelahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Panasnya sinar matahari yang menerobos jendela kamarku, membangunkanku dari tidurku yang lelap. Setelah hampir semalam penuh aku merasakan nikmatnya bersetubuh dengan Mbak Rina dan Mbak Vera. Dan aku baru pulang dari rumahnya kerumah Mas iwan jam 05.00 dinihari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan sedikit bermalas-malasan, aku pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Selesai mandi badan rasanya segar sekali. Siang itu kurasakan lain dari biasanya, rumah Mas Iwan tampak sepi sekali. Oh ya, aku baru ingat kalau hari ini, Mas Iwan mengantar Tante Sari kondangan ke kampung sebelah. Jadi yang ada di rumah hanya Mbak Erna dan Aku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan hanya mengenakan handuk yang kulilitkan dipinggangku, aku pergi ke dapur. Membuat secangkir kopi. Sampai didapur kudapati Mbak Erna sedang mencuci piring.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Pagi Mbak,” sapaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mbak Erna tak menjawab sapaanku. Mukanya cemberut. Aku heran, tumben Mbak Erna begitu, biasanya dia sangat ramah padaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ada apa sih Mbak, kok cemberut begitu,” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;“Mbak marah sama aku? atau Mbak nggak senang ya, aku disini,” imbuhku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mbak erna masih diam saja, membuatku tak enak hati dan bertanya-tanya dalam hati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ok, Mbak. Kalau Mbak nggak senang, aku pulang aja deh,”&lt;br /&gt;“Jangan-jangan pulang Don, aku nggak marah sama kamu,” sahutnya sambil menarik tanganku.&lt;br /&gt;“Habis Mbak marah sama siapa? Boleh tahu kan Mbak?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;“Ok, Mbak akan kasih tahu, tapi jangan bilang sama siapa-siapa ya!,” jawabnya.&lt;br /&gt;“Aku janji Mbak,” kataku meyakinkannya.&lt;br /&gt;“Don, aku lagi kesal sama Mas Iwan,” kata Mbak sari.&lt;br /&gt;“Kesal kenapa Mbak,” selaku.&lt;br /&gt;“Belakangan ini, Mas Iwan dingin sekali padaku Don,” katanya sambil merebahkan kepalanya didadaku.&lt;br /&gt;“Setiap aku pingin begituan, dia selalu menolak,” imbuhnya sambil tersipu malu.&lt;br /&gt;“Mungkin Mas Iwan lagi lelah Mbak,” hiburku sambil kuusap-usap rambutnya.&lt;br /&gt;“Ah, masak setiap malam lelah,” sahutnya.&lt;br /&gt;“Mungkin ada yang bisa aku bantu, untuk menghilangkan kekesalan Mbak,” pancingku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mbak Erna tak menjawab pertanyaanku. Sebagai orang yang cukup berpengalaman soal sex, aku tahu Mbak Erna sangat kesepian dan menginginkan hubungan sexsual. Maka dengan memberanikan diri, kukecup lembut keningnya. Dan kurasakan remasan halus tangannya yang masih memegang tanganku.&lt;br /&gt;Merasa mendapat respon positif, kugerakkan bibirku menciumi kedua pipinya dan berhenti dibelahan bibir mungilnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mbak Ernapun membalas kecupanku pada bibirnya dengan kuluman yang hangat, penuh gairah. kukeluarkan lidahku, mencari lidahnya. Kuhisap-hisap dan kusedot-sedot. Kulepaskan tanganku dari genggamannya dan kugerakkan menggerayangi tubuh Mbak Erna. Dan perlahan-lahan kususupkan tangan kananku kebalik gaun tidurnya. Dan kurasakan halusnya punggung Mbak Erna. Sementara tangan kiriku meremas-remas pantatnya yang padat. Mbak Erna melepaskan seluruh pakaiannya. Agar aku lebih leluasa menggerayangi tubuhnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah semua terlepas maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa. Dengan jelas aku bisa melihat buah dadanya yang montok, perutnya yang ramping dan vaginanya yang dicukur bersih. Membuat nafsu birahiku semakin menjadi-jadi dan kurasakan penisku menegang. Akupun melepaskan kulumanku pada bibirnya dan dengan sedikit membungkukkan badanku. Aku mulai menjilati buah dadanya yang mulai mengeras, secara bergantian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Puas menjilati buah dadanya, jilatanku kupindahkan ke perutnya. Dan kurasakan halusnya kulit perut Mbak Erna. Mbak Erna tak mau ketinggalan, ditariknya handuk yang melilit dipinggangku. Dengan sekali sentakan saja, handukku terlepas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Aow, besar sekali don penismu,” decaknya kagum, sambil memandangi penisku yang telah menegang dan mengacung-ngacung setelah handukku terlepas. Mbak Erna menggerakkan tangannya, meraih batang penisku. Diusap-usapnya dengan lembut kemudian dikocok-kocoknya, membuat batang penisku semakin mengeras.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu, Kusudahi jilatanku pada perutnya. Kuangkat tubuhnya dan kududukkan diatas meja dapur. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Dan terpampanglah di depanku bukit kecil yang dicukur bersih. Bibir vagina yang memerah dengan sebuah daging kecil yang tersembul diatasnya. Kubungkukkan tubuhku dan kudekatkan wajahku ke selangkangannya. Dan aku mulai menjilati pahanya yang putih mulus, dihiasi bulu-bulu halus. Sambil tanganku meraba-raba vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa menit berlalu, kupindahkan jilatanku dari pahanya ke vaginanya. Mula-mula kujilati bibir vaginanya, terus kebagian dalam vaginanya. Lidahku menari-nari didalam lubang vaginanya yang basah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. terus.. Don.. terus.. Nik.. Matt,” serunya tertahan. Membuatku semakin bersemangat menjilati lubang vaginanya. Kusedot-sedot klitorisnya. Pantat Mbak Erna terangkat-angkat menerima jilatanku. Ditariknya kepalaku, dibenamkannya pada selangkangannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Don.. Aku.. Tak.. Tahan.. Masukin Don.. Masukin penismu,” pintanya menghiba.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kuturuti kemauannya. Aku kemudian berdiri. Kuangkat kedua kakinya tinggi-tinggi, hingga ujung jari kakinya berada diatas bahuku. Kudekatkan penisku keselangkangannya. Mbak Erna meraih penisku dan menuntunnya ke lubang vaginanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku diam sejenak mengatur posisi supaya lebih nyaman, lalu kudorong pantatku lebih keras, membuat seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Kurasakan penisku dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit. Vaginanya penuh sesak karena besarnya batang penisku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Aow.. Pelan-pelan.. Don.. penismu gede sekali,” pekiknya, ketika aku mulai memaju mundurkan pantatku, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak terasa sudah tiga puluh menit aku memaju mundurkan pantatku. Dan kurasakan vagina Mbak Erna berkedut-kedut. Dan otot-otot vaginanya menegang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Don.. Aku.. Keluarr.. Sayang,” teriaknya lantang. Sedetik kemudian kurasakan cairan hangat keluar dari vaginanya. Dan Mbak Erna mencapai orgasmenya. Mbak Erna tahu kalau aku belum mencapai puncak kenikmatan. Dia turun dari atas meja dapur. Kemudian berjongkok dihadapanku. Diraihnya penisku dan dikocok-kocok dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya meremas-remas buah pelirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Akhh.. Mbak.. Enak.. Nikk.. Mat.. terus,” seruku, ketika Mbak Erna mulai menjilati batang penisku. Dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Mataku merem melek merasakan nikmatnya jilatan Mbak Erna. Aku semakin merasa nikmat ketika Mbak Erna memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Dan mulai mengulum batang penisku. Mbak Erna memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar masuk dari mulutnya. Sementara tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Oohh.. Mbak.. Akuu.. Tak.. Tahan,” teriakku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan kurasakan penisku berkedut-kedut semakin lama semakin cepat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya diselangkanganku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Mbak.. Akuu.. Ke.. Luarr,” teriakku lagi lebih keras. Mbak Erna semakin cepat memaju mundurkan mulutnya. Dan crott! crott! crott! penisku memuntahkan sperma yang sangat banyak di mulutnya. Mbak Ernapun menelannya tanpa ragu-ragu. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati sisa-sisa spermaku sampai bersih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Terimakasih Don, kamu telah memberiku kepuasan,” pujinya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Sama-sama Mbak, aku juga sangat puas,” sahutku.&lt;br /&gt;“Mbak masih mau lagi kan,” tanyaku.&lt;br /&gt;“Mau dong, tapi kita mandi dulu yuk,” ajaknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian kami meraih pakaian masing-masing untuk selanjutnya bersama-sama pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Sehabis mandi, masih sama-sama telanjang, kubopong tubuhnya menuju taman disamping rumah. Aku ingin melaksanakan impianku selama ini, yaitu bersetubuh ditempat terbuka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Don.. Jangan disini sayang, nanti dilihat orang,” protesnya.&lt;br /&gt;“Kan nggak ada siapa-siapa di rumah Mbak,” sahutku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mbak Ernapun tidak protes lagi, mendengar jawabanku. Sambil berdiri kupeluk erat tubuhnya. Kulumat bibirnya. Mbak Erna membalas lumatan bibirku dengan pagutan-pagutan hangat. Cukup lama kami bercumbu, kemudian aku duduk dikursi taman. Dan kusuruh Mbak Erna berjongkok dihadapanku. Mbak Erna tahu maksudku. Diraihnya batang penisku yang masih layu. Dielus-elusnya lembut kemudian dikocok-kocok dengan tangannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah penisku mengeras Mbak Erna menyudahi kocokkannya, dia mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Lidahnya dijulurkan dan mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku, kemudian turun kepangkalnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Oohh.. terus.. Mbak.. Nikmat banget,” desahku.&lt;br /&gt;“Isepp.. Mbak.. Isep,” pintaku. Mbak Erna menuruti kemauanku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dimasukkannya penisku kemulutnya. Hampir sepertiga batang penisku masuk ke mulutnya. Sambil tersenyum padaku, dia mulai memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku maju keluar masuk dimulutnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Mbak.. Aku.. Tak.. Tahan,” seruku. Mbak Erna kemudian naik ke pangkuanku. Vaginanya pas berada diatas selangkanganku. Diraihnya penisku dan dibimbingnya ke lubang vaginanya. Mbak Erna mulai menurunkan pantatnya, sedikit demi sedikit batang penisku masuk ke lubang vaginanya semakin lama semakin dalam. Hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Sesaat kemudian Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Sesekali digoyang-goyangkan pantatnya kekiri-kekanan. Aku tak mau kalah, kusodok-sodokkan pantatku ke atas seirama dengan goyangan pantatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Don.. Aku.. Mauu.. Ke.. luarr,” teriaknya setelah hampir tiga puluh menit menggoyang tubuhku. Dan kurasakan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram dadaku dengan keras. Sesaat kemudian kurasakan cairan hangat merembes dilubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Aku tak ingin mengecewakanmu Don,” katanya sambil tersenyum. Dia menarik penisku keluar dari lubang vaginanya, kemudian memasukkannya ke lubang anusnya. Mbak Erna rupanya tahu kesenanganku. Meski agak susah, akhirnya bisa juga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Perlahan tapi pasti Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Membuatku merasakan nikmat yang tiada taranya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cukup lama Mbak Erna menggoyang-goyangkan pantatnya, kemudian kami berganti posisi. Kusuruh dia menungging, membelakangiku dengan tangan bertumpu pada kursi taman. Kugenggam penisku dan kuarahkan tepat ke lubang anusnya. Kudorong sedikit demi sedikit, sampai seluruhnya amblas tertelan lubang anusnya. Lalu kudorong pantatku maju mundur. Kurasakan nikmatnya lubang anus Mbak Erna. Sambil kucucuk-cucuk lubang vaginanya dengan jari-jariku. Membuat nafsu birahi Mbak Erna bangkit lagi. Mbak Erna mengimbangi gerakkanku dengan mendorong-dorong pantatnya seirama gerakkan pantatku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku semakin mempercepat gerakkan pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Demikian juga jari-jariku semakin cepat mencucuk vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Mbak.. Mbak.. Akuu.. Mau.. Keluar,” seruku.&lt;br /&gt;“Akuu.. Juga.. Don,” sahutnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kami mencapai orgasme. Kutarik penisku dari lubang anusnya, dan kutumpahkan spermaku dipunggungnya. Mbak Erna kemudian membalikkan badannya dan berdiri, sambil memintaku duduk kursi taman. Didekatkannya selangkangannya kewajahku. Ditariknya rambutku dan dibenamkannya kepalaku keselangkangannya. Dan akupun mulai menjilati vaginanya sambil duduk. Kuhisap dan kusedot-sedot cairan hangat yang keluar dari lubang vaginanya. Mbak Erna sangat puas dengan perlakuanku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hari itu kami melakukan persetubuhan sampai puas, dengan berbagai macam gaya. Sungguh luar biasa Mbak Erna, meskipun tinggal dikampung. Tapi dalam soal bersetubuh dia tak kalah dengan orang kota. Memang sungguh nikmat istri Mas Iwan. Vagina dan lubang anusnya sama nikmatnya. Membuatku ketagihan menyetubuhinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak terasa sudah satu bulan aku berlibur dikampung Mas Iwan. Malam-malam yang kulewati bersama Mbak Erna dan Tante Sari membuat waktu satu bulan terasa cepat sekali. Sudah saatnya aku kembali kekotaku, karena tiga hari lagi aku harus ke sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat berangkat dari kampung Mas Iwan, aku tidak sendirian. Ada Vivi, anak kandung Tante Sari menemaniku. Gadis cantik berkulit putih dan bertubuh langsing ini, baru tamat SMP dan akan melanjutkan SMU di kota. Tante sari meminta tolong padaku agar mengantarkan Vivi, mencari rumah kost di dekat sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan menempuh dua jam perjalanan, sampailah kami di kota. Dan setelah berpuar-putar cukup lama, akhirnya kudapatkan rumah kost untuk Vivi. Pemilik rumah adalah seorang janda cantik berusia sekitar 32 tahun, namanya Yeni. Setelah memberikan kunci kamar pada Vivi, Tante Yeni meninggalkan kami berdua.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sehabis membantu Vivi mengangkat barang-barangnya ke dalam kamar, aku merasa haus. Kusuruh Vivi ke warung untuk membeli minuman. Sambil duduk menunggu kedatangan Vivi, iseng-iseng kunyalakan VCD. Ngawur aja kusetel salah satu film. Aku terkejut, ternyata isinya film porno.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adegan-adegan difilm itu, membangkitkan nafsu birahiku. Kurasakan batang penisku mengeras dan berdiri tegak di balik celanaku. Kuturunkan celanaku, dan kukeluarkan batang penisku. Kuelus-elus dan kukocok-kocok batang penisku. Saking asiknya aku mengocok-ngocok batang penisku, sampai kedatangan Vivi tak kurasakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Mas, Doni lagi ngapain,” suara Vivi mengejutkanku.&lt;br /&gt;“Akh, nggak ngapa-ngapain,” sahutku.&lt;br /&gt;“Itu apa?” tanyanya lagi sambil memandangi celanaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Astaga! Aku lupa menaikkan celanaku. Sehingga Vivi dengan jelas melihat penisku yang sedang berdiri tegak. Merasa sudah kepalang basah, kulanjutkan saja mengocok penisku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kamu bisa membantuku Vi?,” tanyaku.&lt;br /&gt;“Bantu apa Mas?,” katanya balik bertanya.&lt;br /&gt;“Kocokkin penisku Vi,” pintaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Vivi menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kutarik tangannya dan kuletakkan diatas penisku. Vivi yang juga sudah terangsang akibat ikut nonton film porno, menggenggam batang penisku. Dengan lembut dia mengelus-elus dari kepala sampai kepangkal penisku. Aku merasa seperti melayang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku melepaskan seluruh pakaianku sambil memeluk tubuh Vivi yang sedang mengocok penisku. Kutarik kaosnya dan kususupkan tanganku kebalik BHnya. Kuraba-raba buah dadanya. Perlahan-lahan buah dadanya mengeras. Cukup lama aku meraba-raba buah dadanya, kemudian kutarik Bhnya hingga terlepas. Setelah terlepas, terlihatlah buah dadanya yang padat dan mengeras. Aku melanjutkan lagi meremas-remas buah dadanya. Vivi mendesah-desah merasakan nikmat, tangannya semakin cepat mengocok penisku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekitar lima belas menit berlalu kami berganti posisi. Sambil menarik rok mininya, kodorong tubuhnya hingga terlentang diranjang. Hanya celana dalamnya saja yang melekat menutupi selangkangannya. Kutindih tubuhnya dari atas lalu kukecup bibirnya, kujulurkan lidahku mengisi rongga mulutnya yang terbuka. Vivi menyambutnya dengan hisapan yang tak kalah hebatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah cukup lama berpagutan, kuputar tubuhku. Membentuk posisi 69. Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan selangkangannya berada dibawah wajahku. Kujulurkan lidahku menjilati bagian bawah perutnya, sambil tanganku melepas celana dalam Vivi. Vivi mengangkat pantatnya memudahkan aku melepaskan celana dalamnya dan meleparkannya ke lantai kamar. Lidahku bergerak turun menyapu bibir vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Mas don.. Enakk,” desahnya ketika aku mulai menjilati vaginanya yang basah, membuatku semakin bersemangat menjilati vaginanya. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya yang sebesar biji kacang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat aku menjilati lubang vaginanya, Vivi juga sedang asyik menjilati penisku. Sambil tangan kirinya mengocok-ngocok pangkal penisku sedangkan tangan kanannya mengelus-elus buah pelirku dengan lembut. Sesaat kemudian Vivi memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk ke mulutnya. Kudorong pantatku ke atas dan ke bawah, sehingga penisku keluar masuk dimulutnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu. Aku bangkit dan berdiri dilantai kamar. Kutarik tubuhnya, hingga pantatnya berada ditepi ranjang. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Kuarahkan penisku tepat ke lubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ja.. Jangan.. Mas, aku masih perawan,” katanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku tak memperdulikan kata-katanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku menyeruak masuk. Vivi berteriak lebih keras ketika aku mendorong lebih keras dan penisku menembus selaput daranya. Akupun lebih bersemangat mendorong pantatku dan amblaslah seluruh batang penisku ke lubang vaginanya yang sangat sempit. Penisku serasa dijepit sempitnya lubang vaginanya. Beberapa detik kubiarkan penisku di dalam vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kupandangi wajahnya yang meringis menahan sakit. Dengan perlahan-lahan kuangkat pantatku lalu kuturunkan lagi. Membuat penisku keluar masuk dilubang vaginanya. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Beginikah rasanya menyetubuhi seorang perawan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Mas.. Enakk,” desahnya yang mulai merasakan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nikmatnya disetubuhi. Pantatnya digerakkan naik turun seirama gerakkan pantatku. Rasa sakitnya telah hilang berganti dengan rasa nikmat. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram seprei dengan keras.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Mas.. Akuu.. Mauu,” desahnya terputus.&lt;br /&gt;“Mau keluar sayang,” sahutku.&lt;br /&gt;Vivi mengangguk sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Aku juga Vi,” imbuhku. Semakin cepat kudorong-dorong pantatku.&lt;br /&gt;“A.. Akuu.. Ke.. Luarr,” teriaknya lantang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kurasakan cairan hangat merembes didinding vaginanya. Sedetik kemudian kurasakan penisku berkedut-kedut. Dan Crott! crott! crott! Kutumpahkan sperma yang sangat banyak dilubang vaginanya. Dan tubuhku ambruk menindih tubuhnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Kamu menyesal Vi,” tanyaku sambil tersenyum puas, karena baru kali ini aku menyetuBHi seorang perawan.&lt;br /&gt;“Nggak Mas, semua sudah terjadi,” sahutnya.&lt;br /&gt;“Kamu mau lagi khan,” godaku. Vivi tersenyum padaku, senyum penuh arti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kira-kira satu jam kami tertidur. Akupun terbangun dan bergegas ke kamar mandi membersihkan badan. Mengingat kejadian tadi, bersetubuh dengan Vivi, membuat nafsu birahiku bangkit lagi. penisku yang tadi telah layu, kini tegang dan mengeras. Setelah mengelap tubuhku dengan handuk akupun bergegas ke kamar, dimana Vivi sedang tertidur pulas. Dan ia terbangun ketika aku lagi asyik menjilati lubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Oh.. Mas.. Apa yang kamu lakukan,” tanyanya.&lt;br /&gt;“Aku pingin setubuhi kamu lagi sayang,” sahutku sambil tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Vivi membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga aku lebih leluasa menjilati vaginanya. Beberapa menit berlalu kusuruh dia menungging. Aku mengambil posisi dibelakangnya. Dari belakang, aku menjilati lubang anusnya, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku. Sedikit demi sedikit penisku masuk ke lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam penisku memasukinya, sampai seluruhnya amblas, tertelan lubang vaginanya. Akupun mendorong pantatku maju mundur, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.. Nikk.. Matt.. Mas.. Enakk,” jeritnya tertahan. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kutarik penisku dari lubang vaginanya hingga terlepas. Kemudian kugenggam penisku dan kuarahkan ke lubang anusnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Jangan, Mass sakitt, ja.. “jeritnya sambil meringis. Belum habis dia bicara, kudorong pantatku dengan keras. Dan Bless! Seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Kukocok lubang anusnya dengan irama pelan semakin lama semakin cepat, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Dan Vivipun merasakan sensasi yang luar biasa dikedua lubangnya. Jeritan-jeritannya berganti dengan desahan-desahan nikmat penuh nafsu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku semakin bersemangat mendorong-dorong pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Sepuluh menit kemudian penisku menyemburkan sperma didalam anusnya. Dan tak lama berselang Vivi menyusul, tubuhnya mengejang hebat. Kemudian Vivi terkulai lemas dan tertidur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku kemudian berdiri dan mengenakan celanaku. Saat aku akan mengambil handuk ke dalam almari, tanpa sengaja aku menoleh keluar jendela. Samar-samar aku melihat sesosok bayangan wanita yang sedang berdiri dibalik jendela kamar. Rupanya orang itu sedang mengitip aku dan Vivi yang sedang bersetubuh dari balik korden yang lupa aku tutup.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat aku keluar mencarinya, wanita itu bergegas pergi. Aku membuntuti wanita itu. Melihat potongan tubuhnya dari belakang aku yakin kalau wanita itu adalah Tante Yeni, ibu kostnya Vivi. Dan aku keyakinanku semakin kuat, saat wanita itu masuk kekamar tidur Tante Yeni dan langsung menutup pintu. Aku berjalan mendekat dan berdiri di depan pintu kamarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku mengintip dari lubang kunci. Dan memang benar, wanita yang tadi mengintipku adalah Tante Yeni. Sampai didalam kamar Tante Yeni melepaskan seluruh pakaiannya. Aku terkesima melihat tubuh Tante Yeni yang putih mulus dan sexy, meski sudah berumur sebaya ibuku. Membuat jantungku berdetak kencang. Nafsu birahiku yang baru saja tersalurkan bersama Vivi, perlahan-lahan bangkit lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemandangan selanjutnya lebih seru lagi. Tante Yeni merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua kaki terbuka lebar-lebar, memperlihatkan indahnya bentuk vaginanya. Tante Yeni meremas-remas buah dadanya sendiri dengan tangan kirinya. Perlahan buah dadanya mulai mengeras. Sedangkan tangan kanannya meraba-raba selangkangannya. Desahan-desahan nikmat keluar dari bibirnya, membuatku semakin tak tahan. Batang kemaluanku sudah berdiri tegak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan sangat hati-hati, aku membuka pintu kamarnya. Dan ternyata tidak terkunci. Sambil melepaskan celanaku, aku berjalan mengendap-endap mendekatinya. Tante Yeni yang sedang asyik meraba-raba tubuhnya sendiri, tidak tahu kalau aku masuk ke kamarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menindihnya. Tante Yeni sangat terkejut melihat kehadiranku. Aku segera menyumpal mulutnya yang sedang Terbuka saat dia hendak berteriak dengan mulutku. Dan aku langsung melumatnya. Tante Yeni yang sedang dirasuki nafsu birahi, membalas lumatanku dengan pagutan-pagutan yang tak kalah hebatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cukup lama aku melumat bibirnya, kemudian aku menjilati lehernya, terus turun ke buah dadanya yang sudah mengeras. Kedua buah dadanya aku jilati secara bergantian, membuat desahannya semakin keras. Aku menyudahi jilatanku pada kedua buah dadanya, kemudia aku berlutut ditepi ranjang, diantara kedua kakinya. Tanganku yang nakal mulai meraba-raba bibir vaginanya yang dicukur bersih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanpa berfikir lama, aku menjulurkan lidahku, menjilati, menghisap dan sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vagina Tante Yeni dan lidahku menari-nari di dalam lubang vaginanya. Tante Yeni mengangkat-angkat pantatnya, menyambut jilatanku. Rintihan-rintihan kecil keluar dari mulutnya setiap kali lidahku menghujam lubang vaginanya. Disaat dia sedang menikmati jilatanku, aku memasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya. Sambil sesekali aku menjilati lubang anusnya. Tante Yeni sangat menikmati perlakuanku, dia menekan kepalaku dan membenamkannya diselangkangannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sepuluh menit berlalu, aku menyudahi jilatanku. Aku kemudian berdiri, sambil menarik pinggulnya ketepi ranjang, kedua kakinya kubuka lebar-lebar. Tanpa membuang waktu lagi, batang kemaluanku yang sudah tegang dari tadi langsung kuhujamkan ke lubang vaginanya. Tante Yeni menjerit saat batang kemaluanku yang besar dan panjang menerobos masuk ke lubang vaginanya. Aku merasakan jepitan bibir vaginanya yang begitu seret. Aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Tante Yeni sangat menikmati setiap gerakkan pantatku, dia menggeliat dan mendesah disetiap gerakan kemaluanku keluar masuk dari lubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku semakin mempercepat memaju mundurkan pantatku saat Tante Yeni memperlihatkan tanda-tanda orang yang mau orgasme.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ohh.., Don.., akuu.., mau.., keluarr,” jeritnya cukup keras. Tante Yeni menggelinjang hebat, kedua pahanya menjepit pinggangku. Rintihan panjang keluar dari mulutnya saat klitorisnya memuntahkan cairan kenikmatan. Aku merasakan cairan hangat yang meleleh disepanjang batang kemaluanku. Aku membiarkan Tante Yeni beristirahat sambil menikmati orgasmenya. Setelah Tante Yeni berhasil menguasai dirinya, tanpa membuang waktu lagi aku membalikkan tubuhnya dalam posisi menungging.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu aku menciumi pantatnya. Tante Yeni mengeliat menahan geli saat lidahku menelusuri vagina dan anusnya. Kemudian aku meludahi lubang anusnya beberapa kali. Setelah kurasakan daerah itu benar-benar licin, aku membimbing batang kemaluanku dengan tangan kiriku sementara tangan kananku membuka lubang anusnya. Tante tak bereaksi apa-apa dan membiarkan saja apa yang kulakukan. Perlahan kudorong pantatku. Tante Yeni merintih sambil menggigit bibirnya menahan rasa perih akibat tusukan kemaluanku pada lubang anusnya yang sempit. Setelah beberapa kali mendorong dan menarik akhirnya seluruh batang kemaluanku masuk ke lubang anusnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sambil menikmati jepitan lubang anusnya, aku mendiamkan sebentar batang kemaluanku disana untuk beradaptasi. Tante Yeni menjerit saat aku mulai menghujamkan kemaluanku. Tubuhnya terhentak-hentak ketika sodokkanku bertambah kencang dan kasar. Sambil terus meningkatkan irama sodokkan, tanganku dengan kasar mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Akibat menahan sensasi nikmat ditengah-tengah rasa ngilu dan perih pada kedua lubang bawah tubuhnya, Tante Yeni sampai menangis. Setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke lubang anusnya, dia mengaduh namun dia tak mau aku menyudahinya. Sampai akhirnya kurasakan suatu perasaan yang sangat nikmat mengaliri sekujur tubuhku.&lt;/p&gt; &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Aku mengerang panjang, saat mengalami orgasme yang pertama. Tanganku mencengkeram keras pantatnya. Aku menumpahkan seluruh spermaku didalam lubang anusnya. Tubuhku menegang beberapa saat, kemudian terkulai lemas. Tak lama kemudian Tante Yeni menyusul, dia mengeram sambil tangannya mencengkeram bantal kuat-kuat. Cairan hangat dan kental meleleh dari lubang vaginanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan nafas yang masih memburu dan tubuh yang masih lemas, Tante Yeni bangkit kemudian duduk ditepi ranjang. Dia meraih batang kemaluanku lalu memasukkan ke mulutnya. Tante Yeni menjilati sisa-sisa sperma yang masih blepotan dibatang kemaluanku sampai bersih tanpa tersisa setetespun. Tante Yeni tersenyum puas merasakan nikmat yang sudah cukup lama tidak dirasakannya, sejak dia bercerai dengan suaminya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanpa malu-malu dia meminta aku agar menyutubuhinya lagi. Aku menuruti permintaannya, kami bersetubuh sampai pagi. Sampai kami benar-benar kelelahan. Pagi-pagi sekali aku meninggalkan Tante Yeni yang masih tidur tanpa busana dan masuk kekamar Vivi. Dimana Vivi juga sedang tidur pulas. Aku mengenakan seluruh pakaianku, kemudian pergi tanpa pamit. Meninggalkan kenangan-kenangan nikmat untuk mereka berdua. Sekali waktu aku mengunjungi Tante Yeni dan Vivi untuk menikmati lagi tubuh mereka.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-1469043598193437985?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/1469043598193437985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/gejolak-napsu-terpendam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/1469043598193437985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/1469043598193437985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/gejolak-napsu-terpendam.html' title='Gejolak Napsu Terpendam'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-7545385112216275661</id><published>2010-06-22T09:42:00.000-07:00</published><updated>2010-06-22T09:44:22.578-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Istriku Terjebak Swinging</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:100%;" &gt;N&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;amaku Estherina yang lebih akrab dipanggil Nana saja. Aku seorang istri yang telah menjalani hampir lima tahun hidup berumahtangga. Kami pasangan campuran yang cukup harmonis. Suamiku keturunan china sedang aku dari suku jawa. Namun sayang sampai sekarang kami belum juga dikarunia anak. Beruntung Koko Jay, sebutan sayangku pada suami, adalah suami yang penuh perhatian dan begitu mencintaiku. Ia merelakan diriku untuk tetap bekerja disebuah perusahaan swasta multinasional yang ada dikotaku padahal hasil kerja suamiku sebagai manager disebuah perusahaan distributor ternama lebih dari cukup bahkan melimpah untuk kami nikmati. Suamiku paham betul dengan keadaan kami yang tanpa anak. Menganggur akan membuat aku stress dan itu akan menjadi sumber bencana dalam rumahtangga kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Selama berumahtangga suamiku termasuk pria yang pandai memanjakan istri termasuk dalam urusan ranjang. Dia juga yang mengenalkan dan sekaligus membimbingku dalam aktivitas hubungan sex yang menggairahkan. Sejak awal menikah suamiku selalu memberiku orgasme saat berhubungan badan. Bahkan akhir akhir ini lebih sering ia memberiku orgasme lebih dari satu kali atau yang popular disebut multi orgasme pada setiap aktivitas sexual kami. Hal itu bukan karena penis suamiku yang berukuran besar dan panjang, karena miliknya termasuk ukuran rata rata sekitar empat limabelasan centi hanya kepala kemaluannya memang sedikit lebih gempal dibanding milik pria lain ( kubandingkan saat nonton bokep ). Namun ia memang pria type &lt;i&gt;lovers&lt;/i&gt; , yang lebih senang melayani orang yang dicintai. Ia selalu berusaha membuat aku terpuaskan terlebih dahulu sebelum ia menuntut untuk dipuaskan. Oleh karena kehebatannya dalam memberi kepuasan padaku membuat aku menjadi istri yang kecanduan sex. Setiap hari aku meminta suamiku memuaskan kebutuhan seksku yang menggebu gebu. Dan ia bisa meladeni dengan sangat baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Suatu kali suami mengenalkan aku pada dunia swinger lewat situs dewasa diinternet. Apa yang di saji kan disana sungguh membuat aku penasaran dan ingin mencobanya. Disetubuhi satu cowoq saja uenak nya tidak terkatakan apalagi dikeroyok dua atau tiga, wuih! Pasti lebih nikmat! Pikirku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Rasa penasaran itu akhirnya kujadikan bahan diskusi dengan temen temen ceweq sekantorku selagi istirahat. Diluar dugaanku ternyata ada seorang temen yang sudah berpengalaman bahkan ia menjadi participant yang sangat aktif pada sebuah situs dewasa. Cukup banyak dukumentasi acara swingingnya yang sudah di share kan kesana. Dua orang yang lain juga bilang kalau pernah punya pengalaman. Cerita cerita erotis pengalam swinging mereka sungguh menjadi racun ganas dalam didirku.Timbul keinginanku untuk menyoba petualangan seks seperti mereka namun aku tidak punya cukup keberanian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Suamikupun secara tidak langsung pernah bilang kalau ia tidak keberatan kalau suatu kali kami menco ba swinging. Kesempatanpun terbuka saat itu karena big boss suamiku, Mr Mark, lelaki bule yang terobsesi oleh kecantikanku sejak pertemuan kami disebuah pesta kantor suami beberapa minggu lalu, begitu gencar mendekati dan mengajakku berkencan. Kalau menimbang dari segi fisik lelaki itu memang sosok ideal bagi wanita. Tampan berbadan tinggi besar dan dipenuhi bulu. Pasti ia memiliki monster didalam celananya yang sanggup memberi sensasi kenikmatan yang berbeda. Namun aku tetap tidak punya keberanian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Suatu kali suamiku mendapat tugas dinas keluar negeri dalam rangka orientasi product yang rencana nya akan dipasarkan di Indonesia oleh perusahaan suamiku. Tugas itu memakan waktu sampai empat bulan. Waktu yang cukup lama bagiku ditinggal sendirian padahal kebutuhan seksku begitu menggebu gebu. Pelampiasanku dengan melakukan masturbasi. Hampir setiap malam getaran dildo dan goyangan nya kugunakan melumat liang syahwatku demi terpuasknnya dorongan birahiku yang sangat tinggi. Namun aku tetap tidak berani menyoba peukan lelaki lain sampai suatu kali di hari jumat malam Ani dan Yanti mengajakku bergabung dengan teman temannya disebuah tempat karaoke. Pukul tujuh kedua temanku tadi sudah datang menjemput dengan sebuah taxi. Kebetulan keduanya memakai pakaian model terbuka yang cukup seksi sehingga aku merasa nyaman dengan tank top dan mini blouse sete-ngah paha yang kukenakan. Disana telah menunggu Vento, pacar gelap Yanti, Robin, pacar Ani, dan tiga teman lelaki lain. Semuanya bersikap sangat ramah dan menyenangkan. Kami bertiga menjadi seperti primadona yang sangat dimanjakan oleh kelima pria keren itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Didalam ruangan tertutup itu kami merasa begitu bebas. Bernyanyi menghisap rokok dan menegak bir sembari bercandaria. Sampai suatu kali setelah kami habiskan beberapa botol bir dan belasan puntung rokok, aku merasa ada keanehan yang tiba tiba muncul dalam diriku. Timbul rasa panas dan dingin yang bercampur aduk menjadi satu. Rasa aneh itu semakin lama semakin kuat bergolak sampai dahiku basah oleh keringat padahal AC diruang itu sangat dingin. Tiba tiba aku merasa sangat horny dan timbul dorongan sangat kuat untuk mengajak lelaki yang ada untuk bercinta. Aku tidak menyadari kalau minumanku telah dicampuri obat perangsang dalam dosis tinggi. Namun aku berusaha menahan diri sekuat tenaga agar kondisiku tidak diketahui yang lain. Aku tidak mau dianggap wanita murahan yang bisa diperlakukan semaunya. Aku hanya berdiam diri saja. Beberapa kali sempat kutangkap Vento dan Yanti saling mengedipkan mata satu dengan yang lain sambil menyeringai penuh arti. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;“ Okey rekan rekan sekarang tiba waktunya bagi kita untuk menikmati acara utama malam ini..” kata Vento yang segera disambut riuh penuh persetujuan dari yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Aku sama sekali tidak paham maksud mereka. Aku tetap berdiam diri. Vento sekonyong konyong melingkarkan tangan dipundak Yanti dan menempelkan bibir pada bibirnya. Segera keduanya terlibat salig pagut da lumat dengan ganasnya. Yanti mendesah desah genit saat tangan lelaki itu mulai mengge rayangi lekuk lekuk tubuhnya. Ternyata Ani dan Robinpun telah berada pada kondisi yang sama saling memagut penuh nafsu. Lelaki yang ada disamping Yanti kini mengulurkan tangan dan mulai ikut mengusap usap pahanya. Tangan lelaki itu bergerak semakin keatas menuju pangkal paha Yanti. Dan Yanti terdengar mendesis desis keenakan ketika jemari lelaki itu mulai mengusap usap selakangannya. Semenatara Vento dengan buas mengulum putingsusu Yanti yang menyembul keluar karena kaos ketat yang dipakainya telah ditarik lepas keatas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Ani telah telanjang bulat. Ia tampak sedang mengoral penis Robin sementara seorang lelaki asyik men cumbu vaginanya. Pemandangan yang semakin menyulut nafsuku. Sebuah usapan tangan dipipiku menyadarkan aku akan kehadiran sebatang penis dalam kondisi sangat ereksi disodorkan tepat dimuka ku. Tanpa berpikir panjang kusambar benda itu lalu kujilati dengan sangat telaten. Kadang ku keluar masukkan mulutku sambil kuhisap hisap. Lelaki itu melenguh nikmat dan memintaku terus melakukan nya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Ujung kemaluannya tiba tiba bergetar. Batangnya menggeliat geliat hebat. Lalu ia ejakulasi. Maninya muncrat membasahi wajahku. Saat aku hendak meraih tissue untuk membersihkannya, Vento telah ber ada disampingku. Ia berusaha melepaskan celana dalamku. Kemudian bersiap untuk menancapkan batang kemaluannya yan sudah sangat tegang itu kedalam liang syahwatku yang memang sudah menunggu untuk dimasuki. Namun baru saja ujung penisnya menyentuh liang vaginaku mendadak muncul rasa jijik dalam diriku. Terlihat sangat tidak bermoral dan biadab. Kutolak tubuhnya lalu aku beranjak dan dengan cepat aku menghambur keluar. Teman teman berteriak teriak memanggil manggil namaku namun aku terus saja berlari. Ketika hampir melewati loby aku menabrak seseorang. Tubuhku terhuyung hendak rebah beruntung sebuah tangan yang sangat kuat menahan pundakku. Aku terhenyak setengah mati saat kusadari lelaki yang ada didepanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;“ Mr Mark????” seruku tanpa sadar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Lelaki bule itu hanya menyungging senyum. Ia bertanya apa yang sedang kualami. Kujawab kalau aku hampir diperkosa. Wajahnya mendadak berubah memerah penuh kegeraman. Jika tidak kucegah ia mungkin sudah berlari kedalam ruangan yang kami pakai tadi untuk mengahajar teman teman Ani dan Yanti. Kemudian dengan sangat sopan ia menawarkan diri untuk mengantarkan aku pulang. Aku tak mampu menolak ketulusannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;“ Tell me how does happen, plese!” tanyanya setelah kami berada dalam perjalanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Kuceritakan dari awal kejadian di ruang karaoke tadi. Ia dengan sabar dan penuh antusias mendengar kan. Ia raih tissue lalu ia usapkan dipipiku yang masih belepotan dengan sisa sperma teman Ani tadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;“ Dasar Bajingan busukkk! Tega teganya mempermainkan wanita secantik dirimu, honey!” ujarnya penuh kekesalan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;“ I want to give them a lesson for their !!!” lanjutnya berapi api.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Aku tidak mengerti kenapa dadaku menjadi membusung dijejali sebakul kebanggan saat diperlakukan seperti itu oleh Mark. Begitu sopan dan gentle. Sepertinya aku baru menjadi sosok wanita sejati saat itu. Sehingga tanpa sungkan aku menawarkan lelaki itu mampir saat kami sampai. Mark menyambut undanganku.dengan sangat bersemangat. Aku menyuruhnya mencuci tangan di whastafel dekat kamar tidurku. Membersihkannya dari sisa sperma yang menempel dipipiku tadi. Semenatara itu aku masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaian. Tak dinyana Mark menguntitku dari belakang. Ia mendekap dengan melingkarkan kedua tangannya dari belakang. Aku tak bereaksi sehingga ia semakin berani menempelkan bibirnya pada leherku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;“ You are so pretty… and so interested….” Bisiknya lembut ditelingaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Dadaku kembali membusung mendengar pujiannya dan dengan cepat gairah birahiku yang belum tertuntaskan tadi menggejolak hebat. Aku begitu menikmati ciuman ciumannya dileher dan tengkukku. Menikmati lembutnya rabaan tangannya pada payudaraku. Kubiarkan tangannya meremas remas kedua payudaraku yang montok yang masih terbalut tank top. Mark begitu menikmatinya. Aku juga pasrah ketika lelaki bule itu memutar badanku sehingga kamiberhadapan muka. Kami bertatapan sejenak saling mengagumi satu sama lainnya. Lalu ia menempelkan bibirnya pada bibirku. Kami saling pagut saling hisap dan saling menjilat penuh nafsu. Pakaianku satu persatu ditanggalkannya sampai aku di bi arkan telanjang bulat. Ia terus menatapku dan tak henti hentinya ia memuji kemolekan tubuhku sambil melepas sendiri semua pakaiannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ You have wonderfull breast !” ujarnya lalu mendekapku dan mengajak bercumbu kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Tubuhku dibaringkannya diranjang. Ia tindih tubuhku. Bulu bulu lebat ditubuhnya terasa menggelitik kulitku yang segera menjadi merinding keenakan. Selanjutnya mulut dan tangan Mark digunakan untuk membombardir putting dan buahdadaku. Aku tidak mengerti mengapa malam ini setiap hisapan mulut dan remasan tangan Mark terasa sangat nikmat. Padahal aku sering diperlakukan yang sama oleh suamiku. Apakah karena pengaruh obat perangsang tadi? Aku tidak tahu dan enggan mencari jawabnya yang kuingini hanyalah menuntut pemuasan total dari si lelaki bule. Mark menggeser tubuhku hingga berada ditepi ranjang. Lalu ia ciumi kedua kakiku. Mulai dari betis lalu naik kepahaku. Aku tak tahan untuk tidak melenguh dan menggelinjang kecil ketika kumis dan jambangnya menyapu kulit pahaku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Uuuuuffff….” Desahku ketika Mark mulai menjilati pangkal pahaku tanpa menyentuh vagina ku sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Kurasakan liang vaginanku mulai becek dan timbul rasa gatal birahi yang sangat hebat disekitar kelen titku. Namun Mark tidak juga segera mencumbunya. Ia malahan terus mempermainkan lidahnya di seki tar selakanganku untuk sekian menit. Hal itu membuat aku gemas juga akhirnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Oh! Mark! Please…..please lick my pussy…. Yet!” seruku penuh permohonan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Akhirnya Mark menurut. Dengan buas ia lumat vaginaku sehingga aku segera mencapai klimaks perta maku dengan perasaan yang sangat nikmat. Mark menyodorkan penisnya kearahku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ WOW! Amazinggg sizeee…..!” seruku takjub dengan ukuran benda itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Lalu kujilati dengan mesra batang sepanjang duapuluhan centi dengan diameter hampir dua inci itu. Ku usapkan lidahku secara merata mulai dari ujung atas hingga kekantung zakarnya. Mark melenguh nik-mat saat kukulum buah pelirnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Fuck with your mouth  Baby! Oh Please!” pintanya setengah memaksa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Mulutku terasa sesak saat kucoba memasukkan batang kemaluannya. Setelah menyesuaikan kuhisap hisap dan kukeluar masukkan benda itu dengan mulutku. Mark terus mencercau tak keruan saking nikmatnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Mark menelentangkanku kembali ditepi ranjang. Ia renggangkan kedua pahaku sementara ia menggi-ring ujung kemaluannya tepat kearah liang syahwatku. Ia usap usapkan sebentar sekedar mencari pelu masan pada sisa lendir orgasme yang tadi kupancarkan. Kemudian ia lesakkan dengan mantap,” BLESHSSS!!!”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Oeeeeghhhfff!” jeritku tertahan saat berlangsungnya proses pemasukan saking sesaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Namun dengan cepat otot otot vaginaku menyesuaikan dengan ukurannya sehingga kini Mark dengan bebas menggerakkan batang kemaluan monsternya keluar masuk dengan irama yang tetap. Aku hanya bisa menjerit jerit histeris karena munculnya rasa nikmat yang luarbiasa disekitar kemaluanku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; “ Push me! Push me harder! Baby! More…. More…. Yesssss…. Like thattttt!!” rintihku memohon ia menekan lebih dalam lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Rasa nikmat dengan cepat berkumpul dan segera berubah menjadi ledakan kepuasan yang dahsyat ketika Mark menghujamkan penis monsternya dalam dalam. Kulingkarkan kedua kaki mengunci ping gangnya sementara kuremat sprei sekuat tenagaku ketika ketegangan puncak mulai menjalar dari dalam liang senggamaku terus menyebar keseluruh tubuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Aaaaaaaagggggggghhhh………….!” Jeritku panjang sembari memancarkan cairan orgasmeku dalam jumlah yang sangat banyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Setelah mereda Mark menggeser tubuhku lagi. Kini aku mengangkang diatas sedangkan ia memasuki ku dari bawah. Kugoyangkankan pinggul maju mundur dengan sangat bernafsu sehingga penisnya yang terbenam diliang vaginaku terasa kuurut urut dengan kuat. Mark berulang kali mengatakan bahwa vaginaku terasa sangat nikmat dan ia minta lebih dan lebih lagi. Goyangan pinggulku semakin tidak teratur karena desakan birahi yang sangat kuat setelah Mark tidak membiarkan buahdadaku mengang gur. Mulut dan tangannya begitu aktif menstimulasi. Akhirnya aku harus melolong penuh kepuasan lagi saat kualami klimaks yang ketiga kalinya. Aku terkulai lemas diatas tubuhnya sementara ia masih bersemangat menyetubuhiku. Kutawarkan piliha yang lebih menantang. Mark setuju.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Kusurukkan muka diselakangnnya sambil mengoral batang kemaluannya yang kugenggam erat. Kuhisap hisap dan kukocok kocok dengan sangat liar sampai batang itu menggeliat geliat sembari memuntahkan cairan kental keputihan dalam jumlah yang sangat banyak sesuai dengan wadahnya yang sangat besar, yang menerpa wajah dan dada ku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Setelah mereda kembali kukulum dan kujilati ujung penisnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Malam itu kami mengulangi bercinta hingga hampir fajar. Lebih dari sepuluh kali aku mencapai klimaks yang sangat nikmat. Jam empat pagi Mark berpamitan dan kuantar hingga mobilnya menghilang dalam kegelapan pagi buta itu…………..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Keesokan harinya aku merasa sangat kecapaian karena permainan cinta dengan Mark sepanjang malam sehingga aku malas turun dari ranjang sampai hari cukup siang. Ponselku berbunyi. Dari suamiku ternyata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Hei, Sayang! Lagi ngapaian nih?” sapanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Masih tiduran, Ko…. capai banget badanku”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ kenapa? Abis marathon? “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ E…. nggak sih…. Koko mau denger ceritaku enggak? Tapi jangan marah ya…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ ya…ya aku siap denger nih!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Lalu dengan polos aku ceritakan semua kejadian kemarin. Deg degan juga aku menunggu reaksinya. Jangan jangan ia menjadi marah. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Diujung sana kudengar ia tertawa renyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ ceritamu merangsang banget Say……jadi pingin em el nih! Ha….ha….ha…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Udah….udah aku mau mandi dulu, Ko” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Kamu harus ceritakan semuanya lho, Na kalu aku pulang nanti!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Ya…ya…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Dan terdengar suara kecupan bibir dari seberang sana sebelum hubungan diputuskan. Aku segera bangkit menuju kamar mandi. Baru saja aku selesai mandi kudengar ponselku menyalak lagi. Pasti dari suamiku lagi, pikirku. Ternyata bukan. Dari Mr Mark. Huah! Mau ngapaian menelponku? Apa lelaki itu belum juga puas telah mengerjaiku semalam malaman?. Mark berbasa basi sejenak dan tak lupa menyanjung nyanjung kecaantikanku sebelum akhirnya ia mengutarakan maksud sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; “ I had told to my lovely wife about our intimate moment last night… you know…. My wife looked very attentived and she said that she wish to meet you…. Whould you like take a dinner with us tonight, Dear?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Where? When?” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ my house at abaout seven oclock…. I will pick up you…. Okey sweet heart?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Ya I will waiting” jawabku setuju.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Ah! What’s going on? Istrinya ingin berkenalan denganku? Lalu mau apa ya? Apa….. sejuta pertanya an bertubi tubi timbul tenggelam dalam benakku yang membuat suasana hatiku tidak nyaman saja. Tepat jam tujuh malam Mark menjemputku. Ia tampak sangat terpesona dengan penampilanku malam itu. Aku memilih mengenakan gaun malam ketat dengan potongan dada cukup rendah yang membuat belahan payudaraku yang montok tampak menonjol.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ You look wonderfull and very sexy Honey!” puji Mark sembari mendekap dan mencium bibirku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ We will be late, dear ! I won’t your wife be long waiting…..” protesku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Selanjutnya kami meluncur ke kediaman Mark. Rumahnya sangat besar dan mewah. Seorang satpam tergopoh gopoh membukakan pintu gerbang lalu membungkukkan badan dengan sangat hormat. Kami melewati taman yang cukup luas sebelum Mark memarkir mobilnya digarasi. Disana berjejer beberapa mobil mewah sekelas Jaguar. Lelaki itu dengan sangat gentle menggandengku masuk. Kulihat seorang wanita telah menunggu di ambang pintu.Usianya memang beberapa tahun lebih tua dariku namun ia memliki bentuk tubuh yang indah dengan payudara berukuran sangat besar. Wanita bule yang sangat cantik pikirku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Julie!” sapanya sangat bersahabat sambil menyodorkan tangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Nana!” sahutku sembari menjabat tangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Kami menuju ruang makan. Sembari bersantap malam kami memperbicangkan banyak hal. Julie wani ta yang sangat nyaman diajak ngobrol sehingga kami dengan cepat menjadi sangat akrab. Kami saling berbagi cerita dari hal umum sampai keurusan ranjang. Dengan polos ia bilang kalau Mark sangat mengagumi diriku. Ia juga bilang sangat menikmati cerita Mark tentang permainan cinta kami yang sangat liar semalam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Yes! Mark are right you look very pretty and enrapcure lady….”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Ahhh! You’ve execive talk about me…. I am only usual wife not much!” jawabku merendah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Selesai makan malam Mark dan Julie mengajakku naik kekamar mereka yang berada ditingkat dua. Julie menarik tanganku sehingga aku terjebak dalam dekapannya. Wanita itu menempelkan bibirnya dan mengajakku berciiman. Mulanya aku sedikit berontak karena tidak terbiasa bercumbu dengan sesa ma perempuan. Namun Julie terus memaksa dan meyakinkan diriku bahwa nanti juga aku akan terbiasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Akhirnya aku hanya bisa pasrah ketika bibirnya dengan buas melumat bibirku. Lidahnya menusuk nusuk rongga mulutku dengan sangat agresif. Benar juga dengan cepat aku terbiasa bahkan kini aku mulai bisa menikmati. Sensasinya sangat berbeda jika dilakukan oleh lelaki. Sesama wanita ternyata lebih lembut dan terasa lebih pas. Tanpa sadar aku membalas cumbuannya dengan pagutan yang tak kalah panasnya. Sementara kami saling mencumbu, Mark melepas satu persatu pakaian kami. Julie menarikku dan men gajkku bergumul diranjang empuk yang sangat besar dalam kondisi telanjang bulat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ You have beautifull breast and niple, honey!” pujinya sebelum ia menyerbu buahdadaku dengan mulut dan lidahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Akupun mengimbanginya dengan meremas remas payudaranya yang berukuran besar itu. Julie mengulurkan tangannya kebawah. Jemarinya dengan lincah menjelajahi selakanganku sehingga liang vaginaku dengan cepat menjadi sangat basah. Mendadak kurasakan sebuah kepala disurukkan diselaka nganku. Lalu terasa adanya jilatan jilatan lidah yang menyerbu sekitar vaginaku. Ketika kulirik kearah bawah ternyata Mark yang melakukanya. Dikeroyok oleh pasangan yang sangat ahli membuat aku terengah engah didera milayaran sensasi kenikmatan yang mengaliri seluruh titik saraf ditubuhku. Dalam waktu singkat aku hanya bisa mengejangkan tubuh sambil menjerit penuh kepuasan ketika tiba tiba gelombang orgasme datang menyergap!. Aku menggelinjang gelinjang kegelian karena Mark terus menerus menghisapi cairan kenikmatan yang meleleh keluar dari liang senggamaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Julie meminta kami melakukan posisi yang saling memuaskan, posisi 69. Aku yang berada diatas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; “ Nana….Oh! I want your mouth! Your tonge! Please…. Fuck me!.... yessss lick like that dear! I love itttt!” serunya berulang ulang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Selama sekian menit kami saling membagi kenikmatan saling menjilat dan saling melumat liang vagina yang ada didepan kami masing masing. Mark ikut ikutan menyerbuku kembali. Ia jilati seluruh bongka han pantatku juga celah diantaranya sampai akhirnya lubang duburku. Kembali aliran kenikmatan ribu an volt menyergapku. Aku kembali bergairah. Kucumbu vagina Julie dengan sangat bersemangat. Suatu kali Julie menyodorkan sebuah dildo yang bisa bergetar. Kugunakan benda itu untuk melumat liang vaginanya sementara kuserbu kelentitnya yang sudah sangat menegang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Kudengar Mark bertanya kepada istrinya mengenai vaginaku apakah terasa enak sesuai yang dicerita kannya tadi siang?.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            “ Yessssss…. Come on fuck her now! “ jawab istrinya diantara lenguhan lenguhan nikmatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Mark menghampiriku. Ia tusukkan dari arah belakang penisnya yang sudah sangat tegang itu kedalam liang vaginaku yang memang sudah menanti untuk dimasuki sedangkan Julie masih berada dibawah menjilati kelentitku. Tak terlukiskan rasa nikmat yang kuterima dari posisi seperti itu. Kupercepat kocokan vibrator itu keluar masuk vagina Julie. Wanita itu berteriak teriak penuh birahi sambil mende kap erat erat pinggangku. Tubuhnya sangat tegang. Kemudian ia melenguh sekeras kerasnya saat men capai klimaks. Menit berikutnya aku yang menggelinjang gelinjang ketika orgasme yang kedua kemba li menyerbuku. Bersamaan dengan itu, terdengar lenguhan lenguhan berat dari mulut Mark. Lelaki itu juga semakin mempercepat genjotannya sampai akhirnya ia melolong penuh kemenangan ketika ia memancarkan cairan ejakulasinya diliang vaginaku. Saking banyaknya cairan itu meleleh turun mene tes netes dibibir Julie.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Malam itu kami masih melakukannya beberapa kali permainan lagi sampai kami tak sanggup melaku kannya lagi karena terlalu capai…….&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-7545385112216275661?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/7545385112216275661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/istriku-terjebak-swinging.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/7545385112216275661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/7545385112216275661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/istriku-terjebak-swinging.html' title='Istriku Terjebak Swinging'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-5364853411601445585</id><published>2010-06-22T09:37:00.000-07:00</published><updated>2010-06-22T09:38:07.686-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daun Muda'/><title type='text'>Guru SD Eksibisionis</title><content type='html'>Halo semuanyaaa... Namaku dewi (ini nama asli loh,, banyak orang yg bernama dewi, jadi aku tidak takut membaritahu nama asliku) dan aku bekerja sebagai guru sd di sekolah negri di kotaku. Sekolah ini bukanlah sekolah favorit, apalagi gedungnya kecil yang menyebabkan jumlah muridnya juga tidak terlalu banyak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun aku menikmati saat2 bekerja disini,, karena di tempat inilah aku bisa menyalurkan libido dan ketertarikan seksku yang sedikit (banyak sebenarnya)menyimpang.. Tapi aku akan menceritakan sedikit tentang diriku terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil aku sudah memiliki ketertarikan yang lumayan besar terhadap seks. Aku menonton vidio porno pertama kali kelas 6 sd. Video itu milik temanku. Sebenarnya dia enggan meminjamkannnya kepadaku. Sehingga dia memberi syarat untuk memmperlihatkan celana dalamku. Namun karena keingintahuanku yang besar, akupun menyingkapkan rokku di depannya selama sepuluh menit dan berhasil membujunknya untuk meminjamkan video itu padaku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah pertama kalinya aku menonton vidio porno, dan akupun mencoba bermasturbasi kira2 6 bulan kemudian. Aku tidak langsung mencobanya karena takut kenapa2, namun akhirnya aku tidak tahan juga. Tetapi selain hal itu, ada satu hal lagi yang baru kusadari ketika itu aku mencoba bermasturbasi. Entah kenapa ketika aku akan mencapai orgasme, bayangan wajah temanku yang sedang melihat celana dalamku muncul secara tiba2. Dan ternyata aku sangat menyukai sensasi ketika ia melihat celana dalamku. Aku menjadi bergairah ketika mengetahui ada orang yang memandangi tubuhku. Anehnya, aku sama sekali tidak tertarik untuk mengajaknya untuk berhubungan suks. Yang aku bayangkan hanyalah ketika aku mempertontonkan celana dalamku. dan ketika itulah aku menyadari bahwa aku adalah seorang eksibisionis (walaupun ketika itu aku belum tahu istilahnya). Namun itu membuatku ingin melakukannya lagi. Namun hal ini cukup sulit karena aku tidak ingin memberikan citra buruk ke keluargaku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu aku hanya  beberapa kali sempat mempraktekkan fantasiku. Dan inlah yang paling  menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu aku sudah kelas 2 smu. Waktu itu hari udah sore dan dirumahku sedang tidak ada orang. Dan aku sedang menonton bokep yang kupinjam dari temenku ketika aku mendengar ketukan pintu rumahku. Tadinya ku diamkan saja, karena aku sedang asyik meraba-raba tubuhku sendiri. Namun aku mendengar suara anak tetanggaku yang memanggil-manggil. Katanya dia ingin mengambil layang-layang yang terjatuh ke belakang rumahku. Lalu tiba-tiba muncul ide gila di kepalaku. Dan aku pun keluar kamar dengan hanya memakai singlet dan celana dalam..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku membuka pintunya sedikit sehingga tubuhku tidak terlihat dari luar. setelah berpura-pura menanyakan maksud kedatangannya, akupun mempersilahkannya masuk. Ketika dia sudah masuk dan melihatku secara jelas, dia sangat terkejut melihatku berpakaian seperti itu. Dan kulihat dia terpana memandangi celana dalamku. "heeh, ngeliatin apa kamu dek??" kataku. "eh, gak. Maap kak gak sengaja." katanya dengan malu-malu. "halah kamu" kataku sambil tersenyum kepadanya mengisyaratkan bahwa aku tidak marah. Dia pun hanya menundukkan wajahnya dengan malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ketika mengantarkannya kebelakang rumahku, akupun mendapat ide yang lebih gila lagi. Aku berhenti di depan pintu kamar mandi, dan berkata padanya "eh, bentar yah kakak kepingin pipis". "yaudah, kakak pipis aja" katanya. Dia benar-benar gak tahu apa yang akan kulakukan. Lalu aku masuk kekamar mandi, namun aku berhenti di depan pintu dan membuka singlet dan celana dalamku tanpa menutup pintunya dan dia masih berdiri persis di depan pintu. Setelah itu aku membalikkan badanku dan terlihatlah ekspresi yang selama ini menjadi fantasiku. Yaitu wajah kekanakan seorang bocah yang merona merah malu-malu ketika melihat tubuh seorang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kegilaanku belum berhenti sampai disitu, aku pun berjongkok dan mengeluarkan pipisku yang memang sedang banyak waktu itu. Dan karena kami sedang berhadapan (walaupun dibatasi pintu kamar mandi), air pipisku muncrat melewati batas kamar mandi. Kecingku menggenangi telapak kakinya dan sedikit mengguyur lututnya. Dia hanya terdiam memandangi memiawku yang masih berbulu halus ini dan tidak memperdulikan air kencingku yang membasahi kakinya. aku benar-benar sangat menikmati saat-saat ini. Sempat terpikir untuk bermasturbasi langsung di hadapan dia, namun aku berhasil menahan nafsuku. Setelah selesai, aku tidak membersihkan memiawku dan bangkit berdiri di samping dia. Lalu aku menarik bagian bawah baju anak itu dan memakainya untuk mengelap memiawku. Lalu aku berkata padanya " sory yah dah numggu" sambil tersenyum semanis mungkin. Dia benar-benar tidak mempercayai apa yang sudah kulakukan dan hanya berguman gak jelas menjawab perkataanku lagi. "hei, jadi gak mau ngambil layangannya??" tanyaku karena dia cuma diam bengong sambil mengendus bajunya yang kupakai untuk cebok. "eh j.. jaddi kaak" katanya dengan suara bergetar". "Yaudah ayo" kataku sambil menggandeng tangannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di belakang rumahku, aku menyenggol jemuranku dengan sengaja sampai membuat baju-bajuku terjatuh. Dan dengan membelakangi bocah itu, aku lalu menuunggingkan pantatku setinggi mungkin sambil mengambil kembali jemuran yang terjatuh. Aku yakin bahwa anusku akan terlihat dengan jelas. Setelah selesai, akupun memberikan layangannya dan mengantarnya ke depan pintu. Namun aku memintanya untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun. Dan dia pun hanya mengangguk tanda mengerti..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu aku kembali kekamarku, dan bermasturbasi dengan ganasnya, dan aku melakukan itu berkali-kali sampai-sampai badanku terasa sangat lemas. Bocah tersebut sama sekali gak tahu bahwa dia udah memberikan kenikmatan yang luar biasa kepadaku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun setelah itu aku diterima bekerja di sebuah sekolah negri di kotaku. Sebetulnya aku tidak mengharapkan kejadian indah di masa lalu tersebut untuk terjadi lagi. Karena aku berpikir susah mencari kesempatannya. Dan yang bisa kulakukan hanya dengan memakai rok yang agak pendek namun masih dibawah lutut dan duduk dengan mengengkangkan kakiku sedikit. Aku sangat berhati-hati melakukan ini dan tidak bisa terlalu sering, karena biasanya mereka akan bercerita dengan teman-temannya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan itu kudapat ketika aku diangkat menjadi guru bp. Aku gak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku langsung merencanakannya di minggu kedua jabatanku. Aku mencari murid-murid yang pendiam dan penurut lalu mencari berbagai alasan untuk memanggilnya keruangan bp. Untungnya ruangan bp ini terpisah agak jauh di gedung bagian belakang. Sebetulnya tadinya ini bukan ruangan bp, tetapi cuma ruang 4x4 untuk menymimpan beberapa perlengkapan sekolah. Namun aku meminta kepala sekolah untuk mengubah ruangan tersebut untuk menjadi ruang bp dengan alasan untuk memudahkan mengobrol dengan murid-murid yang cenderung menutup diri ketika dihadapan guru-guru lain..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kembali ke cerita. Korban pertamaku bernama niko. Dia murid kelas enam yang biasanya memiliki nilai-nilai yang dukup baik namun prestasinya menurun ketika aku menjadi wali kelasnya. Aku tahu dia tidak berkonsentrasi belajar karena aku selalu memandanginya dan tersenyum padanya ketika yang lain tidak memperhatikan. Wajahnya tidak menarik, karena itu aku yakin dia akan menjadi salah tingkah ketika kupandangi dan dia memang kurang populer di kalangan teman-teman seangkatannya. Murid-murid yang seperti inilah yang selalu menjadi korbanku. Karena biasanya mereka akan menuruti perintahku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari udah siang ketika dia mengetuk pintu ruang kerjaku. Sudah waktunya pulang sekolah dan biasanya murid-murid langsung pulang kerumahnya. aku sudah menyuruhnya memberitahu orang rumah yang menjemputnya bahwa dia kupanggil keruang bp untuk membicarakan nilainya dan akan mengantarnya pulang setelah selesai. Akupun mempersilahkannya masuk. Lalu akupun berbasa-basi dengannya beberapa menit lalu aku dengan sengaja menjatuhkan pulpenku ke seberang meja dan memintanya mengambilkannya untukku. Tentu saja ketika dia mengambilnya aku langsung mengangkangkan kakiku selebar-lebarnya, memperlihatkan celana dalamku yang berwarna biru muda, lalu langsung menutupnya kembali..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ia duduk kembali wajahnya memerah dan dia menjadi gugup. Lalu kutanya padanya "niko, wajah kamu merah banget, kamu sakit yah?". Kupegang keningnya lalu lehernya, trus menyusuri pipinya dan terakhir kusentuh bibirnya dan kumasukkan jariku kedalam mulutnya. Dia tersentak kaget, tapi tetap diam aja. Mungkin dia berpikir, "kapan lagi bisa mengemut jari guru kesayanganku". Lalu aku mengeluarkan jariku dan kuemut jariku yang tadi dan meludah sedikit ke telunjukku dan kumasukkan lagi jariku kemulutnya dan berkata padanya "tuhkan, lidah kamu anget, kamu sakit yah??" kataku. Dia cuma menggeleng perlahan, dan mulai menghisap-hisap jariku. Aku membiarkannya beberapa menit lalu duduk kembali kekursiku, dia kelihatan kecewa, "tenang aja akan kuberikan yang lebih baik nanti" kataku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku mulai bertanya soal niali-nilainya yang mulai menurun, dan menanyakan sebabnya. Dia berkata selama ini dia tidak bisa berkonsentrasi selama di kelas. Lalu ketika aku bertanya kenapa, dia tidak mau menjawab. Akupun memaksanya menjawab dan mulai membujuknya. Kukatakan padanya, bahwa sangat penting untuk mengetahui sebabnya karena dia harus menghadapi ujian nasional sebentar lagi dan kalau kami tidak mengetahui alasanya maka pertemuan ini hanya sia-sia saja. Lalu dia pun berkata dengan suara pelan dan bergetar, "sebenarnyaa.. ni..niko suka sama ibu". Lalu aku berpura-pura terkejut, dan tersenyum semanis mungkin. "niko, emangnya kamu udah bisa suka sama cewek?? Lagipula kenapa kamu malah sukanya sama ibu, temen-temen kamu kan banyak yang cantik-cantik?". "so.. soalnyaaa, ibu lebih cantik sih. Niko selalu memandangi wajah ibu keitka ibu mengajar." "kalo itu si ibu juga tau kok, tp ibu kira kamu ngeliatin ibu dengan serius karena berkonsentrasi dengan pelajaran. Tapii.. ada satu yang aneh ni.". "apa tu bu??" "kok sewaktu ibu duduk di meja di kosong di depan kamu, kamu jadi ngeliat paha ibu si?? Kamu sebenarnya suka ato nafsu ama ibu??" kataku dengan berani. Anak itu langsung menjawab dengan ketakutan "ah gak kok bu, mungkin waktu itu niko lagi ngelamun." "haduh kamu gak perlu bohong kok sama ibu. Tadi aja kamu berlama-lama ngambil pulpen ibu karena ngintipin ibu kan??". "ah ng.. gak kok bu, tadi.." "niko.." kataku langsung memotongnya, "kalo nilai kamu turun gara-gara ngeliatin celana dalam ibu kan kamu sendiri yang rugi?? kalo cuma celana dalam si kamu boleh liat kapan aja kok." Setelah berkata begitu aku berdiri dan duduk di atas meja sambil membuka lebar kakiku. Kakiku yang sebleh kiri kunaikkan ke atas meja dan yang sebelah kanan kuletakkan di sela-sela kedua pahanya. Dan jempol kakiku mulai memijit titinya. "tuh kamu boleh liat sampe puas. Sayangkan kalo cuma gara-gara ini nilai kamu jatuh sayang??". Dia benar-benar syok melihat pemandangan indah itu tepat di hadapannya. Sampai-sampai dia lupa menjawabku. Lalu aku menarik wajahnya ke arah selangkanganku sampai menempel dengan celana dlamku, lalu kukepit kepalanya dengan kedua pahaku dengan berhati-hati untuk memberinya ruang untuk bernafas. Sensasinya benar-benar luar biasa, mememkku sudah sangat basah dan membara di balik celana dalamku. Apalgi selama melakukan ini, aku terus bercakap-cakap dengannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama, aku melepaskan kepitan pahaku, dan berdiri membelakanginya. Sekali lagi aku menarik kepalanya namun kali ini ke arah pantatku, dan yang membuatku menyukai anak ini, dia diam saja menurut. Kutempelkan wajahnya dalam-dalam ke pantatku. Dan bisa kurasakan dia menghirup nafas dalam-dalam. Kelihatannya dia sangat menyukai aroma pantatku. Dan kali ini juga, aku tetap bercakap-cakap dengannya. Setiap kali dia berbicara, angin dari mulutnya membuat anusku terasa geli dan sangat merangsangku. Karena tak tahan lagi, aku menyusupkan jari ke ke dalam celana dalamku dan mulai bermasturbasi. Lalu aku menyuruhnya menggesek-gesekkan wajahnya di pantatku. Dia pun menurut aja tanpa banyak tanya. Lalu akupun bermasturbasi sampai puas. Aku pun m,ulai mendesah-desah kenikmatan, berkali-kali kupanggil namanya, " niikoo... oooh.. aaah... ayo tempelkan wajah kamu lebih dalam lagi nak.." "iii ya bu..." ketika dia menjawab, lagi-lagi nafasnya membuat geli anusku dan nafsukupun semakin menjadi. "oooh ibu mau keluar nih,, aaaah.. ssst.. aaah... ssst.. nikmat banget" Aku yakin walaupun dia belum mengerti apa yang sedang kulakukan, dia juga sangat menikamati permainan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku duduk kembali diatas meja, lalu menyuruhnya menurunkan celana dalamku. Dia pun menurut dan, dengan bergetar dan gugup dia mulai menarik celana dalamku sampai terlepas. Lalu aku pun melebarkan kuedua kakiku dan memperlihatkan mememkku padanya. aku hanya diam aja, aku menunggunya untuk mencium memiawku tanpa kuperintahkan. dan benar saja, perlahan-lahan dia mulai mendekatkan wajahnya ke memiawku. Pertamanya dia cuma menciuminya saja, lalu kuajarin dia cara-cara yang bisa membuatku nikmat, dan dia cukup cepat belajar. Sebentar saja aku sudah mulai menikmati permainannya. "ooooh.. enak banget sayang.. jilatin terus memiaw ibu,, aah... Ntar ibu kasi kamu nilai yang bagus deh. ooh... terus sayang.. ibu keluar nih... aaah sssst... enak banget jilatan kamu..."..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"makasih ya nikoo.." kataku padanya dengan manja. "niko juga seneng kok bu. Niko mau kok kapan aja ibu mau dijilatin lagi" akupun tertawa dan berkata lagi "aduh baik banget kamu. Eamangnya kamu suka banget yah sama ibu??" "iya bu, niko mau disuruh apa aja sama ibu." katanya. " ah yang bener kamu??? kalo gitu kamu mau gak minum pipis ibu?? dari tadi ibu dah nahan pipis tapi ibu males ke kamar mandi ni." dia memandang wajahku tidak percaya, "tp pipis itu kan jorok bu??" "Loh katanya kamu suka sama ibu, masa pipis ibu aja kamu gak mau minum si sayang??? apa lagi kalo ibu suruh kamu makan tai ibu??" "eeh.. ni.. niko mau kok bu. Terserah ibu aja deh". Lalu aku pun menarik wajahnya dengan sedikit kuat karena aku juga sudah sering menghayalkan hal ini. dan aku mulai mengencingi mulutnya, dan ternyata dia cukup menyukainya karena dia meminum kencingku dengan cepat agar tidak tumpah kemana-mana. Setelah keluar semua, aku menyuruhnya menjilati memiawku sampai bersih..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, akupun brpakaian, dan duduk kembali ke kursiku. "niko, kamu gak boleh nyeritain ke siapa-siapa tentang hari ini yah? nanti ibu gak bisa maen-maen kaya gini lagi dengan kamu." "iya bu, niko gak akan cerita." "makasih ya sayang, ibu seneng banget hari ini, nanti laen kali kamu yang akan ibu beri kenikmatan, sayangnya hari udah sore jadi ibu anatar aja kamu pulang ya??" "iya bu" katanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, akupun mengantarnya pulang, dan berbasa basi sebentar dengan ibunya. Sesampainya di rumah, aku masih merasa horny dan kembali bermasturbasi sebentar lalu mandi. Untung saja besok adalah hari minggu, karena hari ini bener-bener melelahkan.&lt;br /&gt;Malam itu akupun tertidur dengan senyum menghiasi wajahku, karena membayangkan si niko meminum pipisku dan memakan semua kotoranku. Hahaha, life is beautiufull!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-5364853411601445585?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/5364853411601445585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/guru-sd-eksibisionis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/5364853411601445585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/5364853411601445585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/guru-sd-eksibisionis.html' title='Guru SD Eksibisionis'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-6332916166221979091</id><published>2010-06-22T09:32:00.000-07:00</published><updated>2010-06-22T09:33:48.383-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Istri Muda Pak RT</title><content type='html'>Aku adalah anak tunggal di keluargaku. Namaku Doni. Umurku waktu itu 17 tahun. Aku siswa sebuah SMU Swasta dikotaku. Bapakku adalah seorang pengusaha menengah yang cukup sibuk, dia sering pergi keluar kota umtuk waktu yang tidak tentu. Ibuku juga sering ikut bersamanya. Aku tinggal dilingkungan Perumahan kelas menengah. Di sebelah rumahku adalah rumah Pak RT, orang yang cukup berpengaruh disana. Umurnya sekitar 60 tahun. tapi masih kelihatan gagah. Pak RT mempunyai dua orang istri. Yang pertama namanya Tante Is, wanita keturunan arab, kulitnya hitam manis, bodinya langsing. Meskipun usianya sudah 40-an, Tante Is masih kelihatan cantik, dia sangat pintar merawat diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Dengan Tante Is, Pak RT mempunyai dua orang putri yang cantik-cantik, yang sulung namanya Erni sedangkan adiknya namanya Ana, umur keduanya hampir sebaya denganku. Istri keduanya namanya Tante Linda, orang Bandung, kulitnya putih bersih. Wajahnya mirip bintang sinetron Titi Kamal. Bodynya aduhai, montok, padat berisi. Mungkin karena dia sering fitness, apalagi Tante Linda senang berpakaian sexy yang menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya. Membuat laki-laki yang memandangnya terangsang dan ngeres. Tante Linda orangnya supel dan pintar bergaul, sering dia ngobrol-ngobrol dengan anak muda seusiaku, termasuk aku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kejadian ini bermula ketika orang tuaku pergi seminggu keluar kota untuk keperluan bisnisnya. Aku ditinggal sendirian dirumah. Sedangkan pembantuku dipecat ibuku tiga hari sebelumnya karena ketahuan mencuri uang ibuku. aku yang sendirian merasa kesepian. Aku duduk diruang tamu sambil berkhayal. Untuk menghilangkan kesepianku, kuputar VCD porno yang baru aku pinjam dari temanku. Filmnya tentang seorang cewek bule yang sedang disetubuhi dua orang negro. Satu orang negro sedang dikulum kontolnya, sedangkan yang satunya lagi sedang ngentot cewek bule itu dari belakang dengan posisi nungging. Sekitar 20 menit mereka berganti posisi, satu orang negro sedang rebahan diranjang sambil memasukkan kontolnya kelubang anus cewek bule itu, yang telentang diatasnya. Sedangkan negro yang satunya lagi sedang menggenjot vagina cewek itu. Desahan dan erangan mereka membuatku terangsang. Kuraba-raba celana pendekku (aku sudah tidak pakai celana dalam), kontolku mengeras. Semakin lama kuraba semakin keras. Kukocok-kocok naik turun. Birahiku memuncak ingin disalurkan, tapi aku tidak tahu harus kemana menyalurkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Lagi ngapain Don?" suara seorang wanita mengejutkanku.&lt;br /&gt; Ternyata Tante Linda sudah berdiri disamping pintu. Dia berpakaian sangat sexy, dengan kaos ketat dan rok super mini. Dia memandang karah celanaku. Saking terkejutnya aku lupa menaikkan celanaku, sehingga dia dengan bebas bisa melihat kontolku yang sedang tegang penuh, mengacung-acung.&lt;br /&gt; "Maaf.. maaf.. Tante" sahutku terbata-bata.&lt;br /&gt; "Akh, nggak apa-apa kok, kamu khan udah gede".&lt;br /&gt; "Wah, kontolmu gede banget, udah pernah dimasukkin kevaginanya cewek belum?" tanyanya cuek.&lt;br /&gt; "Be.. belum pernah Tante" sahutku.&lt;br /&gt; "Mau nggak dimasukin ke punya Tante?, Tante pingin nih ngerasain kontolmu" katanya meminta.&lt;br /&gt; Kemudian dia menutup pintu dan menguncinya. Dia berjalan mendekat kearahku. Duduk disampingku.&lt;br /&gt; "Tapi saya belum pernah Tante" jawabku.&lt;br /&gt; "Tante ajarin, mau khan?" katanya sedikit memaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tanpa menunggu jawabanku, dia menaikkan kedua kakinya kepangkuanku. Tangannya meraba-raba kontolku, aku gemetar. Baru kali ini kontolku dipegang seorang wanita. Dia mendekatkan wajahnya kewajahku, diciumnya bibirku. Lidahku diisapnya. Aku membalas isapannya. Lidahku dan lidahnya tumpang, tindih saling isap. sesekali isapannya diarahkan keleherku. ditariknya tanganku, diletakannya dikedua buah dadanya yang sudah mengeras. Kuremas-remas buah dadanya, dia menggelinjang keenakan. Kutarik kaos ketatnya, aku terperangah, dia tidak memakai BH, buah dadanya padat dan kenyal. Kulepaskan isapan lidahnya, kuisap buah dadanya, dia melenguh, sambil tangannya terus mengocok-ngocok kontolku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Beberapa menit berlalu, dia berdiri, lalu melepaskan rok mininya. Maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa. Aku bisa melihat dengan jelas vaginanya yang merah merekah, sangat indah. dicukur rapi dan bersih. Kemudian dia berlutut dilantai, dihadapanku. Wajahnya didekatkan keselangkanganku. Ditariknya celana pendekku. Bibirnya mendekati kepala kontolku, dan mulai menjilati kepala kontolku, terus kepangkalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;"Akkh.. aow.. oohh.. nikmat Tante, enakk.. sekali" aku mengerang ketika dia mulai mengulum kontolku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hampir seluruh batang kontolku masuk kemulutnya yang sexy. Kontolku keluar masuk dimulutnya. Nikmat sekali. Tak ketinggalan, buah pelirkupun diseruputnya. Puas mengulum kontolku, kemudian Tante Linda berdiri dihadapanku. Vaginanya berada pas diwajahku. Dia menarik kepalaku, mendekatkannya pada vaginanya. Aku mengerti maksudnya, minta dijilati vaginanya. Kujulurkan lidahku. Aku mulai dengan menjilati pangkal pahanya, terus mendekati bibir vaginanya.&lt;br /&gt; "Aow.. oohh.. nikmat.. sayang, teruss.. terus" dia mendesah-desah ketika aku memasukkan lidahku ke lubang vaginanya.&lt;br /&gt; Kusedot-sedot, kugigit-gigit kelentitnya. Dijepitnya kepalaku. Hampir seluruh isi vaginanya kujilati, vaginanya basah.&lt;br /&gt; "Akkhh.. akuu.. nggak kuatt.. sayang, kita mulai aja" ajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan kepangkuanku. Dipegangnya kontolku, diarahkannya tepat kelubang vaginanya. Dia mulai memasukkan kontolku sedikit demi sedikit. Semakin lama semakin dalam. Sudah setengah batang kontolku masuk. Sampai disini dia berhenti sejenak mengatur posisi. Kakinya berlutut disofa. Aku tak mau ketinggal, kuambil kesempatan. Kusodokkan kontolku. Dia menjerit ketika kontolku amblas dilubang vaginanya. Dia mulai menaikturunkan pantatnya dipangkuanku. Kontolku serasa dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Gimana sayang enak khan?" tanyanya.&lt;br /&gt; "Enakk sekali Tante, vagina Tante sempit sekali" jawabku.&lt;br /&gt; "Sudah lama sekali Tante tidak merasakannya sayang".&lt;br /&gt; "Pak RT tak pernah memberiku kepuasan" dia menggerutu.&lt;br /&gt; "Emangnya Pak RT impoten Tante?" tanyaku.&lt;br /&gt; "Iya, iya sayang" jawabnya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kupeluk pinggangnya erat-erat. Bibirku menghisap-hisap buah dadanya. Kubantu gerakkannya dengan menyodok-nyodokan pantatku keatas. Dia mengerang-erang merasakan nikmat. Matanya merem melek. Semakin lama semakin cepat dia menggerak-gerakkan pantatnya, sesekali pantatnya diputar-putar. Aku merasakan nikmat yang tiada tara. Kontolku serasa dipelintir vaginanya. Sudah sekitar 30 menit kami berpacu dalam kenikmatan. Nafasnya dan nafasku saling memburu. Peluh kami bercucuran.&lt;br /&gt; "Akh.. oohh.. aku tidak kuat sayang, akuu.. mauu.. keluarr" dia menjerit-jerit.&lt;br /&gt; Kurasakan vaginanya berkedut-kedut.&lt;br /&gt; "Akuu.. juga Tante" sahutku ngos-ngosan.&lt;br /&gt; "Keluarin didalem aja sayang, aku ingin punya anak darimu" pintanya memelas.&lt;br /&gt; Crott! Crott! Crott! Aku menumpahkan sperma yang sangat banyak di lubang vaginanya.&lt;br /&gt; "Kamu puas khan sayang?" tanyanya.&lt;br /&gt; "Puas sekali Tante" sahutku pendek.&lt;br /&gt; Kami beristirahat sejenak. Kemudian kekamar mandi untuk membersihkan badan. Siraman air membuat badanku segar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;"Aku pingin lagi sayang, kamu mau khan?" tanyanya meminta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Aku tidak menjawabnya. Kubopong tubuhnya, kubawa kekamarku dan kurebahkan diranjangku. aku merangkak diatas tubuhnya dengan posisi ssungsang. Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan wajahku tepat diatas vaginanya. Aku mulai menjilati dinding vaginanya. Dia menggerinjal-gerinjal dan menjepit kepalaku. Seluruh dinding vaginanya kujilati. Kucari-cari tititnya. Kusedot-sedot dengan lidahku. Sesekali kugigit. Dia meringis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan jari-jariku kutusuk-tusuk lubang anusnya. Sesekali kujilati lubang anusnya. Tante Linda tak mau ketinggalan. Dia menjilati kontolku, dari kepala sampai pangkal kontolku tak luput dari jilatannya. Sstt! Aku mendesah ketika dia mengulum kontolku. Dia sangat lihai memainkan lidahnya. Kontolku yang tadi mengecil, sedikit demi sedikit mengeras didalam mulutnya. luar biasa kenikmatan yang kudapatkan. Tante Linda memang benar-benar profesional. Seluruh batang kontolku dijilatinya.&lt;br /&gt; "Oohh.. aku tidak tahan sayang, kita mulai aja" pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kuturunkan tubuhku dari tubuhnya. Aku berdiri dipinggir ranjang. Kutarik tubuhnya kepinggir, hingga kedua kakinya menjuntai. Aku mendekatkan kontolku kelubang vaginanya. Sedikit demi sedikit kontolku masuk kelubang vaginanya. Sstt! Dia mendesis. Sudah seluruh batang kontolku amblas ditelan lubang vaginanya yang basah dan memerah. Kugoyang-goyangkan pantatku. Tante Linda membantuku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. aku merasakan sensasi yang luar biasa. 10 menit berlalu, kuganti posisi. Kutarik kontolku. Kakinya kunaikkan keduanya. Aku memasukkannya lagi. Dan mulai menggenjotnya.&lt;br /&gt; "Akhh.. akuu.. mauu.. keluarr.. sayang" dia mengerang.&lt;br /&gt; Vaginanya berkedut-kedut. Vaginanya menjepit kontolku.&lt;br /&gt; "Akhh.. aku keluarr.. sayang" dia melenguh.&lt;br /&gt; kurasakan vaginanya basah oleh cairan. Tante Linda telah mencapai orgasme sedangkan aku belum apa-apa. Kubalikkan tubuhnya. Kuminta dia menungging. dia menuruti aja perintahku. Kudekatkan kontolku yang masih tegang ke lubang anusnya.&lt;br /&gt; "Kamu mau apain anusku sayang" tanyanya ketika kepala kontolku menyentuh lubang anusnya.&lt;br /&gt; "Jangan, jangan di lubang itu sayang, sakit" teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tidak mempedulikannya. Kumasukkan kepala kontolku kelubang anusnya. Mulanya agak susah tapi akhirnya masuk juga. Kutekan pelan-pelan hingga seluruh batang kontolku amblas. Aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Kutuk-tusuk lubang anusnya.&lt;br /&gt; "Oohh.. enakk.. sayang, kamu pintar" pujinya ketika dia sudah mulai merasakan nikmatnya disodomi.&lt;br /&gt; Sekitar 30 menit kontolku keluar masuk dilubang anusnya. Kurasakan kontolku berkedut-kedut.&lt;br /&gt; "Akkhh.. aku mau keluarr.. Tante" aku berteriak histeris.&lt;br /&gt; Crott! Crott! Crott! Kutumpahkan spermaku lubang anusnya. Kudiamkan beberapa saat. Lalu kutarik kontolku. Kuarahkan ke wajahnya. Kuminta dia menjilati spermaku. Dengan lahapnya Tante Linda menjilati sisa-sisa spermaku, sampai bersih dijilatinya. Tanpa rasa jijik sedikitpun.&lt;br /&gt; "Kamu hebat sayang, aku puas sekali" pujinya.&lt;br /&gt; "Kamu mau khan memberiku kepuasan seperti ini lagi?" pintanya.&lt;br /&gt; Aku mengangguk aja. Menyetujui permintaannya.&lt;br /&gt; "Kalo kamu pengin lagi, datang aja ke kamarku".&lt;br /&gt; "Masuknya lewat jendela ya! Kalo lampu kamarku mati, berarti Pak RT nggak di rumah".&lt;br /&gt; "Ketok kaca jendela tiga kali, akan kubukakan untukmu, OK" dia menerangkannya untukku.&lt;br /&gt; Kurebahkan tubuhku disampingnya. Kami tertidur setelah mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Malam itu Tante Linda menginap dikamarku. Sampai pagi kami merengkuh kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; *****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak saat itu, hampir setiap ada kesempatan kami bersetubuh. Berbagai macam gaya aku diajarinya. Kupikir kasihan juga Istri-istri Pak RT yang merana karena ketidakmampuannya memberikan kepuasan. Hingga istrinya berselingkuh. Dan dari gosip yang kudengar, istri pertamanya juga berselingkuh dengan sopirnya Iwan. Aku juga mendapat bagian istri pertamanya, tapi akan kuceriatakan lain kali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-6332916166221979091?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/6332916166221979091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/istri-muda-pak-rt.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/6332916166221979091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/6332916166221979091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/istri-muda-pak-rt.html' title='Istri Muda Pak RT'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-2196624479605199088</id><published>2010-06-22T09:12:00.000-07:00</published><updated>2010-06-22T09:20:49.021-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Ohh majikan ku yg menggairahkan</title><content type='html'>Entah kenapa aku jadi menuliskan cerita ini. Cerita yang kupikir sangat sulit untuk kulupakan. Kejadiannya 2 tahun yang lalu. Saat itu aku memang masih gadis desa yang baru saja ke kota. Kota yang menjadi tujuanku adalah Cianjur. Kota yang memang belum terlalu berkembang, namun kupikir aku akan betah. Aku tak tentu tujuan, tapi akhirnya aku memilih menjadi seorang pembantu rumah tangga. Kudapatkan pekerjaan itu di sebuah rumah yang memang tidak terlalu besar. Majikanku itu memang sudah menikah dan punya anak. Ia berprofesi sebagai seorang guru olahraga di SD. Tapi mungkin karena rumah yang ditempati mereka bertiga kurang besar, ditambah lagi ibu majikanku itu sudah tua, maka istri dan anaknya yang masih kecil itu tinggal di rumah terpisah bersama ibu majikanku. Aku berhasil mendapat pekerjaan ini memang karena bagaimana pun seorang pria tentu sulit merawat rumah sendirian, karena istrinya itu memang jarang datang berkunjung (entah bagaimana kehidupan seks mereka itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya inilah awal perkenalanku:&lt;br /&gt;Aku melangkah masuk ke rumah itu. Bu Titin, mempersilakanku masuk. Ia tampaknya setuju jika aku bekerja di rumah suaminya itu. Setelah berbincang beberapa saat, suaminya pulang. Dan saat itulah aku melihat suami Bu Titin. Dia pun melihat ke arahku. Oh Tuhan, suaminya benar-benar tampan dan seksi. Mungkin karena ia adalah seorang guru olahraga. Pantas saja ia menjaga bentuk tubuhnya itu.&lt;br /&gt;"Tin, siapa dia? Pembantu buatku yang baru ya?"&lt;br /&gt;"Iya, Mas. Aku bingung cari-cari, eh akhirnya ketemu juga," kata Bu Titin.&lt;br /&gt;"Lastri, perkenalkan ini suamiku, Yayan."&lt;br /&gt;"Lastri Pak," kataku malu-malu.&lt;br /&gt;Aku benar-benar terpesona oleh penampilannya itu. Ditambah lagi saat itu dia seperti mandi keringat. Benar-benar bau kejantanannya membuatku bergairah.&lt;br /&gt;"Yayan," katanya sambil menjulurkan tangannya yang kekar itu padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, aku telah 2 minggu bekerja di rumah Mas Yayan. Aku benar-benar bahagia bisa menjadi pembantu Mas Yayan. Ia tipe pria idamanku. Aku pun merasa beruntung pula karena Bu Titin memang tidak pernah tinggal satu rumah bersama Mas Yayan seperti yang sudah kutuliskan tadi. Paling-paling hari Sabtu Bu Titin datang berkunjung dengan anaknya. Setelah itu pulang lagi. Jika Mas Yayan sudah berangkat, aku sering masuk ke kamarnya. Kuperhatikan selama ini, ia selalu memakai baju-baju ketat dan celana pendek yang super ketat yang sangat seksi menonjolkan otot-otot tubuhnya. Aku ingin tahu, apakah baju-baju seperti itu yang menjadi kegemarannya, soalnya setiap kali bajunya kucuci, aku cuma mencuci baju-baju seperti itu. Dan benarlah, semua jenis bajunya memang seperti itu. Kadang-kadang aku juga sering melihat album fotonya, dan ya ampun! ada sebuah album foto yang disimpannya di bawah tempat tidur. Album itu kutemukan tak sengaja waktu aku hendak mengganti sepreinya. Kurasa album itu dirahasiakan olehnya, soalnya foto-fotonya benar-benar super erotis. Bagaimana tidak, ia berpose bertelanjang bulat tanpa memakai pakaian sehelai pun di setiap foto-fotonya. Langsung saja gairahku memuncak melihatnya. Oh Mas Yayan, aku ingin sekali melihatmu bukan hanya di foto seperti ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;etiap kali mencuci bajunya, aku tak langsung mencucinya. Kadang kudekap rapat-rapat baju dan celananya itu. Apalagi yang basah karena keringatnya. Oh benar-benar jantan. Lalu celana dalamnya pun sering kucium dan kujilati. Kadang jika beruntung, kutemukan bulu-bulu kemaluannya tertinggal di celana dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba suatu hari, datanglah keberuntunganku. Mas Yayan waktu itu pulang agak sore. Ia memakai kaos ketat berwarna putih yang benar-benar seksi ditambah celana street yang memperlihatkan pahanya yang kekar dan berbulu itu.&lt;br /&gt;"Darimana Mas?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Oh aku dari tempat fitness," katanya sambil masuk ke kamar tidurnya.&lt;br /&gt;"Ehm.. pantas aja Mas badannya sangat bagus," kataku malu-malu.&lt;br /&gt;Mas Yayan terdiam sejenak. Lantas ia memandangku.&lt;br /&gt;"Memangnya kamu senang melihat tubuhku ini?"&lt;br /&gt;"Ya tentu Mas. Sejak pertama kali kita kenalan, aku langsung mengagumi Mas," kataku mantap.&lt;br /&gt;"Kalau boleh aku tahu, bagian mana dari tubuhku yang kamu suka, Lastri?"&lt;br /&gt;"Aku suka lengan Mas yang kekar dan dada Mas yang bidang. Aku kadang suka jengah loh Mas kalau melihat Mas melepas pakaian Mas. Kadang aku ingin sekali menyentuhnya. Maaf Mas kalau aku lancang."&lt;br /&gt;Ia tersenyum, "Wah nggak nyangka, aku punya pengagum."&lt;br /&gt;"Mas kelihatannya lelah. Boleh aku pijetin?"&lt;br /&gt;"Boleh, kamu pijetin aku sambil nonton film asyik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun segera mengambil sebuah VCD dan menyalakan TV. Lalu ia memasangnya. Tak berapa lama, di layar muncul film erotis. Oh aku makin bergairah. Ia tersenyum lagi memandangku. "Ayo kamu naik ke tempat tidurku. Pijati badanku yang pegal-pegal ini." Aku benar-benar menikmati sensasi itu. Sambil tanganku memegang-megang tubuh pria yang selama ini jadi obsesiku, aku nonton film seperti itu. Terus terang aku baru pertama kali melihat film yang begituan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah film selesai, Mas Yayan mematikan televisi. Ia lantas berkata,&lt;br /&gt;"Kamu benar - benar cantik. Terus terang aku ingin sekali kita bisa seperti ini sejak kita ketemu."&lt;br /&gt;"Ah Mas bisa aja."&lt;br /&gt;Lantas Mas Yayan menarik kaos ketat yang membungkus rapat tubuhnya itu. Dan terlihatlah oleh mataku, tubuh seksi berotot dan berkeringat yang selama ini aku impikan.&lt;br /&gt;"Oh," desahku.&lt;br /&gt;"Gimana? Kalau mau pegang, pegang aja."&lt;br /&gt;Langsung saja kupegang lengan-lengannya yang kekar itu. Dadanya yang bidang dan perutnya yang seksi. Mataku langsung tertuju kepada puting susunya. Berbulu sangat lebat sekali, membuatku makin dan makin bergairah.&lt;br /&gt;"Ah.. ah.." katanya begitu kupegang dadanya itu.&lt;br /&gt;"Lastri, aku.. aku.. sudah lama tidak merasakan seperti ini bersama istriku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Yayan lalu menarikku ke depan tubuhnya, "Lepas bajumu!" katanya singkat. Lalu kutelanjangi diriku sepenuhnya. Kudengar decak kagumnya melihat tubuhku yang memang sintal dan aduhai ini. "Las, kamu.. kamu.." Ia langsung menjilati wajahku dan kami pun berciuman lama sekali. Bibirnya begitu seksi dan lidahnya pintar sekali bergoyang-goyang. Sesekali kumisnya yang cukup tebal itu menyentuh lidahku. "Las, jilati seluruh tubuhku yang berkeringat ini!" Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Langsung kujilati dadanya yang bidang itu. Puting susunya yang menjadi tujuan utamaku. Ah benar-benar nikmat rasanya. Lidahku mempermainkan putingnya itu. Kuhisap-hisap dan rasanya enak. Bulu-bulu putingnya itu kukulum berkali-kali hingga kudengar erangannya. Kujilat dan kujilat lagi hingga puas. Setelah itu kujilat bagian tubuhnya yang lain. Dari otot lengannya, ketiaknya yang juga penuh dengan bulu-bulu, perutnya, dan kuperosotkan celananya. Ternyata ia masih memakai celana dalam dan penisnya sudah tegang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Aku tidak membuka celana dalamnya dulu. Biar kupanjangkan waktu yang menggairahkan ini. Kujilati pahanya, kakinya, hingga punggung dan pantatnya. Kujilati hingga tubuhnya benar-benar sudah terlumat oleh lidahku. Ia mengerang-ngerang tak kuat menahan gairah. Aku lalu menarik celana dalamnya keluar. "Las, kulum tititku ini!" desahnya tak teratur. Aku tidak terkejut, dugaanku selama ini benar. Batang kemaluannya itu panjang sekali. Mungkin mencapai 25 cm. Di sekelilingnya ditutupi bulu-bulu kemaluan yang rimbun sekali. Aku lantas menjilat-jilat kepalanya yang sudah keras sekali itu. Kumasukkan ke dalam mulutku dan kutarik keluar lagi. Begitu seirama dengan jari-jariku meraba puttng susunya. Ia benar-benar kegirangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup lama aku menikmati penisnya itu, ia pun orgasme. Spermanya sangat banyak sekali. Muncrat langsung ke wajahku. Tak kusia-siakan, kujilati semuanya dan kutelan habis. Ia lagi-lagi tersenyum padaku. Oh pria impianku. Tak berapa lama, ia lalu melumat habis seluruh tubuhku. Payudaraku dijamah dan diremas-remas oleh lengannya itu. Setelah puas menjilatinya, ia pun menjilati vaginaku yang masih perawan. Lalu adegan bersenggama pun dimulai. Penisnya masuk ke dalam vaginaku. Ah benar-benar nikmat. Darah keperawananku keluar. Itu telah menjadi miliknya. Ia benar-benar hebat. Kami mencoba berbagai cara hingga ia dan aku mencapai puncak orgasme berkali-kali. Kami terus dan terus melakukannya hingga tak sadar waktu sudah tengah malam. Kami benar-benar puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sejak hari itu, hampir setiap hari aku melakukannya dengan Mas Yayan. Aku tidak lagi tidur di kamar pembantu yang disediakan untukku. Aku selalu tidur di kamarnya, di sampingnya. Aku sadar tugasku sebagai pembantu adalah melayani kebutuhan Mas Yayan apapun yang dia inginkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-2196624479605199088?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/2196624479605199088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/ohh-majikan-ku-yg-menggairahkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/2196624479605199088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/2196624479605199088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/ohh-majikan-ku-yg-menggairahkan.html' title='Ohh majikan ku yg menggairahkan'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-5710229924731949612</id><published>2010-06-22T09:11:00.000-07:00</published><updated>2010-06-22T09:12:30.485-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Swinger dgn sahabat</title><content type='html'>Mau coba ngepost pengalamanku ya…tapi karena yang kutulis ini kisah nyata, nama-nama yang terlibat akan diganti semua. Mulanya aku iseng doang, pada suatu pagi, waktu istriku mau ganti pakaian, kurekam dengan video hpku. Dia nggak nyadar sama sekali kalau aku sedang merekamnya terutama waktu dia telanjang bulat. Beberapa hari kemudian, entah kenapa aku punya semangat aneh, ingin memperlihatkan rekaman di hpku itu kepada Benny, sahabat dekatku.&lt;br /&gt;“Lihat nih, bini aku sexy kan?” kataku bangga. Benny melotot dan berdecak kagum, “Ck..ck…sexy sekali ya?”&lt;br /&gt;“Yayuk (nama istri Benny) pernah direkam gini?” tanyaku tetap dengan nada bangga.&lt;br /&gt;“Belum,” Benny menggeleng, “Tapi mau ah…nanti malam aku mau ML sama dia, sekalian direkam diam-diam.”&lt;br /&gt;“Sip! Nanti lihatin ke aku ya,” kataku bersemangat, “sekalian aku juga nanti malam mau ML sama istriku, sambil direkam juga.”&lt;br /&gt;“Terus besok hasilnya tukaran ya, punya kamu lihatin ke aku, punya aku lihatin ke kamu,” usul Benny yang langsung kusetujui.&lt;br /&gt;Malamnya, aku benar-benar ML dengan Lina, istriku. Dia tidak tahu bahwa aku merekamnya di hpku yang sudah kuatur letaknya sebelum mengajaknya ML.&lt;br /&gt;Besoknya, aku dan sahabatku menepati janji. Kuserahkan hpku untuk ditonton oleh Benny, sementara aku menikmati hasil rekaman sahabatku itu. Kami sama-sama terangsang oleh tontonan yang sangat pribadi sifatnya itu. Bahkan Benny sempat terlongong setelah mengembalikan hpku, seperti ada yang dipikirkan olehnya.&lt;br /&gt;“Jan…kalau kita swinger gimana? Jujur, aku belum pernah merasakan swinger,” kata Benny tiba-tiba.&lt;br /&gt;Aku terkejut. Tak pernah kupikir sebelumnya akan melakukan seperti yang Benny usulkan itu.&lt;br /&gt;“Kamu jangan tersinggung, Jan,” Benny menepuk bahuku, “Ini cuma usul…kalau kamu nggak keberatan, aku juga gak maksa. Yang jelas, kamu bisa nyobain Yayuk, aku nyobain Lina. Adil kan?”&lt;br /&gt;Aku terbengong-bengong. Terus terang, usul Benny mengejutkan sekaligus membuatku bergairah. Kubayangkan istriku sedang disetubuhi oleh sahabatku itu, sementara aku menyetubuhi istrinya. Baru diobrolkan saja penisku sudah ngacung, apalagi kalau benar-benar dilaksanakan. Maka setelah berpikir agak lama, kujawab, “Usul edan tapi menggiurkan. Cuman…gimana cara meyakinkan istriku ya? Kalau dia gak mau kan susah. Istrimu sendiri gimana?”&lt;br /&gt;“Soal istriku, serahkan padaku. Kamu urus Lina saja, atur supaya mau,” kata Benny.&lt;br /&gt;“Lina sangat konservatif, kamu juga tahu itu kan?”&lt;br /&gt;“Lina yang konservatif apa kamu sendiri yang tidak mau swinger?” Benny menepuk bahuku sambil menertawakanku.&lt;br /&gt;“Aku mau…mau…tapi bagaimana cara meyakinkan Lina ya?”&lt;br /&gt;“Begini aja,” kata Benny di tengah kebingunganku, “kita jebak mereka ke dalam situasi yang mau tidak mau harus mereka terima.”&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;“Aku kan punya villa keluarga di Cipanas. Kita ajak mereka week end di sana.”&lt;br /&gt;“Yayaya…jebakannya di sebelah mananya?”&lt;br /&gt;“Kita bawa Martini atau Tequila…minum rame2, kita pada minum di sana. Setelah mereka rada kleyengan, kita matiin lampu sampai gelap sekali. Saat itu aku akan menelanjangi istriku, kamu juga telanjangi istrimu. Lalu kita bikin foreplay dengan istri kita masing-masing. Nah…lalu diem-diem kita tukar tempat. Kamu terkam istriku, aku terkam istrimu. Deal?”&lt;br /&gt;“Hahahaaa! Deal! Deal!” seruku gembira dengan usul sahabatku, meski sebenarnya ada tandatanya di hatiku : Benarkah mentalku sudah siap untuk membiarkan istriku disetubuhi orang lain? Tapi…bukankah aku juga akan menggauli istri Benny? Bukankah ini sangat adil bagi kami?&lt;br /&gt;Lalu kami tentukan harinya. Hari yang akan sangat bersejarah itu.Setelah aku berpisah dengan Benny, aku pulang dengan 1001 khayalan di benakku. Membayangkan istriku yang manis dan bertubuh mulus itu akan digeluti oleh Benny, sementara aku akan menggeluti Yayuk, istri Benny. Aneh, baru membayangkannya saja aku jadi sangat terangsang. Apalagi pada waktu mengalaminya nanti.Lina sudah 4 tahun jadi istriku. Pada saat kisah ini terjadi Lina sudah berusia 26 tahun, sedangkan aku sendiri sudah hampir 30 tahun. Kami sudah dikaruniai seorang putra yang baru berumur 2 tahun. Ibu mertuaku sangat sayang pada Bernard, nama anakku, jauh melebihi ketelatenan babysitter yang bekerja di rumahku sejak anakku berusia setahun. Karena itu tiada masalah kalau aku dan Lina bepergian, karena di rumahku ada babysitter dan ibu mertuaku.Maka dengan wajah cerah Lina menyetujui ajakanku untuk berakhir pekan di Cipanas. “Benny punya villa di sana, ya Mas?” tanyanya.”Iya,” aku mengangguk, “villa punya orang tuanya.”"Benny dan Yayuk juga ikut nanti?”"Ya iyalah. Kalau mereka gak ikut, ya gak enak dong kita pake villa orang tanpa pemiliknya. Kecuali kalau kita sewa villa orang lain.”Singkatnya, pada hari yang telah ditentukan, Benny dan Yayuk menyampar ke rumahku dengan Honda Citynya. Aku pun secepatnya memanaskan mesin Toyota Viosku.Tak lama kemudian, aku sudah menggerakkan mobilku, bersama Lina di sisiku, mengikuti mobil Benny dan Yayuk. Seperti yang sudah diatur semula, aku membekal Tequila, yang katanya bisa membuat wanita jadi horny. Untuk acara rahasiaku dan Benny setelah berada di villa nanti.Lina tidak tahu bahwa ketika aku menyetir mobil menuju Cipanas, jantungku berdegup-degup terus, karena membayangkan apa yang akan terjadi beberapa jam lagi. Membayangkan sesuatu yang belum pernah kualami dan akan menimbulkan kesan mendalam dalam kehidupan dan hasrat birahiku.Sesampainya di depan villa, jantungku makin berdebar-debar. Tapi aku mencoba menekannya dengan menyapukan pandangan ke sekitar villa, yang memang indah pemandangannya. Diam-diam kuperhatikan Benny. Ternyata sama denganku, senyumnya tampak canggung. Lalu kami masuk ke dalam villa.Lina dan Yayuk bersih-bersih dulu di dalam villa, aku dan Benny keluar lagi, lalu berjalan-jalan agak menjauh dari villa. Dan ngobrol dengan suara setengah berbisik:&lt;br /&gt;“Kamu nafsu gak liat Yayuk?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Kamu sendiri gimana? Nafsu gak liat Lina?” aku balik bertanya.&lt;br /&gt;“Ya iyalah, makanya aku yang usul pertama, karena tergiur sekali waktu melihat dia bugil di hpmu itu.”&lt;br /&gt;“Sama,” kataku sambil tersenyum canggung, “aku juga jadi nafsu melihat bentuk istrimu yang seksi…”&lt;br /&gt;Darahku tersirap mendengar pujian itu. Tapi terasa makin membuatku penasaran, ingin segera tau apa yang akan terjadi nanti.&lt;br /&gt;Kami berunding diam-diam, tentang apa yang akan kami lakukan nanti. Setelah matang rencananya, kami kembali ke villa. Di dalam villa, sudut pandangku mencuri-curi pandang terus ke arah Yayuk, yang nanti akan kugauli. Kurasa Yayuk dan Lina punya keistimewaaan masing-masing. Kulit Lina kuning mirip kulit wanita Jepang, sementara Yayuk berkulit sawomatang. Lina tergolong berwajah cantik, sementara Yayuk bisa kunilai hitam manis. Tubuh Yayuk sedikit lebih tinggi daripada Lina, kutaksir sekitar 170cm gitu, sementara Lina 168cm.&lt;br /&gt;Yang menarik dari hasil curi-curi pandang ini adalah, toket Yayuk itu…aku yakin besar sekali…mungkin behanya berukuran 38 ke atas. Sedangkan toket Lina biasa-biasa saja, behanya pun cuma 34.&lt;br /&gt;Menjelang senja, kami makan malam dulu di restoran yang paling dekat dengan villa keluarga Benny. Pada saat itulah kulihat Lina dan Yayuk seakan bersaing dalam berpakaian. Mereka seolah ingin tampil seseksi mungkin. Padahal aku tak menganjurkan apa-apa kepada istriku. Dan kulihat mata Benny sering memperhatikan istriku. Sialan…sebentar lagi dia akan menikmati kemulusan dan kepadatan tubuh istriku. Tapi pikiran ini justru diam-diam membuat penisku hidup, mengeras dan mengeras terus. Terlebih-lebih setelah membayangkan bahwa untuk pertama kalinya aku akan menikmati kesintalan tubuh Yayuk yang hitam manis itu.&lt;br /&gt;Selesai makan, hari mulai malam. Kami pun kembali ke villa.&lt;br /&gt;Seperti yang telah direncanakan, kami minum tequila di sofa ruang depan. Cukup banyak kami membekal minuman itu, karena aku membeli dua botol, ternyata Benny pun membekal tiga botol. Untungnya Lina dan Yayuk tidak menolak waktu ditawari minum, dengan alasan untuk mengusir hawa dingin.&lt;br /&gt;Baru menghabiskan dua sloki, wajah Lina mulai merah. Sikapnya padaku mulai romantis. Yayuk pun sama, ia mulai memeluk pinggang Benny dengan sorot mata berharap.&lt;br /&gt;Lalu kata Benny, “Kita bikin pesta di dalam kamar yuk…sama-sama main…come on honey,” Benny meraih lengan istrinya sambil melirik padaku, “ayo Jan…kamarnya cuma satu, kita pake rame2 yok.”&lt;br /&gt;Kuraih juga lengan Lina yang tampak mulai agak teler. Lalu kami ikuti langkah Benny ke dalam kamar yang agak besar, dengan dua bed berdampingan. Sesampainya di kamar, Benny langsung menerkam dan menghimpit istrinya. Adegan itu tidak bisa lama-lama kulihat, karena setelah aku dan istriku naik ke atas bed yang masih kosong, Benny memijat knop sakelar yang letaknya tak jauh dari bantalnya. Kamar itu langsung gelap gulita. Dan terdengar suara Benny, “Biar kita sama-sama asyik dengan istri kita masing-masing, Jan.”&lt;br /&gt;Aku cuma menjawab dengan ketawa kecil. Tapi dalam gelap aku mulai menanggalkan pakaianku sehelai demi sehelai, sampai telanjang bulat, lalu membisiki telinga istriku, “Ayo dong buka pakaianmu semua.”&lt;br /&gt;Lina tidak buang-buang waktu. Ia tahu persis apa yang kuinginkan dalam saat-saat seperti itu. Dalam kegelapan kamar villa, Lina mulai menelanjangi dirinya. Sementara kudengar desah napas Yayuk yang mulai tersengal-sengal, entah apa yang sudah terjadi di bed yang satu lagi itu. Mungkin Benny sedang menjilati puting payudara atau vagina istrinya, entahlah…yang jelas aku pun mulai menggumuli istriku dalam kegelapan.&lt;br /&gt;Terdengar suara Yayuk, “Oooh…Bang Benny…oooh….iya Bang…begituin….oooh…masukin aja Bang…aku gak tahan lagi nih…ooohhh…”&lt;br /&gt;Terangsang oleh suara istri sahabatku itu, aku pun mulai menjilati puting payudara Lina. Tapi tak lama kemudian terasa tanganku dipegang oleh tangan kasar. Tangan Benny. Aku mengerti maksudnya, bahwa aku harus segera pindah ke bed yang satunya lagi, sementara Benny akan pindah ke bedku.&lt;br /&gt;Inilah saat-saat yang paling mendebarkan. Aku bergerak ke arah bed di sebelah, lalu mulai menjamah tubuh Yayuk. Mudah-mudahan saja Yayuk tidak sadar bahwa sekarang bukan lagi suaminya yang akan menikmati kesintalan tubuhnya. Mudah-mudahan pula Lina tidak menyadari bahwa posisiku sudah diganti oleh Benny.&lt;br /&gt;Wow, aku mulai menikmati hangatnya pelukan Yayuk. Tampaknya dia belum sadar bahwa posisi suaminya sudah diganti olehku.”Masukin aja Bang, sudah gak tahan nih…horny banget,” bisik Yayuk yang sudah berada di bawah himpitanku. Bicara begitu, terasa tangan Yayuk mulai memegang batang kemaluanku yang memang sudah keras. Apakah mau main langsung-langsungan saja? Kurasa untuk yang pertama kalinya memang harus begitu. Jangan banyak variasi dulu. Nanti kalau Yayuk dan Lina sudah menyadari hal ini, barulah pakai foreplay sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;Maka tanpa banyak pikir-pikir lagi, kubiarkan Yayuk meletakkan ujung penisku di ambang vaginanya. Kemudian kudorong sedikit demi sedikit, persis pada saat kudengar suara Lina, “Mas…cepetan dong masukin…duuuhh…kenapa jadi horny gini? Gara-gara minuman tadi kali ya…naaahhh…..iiih…kok punya Mas terasa jadi agak gede? Diapain?”&lt;br /&gt;Gila…itu berarti penis Benny sudah dimasukin ke dalam liang kemaluan istriku! Tapi…bukankah penisku juga sudah mulai melesak ke dalam liang senggama Yayuk?&lt;br /&gt;Bukan cuma melesak, tapi sudah mulai kuayun dengan mantapnya, karena liang senggama Yayuk sudah banyak lendirnya (mungkin “hasil” rangsangan Benny tadi).&lt;br /&gt;Penisku sudah maju mundur dalam jepitan liang surgawi Yayuk yang terasa begini legitnya, mungkin karena dia belum melahirkan anak. Liang vaginanya terasa sangat mencengkram dan hangat. Desah nafasnya pun makin nyata diiringi rintihan-rintihan nikmatnya, “Ooohh Bang…oooh…bang…oooh…kok enak sekali ini bang…..oooh…” sementara kedua lengannya mendekap pinggangku kuat-kuat. Ini membuatku makin bernafsu.&lt;br /&gt;Lalu…seperti yang sudah direncanakan, diam-diam Benny memijat sakelar lampu dan….tiba-tiba kamar itu jadi terang benderang. Ini sesuai dengan kesepakatan aku dan Benny. Bahwa dalam keadaan sudah “telanjur” (penisku sudah main di dalam liang vagina Yayuk dan penis Benny sudah maju mundur di dalam liang vagina istriku), baik Yayuk mau pun istriku takkan bisa menghindar lagi dari kenyataan yang sudah direncanakan oleh Benny denganku itu.&lt;br /&gt;Setelah kamar villa terang benderang, tentu saja Yayuk dan istriku terkejut setelah menyadari dengan siapa mereka sedang bersetubuh.&lt;br /&gt;“Bang Benny?!” seru istriku di bed sebelah.&lt;br /&gt;“Mas Janus?!” seru Yayuk yang sedang kusetubuhi dengan gencarnya.&lt;br /&gt;Lalu terdengar Benny tertawa, “Hahahaaa….kita lanjutkan saja…sudah telanjur kan?”&lt;br /&gt;“Jadi semuanya ini sudah direncanakan?” tanya Yayuk yang tampak berusaha mengendalikan kekagetannya.&lt;br /&gt;“Iya…ini adil kan?” bisikku sambil meremas buah dadanya yang benar-benar montok itu.&lt;br /&gt;“Aaahhh…” cuma itu yang terlontar dari mulut Yayuk, kemudian dia mendekap lagi pinggangku dan mulai menggoyang pinggulnya dengan gerakan yang trampil, seperti membentuk angka 8.&lt;br /&gt;Kulirik Lina seperti bingung. Ia menoleh padaku, seakan bertanya kenapa jadi seperti ini? Lalu kutanggapi dengan senyum…dan celotehku, “Enjoy saja….”&lt;br /&gt;Mungkin Lina geram melihatku sedang bersetubuh dengan Yayuk, lalu ia “balas dendam” dengan mencengkram bahu Benny dan mulai menggoyang pinggulnya. Gila…cemburu juga aku dibuatnya. Seingatku, tak pernah Lina menggoyang pinggulnya seedan itu waktu kusetubuhi. Tapi kecemburuanku ini berbuah nafsu dan gairah yang luar biasa. Enjotan penisku di dalam liang surgawi Yayuk terasa nikmat luar biasa! Maka semakin edan pula kuhentak-hentak penisku, seperti meronta-ronta dalam jepitan Yayuk…oh…ini nikmat sekali!&lt;br /&gt;Suasana menjadi semakin erotis dan misterius. Yayuk meladeni enjotan penisku dengan energik, pinggulnya meliuk-liuk laksana penari India. Tapi aku tak tahu apa yang bersemayam di benaknya. Ketika aku melirik ke samping, goyang pinggul Lina pun tak kalah edannya. Seolah ingin bersaing dengan dinamisnya goyang pinggul Yayuk. Ada perasaan geram dan cemburu di hatiku melihat ulah istriku seperti itu. Tapi bukankah aku sendiri sedang menikmati kehangatan tubuh istri sahabatku?&lt;br /&gt;Di tengah persenggamaan yang seru ini aku sempat berbisik terengah di telinga Yayuk, “Gimana? Enak?”&lt;br /&gt;“Enak sekali….aaah….” sahut Yayuk dalam bisikan juga, mungkin takut terdengar oleh suaminya.&lt;br /&gt;“Nanti lepasin di dalam apa di luar?” bisikku lagi.&lt;br /&gt;“Terserah, aku kan belum punya anak…siapa tahu bisa punya darimu,” bisik Yayuk pelan sekali, pasti takkan terdengar oleh suaminya yang semakin asyik menyetubuhi istriku.&lt;br /&gt;Bisikan Yayuk itu membuatku semakin bergairah mengayun batang kemaluanku. Tapi sekaligus membuatku tak bisa bertahan lagi, “Aku sudah mau keluar”, bisikku.&lt;br /&gt;“Tahan dulu,” sahut Yayuk, “aku juga sudah mau keluar Mas…barengin keluarnya ya…biar enak…”&lt;br /&gt;Lalu kami seperti dua ekor binatang buas, saling cengkram, saling remas, saling jambak…dan akhirnya tak tertahankan lagi, bersemburanlah air mani dari batang kemaluanku, disambut dengan kedutan-kedutan liang kemaluan Yayuk di puncak orgasmenya.&lt;br /&gt;Kami menggelepar…menggeliat…berkeju  t-kejut…lalu sama-sama terkulai di puncak kepuasan.&lt;br /&gt;Tapi kulihat Benny masih asyik mengenjot batang kemaluannya di dalam liang kemaluan istriku. Bahkan di satu saat, mereka mengubah posisi. Lina di atas, Benny di bawah. Oh…ini benar-benar membuatku cemburu. Karena kulihat istriku yang aktif mengayun pinggulnya, sementara Benny merem melek sambil terlentang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucabut batang kemaluanku dari dalam vagina Yayuk yang sudah basah kuyup oleh spermaku dan lendir Yayuk sendiri. Lalu aku duduk bersila sambil menonton persetubuhan Benny dengan istriku. Aku terlongong menyaksikan betapa aktifnya Lina saat itu. Dengan sedikit berjongkok, ia mengayun pinggulnya sedemikian rupa, sehingga liang kemaluannya seolah membesot-besot batang kemaluan Benny.&lt;br /&gt;Yayuk pun menonton persetubuhan antara suaminya dengan istriku itu. Dan tampaknya Yayuk seperti kepanasan. Diam-diam ia menggenggam batang kemaluanku yang sudah mulai membesar, karena terangsang menyaksikan istriku sedang gila-gilanya bersetubuh dengan sahabatku. Tiba-tiba Yayuk mendekatkan wajahnya ke pahaku yang sedang bersila ini, ah…tangannya memegang batang kemaluanku sambil menjilatinya. Sungguh semuanya ini mendebarkan dadaku…terlebih setelah Yayuk menghisap-hisap penisku, di depan mata suaminya yang sedang menyetubuhi istriku!&lt;br /&gt;Hanya dalam tmpo singkat penisku sudah mengeras kembali. Dengan sigap Yayuk mendorong dadaku agar terlentang, lalu dengan berjongkok ia berusaha memasukkan penisku ke dalam liang surgawinya. Mungkin ia iri melihat suaminya sedang dipuasi oleh istriku dalam posisi terbalik begitu, lalu ia ingin melakukan hal yang sama. Blesss….penisku mulai membenam ke dalam liang Yayuk…&lt;br /&gt;Yayuk mulai memainkan pinggulnya dengan energik sekali, naik turun dan bergoyang meliuk-liuk…ooh…penisku terasa dibesot-besot dan diremas-remas. Bukan main nikmatnya, membuat nafasku tertahan-tahan sambil mulai meremas-remas payudara montok yang bergelantungan di atas dadaku…dan di bed yang satu lagi, kulihat istriku lebih energik lagi, mengenjot pinggulnya sambil berciuman dengan Benny. Ih…aku cemburu…tapi kecemburuanku ini jstru membangkitkan rangsangan dahsyat di jiwaku.&lt;br /&gt;Sulit menggambarkan keadaan yang sebenarnya saat itu, karena aku juga sudah dipengaruhi alkohol, dari tequila yang kami minum tadi. Yang jelas, sepulangnya dari villa itu, Lina terus-terusan menyandarkan kepalanya di bahuku. Kujalankan mobilku dengan kecepatan sedang-sedang saja, karena ingin sambil berbincang dengan istriku.&lt;br /&gt;“Bagaimana kesanmu, Lin?” tanyaku di satu saat.&lt;br /&gt;“Gak tau ah…” Lina menggeleng, tapi kulihat ada senyum di bibirnya.&lt;br /&gt;“Suka kan? Bilang aja terus terang. Semuanya ini kan demi kenikmatan kita bersama.”&lt;br /&gt;“Mas sendiri, suka kan bisa menggauli Yayuk?”&lt;br /&gt;“Hmm…terus terang, aku lebih suka melihatmu sedang digauli oleh Benny. Ada perasaan cemburu, tapi cemburu itulah yang membuatku jadi sangat terangsang.”&lt;br /&gt;Lina terdiam. Lalu kataku, “Makanya satu saat nanti bisa aja kita undang Benny tanpa istrinya.Atau bisa juga orang lain…biar aku bisa melihatmu digauli lelaki lain yang akan menimbulkan rangsangan hebat bagiku.”&lt;br /&gt;Lina menatapku dengan ekspresi aneh. Lalu tanyanya, “Emang Mas gak tersiksa kalau aku digauli orang? Buatku, semuanya ini aneh…”&lt;br /&gt;“Memang aneh,” sahutku sambil tersenyum, “tapi kamu suka kan?”&lt;br /&gt;Dia tak menjawab. Matanya lurus memandang ke depan.&lt;br /&gt;“Bilang aja terus terang, kamu suka kan? Seharusnya semua itu jadi pengalaman fantastis buat kita. Bener kan?”&lt;br /&gt;“Iya sih…tapi aku takut akibatnya di kemudian hari…”&lt;br /&gt;“Misalnya?”&lt;br /&gt;“Ya…misalnya Benny…sudah telanjur merasakan tubuhku. Bagaimana kalau nanti ketagihan?”&lt;br /&gt;“Kasih aja. Asal di depan mataku, jangan sembunyi-sembunyi.”&lt;br /&gt;Lina menatapku dengan sorot aneh, “Mas gak sakit hati melihatku digauli sama Benny?”&lt;br /&gt;“Gak,” aku menggeleng, “kan semuanya yang sudah terjadi tadi sudah kurundingkan dengan Benny beberapa hari yang lalu.”&lt;br /&gt;“Jadi semuanya itu benar-benar sudah direncanakan sama Bang Benny?”&lt;br /&gt;“Ya. Memang tadinya usul itu datang dari dia. Dan aku sangat tertarik pada usulnya itu. Bukan karena tertarik pada Yayuk, tapi justru ingin menyaksikan kamu di gauli orang lain. Kebetulan aku tahu persis siapa Benny. Dia bersih, tak pernah jajan dan sebagainya.”&lt;br /&gt;“Terus…nantinya kita akan begitu lagi, maksudku…ngajak Benny dan Yayuk lagi?”&lt;br /&gt;“Semuanya kuserahkan padamu. Karena dalam hal ini kamulah yang harus memutuskan. Dan gak usah di villa itu saja. Bisa juga kita pilih hotel di dalam kota. Dan gak usah di hari libur saja. Kapan saja kita mau, ya kita lakukan.”&lt;br /&gt;“Ntar kalau aku ketagihan gimana?” tanya Lina malu-malu.&lt;br /&gt;Rupanya kejadian di villa itu membuatnya terkesan dan ada kemungkinan ketagihan. Ini mendebarkan. Seandainya dia benar-benar ketagihan, apakah mentalku sudah siap? Ah, sudah kepalangan basah, aku mau jalan terus…karena aku merasakan beberapa hal positif di balik langkah “baru” ini!&lt;br /&gt;Di hari-hari berikutnya, aneh…tiap kali aku membayangkan kejadian di villa itu, membayangkan istriku sedang disetubuhi oleh Benny, nafsuku mendadak bangkit. Lalu kuajak istriku bersetubuh. Anehnya lagi, tiap kali aku bersetubuh dengan istriku, aku jadi powerfull dan energik sekali.&lt;br /&gt;Pernah istriku berkata seusai bersetubuh denganku, “Sekarang Mas jadi garang banget…kenapa Mas? Pake obat ya?”&lt;br /&gt;“Obatku datang dari jiwaku sendiri. Tiap kali membayangkan kamu lagi disetubuhi oleh Benny, hasratku bangkit dengan hebatnya.”&lt;br /&gt;“Masa sih? Apa bukan karena terbayang sintal dan seksinya tubuh Yayuk?”&lt;br /&gt;“Nggak,” aku menggeleng, “sungguh. Untuk membuktikannya, nanti kita ajak Benny saja, tanpa kehadiran Yayuk. Biar kamu percaya, titik syurnya justru waktu menyaksikan kamu digauli Benny.”&lt;br /&gt;“Nggak ah. Nggak enak sama Yayuk dong. Rasanya kita seperti menghianati dia. Kan kita sudah sepakat untuk jalan berempat terus.”&lt;br /&gt;“Aku gak butuh Yayuk, aku butuh Benny.”&lt;br /&gt;Lina menatapku dengan sorot penuh selidik. Lalu tertunduk, seperti sedang berpikir. Lalu kataku, “Kalau ada orang selain Benny, kamu mau?”&lt;br /&gt;Lina menatapku lagi. “Takut ah…kalau orangnya punya penyakit kotor bisa menular nanti.”&lt;br /&gt;“Orangnya kamu pilih sendiri deh,” kataku sambil memperhatikan reaksi istriku.&lt;br /&gt;“Bener nih boleh milih sendiri?” tanyanya canggung.&lt;br /&gt;“Bener.”&lt;br /&gt;“Gak usah jauh-jauh Mas…kalau Troy gimana?”&lt;br /&gt;Aku terkejut. Dia memilih adik kandungku!&lt;br /&gt;Tapi apa salahnya?&lt;br /&gt;“Hmm…pengen nyobain brondong ya?” kataku sambil mencolek pipi istriku.&lt;br /&gt;“Bukan gitu, masalahnya biar rahasia kita gak nyebar ke luar Mas.”&lt;br /&gt;Aku setuju. Troy adalah satu-satunya adik kandungku. Dia masih tergolong abg. Dia tinggal di kota lain dan kuliah di kota itu, baru semester pertama. Usianya memang jauh beda denganku. Saat istriku mengajukan namanya, usia Troy baru 18 tahun.&lt;br /&gt;“Oke!” aku mengangguk sambil memijat no hp Troy.&lt;br /&gt;Lina cuma bengong. Mungkin tak menyangka akan secepat itu.&lt;br /&gt;“Hallo, Mas?” terdengar suara Troy di hpku.&lt;br /&gt;“Gimana sehat Troy?”&lt;br /&gt;“Sehat Mas. Besok libur 3 hari, nanti sore mau ke rumah Mas ya. Kangen sama Bernard. Sudah bisa jalan dia?”&lt;br /&gt;“Sudah dong. Ya udah, nanti sore kutunggu ya.”&lt;br /&gt;“Siap Boss!”&lt;br /&gt;Aku tersenyum mendengar ucapan “siap boss” itu. Memang sejak aku yang membiayai kuliahnya, ia sering memanggilku boss.&lt;br /&gt;“Nanti sore dia datang,” kataku sambil menepuk bahu istriku.&lt;br /&gt;“Secepat itu?” istriku tercengang.&lt;br /&gt;“Kebetulan aja, dia mulai besok libur 3 hari. Jadi mulai nanti malam mau nginep di sini.”&lt;br /&gt;“Terus…aku harus gimana? Masa aku langsungajak Troy begituan?”&lt;br /&gt;“Mmm…gimana ya? Mungkin juga Troy gak mau kalau ada aku….tapi gampang deh…kupasangin kamera cctv aja di kamar, terus aku monitor sambil ngumpet.”&lt;br /&gt;“Terus?”&lt;br /&gt;“Kamu rayu aja dia sampai mau. Bilangin aku gak ada, padahal aku ada di gudang sambil monitor di sana. Hmmm…kebayang nafsunya aku nanti waktu lihat kamu disetubuhi sama si Troy…!”&lt;br /&gt;“Ah…Mas ada aja akalnya….”&lt;br /&gt;Dan itulah yang kulakukan. Dengan sigap kupasang kamera cctv, dengan posisi menghadap ke tempat tidur. Monitornya kusimpan di gudang. Kuambil kursi untuk aku duduk di depan monitor.&lt;br /&gt;Tidak sampai sejam, semuanya beres. Kameranya kusembunyikan di dalam lemari, lalu ada lubang kecil yang langsung mengarah ke tempat tidur. Soundnya kupasang terpisah, mikrofon kusimpan di balik lukisan, untuk memantaunya aku pakai headphone di gudang.&lt;br /&gt;Ketika bunyi motor Troy terdengar memasuki pekarangan, aku sudah duduk di dalam gudang, menghadapi monitor. Lalu terdengar suara istriku menyambutnya. Pada saat yang sama, hpku yang disilent berkedip-kedip. Ada sms masuk. Aku agak kaget, karena sms itu datang dari Yayuk, bunyinya: Mas Janus…aku kok jadi kangen gini sih? Kapan kita ketemuan tanpa mereka? Aku pengin nyantai Mas. Kebetulan Bang Benny besok mau ke Medan. Mas datang ya ke rumahku besok malam. Jangan takut sama Bang Benny. Aku sudah dapat izin kapan saja ketemu sama Mas Janus boleh. Izinnya cuma dengan Mas Janus, dengan orang lain tidak boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum sendiri membaca sms itu, lalu kubalas dengan sedikit gombal : Aku juga kangen sama Yayuk…tapi besok aku harus lihat-lihat dulu apakah besok ada kegiatan atau tidak. Aku siap kok….waktu di villa terasa sekali Yayuk itu…hmmm…pokoknya nikmat sekali…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayuk membalas lagi: Ah yang bener? Kirain aku saja yang merasakan seperti itu. Tapi janji ya, selama Bang Benny di Medan, Mas harus datang ke rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujawab lagi: Iya sayang, aku pasti datang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu smsan itu mataku tetap tertuju ke monitor. Kamarku masih kosong. Mungkin Troy masih ngobrol dengan istriku di ruang depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian kulihat di monitor sudah ada “kehidupan”. Troy masuk ke dalam kamarku bersama istriku. Cepat kupasangkan headphone di telingaku. Dan terdengar suara mereka:&lt;br /&gt;“Kamar mandi yang di belakang gak ada shower air panasnya, Troy. Makanya enak di kamar mandi yang ini.”&lt;br /&gt;“Iya Mbak. Ohya, Mas Janus kapan pulangnya?”&lt;br /&gt;“Gak tau. Tapi kayaknya sih tengah malam nanti, atau mungkin juga besok pagi langsung ke kantor, pulang ke sini besok sore.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh gitu…aku mau mandi dulu ya Mbak.”&lt;br /&gt;“Iya. Perlu ditemenin nggak?”&lt;br /&gt;Troy tampak kaget, menatap istriku yang mendadak bersikap centil. “Ah, Mbak Lina…ada-ada saja.”&lt;br /&gt;“Lho…aku nggak main-main kok…”&lt;br /&gt;“Bisa dibunuh aku nanti sama Mas Janus.”&lt;br /&gt;“Nggak lah….nyante aja lagi…”&lt;br /&gt;Troy tampak bingung sesaat, lalu masuk ke dalam kamar mandi yang bersatu dengan kamarku.&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, datang lagi sms dari Yayuk: Bang Benny sudah berangkat Mas. Ke rumahku dong sekarang…lagi horny…pengen sama Mas Janus…abisnya terkesan sih sama Mas…&lt;br /&gt;Aku tercenung. Kok jadi bentrok gini waktunya ya? Apakah aku harus pergi diam-diam ke rumah Benny? Lalu harus meninggalkan detik-detik yang mendebarkan dan siap kurekam itu?&lt;br /&gt;Yayuk memang sexy. Tapi saat ini aku lebih tertarik untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Lina dan adikku. Maka kubalas sms Yayuk: Paling bisa nanti tengah malam atau besok pagi…lagi ada kerjaan yang belum bisa ditinggalin…gimana?&lt;br /&gt;Yayuk membalas smsku: Iya deh, kutunggu ya Mas…kalau pintu sdh pada dikunci, call aja dulu, biar kubukain…maunya sih nanti tengah malam juga gakpapa…kalau pagi kan kurang romantis…he e e&lt;br /&gt;Aku tersenyum sendiri. Bakalan sibuk nih aku nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kulupakan dulu Yayuk yang setengah memaksaku datang ke rumahnya, karena kulihat di monitor Troy sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya, sementara Lina sedang duduk di depan meja rias.&lt;br /&gt;Lalu:&lt;br /&gt;“Troy…tolong lepasin ritsleting ini dong,” pinta Lina sambil menunjuk ke bagian punggung gaunnya.&lt;br /&gt;“Mmm…aku mau pake baju dulu Mbak…”&lt;br /&gt;“Gak usahlah, pake bajunya nanti saja. Masa minta tolong sedikit saja pake ntar dulu?!”&lt;br /&gt;“Iya, iya Mbak,” sahut Troy sambil menghampiri istriku. Aku yakin ini trik yang sedang dilancarkan oleh istriku, untuk langsung menjebak Troy.&lt;br /&gt;Memang benar dugaanku…waktu Troy menarik ritsliting bagian punggung gaun istriku, kulihat istriku memegang tangan Troy sambil menatapnya: “Troy…”&lt;br /&gt;“Ya Mbak…?” Troy tampak gugup ditatap seperti itu oleh istriku.&lt;br /&gt;“Kamu pernah begituan sama cewek?”&lt;br /&gt;“Ma…maksud Mbak?”&lt;br /&gt;“Masa gak ngerti sih…” kulihat tangan istriku menyergap ke dalam handuk Troy, “Ininya pernah dimainkan sama cewek gak? Hihihihi…panjang gede penismu Troy…Mas Janus kalah sama kamu…sudah keras lagi…”&lt;br /&gt;“Mbak…ohhh…mbak….” Troy tampak gelagapan.&lt;br /&gt;Lina bangkit dari kursi di depan meja rias. Lalu melangkah ke pintu, menutup dan sekaligus menguncinya. Lalu balik lagi menghampiri Troy yang berdiri kebingungan, masih dengan handuk melilit di badannya.&lt;br /&gt;Lina melingkarkan lengannya di leher Troy. Dan terdengar suaranya, “Sudah pernah bersetubuh dengan cewek belum?”&lt;br /&gt;“Pernah…” sahut Troy hampir tak terdengar.&lt;br /&gt;Lina tersenyum, “Bagus…berarti kamu sudah pengalaman…aku lagi horny Troy…kamu mau kan? Mumpung Mas Janus gak ada…”&lt;br /&gt;Lina mengakhiri ajakannya dengan menarik handuk yang melilit di pinggang Troy. Ini membuat Troy langsung telanjang bulat. Dan kulihat batang kemaluannya sudah ngaceng dengan mantapnya. Aku iri juga melihat batang kemaluan Troy, yang ternyata lebih panjang dan lebih besar daripada punyaku. Baru sekali ini aku melihat bentuk batang kemaluan adikku setelah usianya hampir dewasa begitu.&lt;br /&gt;“Mbak…” Troy tampak kebingungan, karena Lina sudah memegang zakarnya sambil mendorong dadanya sehingga terlentang di atas tempat tidurku.&lt;br /&gt;Ini mulai menegangkan bagiku. Kesannya tidak seperti waktu swinger di villa tempo hari. Mungkin karena kali ini aku konsen ke satu arah, ke adegan istriku yang sedang merangsang adik kandungku!&lt;br /&gt;“Iiih…punyamu kok panjang dan gede gini, Troy…sudah keras sekali lagi…Mas Janus kalah nih sama punya kamu…” Lina mulai menciumi penis adikku, membuatku semakin degdegan. Terlebih ketika ia mulai melepas beha dan celana dalamnya, yang membuat Troy melotot. Aku juga melotot tegang. Penisku sudah ereksi sejak tadi, serasa mau ngecrot saja. Tapi kucoba menenangkan diri dengan menyalakan rokok dan mengikuti adegan selanjutnya.&lt;br /&gt;Setelah telanjang bulat, istriku menelentang di sisi Troy sambil bergumam, suaranya tidak begitu jelas. Troy mengangguk, lalu bergerak menindih dada istriku.&lt;br /&gt;Kusangka Troy mau langsung memasukkan penisnya ke vagina istriku. Ternyata tidak. Dia mulai mengemut-emut puting payudara istriku. Tangan istriku mulai menggapai-gapai di punggung Troy…lalu kepala Troy menurun ke arah perut istriku…turun terus sampai berada di antara kedua pangkal paha istriku. Jantungku semakin dagdigdug, kutenangkan lagi dengan sebatang rokok. Oooh, kulihat istriku mulai menggeliat dan melenguh-lenguh…Troy semakin agresif menjilati kemaluan istriku….sampai akhirnya kudengar istriku merengek, “Sudah cukup Troy…sekarang… masukin aja Troy…masukin aja sayang…..aku ingin merasakan punyamu yang tinggi besar itu….”&lt;br /&gt;Tapi Troy seperti keasyikan, terus2an menjilati kemaluan istriku. Sampai istriku merintih lagi, “Troy…aaaah…aku mau orga nih…Troooyyy…..aaaahhhh….”&lt;br /&gt;Lalu kulihat istriku mengegelepar…mengelojot dan merintih lirih…”Troooy….ooohhh…aku keluar, sayaaang….”&lt;br /&gt;Troy terdiam sesaat, lalu mulai naik ke atas dada istriku, sambil mengarahkan penisnya ke mulut istriku. Jelas sekali, penis Troy mulai membenam ke dalam liang kemaluan istriku yang sudah berlepotan air liur Troy, mungkin juga bercampur lendir vagina istriku sendiri.&lt;br /&gt;“Oooh…Troy….sudah masuk, sayang…” istriku mendekap punggung Troy.&lt;br /&gt;Gila, aku tak tahan melihat semuanya itu. Dan pada waktu kulihat Troy mulai mengayun batang kemaluannya, kuperiksa komputer yang sedang merekam adegan dari cctv, semuanya berjalan dengan baik. Lalu diam-diam aku keluar…&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian aku sudah berada di dalam taksi (sengaja aku tidak memakai mobilku sendiri, keluar dari rumah pun diam-diam, supaya Troy tidak menyadari kehadiranku).&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian aku sudah berada di depan rumah Benny.&lt;br /&gt;Yayuk menyambutku dengan hangat, “Parkir di mana mobilnya, Mas?”&lt;br /&gt;“Pake taksi,” sahutku, “mobil sedang dipakai adikku.”&lt;br /&gt;Semua ini di luar skenario yang sudah kutata dengan istriku. Masalahnya aku tidak mau ganggu adikku, sementara ajakan Yayuk membuatku tertarik. Biarlah rangsangan yang kutonton dari dalam gudang tadi mau kusalurkan ke Yayuk. Mudah-mudahan saja istriku tidak marah karena aku pergi secara diam-diam begini. Aku juga ingin menikmati tubuh Yayuk tanpa kehadiran Benny. Dan tampaknya Yayuk pun sama seperti keinginanku, ingin bercinta tanpa kehadiran suaminya.&lt;br /&gt;Aku sudah terangsang oleh adegan Troy dengan adikku tadi. Maka ketika Yayuk menguncikan pintu depan, aku memeluknya dari belakang, “Mana pembantumu?”&lt;br /&gt;“Pulang,” sahutnya, “dia kan cuma kerja sampai jam empat sore.”&lt;br /&gt;“Jadi sekarang Yayuk cuma sendirian?”&lt;br /&gt;“Iya Mas…makanya aku ngajak Mas…biar ada yang nemenin…” Yayuk yang sedang mengenakan kimono putih bermotif bunga Sakura, membalikkan tubuhnya dan mencium bibirku dengan hangat.&lt;br /&gt;Tentu aku tak mau berdiam pasif…ketika dia meraihku ke sofa, tanganku mulai menyelinap ke belahan kimononya, langsung menyentuh payudara montoknya yang sejak tadi kuyakini tidak mengenakan beha, karena kedua putingnya tampak menonjol meski masih tertutup kimono. Terasa menghangat tubuh Yayuk setelah aku berhasil memegang payudaranya…meremasnya dengan lembut…&lt;br /&gt;Tak cuma itu…tanganku yg satu lagi mulai menyelinap ke balik celana dalam Yayuk, mulai menyentuh jembutnya yang lebat…mulai menyelinap ke celah surgawinya yang mulai membasah dan hangat. Napas Yayuk mulai tertahan-tahan.&lt;br /&gt;Apa yang sedang terjadi di antara istriku dengan Troy, terlintas-lintas terus dalam terawanganku. Pasti mereka sedang gila-gilanya memadu kenikmatan. Membuat darahku tersirap-sirap….lalu membuatku mulai ganas menggeluti tubuh Yayuk sebagai kompensasi…sampai akhirnya Yayuk mengajakku pindah ke kamarnya. Aku setuju.&lt;br /&gt;Di dalam kamarnya, Yayuk menanggalkan kimononya dengan senyum mengundang. Sehingga tinggal celana dalam yang melekat di tubuh tinggi montoknya itu. Dalam keadaan seerotis itu, dia meraih kedua pergelangan tanganku, dengan senyum manis di bibirnya. Aku Tak mau buang-buang waktu lagi. Kutanggalkan celana jeans dan shirtku, lalu merapat ke tubuh Yayuk dalam keadaan sama-sama tinggal bercelana dalam saja…&lt;br /&gt;Hawa hangat tersiar dari tubuh Yayuk ketika aku mulai menggumulinya. Sempat juga kudengar bisikannya, “Makasih Mas…Mas datang tepat pada saat aku butuh Mas…”&lt;br /&gt;Aku tidak menanggapinya dengan kata-kata melainkan dengan tindakan. Aku bukan orang hipokrit. Aku juga sangat membutuhkan variasi dalam kehidupan seksualku, supaya perjalanan hidupku tidak terasa hambar….&lt;br /&gt;Ketika tanganku mulai menyelinap lagi ke balik CD Yayuk, aku pun membiarkan tangan Yayuk menyelinap ke balik Cdku. Dan ketika tanganku mulai mengelus kemaluan Yayuk, aku pun rasakan Yayuk mulai menggenggam dan meremas batang kemaluanku dengan hangat dan lembut.&lt;br /&gt;“Sudah keras banget Mas,” bisiknya.&lt;br /&gt;“Iya…sejak smsan tadi, punyaku ngaceng terus…” sahutku bercampur dusta. Karena sebenarnya aku sedang membayangkan istriku sedang enak2nya disetubuhi oleh Troy, adikku yang masih sangat muda itu…&lt;br /&gt;Lalu tanpa basa basi lagi kutempelkan moncong ku di mulut Yayuk yang sudah membasah itu…secara reflex Yayuk merenggangkan kedua kakinya…dan kudorong batang kemaluanku sampai masuk sedikit…terdengar desisan mulut Yayuk sambil melotot…kukocok2 sedikit zakarku, sampai akhirnya membenam sekujurnya di dalam liang surgawi Yayuk….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-5710229924731949612?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/5710229924731949612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/swinger-dgn-sahabat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/5710229924731949612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/5710229924731949612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/swinger-dgn-sahabat.html' title='Swinger dgn sahabat'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-5364346705112521644</id><published>2010-06-11T11:17:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T11:18:38.014-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tante'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Ibu Kost.. Ibu Guru Sex Aku</title><content type='html'>Nama saya adalah Aldo. Saya merupakan mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di kota Bogor. Saya memiliki pengalaman yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya. Kejadian itu terjadi pada waktu saya masih kuliah di tingkat 1 semester ke-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya tinggal di sebuah rumah yang oleh pemiliknya disewakan untuk kost kepada mahasiswa. Saya tinggal bersama 2 orang mahasiswa lain yang keduanya merupakan kakak kelas saya. Pemilik rumah kos itu adalah seorang Dosen yang kebetulan sedang studi di Jepang untuk mendapatkan gelar Doktor. Ia telah tinggal di Jepang kurang lebih 6 bulan dari rencana 3 tahun ia di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar rumahnya tetap terawat maka ia menyewakan beberapa kamar kepada mahasiswa yang kebetulan kuliah di dekat rumah itu. Yang menjadi Ibu kost-ku adalah istri dari Dosen yang pergi ke Jepang tersebut. Namanya sebut saja Intan. Aku sering menyebut ia Ibu Intan. Umurnya kira-kira sekitar 30 tahunan dengan seorang anak umur 4 tahun yang sekolah di TK nol kecil. Jadi di rumah itu tinggal Ibu Intan dengan seorang anaknya, seorang pembantu rumah tangga yang biasa kami panggil Bi Ana, kira-kira berumur 50 tahunan, aku dan kakak kelasku bernama Kardi dan Jun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Intan memiliki tubuh yang lumayan. Aku dan kedua kakak kelasku sering mengintip dia apabila sedang mandi. Kadang kami juga sering mencuri-curi pandang ke paha mulusnya apabila kami dan Ibu nonton tivi bareng. Ibu Intan sering memakai rok apabila dirumah sehingga kadang-kadang secara tidak sadar sering menyingkapkan paha putihnya yang mulus. Ibu Intan memiliki tinggi kurang lebih sekitar 165 cm dengan bodinya yang langsing dan putih mulus serta payudara yang indah tapi tak terlalu besar kira-kira berukuran 34 B (menurut nomer dikutangnya yang aku liat di jemuran). Ibu Intan memiliki wajah yang lumayan imut (mirip anak-anak). Dia sangat baik kepada kami, apabila dia menagih uang listrik dan uang telepon dia meminta dengan sopan dan halus sehingga kami merasa betah tinggal di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam (sekitar bulan maret), kebetulan kedua kakak kelasku lagi ada tugas lapangan yang membuat mereka mesti tinggal di sana selama sebulan penuh. Sedangkan anak Bu Intan yang bernama Devi lagi tinggal bersama kakeknya selama seminggu. Praktis yang tinggal di rumah itu cuma aku dan Ibu Intan, sedangkan Bi Ana tinggal di sebuah rumah kecil di halaman belakang yang terpisah dari rumah utama yang dikost-kan. Malam itu kepalaku sedikit pusing akibat tadi siang di kampus ada ujian Kalkulus. Soal ujian yang sulit dan penuh dengan hitungan yang rumit membuat kepalaku sedikit mumet. Untuk menghilangkan rasa pusing itu, malamnya aku memutar beberapa film bokep yang kupinjam dari teman kuliahku.&lt;br /&gt;"Lumayan lah, mungkin bisa ngilangin pusingku", pikirku.&lt;br /&gt;Aku memang biasa nonton bokep di komputerku di kamar kosku apabila kepala pusing karena kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat piringan kedua disetel, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara pintu kamarku terbuka.&lt;br /&gt;"Hayo Aldo, nonton apaan kamu?" Ibu Intan berkata padaku.&lt;br /&gt;"Astaga, aku lupa menutup pintu kamar" gerutuku dalam hati.&lt;br /&gt;Ibu Intan telah masuk ke kamarku dan memergoki aku sedang nonton film bokep. Aku jadi salah tingkah sekaligus malu.&lt;br /&gt;"Anu bu, aku cuma.." jawabku terbata-bata.&lt;br /&gt;"Boleh Ibu ikut nonton?" katanya bertanya padaku&lt;br /&gt;"Boleh.." jawabku seakan tak percaya kalo dia akan nonton film bokep bareng aku.&lt;br /&gt;"Dah lama nih Ibu ga nonton film kaya' gini. Kamu sering nonton ya?" katanya menggodaku.&lt;br /&gt;"Ah, gak bu.." jawabku&lt;br /&gt;"Hmm.. bagus juga adegannya" dia berkata sambil memandang adegan yang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami sama-sama menonton film bokep tersebut. Kadang-kadang dia meremas-remas payudaranya sendiri yang membuat kemaluanku berdiri tegak. Dia memakai daster putih malam itu kontras dengan kutang dan celana dalam warna hitam. Kadang aku melirik dia dengan sesekali memperhatikan dia yang sesekali memegang kemaluannya dan menggoyangkan pinggulnya seperti cewe yang sedang menahan kencing. Pemandangan itu membuat darahku mendesir dan membuat batang kejantananku berontak dengan sengit di dalam celana dalamku. Tiba-tiba dia bertanya, "Do, kamu pernah melakukan seperti yang di film tadi ga?" Aku terkejut mendengar kata-kata itu terlontar dari mulutnya.&lt;br /&gt;"Belum" jawabku.&lt;br /&gt;"Ah masa?" tanya dia seakan tak percaya.&lt;br /&gt;"Bener bu, sumpah.. aku masih perjaka kok" jawabku.&lt;br /&gt;"Kalo pacarmu ke kamarmu ngapain aja? ayo ngaku" tanyanya sambil tersenyum kecil.&lt;br /&gt;"Ah ga ngapa-ngapain kok bu, paling cuma diskusi masalah kuliah" jawabku.&lt;br /&gt;"Yang bener.. trus kalian ampe buka -bukaan baju ngapain? emang Ibu ga tau.. ayo ngaku aja,&lt;br /&gt;Ibu dah tau kok" tanyanya sambil mencubit pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahku jadi merah padam mendengar dia berkata seperti itu, ternyata ia sering ngintipin aku ama pacarku.&lt;br /&gt;"Iya deh.. aku emang sering bermesraan sama pacarku tapi ga sampai ML, paling jauh cuma oral dan petting aja" jawabku jujur.&lt;br /&gt;"Ohh..", katanya seakan tak percaya.&lt;br /&gt;Akhirnya kita terdiam kembali menikmati film bokep. Akhirnya film itu selesai juga juga.&lt;br /&gt;"Do, kamu bisa mijit ga", tanyanya.&lt;br /&gt;"Dikit-dikit sih bisa, emang kenapa bu?"&lt;br /&gt;"Ibu agak pegel-pegel dikit nih abis senam aerobik tadi sore. Bi Ana yang biasa mijetin dah tidur kecapekan kerja seharian, bisa kan?"&lt;br /&gt;"Boleh, sekarang bu?"&lt;br /&gt;"Ya sekarang lah, di kamar Ibu yah.. ayo".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikuti Ibu Intan dari belakang menuju ke kamarnya. Baru pertama kali ini aku masuk ke kamar Ibu kosku itu. Kamarnya cukup luas dengan kamar mandi di dalam, kasur pegas lengkap dengan ranjang model eropa. Di sebelahnya ada meja rias, lemari pakaian dan meja kerja suaminya. Kamar yang indah.&lt;br /&gt;"Ini minyaknya", Bu Intan menyerahkan sebotol minyak khusus buat memijat.&lt;br /&gt;Minyak yang harum, pikirku. Aku emang belum pernah mijat tapi saat ini aku harus bisa. Ibu Intan kemudian membuka dasternya, hanya tinggal kutang dan celana dalam hitam yang terbuat dari sutera. Melihat pemandangan ini aku hanya bisa melongok takjub, tubuhnya yang putih mulus tepat berdiri di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo mo mijit ga? Jangan bengong gitu".&lt;br /&gt;Aku terhentak kaget. Aku lupa kalo saat itu aku mo mijit dia. Akhirnya dia berbaring telungkup dia atas kasur. Aku mulai melumuri punggungnya dengan minyak tersebut. Aku mulai memijit dengan lembut. Kulitnya lembut sekali selembut sutera, kayanya dia sering melakukan perawatan tubuh, pikirku dalam hati.&lt;br /&gt;"Ahh.. enak juga pijatanmu Do, aku suka.. lembut sekali. "&lt;br /&gt;Aku memijat dari bahunya sampai mendekati pantat, berulang-ulang terus.&lt;br /&gt;"Do, tolong buka kutangku. Tali kutangnya ga nyaman, ganggu pijatannya" katanya menyuruh aku tuk membuka kutangnya.&lt;br /&gt;Aku membuka tali kutangnya dan Ibu Intan kemudian melepas kutangnya. Sesekali aku memijat sambil menggelitik daerah belakang telinganya.&lt;br /&gt;"Ssshh.. ahh.." dia mendesah apabila daerah belakang telinganya kugelitik dan apabila lehernya kupijat dengan halus.&lt;br /&gt;"Do, tolong pijat juga kakiku ya.." katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai meminyaki kakinya yang panjang dan ramping. Sungguh kaki yang indah. Putih, bersih, mulus, tanpa cacat dengan sedikit bulu-bulu halus di betis. Pikiranku mulai omes, aku sedikit kehilangan konsentrasi ketika memijat bagian kakinya. "Do, tolong pijat sampai ke pangkal paha ya.." pintanya sambil memejamkan mata. Ketika tanganku memijat bagian pangkal pahanya, dia memejamkan mata sambil mendesah seraya menggigit bibir pertanda dia mulai "panas" akibat pijatanku. Aku mulai nakal dengan memijat-mijat sambil sesekali menggelitik daerah-daerah sensitifnya seperti leher dan pangkal pahanya. Dia mulai menggeliat tak karuan yang membuat kejantananku berontak dengan keras di celana dalamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia berkata, "Do, bisa mijit daerah yang lain ga?"&lt;br /&gt;"Daerah yang mana bu?"&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia membalikkan badannya seraya membimbing kedua tanganku ke atas payudaranya. Posisi badannya sekarang adalah telentang. Dia hampir telanjang bulat, hanya tinggal segitiga pengamannya saja yang belum terlepas dari tempatnya. Aku tertegun melihat pemandangan itu. Payudaranya yang indah membulat menantang seperti sepasang gunung kembar lengkap dengan puncaknya yang kecoklatan. Aku meremasnya dengan lebut sambil sesekali melakukan "summit attack" dengan jari jemariku mempermainkan putingnya. Seperti memutar tombol radio ketika mencari gelombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai menggelinjang tak karuan.&lt;br /&gt;"Ahh.. oohh.. sshh", dia mendesah sambil membenamkan kepalaku menuju payudaranya.&lt;br /&gt;"Do.. Jilatin payudaraku Do.. cepat..".&lt;br /&gt;Aku mengabulkan permintaannya dengan memainkan lidahku diatas putingnya. Lidahku bergerak sangat cepat mempermainkan putingnya secara bergantian seperti penari samba yang sedang bergoyang di atas panggung.&lt;br /&gt;"Oohh.. yyess.. uukkhh.." Dia terus mendesah sambil mencengkramkan tangannya di pundakku.&lt;br /&gt;Dia memeluku dengan erat. Semakin cepat aku meminkan lidahku semakin keras desahannya. Lidahku mulai naik ke daerah leher dan bergerilya di sana. Bergerak terus ke belakang telinga sambil tanganku memainkan putingnya. Dia terus mendesah dan dengan sangat terlatih membuka baju dan celanaku. Sekarang yang kupakai hanya celana dalam yang menutupi rudal Scud-ku. Kami mulai berpelukan dan berciuman dengan ganasnya. Ternyata dia sangat ahli dalam mencium. Bibirnya yang lembut dan lidah kami yang saling berpagutan membuatku serasa melayang seperti lalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mulai menciumi leherku dan sesekali menggigit kupingku. Aku semakin rakus dengan menjilatinya dari mulai leher sampai ujung kaki.&lt;br /&gt;"Aahh..", aku mendesah ketika tangannya menyusup ke markasku mencari rudalku, mengenggamnya dan mengocoknya dengan tangannya yang lembut. Dengan bantuan kakinya dia menarik celana dalamku sehingga celana dalamku terlepas. Aku telah telanjang bulat. Terlihat seorang prajurit lengkap dengan topi bajanya berdiri tegak siap untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh atasannya.&lt;br /&gt;"Oohh.. auhh.. sshh..", dia terus memainkan prajuritku dengan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku mulai membuka celana dalamnya yang telah basah oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam lobang vaginanya. Terlihat sebuah pemandangan yang indah ketiga segitiga pengaman itu terlepas. Sebuah pemandangan yang sangat indah di daerah selangkangan. Jembutnya yang rapi terurus dan vaginanya yang berwarna merah muda membuat darahku mendesir dan kejantananku semakin menegang.&lt;br /&gt;"Oohh.. nikmaatt.. truss..", dia berkata sambil mendesah ketika lidahku menggelitik daging kecil&lt;br /&gt;di atas lobang vaginanya.&lt;br /&gt;"Oohh.. sshh.. Yess.. truuss.."&lt;br /&gt;Semakin cepat aku memainkan lidahku semakin cepat juga dia mengocok kontolku. Aku terus mempercepat ritme lidahku, badannya semakin bergerak tak terkontrol. Tanpa sadar tangannya membenamkan kepalaku ke selangkangannya, aku hampir tak bisa bernapas. Aku mencium aroma khas vagina yang harum yang membuat lidahku terus menjilati klitorisnya.&lt;br /&gt;"Ohh.. Ssshh.. Ukhh", dia terus mendesah.&lt;br /&gt;"Do.. ahh.. lebih cepat.. ukhh.. aku mo keluar nih.."&lt;br /&gt;"Ahh..", terdengar lenguhan panjang dari bibirnya yang mungil.&lt;br /&gt;"Aukhh..", tiba-tiba badannya menegang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua tangannya menggenggam kepalaku dengan erat dan vaginanya semakin basah oleh cairan yang keluar. Dia mengalami orgasme klitoris, yaitu orgasme yang dihasilkan akibat perlakuan pada kelentitnya.&lt;br /&gt;"Do, nikmat sekali.. Aku tak menyangka kamu pandai bersilat lidah", katanya sambil napasnya terengah-engah.&lt;br /&gt;Ketika aku siap untuk menembakkan rudalku, tiba-tiba ia berkata, "Do, aku punya sebuah permainan untukmu".&lt;br /&gt;"Permainan apa?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Pokoknya kamu ikut aja, permainan yang mengasyikkan. Mau?" tanyanya.&lt;br /&gt;"Oke..", jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengambil sebuah slayer dan menutup mataku, kemudian menyuruhku berbaring terlentang dan mengikut kedua tanganku dengan selendang yang telah ia siapkan. Kedua tanganku dan kakiku diikat ke empat penjuru ranjang sehingga aku tak bisa bergerak. Yang bisa aku gerakkan cuma pinggulku dan lidahku. Aku pun tak bisa melihat apa yang dia lakukan padaku karena mataku tetutup oleh slayer yang dia ikatkan. Aku seperti seorang tawanan. Aku hanya bisa merasakan saja. Tiba-tiba aku merasakan lidahnya mulai bergerilya dari mulai ujung kakiku. Trus bergerak ke pangkal paha.&lt;br /&gt;"Ahh", aku mendesah kecil. Lidahnya terus bergerak ke ke atas menuju perutku, terus menjilati daerah dadaku.&lt;br /&gt;"Oohh.. Ssshh..", aku mulai mendesah keenakan. Lidahnya terus naik ke leherku dan mencium bibirku. Kemudian lidahnya mulai turun kembali.&lt;br /&gt;"Ohh.. yyeess.. uukkhh..", aku mendesah hebat ketika lidahnya bermain di daerah antara lubang anus dan biji pelerku.&lt;br /&gt;"Aahh..", aku terus mendesah ketika dia mulai menjilati batang kemaluanku dari mulai pangkal sampai kepalanya, terus menerus, membuat tubuhku berkeringat hebat menahan rasa yang amat sangat nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Panjang juga ya punya kamu", Ibu Intan berkata padaku seraya mengulum penisku masuk ke dalam mulutnya.&lt;br /&gt;"Ahh.. eenaakk.. sshh", aku mendesah ketika batang kejantananku mulai keluar masuk mulutnya.&lt;br /&gt;Sesekali dia menghisapnya dengan lembut. Dia terus mengulum penisku dan semakin lama semakin cepat. Dia memang ahli, pikirku. Tidak seperti kuluman pacarku yang masih minim pengalaman. Ibu Intan merupakan pengulum yang mahir.&lt;br /&gt;"Aahh.. ahh.. ah.. aahh.. sshh.. teruss", aku memintanya supaya mempercepat kulumannya. Ingin rasanya menerkam dia dan menembakkan rudalku tapi apa daya kedua kaki dan tanganku terikat dengan mataku tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada sesuatu di dalam penisku yang ingin mendesak keluar.&lt;br /&gt;"Ahh.. sshh.. Bu, aku mo keluarr", kataku&lt;br /&gt;Mendengar itu, semakin cepat ritme kulumannya dan membuatku tak tahan lagi untuk mengeluarkan spermaku.&lt;br /&gt;"Aaahh..", aku mengerang hebat dan tubuhku mengejang serta gelap sesaat ketika cairan itu mendesak keluar dan muncat di dalam mulut Bu Intan.&lt;br /&gt;Aku seperti melayang ke awang-awang, rasanya nikmat sekali ingin aku teriak enak.&lt;br /&gt;"Enak juga punyamu Do, protein tinggi", katanya seraya menjiltai sperma yang tumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku tak merasakan apa-apa. Tak lama kemudian aku mencium aroma khas vagina di depan hidungku. Ternyata Bu Intan meletakkan vaginanya tepat di mulutku dan dengan cepat aku mulai memainkan lidahku.&lt;br /&gt;"Sshh.. truuss.. ahh.. eennaakk..", ia mendesah ketika lidahku memainkan kembali daging kecil miliknya. Semakin ia mendesah semakin aku terangsang.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian prajurit kecilku kembali menegang hebat.&lt;br /&gt;"Aahh.. sshh.. Ukkhh.. yess", ia semakin hebat mendesah membuat rudalku telah mencapai ereksi yang maksimal akibat desahannya yang erotis.&lt;br /&gt;Lama kelamaan vaginya semakin basah kuyup oleh cairan yang keluar akibat terangsang hebat.&lt;br /&gt;"Aku ga tahan lagi Do", katanya seraya mengangkat vaginanya dari mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memindahkan vaginanya dari mulutku dan entah kemana dia memindahkannya karena mataku tertutup oleh slayer yang dia ikatkan kepadaku. Tiba-tiba aku merasakan kemaluanku digenggam oleh tangannya dan dituntun untuk masuk ke dalam sutau lubang hangat sempit dan basah oleh cairan pelumas. Ahh.. baru pertama kali ini aku merasakan nikmatnya vagina. Meskipun Ibu Intan bukan perawan tapi yang kurasakan sempit juga juga vaginanya. Dengan perlahan Ibu Intan mulai membenamkan kemaluanku ke dalam vaginanya sehingga seluruh kemaluanku habis ditelan oleh vaginanya. Aku merasakan nikmat dan geli yang luar biasa ketika kemaluanku masuk ke dalam vaginanya. Posisiku telentang dengan Bu Intan duduk di atas kemaluanku persis seperti seorang koboi yang sedang bermain rodeo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan tapi pasti, Ibu Intan mulai memainkan pinggulnya naik turun secara perlahan.&lt;br /&gt;"Aaahh.. uuhh", desahku ketika Ibu Intan memainkan pinggulnya naik turun secara perlahan dan sesekali memutarkan pinggulnya. Itu membuat diriku seperti melayang ke udara. Aku pun mulai menggoyangkan pantatku naik turun.&lt;br /&gt;"Do.. giiillaa.. enaakk ssekali..", teriak bu Intan.&lt;br /&gt;Aku tak mampu untuk berkata-kata lagi. Aku hanya bisa mendesah dan mendesah. Lama kelamaan Ibu Intan mulai mempercepat ritme goyangannya, naik turun dan sesekali memutarkan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mau kalah, aku pun mulai mempercepat sodokanku.&lt;br /&gt;"oohh.. yess.. ohh..", desah Ibu Intan.&lt;br /&gt;"Ahh.. uhh.. goyang terruss buu", kataku.&lt;br /&gt;"Enaakk.. Doo.. tolong cepetin sodokanmu Do..", katanya.&lt;br /&gt;Sodokanku semakin cepat dan semakin cepat pula Ibu Intan menggoyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;"Ohh.. shit.. oohh.. nnikkmmat..", Ibu Intan berteriak seraya menjambak rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mulai membuka slayerku. Aku bisa melihat pemandangan yang sungguh menakjubkan sekaligus menggairahkan di depanku. Tubuh Ibu Intan yang bergoyang membuat rambutnya acak-acakan dan seluruh tubuhnya penuh dengan keringat. Payudaranya yang putih bersih dengan putingnya yang kecoklatan ikut bergoyang seirama dengan goyangan pinggulnya yang mengocok kemaluanku. Mukanya yang manis dengan mata yang sesekali merem melek, mulutnya yang mendesah dan sesekali mengeram serta wajahnya yang dipenuhi keringat membuat ia keliatan seksi dan menggairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh.. shit.. oh.. god.. ohh.. enak..", desahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat Ibu Intan yang setiap hari terlihat lembut ternyata memiliki sisi yang sangat menggairahkan dan terlihat haus akan sex. Ibu Intan pandai memainkan ritme goyangannya, kadang dia melambatkan goyangan pinggulnya kadang dengan tiba-tiba mempercepatnya. Aku hanya bisa mengikuti perrmainannya dan aku sangat menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaahh..!", aku berteriak keenakan ketika aku merasakan diantara goyangannya yang mengocok kemaluanku, vaginanya seperti menghisap kemaluanku.&lt;br /&gt;"Mampus kamu Do.. tapi enak kan? Itu namanya "hisapan maut".. Ibu mempelajarinya melalui senam Keggel..", katanya sambil memandangku dengan liar.&lt;br /&gt;Aku semakin mempercepat sodokanku dan Ibu Intan pun mempercepat goyangannya naik turun dan berputar secara bergantian sesekali dilakukannya hisapan maut yang membuat seluruh tulang dalam tubuhku seperti terlepas dari persendiannya. Ibu Intan mulai menciumi leherku dan bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semain "panas" dan lidah kami saling berpagutan sementara sodokan kemaluanku dan goyang pinggulnya semakin lama semakin cepat.&lt;br /&gt;"Uhh.. ahh.. shh.. ahh..", aku mendesah.&lt;br /&gt;Ibu Intan semakin ganas menciumiku seraya aku mempercepat sodokannya. Aku merasakan sesuatu akan keluar mendesak dari penisku.&lt;br /&gt;"Bu Intan.. ahh.. uhh.. shh.. akkuu mauu kkeluarr..", kataku.&lt;br /&gt;"Ibu juga.. ahh.. tahann.. kita keluarin sama-sama.. sshh ahh..".&lt;br /&gt;"Aku ga tahan lagi bu..".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Ibu Intan berteriak panjang.&lt;br /&gt;"Aaahh.." sambil memelukku dengan sangat erat.&lt;br /&gt;"Aaahh..". bersamaan dengannya aku merasakan penisku memuntahkan cairan hangat di dalam vaginanya.&lt;br /&gt;Kami berciuman dan kurasakan tubuhnya dan tubuhku mengejang hebat menahan kenikmatan yang amat sangat. Gelap sesaat yang diiringi kenikmatan yang luar biasa membuat tubuhku seperti melayang jauh ke awang-awang. Nikmatnya melebihi masturbasi yang sesekali aku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sama-sama terkulai lemas dengan napas yang terengah -engah seperti dua olahragawan yang telah balap lari. Ibu Intan menatapku sambil tersenyum manis. Aku hanya terdiam menatap langit-langit.&lt;br /&gt;"Do, kamu nyesel ga ML sama Ibu?", tanya Ibu Intan kepadaku.&lt;br /&gt;"Nggak bu..".&lt;br /&gt;"Terus kenapa kamu termenung begitu?".&lt;br /&gt;"Aku cuma bingung, aku kan mengeluarkan sperma di dalam vagina Ibu, aku cuma khawatir&lt;br /&gt;nanti Ibu hamil gara-gara saya"&lt;br /&gt;"Ha.. ha.. ha.. jadi itu yang kamu khawatirkan?"&lt;br /&gt;"Iya bu. "&lt;br /&gt;"Tenang aja, Ibu teratur ko minum pil kb. Jadi kamu ga perlu khawatir?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakannya membuatku tenang. Akhirnya kami berbicara ngalor ngidul. Dan kami juga bercanda dan tertawa. Kami ngobrol dan becanda dalam keadaan bugil tanpa busana sehelai benang pun menempel di tubuh kami.&lt;br /&gt;"Do, kamu lapar ga? Ibu lapar", katanya.&lt;br /&gt;"Iya bu"&lt;br /&gt;"Ibu masakin kamu nasi goreng spesial buatan Ibu ya?"&lt;br /&gt;"Boleh", jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berpakaian kembali. Ibu Intan hanya menggunakan daster putih tanpa memakai kutang dan celana dalam, sedangkan aku hanya menggunakan celana pendek saja tanpa menggunakan baju. Aku menunggu di meja makan sambil nonton MTV dan Ibu Intan di dapur memasak nasi goreng. Akhirnya nasi goreng pun selesai di masak dan kami makan bersama-sama di meja makan. Meja makannya cukup besar, terbuat dari kayu jati dengan motif yang indah. Di sisi lain meja makan terdapat susu kental manis, teh celup, sebotol madu, tempat sendok dan garpu, serbet dan alas makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan selesai, aku dan Ibu Intan membersihkan meja makan bekas kami makan. Kami mulai bercanda -canda lagi. Tanpa sadar aku mulai becanda sedikit porno dan darahku mulai berdesir melihat ia berpakaian daster tanpa menggunakan kutang dan celana dalam. Tampak samar -samar putingnya menonjol seakan ingin merobek daster yang dikenakannya. Bayangan hitam di selangkangannya (jembut) merupakan pemandangan yang indah.&lt;br /&gt;"Ibu cantik dan seksi pake daster itu", kataku.&lt;br /&gt;"Kamu ngerayu Ibu ya.."&lt;br /&gt;"Bener lho bu, apalagi ga pake kutang dan celana dalem"&lt;br /&gt;"Ah kamu.. mulai nakal ya", katanya sambil nyubit pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prajuritku sedikit demi sedikit mulai kembali berdiri tegak. Ini akibat dari mataku yang selalu tertuju pada gundukan hitam di balik daster Ibu Intan.&lt;br /&gt;"Lho.. kok bangun lagi prajurit kecilmu, mo tempur lagi ya", katanya.&lt;br /&gt;Aku tidak segera menjawab karena tangan Ibu Intan sudah mulai menyusup ke dalam celanaku yang emang ga make kolor. Dengan lembut ia mulai mengocok penisku.&lt;br /&gt;"Ahh..", aku mendesah kecil, lalu kami mulai berciuman dengan mesranya.&lt;br /&gt;Tanpa sadar ketika berciuman tangan kami bergerilya dan mulai melucuti pakaian masingmasing. Kami sudah telanjang bulat dan kami masih terus berciuman sementara tangan Ibu Intan mengocok penisku dengan lembutnya. Hmm.. rasanya nikmat sekali. Tidak tau gimana awalnya tetapi kami sudah berada di atas meja makan, terbaring sambil berciuman. Ibu Intan dalam posisi telentang dan aku berada di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai menciumi lehernya dan terus bergerak ke belakang telinga.&lt;br /&gt;"Aaahh..", Ibu Intan mendesah ketika lidahku mulai bergerak lincah dan menjilati kedua puting susunya secara bergantian sementara tanganku yang lain memainkan klitorisnya.&lt;br /&gt;Vaginanya mulai basah akibat cairan pelumas yang keluar dari lubang kenikmatannya.&lt;br /&gt;Tangannya terus mengocok kontolku.&lt;br /&gt;"Do.. enak.. sshh..", desahnya sambil memejamkan mata.&lt;br /&gt;Kami mulai berganti posisi, Ibu Intan yang mengarahkannya. Giliranku telentang dan Ibu Intan berada di atasku dengan posisi terbalik. Kami melakukan gaya 69. Aku menjilati klitorisnya dengan rakus seperti orang kelaparan yang bertemu makanan sementara Ibu Intan menghisap kontolku dengan lembut dan sesekali menjilati kepala penisku yang membuat merasa seperti tersengat listrik.&lt;br /&gt;"Uhh.. sshh..", aku mendesah ketika hisapan Ibu Intan senakin kuat.&lt;br /&gt;Semakin cepat lidahku menggelitik klentitnya semakin ganas pula dia mengulum penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit dan Ibu Intan kuposisikan telentang di atas meja dengan kaki mengangkang. Terlihat dua buah gunung kembar yang sangat indah yang membuat darahku berdesir hebat. Sementara di selangkangannya terdapat bibir merah muda yang merekah lengkap dengan bulubulunya yang membuat rudalku semakin mengeras. Aku segera meraih kaleng susu kental manis di sampingku dan perlahan-lahan mengoleskannya ke seluruh tubuh Ibu Intan dari mulai leher sampai dengan ujung kaki. Kemudian aku mengoleskan madu disekitar puting dan kemaluannya. Aku mulai menjilatinya mulai dari leher. Ibu Intan hanya bisa pasrah dengan mata terpejam dan dari mulutnya terdengar desahan kecil. Lidahku bergerak turun ke arah bahunya, kemudian bergerak menuju payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Ibu Intan menggelinjang ketika lidahku menari-nari di atas puncak gunung kembarnya.&lt;br /&gt;"Do.. aahh.. sshh.. Ibu ga tahan.. masukin Do..", Ibu Intan meminta aku segera menusukkan penisku ke dalam vaginanya.&lt;br /&gt;Tapi aku pura-pura tak mendengar. Lidahku mulai bergerilya lagi menjilati semua susu kental yang menempel di tubuhnya. Lidah mulai bergerak lagi ke arah perut. Lalu aku mulai menjilati dari ujung kaki Ibu Intan, naik ke betis terus ke pangkal paha. Ketika lidahku menjilati cairan madu yang membasahi sekitar kemaluan dan klitorisnya, Ibu Intan menggelinjang hebat dan tanpa sadar semakin membenamkan kepalaku ke vaginanya. Semakin ganas aku menjilati madu yang ada di klitorisnya, semakin tak terkendali juga tubuh Ibu Intan menggelinjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sshh.. oughh.. aahh.. pleeaassee.. masukin Do..", katanya seraya menghisap jari telunjukku.&lt;br /&gt;Dia mengangkat kakinya dan menyimpannya di atas bahuku sementara aku berdiri di atas lutut. Perlahan aku mulai memasukkan penisku. Vaginanya yang sudah basah kuyup dan licin memudahkanku untuk membenamkan seluruh penisku ke lubang sorga dunia miliknya.&lt;br /&gt;"Aahh.. nnikmmaatt..", teriaknya sambil menggoyangkan pinggulnya melingkar.&lt;br /&gt;Aku mulai memainkan sodokanku. Kecepatannya semakin lama semaikn kutambah begitu pula goyangan pinggul Ibu Intan.&lt;br /&gt;"Ibu.. enaakk.. uhh.. shh..", desahku sambil memejamkan mata.&lt;br /&gt;"Aahh.. sshh.. mm..", ia mendesah sambil menghisap jari tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara becek vagina Ibu Intan yang dikocok oleh penisku terdengar seperti sebuah nyanyian yang merdu. Sesekali terdengar bunyi derak meja makan tempat kami bercinta. Kami berganti posisi.&lt;br /&gt;Ibu Intan membelakangiku dengan posisi menungging dan aku menusuknya dari belakang. Tubuh kami semakin basah kuyup oleh keringat. Keringat Ibu Intan yang bercampur dengan cairan susu kental menimbulkan wangi yang semerbak. Kami semakin terhanyut ke dalam dunia yang entah dimana.&lt;br /&gt;"Teerruuss.. cepett.. lebih.. cepett.. aahh..", Ibu Intan mendesah sambil memintaku untuk mempercepat sodokanku.&lt;br /&gt;Kami berganti posisi lagi. Aku dalam posisi duduk dan Ibu Intan duduk dipangkuanku sementara penisku asyik bergulat di dalam lubang vaginanya.&lt;br /&gt;"Aahh.. sshh.. goyang terruss..", desahku ketika Ibu Intan mulai bergoyang dengan ganasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berciuman sementara penisku dikocok oleh lubang vaginanya Ibu Intan yang sangat hangat sekali. Vagina Ibu Intan semakin banyak mengeluarkan cairan pelumas yang hangat. Suara becek yang diakibatkan oleh sodokan kontolku dan beceknya lubang vagina Ibu Intan semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aaahh.. sshh.. aahh.. oohh.. yess.." desahku.&lt;br /&gt;"Faster.. oohh.. aahh.. ssh.. faster.. Do..", desah Ibu Intan sambil memintaku untuk mempercepat sodokan penisku.&lt;br /&gt;Sementara penisku "bermain" di dalam lubang vaginanya Ibu Intan, lidahku juga mulai memainkan putingnya. Itu membuat tubuh Ibu Intan semakin bergerak tak karuan, goyangan pinggulnya semakin ganas dan sesekali dia menggigit leherku untuk menahan kenikmatan yang dia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama semakin kupercepat sodokan penisku dan gelitikan lidahku di putingnya semakin kupercepat pula, semakin ganas juga Ibu Intan bergoyang.&lt;br /&gt;"Aahh..!", Ibu Intan melenguh panjang sambil memelukku sangat erat sekali, tubuhnya menegang hebat, matanya terpejam dan kurasakan ada cairan hangat kental mengguyur penisku. Ibu Intan mengalami orgasme. Aku semakin mempercepat sodokanku. Tubuh Ibu Intan mulai melemas tapi aku terus mempercepat sodokanku.&lt;br /&gt;"Ahh.. Ibu Intan.. aku mo keluarr.. sshh.. ahh", ada sesuatu di dalam penisku yang mulai bergerak dan geli bercampur enak yang kurasakan mulai meningkat.&lt;br /&gt;"Do.. keluarin di luar ya.. di mulutku..", pinta Ibu Intan.&lt;br /&gt;Aku mencabut penisku dan dengan rakusnya Ibu Intan segera menghisap kontolku dengan ganas.&lt;br /&gt;"Aahh..", tubuhku mengejang, mataku terpejam dan tubuhku seperti melayang menembus atmosfer bumi. Rasanya sangat nikmat sekali, sulit dilukiskan dengan kata-kata. Aku memuncratkan air maniku di dalam mulut Ibu Intan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Intan terus menghisap penisku dengan ganas.&lt;br /&gt;"Aahh.. sshh", aku mendesah kecil ketika penisku yang mulai loyo terus dijilati oleh Ibu Intan.&lt;br /&gt;Lidah Ibu Intan terus menjilatinya sampai bersih. Lalu kami sama-sama terbaring lemas di atas meja makan. Kami masih berpelukan.&lt;br /&gt;"Nikmat sekali hari ini.. thanks ya Do..", Ibu Intan berkata kepadaku sambil menatapku.&lt;br /&gt;"Sama-sama.. aku seharusnya yang berterima kasih..", kataku sambil membelai rambut Ibu Intan.&lt;br /&gt;Kami lalu berciuman lalu berpelukan. Karena kecapean, kami pun langsung tertidur di atas meja makan tempat kami bermain kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun ketika cahaya sudah terang. Aku melihat jam dinding, wah.. ternyata pukul setengah tujuh pagi. Kulihat Ibu Intan masih tertidur di pelukanku di atas meja makan yang berantakan tanpa sehelai benang pun menempel di tubuh kami.&lt;br /&gt;"Bu.. bangun..", bisikku di telinga Ibu Intan.&lt;br /&gt;Wajahnya terlihat begitu cantik ketika tertidur.&lt;br /&gt;"Jam berapa sekarang Do?"&lt;br /&gt;"Setengah tujuh".&lt;br /&gt;"Hah.. setengah tujuh?!", Ibu Intan kaget dan segera bangun.&lt;br /&gt;Kami segera berpakaian dan membereskan meja yang berantakan. Kami takut kepergok oleh Bi Ana. Ibu Intan kemudian masuk kamarnya dan mandi di kamar mandi yang ada didalam kamarnya, aku pun segera mandi di kamar mandi lain yang letaknya dekat dengan kamarku. Sekitar jam tujuh Bi Ana datang dan mulai dengan aktifitas sehari-harinya. Untunglah aku dan Ibu Intan tidak bangun terlambat sehingga perbuatan kami semalam tidak diketahui oleh Bi Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ada kesempatan dan kalau nggak ada orang di rumah, aku dan Ibu Intan sering melakukan ML, kadang di kamarnya, di kamarku, di kamar mandi, ruang tamu dan di dapur juga pernah. Tiga bulan kemudian tepatnya bulan juni, Ibu Intan dan anaknya menyusul suaminya di Jepang. Dan aku pun pindah kos karena rumah Ibu Intan diisi oleh adik suaminya. Suami Ibu Intan akhirnya mendapatkan kerja di Jepang di tempat ia kuliah, oleh karena itu sampai saat ini Ibu Intan, anaknya serta suaminya menetap di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak akan pernah melupakan pengalamanku ini seumur hidupku. Terima kasih Ibu Intan, Ibu kost-ku sekaligus guru seksku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-5364346705112521644?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/5364346705112521644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/ibu-kost-ibu-guru-sex-aku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/5364346705112521644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/5364346705112521644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/ibu-kost-ibu-guru-sex-aku.html' title='Ibu Kost.. Ibu Guru Sex Aku'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-8574614637874461325</id><published>2010-06-11T10:16:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T10:17:06.668-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tante'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Tante Sofi</title><content type='html'>Pertama-tama perkenalkan saya Andy (bukan nama sebenarnya). Saat ini saya menginjak 17tahun, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan sangat terawat walaupun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku berangkat dari kota S menuju kota M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Setelah saling tanya-menanya kabar, aku pun diantarkan ke kamar oleh pembantu tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, dan usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membuatku tak berkedip saat mengikutinya dari belakang adalah bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berjalan, seeakan menantangku untuk meremas nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai dikamar aku tertegun sejenak, mengamati apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.&lt;br /&gt;"Den, ini kamarnya."&lt;br /&gt;"Eh iya Bi." jawabku setengah tergagap.&lt;br /&gt;Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.&lt;br /&gt;"Den, nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Bibi aja ya?" ucapnya sambil berlalu.&lt;br /&gt;"Eh, tunggu Bi, Bibi bisa mijit kan? badanku pegel nih." Kataku setengah memelas.&lt;br /&gt;"Kalau sekedar mijit sih bisa den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?"&lt;br /&gt;"Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?"&lt;br /&gt;"Wah kesempatan nih, aku bisa merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku." ucapku dalam hati.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.&lt;br /&gt;"Den, coba Aden tiduran gih." suruh Bi Sum.&lt;br /&gt;"Eh, iya Bi." lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.&lt;br /&gt;"Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?" tanyaku memecah keheningan.&lt;br /&gt;Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya bisa diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.&lt;br /&gt;"Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, pasti enak sekali." kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya "Adik" kecilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.&lt;br /&gt;"Bi, dari tadi aku nggak melihat om susilo dan Dik rico sih."&lt;br /&gt;"Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan sekarang pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L." tuturnya.&lt;br /&gt;"Oo.., jadi tante sendirian dong Bi?" tanyaku&lt;br /&gt;"Iya den, kadang Bibi juga kasihan melihat nyonya, nggak ada yang nemenin." kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.&lt;br /&gt;"Ada apa den?" tanyanya polos.&lt;br /&gt;"Anu Bi, itu yang pegel." jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;"Mm.. Bibi udah punya suami?" kataku lagi.&lt;br /&gt;"Anu den, suami Bibi sudah meninggal 6bulan yang lalu." jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku berkata.&lt;br /&gt;"Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?"&lt;br /&gt;"Bibi titipkan pada adik Bibi" katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.&lt;br /&gt;"Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;"Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?" ucapnya.&lt;br /&gt;"Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi masih keliatan cantik kok." pujiku, sambil mengamati wajahnya yang bersemu merah.&lt;br /&gt;"Ah.., den andy ini bisa saja" katanya, sambil tersipu malu.&lt;br /&gt;"Eh bener loh Bi, Bibi masih cantik, udah gitu seksi lagi, pasti Bibi rajin merawat tubuh." Godaku lagi.&lt;br /&gt;"Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji terus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku bangkit, dan duduk berhadapan dengan dia.&lt;br /&gt;"Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, sudah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini masih indah loh.." kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Secara reflek dia langsung menutupinya, dan menundukkan wajahnya.&lt;br /&gt;"Aden ini bisa saja, orang ini sudah kendur kok dibilang bagus." katanya polos.&lt;br /&gt;Seperti mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.&lt;br /&gt;"Bibi ini aneh, orang payudara Bibi masih inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri" kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.&lt;br /&gt;"Jangan ah den, Bibi malu."&lt;br /&gt;"Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, dan ngaca." Lalu aku mulai membantu membuka baju kebaya yang dikenakannya, sepertinya ia pasrah saja. Setelah baju kebaya nya lepas, dan ia hanya memakai Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.&lt;br /&gt;"Jangan den, Bibi malu nanti nyonya tahu bagaimana?" tanyanya polos.&lt;br /&gt;"Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok" Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, dan wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal dan padat berisi, melihat itu "Adik" kecilku langsung mengacung keras sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya bisa mendesah dan matanya "Merem-melek".&lt;br /&gt;"Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den"&lt;br /&gt;Aku tak menggubris pertanyaannya malahan aku meningkatkan seranganku. Kini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, dan Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil menarik jarik yang dipakainya.&lt;br /&gt;"Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den"&lt;br /&gt;Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku dan ciumanku terus turun keperutnya, dan dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang dipakainya, aku terdiam sesaat seraya mengamati gundukan yang ada dibawah perutnya itu.&lt;br /&gt;"Den, punya aden besar sekali" katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.&lt;br /&gt;"Bi, jilatin ya.. punya Andy." Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.&lt;br /&gt;"Mmhh.. ohh.. Bi terus, kulum penisku Bi.., tak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, dan rasanya ada yang akan keluar di ujung penisku.&lt;br /&gt;"Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh" jeritku panjang dan tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun mulai pindah posisi, kini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum sudah tidak sabar, ia menekan kepalaku agar mulai menjilati memeknya dan sluurpp.. memek Bi Sum kujilati sampai kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, dan gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ohh.. den.. teruuss den jilat teruss.. memek Bibi den.. mmhh" katanya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.&lt;br /&gt;"Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh." Bi Sum menggelinjang hebat dan serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum masih menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.&lt;br /&gt;Aku pun mulai menciumi telinganya, dan dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang sudah sangat horny langsung berkata, "Bi aku masukkan sekarang ya..". ia hanya bisa mengangguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang sudah sangat becek. Bless.. separuh penisku amblas kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun amblas kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh." desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny dan kupercepat sodokkanku di memeknya.&lt;br /&gt;"Oh.. Bii memek kamu sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh.."&lt;br /&gt;"Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den.."&lt;br /&gt;aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.&lt;br /&gt;"Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh.."&lt;br /&gt;"Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu beberapa detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut hebat dan, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak" kataku sambil mencupang buah dadanya.&lt;br /&gt;"Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya kami tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dia mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pembantu tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang tentunya lebih menghebohkan, karena tante saya ini orang yang hipersex, jadi nafsunya sangat besar, dan meledak-ledak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-8574614637874461325?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/8574614637874461325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/tante-sofi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/8574614637874461325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/8574614637874461325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/tante-sofi.html' title='Tante Sofi'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-4466995544191873019</id><published>2010-06-11T10:12:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T10:13:02.584-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daun Muda'/><title type='text'>Mengintip Ibu Guru</title><content type='html'>Sebagai siswa sebuah SMU Swasta, aku bukanlah murid yang pintar tapi juga tidak bodoh-bodoh amat. Biasa-biasa saja. Tidak bisa dibanggakan. Yang bisa aku banggakan adalah wajahku yang ganteng dengan bentuk tubuh yang atletis. Tinggi jangkung dan berat yang seimbang. Dan paling aku banggakan adalah ukuran kemaluanku yang luar biasa besarnya, panjangnya 22 cm dengan diameter 5 cm. Membuat iri teman laki-lakiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Doni, cukup terkenal di sekolahku. Mungkin karena aku bandel dan sering berganti-ganti cewek. Banyak teman sekolahku yang pernah aku tiduri. Mereka tergila-gila setelah menikmati kontolku yang luar biasa dan tahan lama kalau bersetubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, setelah semua pelajaran selesai aku bergegas pulang kerumah. Semua buku-buku sudah kumasukkan kedalam tas. Kustart sepeda motorku menuju jalan raya. Tapi di tengah perjalanan aku baru ingat, pulpenku tertinggal di dalam kelas. Dengan tergesa-gesa aku balik lagi ke sekolahku. Setelah mengambil kembali pulpenku, aku berjalan lagi menuju parkir sepeda motorku. Untuk mencapai tempat parkir, aku harus melewati ruangan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melewati ruangan guru-guru, aku mendengan suara mendesah-desah disertai rintihan-rintihan kecil. Aku penasaran dengan suara-suara itu. Aku mendekati pintu ruangan, suara-suara itu semakin keras. Aku semakin penasaran dibuatnya. Kubuka pintu ruangan, dengan berjalan mengendap-endap, aku mencari tahu darimana datangnya suara-suara itu. Begitu mendekati ruangan Bu siska, aku terkejut. Disana kulihat Bu Siska, guru bahasa Inggrisku yang telah setahun menjanda, sedang bercumbu dengan Pak Rio, guru olahragaku, dalam posisi berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir mereka saling kecup. Lidah mereka saling sedot. Tangan Pak Rio meremas-remas pantat Bu Siska yang padat, sedangkan tangan Bu Siska melingkar dipinggang Pak Rio. Mereka yang sedang asik tak tahu akan kehadiranku. Aku mendekati arah mereka. Aku membungkukkan badan dan bersembunyi dibalik meja, mengintip mereka dari jarak yang sangat dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyudahi bercumbu, kemudian Pak Rio duduk dipinggir meja, kakinya menjuntai kelantai. Bu Sisca berdiri didepannya. Bu siska mendekati Pak Rio, dengan buasnya dia menarik celana panjang Pak Rio. Tak ketinggalan celana dalam Pak Rio juga diembatnya. Hingga Pak Rio setengah telanjang. Bu Siska menguru-urut kontol Pak Rio. Kontolnya yang tidak begitu besar, sedikit demi sedikit menegang. Bu Siska membungkukkan tubuhnya, hingga wajahnya pas diatas selangkangan Pak Rio. Kontol Pak Rio diciuminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Isep.. sayang.. isep.. kontolku" suruh Pak Rio.&lt;br /&gt;Bu Siska tersenyum mengangguk. Dia mulai menjilati kepala kontol Pak Rio. Terus turun kearah pangkalnya. Bu Siska sangat pintar memainkan lidahnya dikontol Pak Rio.&lt;br /&gt;"Oohh.. enakk.. sayang.., truss.., truss".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rio mengerang ketika Bu Siska mengulum kontolnya. Seluruh batang kontol Pak Rio masuk kemulutnya. Kontol Pak Rio maju mundur didalam mulut Bu Siska. Tangan Bu Siska mengurut-urut buah pelirnya. Pak Rio merasakan nikmat yang luar biasa. Matanya merem melek. Pantatnya diangkat-angkat. Aku sangat terangsang melihat pemandangan itu. Kuraba-raba kontolku yang menegang. Kubuka retsleting celanaku.Kukocok-kocok kontolku dengan tanganku. Birahiku memuncak. Ingin rasanya aku bergabung dengan mereka, tapi keinginan itu kutahan, menunggu saat yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas menit berlalu, Pak Rio menarik dan menjambak kepala Bu Siska.&lt;br /&gt;"Akhh.., akuu.. mauu.., ke.. keluar sayang" Pak Rio menjerit histeris.&lt;br /&gt;"Keluarin aja sayang, aku ingin meminumnya" sahut Bu Siska.&lt;br /&gt;Bu Siska tak mempedulikannya. Semakin cepat dikulumnya kontol Pak Rio dan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal kontol Pak Rio seirama kocokan mulutnya. Kontol Pak Rio berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan crott! crott! crott! Pak Rio menumpahkan spermanya didalam mulut Bu Siska. Bu Siska meminum cairan sperma itu. Kontol Pak Rio terus dijilatinya, hingga seluruh sisa-sisa sperma Pak Rio bersih. Kontol Pak Rio kemudian mengecil didalam mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Rio yang sudah mencapai orgasme kemudian turun dari meja.&lt;br /&gt;"Kamu puas sayang dengan serviceku" tanya Bu siska.&lt;br /&gt;"Puas sekali, kamu pitar sayang" puji Pak Rio sambil tersenyum.&lt;br /&gt;"Gantian sayang, sekarang giliranmu memberiku kepuasan" pinta Bu Siska.&lt;br /&gt;Bu Siska melepaskan gaunnya, juga pakaian atasnya, hingga dia telanjang bulat. Astaga ternyata Bu Siska tak memakai apa-apa dibalik gaunnya. Aku dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh mulusnya, putih bersih, ramping dan sexy dengan buah dada yang besar dan padat, juga bentuk memeknya yang indah dihiasi bulu-bulu yang dicukur tipis dan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Siska kemudian naik keatas meja, kakinya diselonjorkan kelantai. Pak Rio mendekatinya. Memek Bu Siska diusap-usp dengan tangannya. Jari-jarinya dimasukkan, mencucuk-cucuk memek Bu Siska. Bu Siska menjerit nikmat.&lt;br /&gt;"Isep sayang, isep memekku sayang" pinta Bu Siska menghiba.&lt;br /&gt;Pak Rio menurunkan wajahnya mendekati selangkangan Bu Siska. Lidahnya dijulurkan kememek Bu Siska. Disibaknya bibir memek Bu Siska dengan lidahnya. Pak Rio mulai menjilati memek Bu Siska.&lt;br /&gt;"Oohh.. truss.. sayang.., jilatin terus.., akhh" Bu Siska mendesah.&lt;br /&gt;Pak Rio dengan lihainya memainkan lidahnya dibibir memek Bu Siska. Dihisapnya memek Bu Siska dari bagian luar kedalam. Memek Bu Siska yang merah dan basah dicucuk-cucuknya. Kelentitnya disedot-sedot dengan mulutnya.&lt;br /&gt;"Oohh.., enakk.., truss.., truss.., sayang" jerit Bu Siska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir seluruh bagian memek Bu Siska dijilati Pak Rio. Tanpa sejengkalpun dilewatinya.&lt;br /&gt;"Akkhh.., akuu.. mauu.. ke.. keluar.. sayang" erang Bu Siska.&lt;br /&gt;Memeknya berkedut-kedut. Otot-otot memeknya menegang. Dijambaknya rambut Pak Rio, dibenamkannya keselangkangannya.&lt;br /&gt;"A.. akuu.., keluarr.., sayang" Bu Siska menjerit histeris ketika mencapai orgasme. Memeknya sangat basah oleh cairan spermanya. Pak Rio menjilati memeknya hingga bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu puas Sis?" tanya Pak Rio pendek.&lt;br /&gt;"Belum! Entot aku sayang, aku ingin merasakan kontolmu" pinta Bu Siska.&lt;br /&gt;"Maaf Sis! Aku tak bisa, aku harus pulang".&lt;br /&gt;"Nanti istriku curiga, aku pulang sore" sahut Pak Rio menolak.&lt;br /&gt;"Kamu pengecut Rio! Dikasih enak aja takut!" kata Bu Siska jengkel.&lt;br /&gt;Matanya meredup, memohon pada Pak Rio. Pak Rio tak mempedulikannya. Dia mengenakan celananya, kemudian berlalu meninggalkan Bu Siska yang menatapnya sambil memohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kesempatanku! Pikirku dalam hati. Nafsu birahiku yang sudah memuncak melihat mereka saling isap, ingin disalurkan. Setelah Pak Rio berlalu, kudekati Bu Siska yang masih rebahan diatas meja. Kakinya menggantung ditepi meja. Dengan hati-hati aku berjalan mendekat. Kulepaskan baju seragamku, juga celanaku hingga aku telanjang bulat. Kontolku yang sudah menegang, mengacung dengan bebasnya. Sampai didepan selangkangan Bu siska, tanganku meraba-raba paha mulusnya. Rabaanku terus keatas kebibir memeknya. Dia melenguh. Kusibakkan bibir memeknya dengan tanganku. Kuusap-usap bulu memeknya. Kudekatkan mulutku keselangkangannya. Kujilati bibir memeknya dengan lidahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Si.. siapa.., kamu" bentak Bu Siska ketika tahu memeknya kujilati.&lt;br /&gt;"Tenang Bu! Saya Doni murid Ibu! Saya Ingin memberi Ibu kepuasan seperti Pak Rio" sahutku penuh nafsu.&lt;br /&gt;Bu Siska tidak menyahut. Merasa mendapat angin segar. Aku semakin berani saja. Nafsu birahi Bu Siska yang belum tuntas oleh Pak Rio membuatnya menerima kehadiaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melanjutkan aktivitasku menjilati memek Bu Siska. Lubang memeknya kucucuk dengan lidahku. Kelentitnya kusedot-sedot.&lt;br /&gt;"Oohh.., truss.. Don.., truss.. isep.. sayang" pintanya memohon.&lt;br /&gt;Hampir setiap jengkal dari memek Bu siska kujilati. Bu Siska mengerang menahan nafsu birahinya. Kedua kakinya terangkat tinggi, menjepit kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas menit berlalu aku menyudahi aktivitasku. Aku naik keatas meja. Aku berlutu diatas tubuhnya. Kontolku kuarahkan kemulutnya. Kepalanya tengadah. Mulut terbuka menyambut kehadiran kontolku yang tegang penuh.&lt;br /&gt;"Wow! Gede sekali kontolmu!" katanya sedikit terkejut.&lt;br /&gt;"Isep Bu! Isep kontolku!" pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Siska mulai menjilati kepala kontolku, terus kepangkalnya. Pintar sekali dia memainkan lidahnya.&lt;br /&gt;"Truss.. Buu.. teruss.., isepp" aku mengerang merasakan nikmat.&lt;br /&gt;Bu Siska menghisap-isap kontolku. Kontolku keluar masuk didalam mulutnya yang penuh sesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akuu.. tak.., tahann.., sayang! Entot aku sayang" pintanya.&lt;br /&gt;"Ya.., ya.. Buu" sahutku.&lt;br /&gt;Aku turun dari meja, berdiri diantara kedua pahanya. Kugenggam kontolku, mendekati lubang memeknya. Bu Siska melebarkan kedua pahanya, menyambut kontolku. Sedikit demi sedikit kontolku memasuki lubang memeknya. Semakin lama semakin dalam. Hingga seluruhnya amblas dan terbenam. Memeknya penuh sesak oleh kontolku.&lt;br /&gt;Aku mulai mengerakkan pantatku maju mundur. Klecot!Klecot! Suara kontolku ketika beradu dengan memeknya.&lt;br /&gt;"Ooh.., nik.. matt.., sayang.., truss" Bu Siska mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuangkat kedua kakinya kebahuku. Aku dapat melihat dengan jelas kontolku yang bergerak-gerak maju mundur.&lt;br /&gt;"Ooh.., Buu.., enakk.. banget.., memekmu.., hangat" desahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tiga puluh menit aku menggenjotnya, kurasakan memeknya berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.&lt;br /&gt;"Akuu.., tak.. tahan.., Don, aku.. mau.. keluarr" jeritnya.&lt;br /&gt;"Tahan.. Buu.., aku.. masih tegang" sahutku.&lt;br /&gt;Dia bangun duduk dimeja memegang pinggangku erat-erat, mencakar punggungku.&lt;br /&gt;"Akkhh.., akuu.. keluar" Bu Siska menjerit histeris.&lt;br /&gt;Nafasnya memburu. Dan kurasakan memeknya sangat basah, Bu siska mencapai orgasmenya. Ibu guruku yang sudah berumur 37 tahun menggelepar merasakan nikmatnya kusetubuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang masih belum keluar, tak mau rugi. Kucabut kontolku yang masih tegang. Kuarahkan kelubang anusnya. Kedua pahanya kupegang erat.&lt;br /&gt;"Ja,.jangan.., Don" teriaknya ketika kepala kontolku menyentuh lubang anusnya.&lt;br /&gt;Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku hingga setengah batang kontolku masuk kelubang anusnya yang sempit.&lt;br /&gt;"Aow! Sakitt.. cabutt.., Don.., aku.. sakitt.. jangan" teriaknya keras.&lt;br /&gt;Kusodok terus hingga seluruh batang kontolku amblas. Kemudian dengan perlahan tapi pasti kugerakkan pantatku maju mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan Bu Siska mengendor. Berganti dengan desahan-desahan dan rintihan kecil. Bu Siska sudah bisa menikmati sentuhan kontolku dianusnya.&lt;br /&gt;"Jadi dicabut ngga Bu" candaku.&lt;br /&gt;"Jangan sayang, enak banget" katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusodok terus lubang anusnya, semakin lama semakin cepat. Bu Siska menjerit-jerit. Kata-kata kotor keluar dari mulutnya. Aku semakin mempercepat sodokanku ketika kurasakan akan mencapai orgasme.&lt;br /&gt;"Buu.., akuu.. mauu.. ke.. keluarr" aku melolong panjang.&lt;br /&gt;"Akhh.. akuu juga sayang" sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crott! Crott! Crott! Aku menumpahkan sperma yang sangat banyak dilubang anusnya. Kutarik kontolku. Kuminta dia turun dari meja untuk menjilati kontolku. Bu Siska menurutinya. Dia turun dari meja dan berlutut dihadapanku. Kontolku dikulumnya. Sisa-sisa spermaku dijilatinya sampai bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu hebat Don, aku puas sekali" pujinya.&lt;br /&gt;"Aku juga Bu" sahutku.&lt;br /&gt;"Baru kali ini memekku dimasuki kontol yang sangat besar" katanya.&lt;br /&gt;"Ibu mau khan terus menikmatinya" kataku.&lt;br /&gt;"Tentu sayang" jawabnya sambil berdiri dan mengecup bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami beristirahat sehabis merengkuh kenikmatan. Kenikmatan selanjutnya kudapatkan dirumahnya. Bu Siska, guruku ternyata hyperseks. Dia kuat sekali ngentot. Satu malam bisa sampai empat kali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-4466995544191873019?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/4466995544191873019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/mengintip-ibu-guru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/4466995544191873019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/4466995544191873019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/mengintip-ibu-guru.html' title='Mengintip Ibu Guru'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-3056692892702023765</id><published>2010-06-11T10:11:00.001-07:00</published><updated>2010-06-11T10:11:58.728-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sedarah'/><title type='text'>Sex dari Tante Kis</title><content type='html'>Selama aku masih menganggur, aku sering ke rumah Tante Kis. Selama di sana aku membantu membersihkan halaman dan mengatur perkakas rumah. Maklum tanteku itu hidup sendirian. Untuk urusan angkat-mengangkat (mengangkat barang red) ia tidak sanggup. Suatu sore setelah aku menggeser pot di halaman agar kelihatan rapi, aku mau ke kamar mandi, mau cuci tangan dan buang air. Toilet Tante Kis ada di dalam kamarnya, sehingga kalau mau ke kamar mandi harus ke kamarnya dulu. Tanpa ragu-ragu kubuka kamar yang tidak terkunci itu untuk menuju kamar mandi. Begitu kubuka pintu kamarnya aku kaget, kulihat Tante Kis baru saja selesai mengeringkan badannya dengan handuk sehabis mandi. Saat kubuka pintu tadi, Tante Kis sedang dalam keadaan telanjang membelakangiku. Tante Kis rupanya tidak menyadari kalau aku sedang memperhatikan pinggul dan bokongnya dengan gemetar. Beberapa menit kemudian kututup kembali pintunya, dengan perasaan yang galau dan takut karena memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya aku tidak bisa tidur, kemaluanku berdiri terus. Aku keluar dari kamar, rupanya Tante Kis sedang nonton TV sendirian. Aku mau menegurnya tapi tunggu dulu, Tante Kis sedang memakai pakaian yang merangsang, pahanya yang putih tersingkap, sementara tangan kanannya rupanya sedang mengelus kemaluannya sendiri. Aku diam-diam duduk agak di belakang posisi duduknya sambil memperhatikan tingkahnya tersebut dengan sedikit was-was. Akhirnya dengan perasaan yang makin kacau aku kembali ke kamar. Kemaluanku yang makin tegang akhirnya kukeluarkan juga, sambil kuelus-elus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian kejantananku sudah sedemikian kencang dan terasa ingin keluar.&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara Tante Kis, "Kenapa Tok, kepanasan ya?"&lt;br /&gt;"Eh.. iya Tante," jawabku terbata-bata.&lt;br /&gt;"Kamu kenapa?" tanyanya tanpa melihat ke arah kemaluanku.&lt;br /&gt;Aku penasaran dan dengan memberanikan diri, kubiarkan terus kemaluanku tergerai di luar celana dalamku.&lt;br /&gt;"Nggak tahu nih Tante, ini tegang terus," sambil kutunjukkan kemaluanku.&lt;br /&gt;Tante Kis melihatnya sekilas dengan tenang. Tante Kis terus masuk ke kamarku tanpa mempedulikan lagi kejantananku yang menantang.&lt;br /&gt;"Tok, tolongin Tente dong, kelilipan nih.." sambil mengucek-ngucek matanya.&lt;br /&gt;Aku berdiri dan kuhampiri, instingku mengatakan bahwa ini adalah isyarat saja agar aku mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku sudah sangat jorok. Kuhampir Tante Kis, senjataku yang sudah siap tempur mengarah lurus ke depan menuju perutnya. Lalu kupeluk Tante Kis, batang kemaluanku terjepit di perutnya, tanganku meremas ke arah payudaranya. Rupanya Tante Kis tidak memakai BH. Aku semakin berani, kusingkapkan dasternya, kugapai payudaranya dengan penuh nafsu. Tante Kis diam saja. Tenang saja dia. Kuciumi lehernya dari belakang, payudaranya masih kencang. Beberapa saat kemudian payudaranya makin keras dan putingnya makin menantang. Nafas Tante Kis sudah mulai mendesah-desah tanda dia mulai terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka dasternya, kulihat tubuhnya yang putih mulus. Kulepas celana dalamnya, bulu kemaluannya lebat di atas kulitnya yang putih. Tanpa kusadari kami sudah saling berpelukan tanpa dibatasi selembar benangpun. Tante Kis sudah membalas ciumanku dengan buasnya. Tubuhku semuanya diciumi, sampai ke bawah, terus ke perut, terus ke bawah lagi dan sampailah ke arah kemaluanku yang sudah ia genggam sejak tadi, barangkali takut kusembunyikan. Aku mengambil posisi duduk di pinggir tempat tidur, sementara dengan gerakan yang berpengalaman ia mulai mengulum dan menjilati kejantananku sambil tangannya mengocok dengan lembut. Aku merasa nikmat yang luar biasa, bersamaan dengan itu keluarlah maniku, sebagian menyemprot ke hidungnya yang mungil. Tante Kis masih mengocok-ngocok sambil meremas-remas kemaluanku, sehingga tuntas sudah sperma yang kukeluarkan tadi. Tante Kis kelihatan puas. Apalagi aku, seribu kali puas. Tante Kis masih terus mempermainkan kemaluanku yang sudah tidak sekeras tadi meskipun belum juga menyusut. Tante Kis terus mempermainkan kemaluanku. "Kontol kamu bagus To, besar lagi." Aku tidak menjawab, hanya tersenyum manja. Oleh kelihaian tangannya, segera kurasakan kembali rasa nikmat seperti saat ngaceng tadi. "To, kontolmu sudah ngaceng lagi. Masukin ke gawukku yuk." Lalu Tante Kis mengambil posisi terlentang di sebelahku, mani yang menempel di wajahnya sudah dibersihkan dengan bantal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa diperintah lagi, aku mengambil posisi sebaliknya. Kuarahkan kemaluanku ke liang senggamanya yang merah merekah, dibimbingnya batang kejantananku dengan tangannya, digosok-gosokkan kepala kemaluanku di atas liang senggamanya yang sudah basah ke arah atas dan bawah kemaluannya. Kemudian diarahkan tepat di depan gerbang kemaluannya. Sekali lagi tanpa diperintah dan hanya berdasarkan naluri saja kutusukkan seluruh batang kemaluanku ke dalam liang sorganya. Liang senggamanya terasa sempit, dan dindingnya terus memijit-mijit kemaluanku yang semakin mengeras di dalam goa nikmatnya. Kudengar ia menjerit-jerit kecil menikmati gesekan kemaluanku dengan sempurna. Tanpa kusadari bokongku sudah naik turun yang mengakibatkan batang kemaluanku keluar masuk liang senggamanya. (Barangkali pembaca belum kuceritakan bahwa sakalipun aku belum pernah main perempuan, dengan Tante Kis ini, baru pertama kalinya aku melakukan sendiri apa yang dinamakan senggama, seperti yang pernah kulihat di film biru)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian nafas Tante Kis semakin cepat, bersamaan dengan itu ia semakin kencang menaikkan pinggulnya sehingga liang kenikmatannya meremas-remas mesra batang kejantananku. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Dan kudengar Tante Kis berteriak, "Keluarkan sama-sama To.." Ia mendekap kuat-kuat punggungku, diciuminya bibirku dengan buasnya. Tubuhnya mengejang dan, "Ooohh.. Iihhh.. Oohh.." suaranya kali ini keras sekali, di malam yang sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidur bersama malam itu. Ia pulas sekali tertidur. Sedangkan aku tidak. Mataku terus melotot. Kejantananku tidak mau kompromi, tetap tegak sempurna. Sekali-kali kuremas payudaranya, ia tetap tidur lelap, kuelus goa kenikmatannya, ia juga diam saja. Kudekatkan lampu duduk di depan selangkangannya. Kupermainkan liang kewanitaannya, kuelus, kusibakkan kedua bibirnya dan kuperhatikan semuanya. Kuraba-raba klitorisnya yang tersembunyi di atas bibir kemaluannya. Oh, baru pertama aku melihat pemandangan ini. Sekali-kali Tante Kis bangun untuk kemudian tertidur lagi. "Aku ngantuk Tok," katanya pelan. Melihat kemaluannya yang bebas tersebut, kumanfaatkan dengan sepuas-puasnya. Akhirnya kukecup juga bibir Tante Kis lalu kujilati, Tante Kis kulihat bergelinjang kegelian sebentar. Lama kuhisap-hisap, kujilati klitorisnya sampai basah. Basah oleh ludahku bercampur dengan lendir yang keluar dari liang senggamanya. Diangkat-angkatnya pinggul Tante Kis, menandakan ia keenakan, seakan ingin lidahku terus menjilatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Tante Kis sudah memberikan tanggapan, segera kutiduri lagi Tante Kis untuk kedua kalinya. Tante Kis kali ini bersikap pasif mungkin masih kelelahan, kumasukkan kejantananku, kali ini terasa agak seret. Tante Kis merintih, "Pelan-pelan Tok, sakit.." Aku menurutinya. Pelan-pelan kumasukkan batang kejantananku ke dalam liang senggamanya yang seret itu, sampai semuanya habis tertelan oleh kemaluan Tante Kis. Kugoyang sebentar, keluarlah maniku dengan deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, berkali-kali kusetubuhi Tante Kis, baik dalam keadaan sadar maupun tidak. Aku tidak bisa menghitung berapa kali air maniku muncrat. Sampai akhirnya aku benar-benar kelelahan dan tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu aku jadi sering ke rumah Tante Kis. Sampai akhirnya aku diterima kerja di kota lain. Saat ini usianya mungkin sudah 55 tahun. Kadang-kadang aku masih suka mengunjunginya, dan tidak lupa memberikan siraman air kenikmatan ke dalam kemaluannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-3056692892702023765?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/3056692892702023765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/sex-dari-tante-kis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/3056692892702023765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/3056692892702023765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/sex-dari-tante-kis.html' title='Sex dari Tante Kis'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-8947811933876186376</id><published>2010-06-11T10:08:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T10:10:55.705-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesta Sex'/><title type='text'>Siang Guru... Malam Pelacur</title><content type='html'>Aneh seorang guru yang mengajarkan norma dan aturan sosial kepada murid-muridnya, bagaimana bisa menjadi seorang pelacur yang jelas-jelas menentang semua norma yang ia ajarkan, apakah karena alasan ekonomi atau masalah kebutuhan akan seks yang menyebabkan ini terjadi mari kita ikuti kisah berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni Rosa permepuan berumur 31 tahun mempunyai pekerjaan sebagai seorang guru di sekolah swasta ternama di Surabaya. Rosa telah menikah dengan pria bernama Suhendra yang pekerjaannya adalah teknisi di pengeboran minyak lepas pantai milik perusahaan asing yang hanya bisa pulang 5-6 bulan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa bertekad memulai profesinya sebagai High Class Call Girl saat ia tahu melihat bukti bahwa suaminya main belakang, selama bekerja di lepas pantai Suhendra suka membawa gadis-gadis nakal. Hal ini ia ketahui dari teman suaminya yang mempunyai dendam terhadapa suaminya, teman suaminya itu menunjukan beberapa foto hasil jepretannya sendiri yang berisikan foto suaminya sedang memluk dan mencium mesra gadis-gadis nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosa memulai kariernya di bidang pelacuran kelas tinggi dengan memasang sebuah iklan di koran, begini bunyi iklannya "Massage Maria, cantik dan berpengalaman menerima panggilan hub. 0812160700X ", dengan nama samaran Maria maka dimulailah petualangan terlarang Bu guru kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS mulai mengalir ke handphone Rosa yang berisikan panggilan panggilan tapi ada juga SMS yang berisikan kalimat-kalimat porno, Rosa tidak menanggapi semua SMS itu karena hal itu akan membuang waktu saja begitu juga dengan percakapan dengan calon-calon kliennya semua gagal mencapai kata sepakat. Karena harga yang ditetapkan oleh Rosa sangat tinggi yaitu 1,5 juta sekali datang, tentu saja jarang yang berani memboking Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu saat ada panggilan HP yang masuk saat ia mengajar di kelasnya&lt;br /&gt;"Permisi anak-anak ibu mau terima telpon dulu jangan ramai ya!"kemudian Rosa berjalan keluar kelas dan menerima panggilan itu.&lt;br /&gt;"Hallo Maria? " terdengar suara berat seorang lelaki0&lt;br /&gt;"Ya dengan siapa Pak? "&lt;br /&gt;"Berapa tarif kamu semalam? "&lt;br /&gt;"1,5 juta bayar di muka, tidak kurang dari itu "&lt;br /&gt;"Ok done deal, kita ketemu di Kafe Bon Ami, Darmo Selatan jam 18.30 nanti malam sampai disana langsung miss call aku ya bye ..tut tut tut"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati Rosa merasa berdebar dan aneh karena ini adalah pertama kalinya ia akan mendapatkan panggilan serius dan anehnya orang tersebut tidak menawar harga yang ia ajukan, Rosa termenung memikirkan telepon yang baru saja ia terima sampai seorang muridnya menegur&lt;br /&gt;"Bu, Ibu sakit ya? " tanya seorang muridnya&lt;br /&gt;"Oh nggak apa-apa kok, ayo masuk lagi" sambil memegang pundak muridnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mengajar Rosa segera pulang dan mempersiapkan diri, ia mandi dan berdandan secantik mungkin tapi tidak menor, dengan mengenakan gaun malam warna hitam yang anggun, Rosa berangkat ke Bon Ami menggunakan taksi.&lt;br /&gt;Rasa berdebar semakin menjadi saat ia memasuki kafe dan dengan tangan sedikit gemetar ia memanggil no. HP lelaki yang tadi siang menelponnya segera saja terdengar bunyi handphone di pojok ruangan yang rupanya sengaja di taruh di atas meja oleh pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Rosa memandang ke arah sumber bunyi tersebut dan melihat lelaki berumur 45 tahun keturunan cina dengan pakaian necis dan berkacamata minus yang melambaikan tangan seolah olah sudah mengenal dirinya&lt;br /&gt;"Hi Maria, silahkan duduk disini "&lt;br /&gt;Ujar lelaki itu sambil berdiri menjabat tangan Maria yang tak lain adalah nama samaran Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ok kita makan dulu atau langsung pergi nih? " tanya lelaki itu.&lt;br /&gt;"Kita bisa langsung pergi setelah pembayaran di lakukan " ujar Rosa ketus&lt;br /&gt;"Wow santai saja non jangan takut ini aku bayar sekarang "&lt;br /&gt;Sebuah amplop coklat disodorkan dan langsung di buka dan dihitung oleh Rosa&lt;br /&gt;"Ok 1,5 juta kita berangkat, omong omong nama bapak siapa " tanya Rosa&lt;br /&gt;"Teman-teman memanggil aku A Cun, yuk berangkat "&lt;br /&gt;A Cun menggandeng tangan Rosa dengan mesra seperti istrinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan mercy new eyes, A Cun membawa Rosa meninggalkan kafe dengan santai tapi pasti mobil dibawa menuju ke arah daerah perumahan elit di daerah Dharmahusada. Ketika sampai di depan sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi A Cun membunyikan klaksonnya, pagar besi itu terbuka secara otomatis meskipun tidak tampak orang di halaman rumah mewah itu, setelah mobil masuk sampai di teras rumah seseorang dengan seragam batik berlari kecil menghampiri mobil.&lt;br /&gt;"Selamat datang Koh A Cun "sambil membukakan pintu mobil.&lt;br /&gt;"Yang lainnya sudah pada kumpul toh, Yok? " tanya Koh A Cun pada lelaki berseragam itu&lt;br /&gt;"Sudah Pak, silahkan Pak " kata petugas yang bernama Yoyok ini .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil A Cun segera dibawa untuk di parkir oleh yoyok yang rupanya bertugas sebagai valet service. Acun dan Rosa langsung masuk ke dalam rumah mewah itu&lt;br /&gt;"Ini rumah Koh A Cun " tanya Rosa kagum melihat ruang tamu yang besar dan dipenuhi barang mewah&lt;br /&gt;"Oh bukan, ini rumah perkumpulan semacam klub bagi kami untuk melepas kepenatan" ucap Koh Acun seraya membuka pintu ruang tengah yang di dalamnya berisi 3 orang lelaki dan 3 perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruangan itu tersedia 5 kasur king size, 2 meja biliard, 3 set sofa mewah dan sebuah mini bar yang tertata apik serasi dengan ruang yang relatif besar itu, dari suasana ruangan sudah dapat diperkirakan bahwa ruangan ini sering di pakai sebagai ajang maksiat .&lt;br /&gt;"Hoi Cun, lama sekali kamu, dapet barang baru ya?" tanya seorang lelaki cina berumur 56 tahun yang di panggil Koh A Liong.&lt;br /&gt;"Ah nggak enak ah ngomong gitu di depan orang " elak A Cun&lt;br /&gt;"Koh A Cun, mending kamu kasih Mbak ini buat aku saja, kamu pake saja salah satu SPG yang aku bawa" ucap lelaki berbadan gemuk besar dan berkulit sawo matang yang dipanggil dengan panggilan Pak Angkoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Cun mengamati SPG yang ditawarkan padanya, diantara tiga SPG itu ada satu yang paling menarik hatinya yaitu Lyvia Go. SPG berumur 21 tahun berdarah cina dengan tinggi 168 cm dan berat 48 kg berwajah mirip Ineke, dengan penampilannya yang mengenakan rok super mini dengan atasan kemeja ketat nan tipis membuat A Cun tak mampu menolak tawaran Pak Angkoro&lt;br /&gt;"Ok deh, Pak Angkoro boleh ambil Maria, saya pinjam Lyvia " sahut acun sambil langsung menarik pinggang Lyvia dan mereka berdua melakukan deep kissing yang sangat panas sampai terdengar lenguhan lenguhan nafas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lyvia yang diciumi dengan ganas segera membalas ciuman itu sambil membuka kancing kemejanya yang seakan tak muat menampung payudaranya yang montok. Dengan rakus Koh A Cun memelorotkan BH Lyvia dan menghisap puting berwarna coklat muda itu, sambil bercumbu tangan Koh Acun bergerak melingkar pinggang Lyvia dan melepas kait rok mini dan meloloskan rok itu turun sehingga kini Lyvia Go hanya mengenakan BH yang sudah tidak menutupi payudaranya dan sebuah celana dalam berwana putih berenda tipis yang sangat seksi sekali melekat di tubuhnya yang putih bak mutiara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekali angkat tubuh Lyvia Go dibawa Koh ACun menuju ranjang terdekat, lalu menelentangkannya sambil meloloskan celana dalam seksi itu dari tempatnya sehingga tampaklah kemaluan Lyvia yang sudah dicukur bersih, tanpa membuang waktu A Cun segera menjilat dan menusuk nusukkan lidahnya ke dalam vagina Lyvia yang diikuti dengan erangan nikmat dari Lyvia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh, aduh enak Koh, dasyat aargh "&lt;br /&gt;"Enak ya Go? Kamu sudah berapa kali ngeseks selama jadi SPG " tanya A Cun sambil mengocok vagina Lyvia dengan dua jari sambil terkadang menggosok kelentit mungil itu dengan jempolnya.&lt;br /&gt;"Ini yang ke tu..juh aah hi hi hi aduh geli Koh "&lt;br /&gt;"Yang pertama ama siapa " selidik A Cun mencari cari daerah g-spot dengan ujung jarinya&lt;br /&gt;"Yang pertamaa, aduh yah yah aauh disitu Koh enak, yang pertama sama Pak Angkoro di WC showroom aah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengakhiri pemanasan ini maka A Cun menempelkan lidahnya di kelentit Lyvia, kemudian menggeleng-gelengkan dan memutar-mutar kepalanya dengan lidah tetap menempel di kelentit. Menerima rangsangan dasyat itu tubuh Lyvia melengkung bagai busur panah yang siap melesatkan anak panahnya.&lt;br /&gt;"Aduh Koh A Cun, aargh masukin sekarang Koh jangan siksa aku lebih lama lagi hm? ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Lyvia sudah terangsang berat maka Koh A Cun segera menghentikan permainan oralnya dan melepas bajunya sendiri dengan cepat, Lyvia yang melihat Koh A Cun melepas bajunya kagum melihat badan Koh Acun yang berotot, dadanya yang bidang dan perutnya yang terbagi 8 kotak sangat seksi di mata Lyvia yang biasanya melayani Pak Angkoro yang gendut. Semakin bernafsu untuk segera bersetubuh maka Lyvia Go membantu melepas celana Koh A Cun dan betapa kagetnya Lyvia Go ketika celana itu merosot langsung nongol benda sepanjang 16.5 cm (wah ternyata Koh A Cun tidak pakai celana dalam loh, tapi dengan tidak memakai celana dalam juga sangat baik bagi kesuburan pria kata Pak dokter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi kaki yang di buka lebar lebar, Lyvia menanti Koh Acun sambil tangan kanannya menggosok gosok klitorisnya sendiri, Koh Acun mengambil posisi di tengah tengah kaki Lyvia yang terbuka lebar dan mengarahkan penisnya di muka pintu gerbang kewanitaan Lyvia&lt;br /&gt;"Aku masukin ya Lyv?"&lt;br /&gt;"Sini kubantu Koh " Lyvia memegang penis A Cun dan mengarahkannya ke liang senggamanya&lt;br /&gt;"Seret banget ya Lyv, jadi susah masuk nih"&lt;br /&gt;"Koh jangan bercanda melulu ah, kapan masuknya?"&lt;br /&gt;"Ya udah nih rasain Lyv"&lt;br /&gt;"Aauh aah aah pelan dikit Koh "&lt;br /&gt;Akhirnya pelan tapi selamat, penis Koh A Cun amblas ke dalam vagina Lyvia dan permainan kuda kudaan khusus dewasapun dimulai, Koh A Cun memaju mundurkan pantatnya dengan tempo sedang sambil memegang kedua betis Lyvia sebagai tumpuan tangannya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih ke ibu guru kita yaitu Rosa Maria yang cuma bengong melihat permainan permainan liar di sekelilingnya.&lt;br /&gt;"Wah suasananya panas ya? " Pak Angkoro menegur Rosa Maria yang bengong&lt;br /&gt;"Ah nggak juga Pak, kan ada AC" balas Rosa risih&lt;br /&gt;"Nggak panas gimana, coba kamu lihat orang orang itu pada telanjang ngapain coba?"&lt;br /&gt;"Eeng eeng gimana ya Pak "&lt;br /&gt;"Eng eng eng apa, ayo lepas bajumu, kamukan sudah di bayar toh? "&lt;br /&gt;Rosa merasa harga dirinya diinjak-injak, di dalam hati Rosa Maria berkata "Aku adalah seorang guru yang dihormati dan disegani oleh anak didik dan rekan sekerjaku kenapa demi dendam pada suami aku harus menjerumuskan diriku ke dalam lembah nista tapi sudah terlambat", air mata mulai menetes di pipi Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, kok malah nangis iki piye? Waduh!!" Pak Angkoro mengelus-elus perutnya yang besar karena bingung.&lt;br /&gt;"Nggak Pak, ayo kita mulai aja permainan ini " Rosa mengusap air matanya.&lt;br /&gt;"Ya gitu dong, itu baru semangat profesional jangan nangis lagi ya "&lt;br /&gt;Rosa membuka gaun malamnya dengan pedih dan rasa hampa, demikian juga Pak Angkoro beliau membuka seluruh pakaiannya memperlihatkan tubuhnya yang gemuk dan hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sini Ros, bapak akan membuat kamu melayang layang " pangil Pak Angkoro&lt;br /&gt;Rosa yang masih malu dan canggung menutup tubuhnya yang bugil dengan tangannya sedapat mungkin sambil melangkah ke arah Pak Angkoro&lt;br /&gt;"Wah kok malu malu gitu, jangan kuatir Ros bapak nggak akan kasar kasar sama kamu ", Pak Angkoro memandang tubuh Rosa dari atas ke bawah. Jakunnya naik turun memandang tubuh Rosa yang menggiurkan, kulitnya yang kuning langsat bagai kulit putri kraton meskipun tidak seputih Lyvia tapi pancaran erotik dari mata Rosa bagai sinar pancasona pusaka tanah jawa. Dan cara gerak Rosa Maria sungguh membangkitkan gairah, keayuan khas gadis jawa terpancar dari setiap lekuk tubuhnya dan terutama payudaranya yang berwarna kuning gading sungguh mengundang birahi lelaki manapun yang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lembut Pak Angkoro meletakan kedua telapak tangannya di atas payudara Rosa dan mulai memijat lembut sambil perlahan ia melekatkan bibirnya ke bibir Rosa yang sensual di lumatnya bibir Rosa, semakin lama semakin panas sampai kedua tubuh itu seolah menjadi satu, Pak Angkoro melingkarkan tangannya ke pinggang Rosa dan menariknya sampai lekat pada tubuhnya dan mencumbu Rosa dengan penuh nafsu. Dihisap dan dimasukannya lidahnya kedalam relung relung mulut Rosa sehingga mau tak mau Rosa membalas pagutan-pagutan liar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat kewanitan Rosa benar-benar dibangkitkan oleh Pak Angkoro yang berlaku seperti kuda jantan dan mendominasi seriap permainan ini. Rosa mulai merasakan hawa panas naik dari dadanya ke ubun-ubun yang membuat Rosa semakin tak berdaya melawan hawa maksiat yang begitu kental dalam ruangan ini sehingga akhirnya Rosapun terlarut dalam hawa maksiat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ros aku minta dioral dong " sambil menyodorkan penis hitamnya yang berdiameter 5 cm dengan panjang 14 cm.&lt;br /&gt;"Nggak ah Pak, jijik saya! ih! "&lt;br /&gt;"Wah kamu kudu profesional Ros, kalau kerja jangan setengah-setengah gitu dong, gini aja kamu tak oral kalau sampai kamu orgasme berarti kamu kudu ngoral aku yah? "&lt;br /&gt;Belum sempat Rosa menjawab Pak Angkoro telah menyelusupkan kepala diselangkangan Rosa dan mulai melancarkan segala jurus simpanannya mulai dari jilat, tusuk sampai jurus blender yang memnyapu rata seluruh dinding permukaan vagina Rosa sehingga dalam waktu 7 menit Rosa sudah di buat kejang-kejang.&lt;br /&gt;"Oooh Pak oouh oh pa..ak" Rosa meregangkan ototnya sampai batas maksimal.&lt;br /&gt;"Tuh kamu udah orgasme, nggak bisa bohong sekarang giliranmu" ucap Pak Angkoro senang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Angkoro menarik kepala Rosa dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang penisnya sendiri sambil mengocok ringan, setelah mulut Rosa dalam jangkauan tembak Pak Angkoro segera menjejalkan penisnya ke dalam mulut Rosa&lt;br /&gt;"Ayo dong Rosa" Pak Angkoro menyuapkan penisnya seperti menyuapkan makanan pada anak kecil, setelah penisnya berada dalam mulut Rosa maka dengan menjambak rambut Rosa Pak Angkoro memaju mundurkan kepala Rosa&lt;br /&gt;"Ehm ehm Pak Angko.. ehm ehm" Rosa berusaha berbicara tapi malah tersenggal senggal&lt;br /&gt;"Udah diam aja deh Ros jangan banyak bicara emut!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lima menit berjalan Rosa akhirnya secara mandiri mengulum ujung penis Pak Angkoro, sementara tangannya mengocok dengan kasar pangkal penis Pak Angkoro.&lt;br /&gt;"Yes gitu Ros, wah kamu lebih hebat dari istriku loh, mau gak kamu jadi gundikku?" Pak Angkoro berbicara ngawur karena keenakan dioral Rosa. Merasa jenuh dengan permainan oral akhirnya Rosa meminta untuk bercinta.&lt;br /&gt;"Udahan dong Pak, kita ngesks yang bener aja ya?" tanya Rosa dengan halus&lt;br /&gt;"Ok, kamu yang minta loh"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Angkoro menarik Rosa yang tadinya mengoral dia dalam posisi jongkok menuju meja biliard dan menyuruh Rosa menumpukan kedua tangannya menghadap meja bilirad sementara Pak Angkoro yang berada di belakang Rosa mengatur posisi sodokan perdananya.&lt;br /&gt;"Ros nungging dikit dong, ya gitu sip!" Pak Angkoro mengelus pantat Rosa yang bahenol kemudian mengarahkan senjatanya ke vagina Rosa.&lt;br /&gt;"Aaouh Pak Angkoro, pelan Pak sakit penisnya bapak sih kegedean " ucap Rosa setengah meledek.&lt;br /&gt;"Wah kamu itu muji apa menghina Ros? mungkin vaginamu yang kekecilan Ros" Pak Angkoro membalas ejekan rosa dengan menarik pinggul Rosa ke belakang secara cepat maka amblaslah seluruh penis Pak Angkoro.&lt;br /&gt;"Auuw gede banget, aauw aah " Rosa mulai menggoyang pinggulnya berusaha menyeimbangi goyangan Pak Angkoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Angkoro membenamkan penisnya dalam-dalam dengan menarik pinggul Rosa kebelakang, dengan penis masih tertancap di vagina Rosa kemudian Pak Angkoro memutar pinggulnya membentuk lingkaran sehingga penis yang didalam vagina Rosa menggencet dan menggesek setiap syaraf syaraf nikmat di dinding vagina .&lt;br /&gt;"Aauh, Rosa keluar ahh" Rosa mengalami orgasme yang menyebabkan setiap otot di tubuh Rosa mengencang sehingga tubuhnya kelojotan tidak terkendali.&lt;br /&gt;"Loh Ros, kok sudah KO, belum 10 menit kok udah orgasme wah ini kalau cowok namanya edi, ejakulasi dini kalau kamu berarti menderita odi orgasme dini, ayo terusin sampai aku keluar juga "&lt;br /&gt;Pak Angkoro mengganti posisi bersenggama dengan mengangkat tubuh Rosa dan menidurkannya di meja biliard. Kemudian kaki rosa dibentangkan oleh Pak angkoro lebar-lebar dan dengan kekuatan penuh penis besar itu menerjang mendobrak pintu kewanitaan Rosa, sampai-sampai klitorisnya ikut tertarik masuk, Rosa yang masih dalam keadaan orgasme makin menggila menerima sodokan itu sehingga secara refleks rosa mencakar bahu Pak angkoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oouchh Rosa kamu ini apa-apaan sih, kok main cakar-cakaran segala?"&lt;br /&gt;"Oouh aash sorry, abis rosa nggak tahan sih ama sodokannya Mas yang begitu perkasa" bujuk rosa agar Pak angkoro tidak marah.&lt;br /&gt;"Jangan cakar lagi ya, kalo tidak rasain ini" Pak Angkoro menggigit puting Rosa dengan lembut tapi sedikit menyakitkan.&lt;br /&gt;"Aauw nakal deh" ucap rosa sambil menggoyangkan pinggulnya sendiri agar penis Pak Angkoro tetap menggesek dinding vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat Rosa yang mula-mula seorang guru telah berevolusi menjadi pelacur kelas tinggi yang benar benar profesional baik dari kebinalan maupun ucapannya, semua sudah berubah Rosa kini benar benar seorang pelacur sejati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-8947811933876186376?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/8947811933876186376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/siang-guru-malam-pelacur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/8947811933876186376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/8947811933876186376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/siang-guru-malam-pelacur.html' title='Siang Guru... Malam Pelacur'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-8871263947599753631</id><published>2010-06-11T10:07:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T10:08:43.244-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sedarah'/><title type='text'>Tante Ida</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" id="post_message_1968467"&gt;        &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Akan tetapi tante Ida yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan tante Ida datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan tante Ida di Bandung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari tante Ida mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka. Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, tante Ida curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya. Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, tante Ida marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik tante Ida sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan tante Ida katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, tante Ida menyuruh saya menjaga rumah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar,” pikirku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan. Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Anton.. apa yang kamu lakukan!!” teriak sebuah suara yang aku kenal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Ooooohh… Tante…?!” aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu. Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan penisku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga tante Ida hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget. Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Eeeehhhh… ppppffffff…!!! badan tante Ida seketika&lt;br /&gt;mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia&lt;br /&gt;sangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai&lt;br /&gt;memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas….&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu…!!! Cepat lepas… nanti kulaporkan kau ke om mu…” teriak tante Ida dengan suara garang mencoba mengancamku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Aku tak lagi peduli, salah tante Ida sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai tante Ida menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi. Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara tante Ida terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meramas-ramas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh tante Ida yang 155 cm dan mungil itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari tante Ida, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga. Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari tante Ida, penisku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke penisku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok penisku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju tante Ida, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara tante Ida yang padat berisi…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Tooonnnn… aaammmpuunn… Toonnnnn… iiii.. iiingaaattttt..  Tooonnn..!!!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Iiiiiiiiii…..ooohhhhhhh…..aaa  agggghh&lt;br /&gt;hhhhh……..ssssshhhhhhh……..Toooo  nnnnn……! !!!!” akibat perlakuanku itu,&lt;br /&gt;kayaknya tante Ida mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang&lt;br /&gt;mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. Aku makin&lt;br /&gt;memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh tante Ida bergetar dengan&lt;br /&gt;kuat dan……..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Aaaahhhhhh..Toooonnnn…jaaa..j  aaa&lt;br /&gt;angaaannn….Tooonnnn……iiii…ngaa  aatttt..Tooo nnn…&lt;br /&gt;oooohhhhhhh…………aaaaaggggghhh…a  aaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh…!!!!!”&lt;br /&gt;akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat,&lt;br /&gt;serta kedua tangannya mendekap punggung ku….Seerrr.. cairan kewanitaan&lt;br /&gt;tante Ida membasahi CD nya sekalian jemariku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan tante Ida melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Kami terdiam sejenak, sementara tubuh tante Ida bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik tante Ida masih menggenggam penisku yang masih tegak mengacung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Akhirnya secara perlahan-lahan kepala tante Ida menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Oooohhhh….Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini…….?????”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Eeeehhmmm…maafkan Anton tante….Anton lupa diri….abis tante tadi  masuk&lt;br /&gt;tiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks….salah tante sendiri&lt;br /&gt;sihhh…….lagi pula…tante amat cantik sihhh…..!!!!!!” sahutku mencari-cari&lt;br /&gt;alasan sekenanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Sekarang kayaknya tante Ida sudah pasrah dan sambil tanganya masih&lt;br /&gt;menggenggam penisku katanya lagi..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Tooonnnn…..punya kamu gede amat yaaaa…????. Punya Om mu nggak sampai&lt;br /&gt;segede ini..!!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Aaahhhhh, tante…apa betull…?????!” memang penis ku panjangnya 20&lt;br /&gt;cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi&lt;br /&gt;sangat bernafsu begini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Jemari lentik tante Ida yang tadinya hanya menggenggam saja, kini  mulai&lt;br /&gt;memainkan penisku dengan manja. Seperti mendapat mainan baru, tangan&lt;br /&gt;tante Ida tak mau lepas dari situ.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Taaannnnn…., kok diiiii…..dii…diamin aja, dikocok dong, Taannn….  biar&lt;br /&gt;enaaakkk….!!!!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja….aaaaggghhh….!!!”, perlahan-lahan  kedua&lt;br /&gt;tanganku menekan bahu tante Ida, sehingga tubuh tante Ida berjongkok dan&lt;br /&gt;sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku. Kedua&lt;br /&gt;tangannya segera menggenggam penisku dan kemudian tante Ida mulai&lt;br /&gt;menjilati kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku&lt;br /&gt;menerima rangsang dari mulut tante Ida. Dijilatnya seluruh batang&lt;br /&gt;kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang&lt;br /&gt;terlewat dari sapuan lidahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Dikocoknya penisku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk.&lt;br /&gt;Mungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut tante Ida.  Kurasakan&lt;br /&gt;dinding tenggorokan tante Ida menyentuh kepala penisku. Sungguh sensasi&lt;br /&gt;sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga tante Ida&lt;br /&gt;mengulum penisku. Kurasakan batang penisku mulai membesar dan makin&lt;br /&gt;mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.&lt;br /&gt;Merasa aku akan keluar, tante Ida semakin cepat mengocok batang  kemaluanku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo&lt;br /&gt;keluar,…….aaauuugghhhh…..taaan  nnn..!!!!!!!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Akhirnya..Croott..croott..croo  ttt.. Hampir sepuluh kali cairan itu&lt;br /&gt;menyembur dari ujung penisku. Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya&lt;br /&gt;semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar&lt;br /&gt;tetapi penisku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi.&lt;br /&gt;Melihat itu, tante Ida mencium-cium kepala penisku dan menjilat-jilatnya&lt;br /&gt;hingga bersih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Kemudian kutarik berdiri tubuh tante Ida dan kudorong ke tempat  tidur,&lt;br /&gt;sehingga tante Ida terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti&lt;br /&gt;rok sekalian CD nya, sehingga sekarang tante Ida terlentang diatas&lt;br /&gt;tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam&lt;br /&gt;keadaan telanjang bulat. Tante Ida hanya menatap ku dengan pandangan&lt;br /&gt;yang sayu dan terlihat pasrah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar  dan&lt;br /&gt;aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar&lt;br /&gt;kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Kupegang batang penisku dan kugosok-gosok sepanjang bibir  kemaluannya,&lt;br /&gt;sambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina&lt;br /&gt;tante Ida, penisku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan tante Ida dan&lt;br /&gt;ku tempatkan pada batang penisku, segera digengamnya penisku dan&lt;br /&gt;diarahkan ke lubang kemaluannya. Dengan sedikit gerakan menekan, kepala&lt;br /&gt;penisku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan tante  Ida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Terasa lobang kemaluan tante Ida sangat sempit mencengkeram batang&lt;br /&gt;kemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku,&lt;br /&gt;kutekan lagi dan tubuh tante Ida menggeliat…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Oooooohhhhhh… Toooonnnn… bee.. beeeesaaarrrr&lt;br /&gt;aaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan… pee laaan… Tooooonnnnn…  ooooohhhhh..!!!!!” tante Ida merintih perlahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam… terus… terus…. ooohhhhhh… eeeenna aaak… benaaarrrr… terasa jepitan kuat dinding kemaluan tante Ida yang menjepit rapat batang kemaluanku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak  terlukisakan ini…..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Taaaaannnnn……ooohhhhhh…..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk…taannnnn…  .!!!!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, tante Ida memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga penisku&lt;br /&gt;terbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam….. dalam….. terus……&lt;br /&gt;terus….. daannnn….. ….kemudian……ujung kepala penisku terasa mentok,&lt;br /&gt;karena beberapa kali tubuh tante Ida mengejang ketika aku mencoba&lt;br /&gt;menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya&lt;br /&gt;memompa keluar masuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan  naik-turun&lt;br /&gt;yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan&lt;br /&gt;sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha tante Ida&lt;br /&gt;terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam&lt;br /&gt;dasar lobang kemaluannya. Aku dapat melihat payudara tante Ida&lt;br /&gt;bergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk penisku&lt;br /&gt;dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan tante Ida dengan kuat menyedot&lt;br /&gt;penisku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan tante Ida menjepit penisku. Kulihat wajah tante Ida nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Aaaaaaddduuuuuhhhhh….Toooonnn  .. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg..&lt;br /&gt;hhaa..hhaa…Toooonn …taaannnn…teeeee…maaa…. Maaauuuu…keee…&lt;br /&gt;keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn…!!!!!!!.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Dan….. Seeeeerrrr…..kurasakan cairan hangat membasahi penisku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu tante Ida menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan tante Ida telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran penisku yang besar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Tak kuhiraukan lagi suara tante Ida yang menjerit-jerit kesakitan,  yang&lt;br /&gt;ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan&lt;br /&gt;ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot&lt;br /&gt;penisku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang&lt;br /&gt;berusaha untuk keluar dari batang penisku. Kucoba untuk menahannya&lt;br /&gt;selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan&lt;br /&gt;tante Ida akhirnya meruntuhkan pertahananku.&lt;br /&gt;“Aaaaaauuddddduuhhhh… taaannnnnn… teeeee… oooooohhhhh…..!!!!” keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan&lt;br /&gt;…croott.. croott….croooootttt….semburan.  .maniku menyemprot dengan kuat,&lt;br /&gt;mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan tante Ida, kemudian&lt;br /&gt;badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi tante Ida, sementara&lt;br /&gt;kuubiarkan penisku tetap didalam kemaluan tante Ida untuk merasakan&lt;br /&gt;sisa-sisa orgasmeku. Kurasakan kemaluan tante Ida tetap saja&lt;br /&gt;berdenyur-denyut, meski tak sekuat tadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!!” kataku  dengan manja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak  tantemu sendiri kamu perkosa juga…..!!!!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Iiihhhhh…tante…..tapi tante senang juga….kaannnn …..????”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;“Iya.. siiihhh….!!!!!” kata tante Ida malu-malu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Sejak saat itu sikap tante Ida terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik tante Ida. Aku dan tante Ida sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap tante Ida, apalagi tante Ida melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-8871263947599753631?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/8871263947599753631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/tante-ida.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/8871263947599753631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/8871263947599753631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/tante-ida.html' title='Tante Ida'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-5067584509329576102</id><published>2010-06-11T10:00:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T10:01:16.312-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daun Muda'/><title type='text'>Nikmatnya Pembantuku</title><content type='html'>Perkenalkan namaku Anthony, dan panggilan akrabku adalah Anton. Aku berasal dari kota Malang (Jawa Timur), dan kedua orang tuaku masih tinggal di sana. Umurku baru 25 tahun, dan saat ini sedang studi Master tahun terakhir di Melbourne (Australia). Sejak lulus SMA aku langsung kuliah S1 di Jakarta, dan sempat bekerja selama setahun di Jakarta setelah lulus S1. Aku mendapat sponsor dari orang tua untuk melanjutkan pendidikan S2 di Australia. Aku memilih kota Melbourne karena banyak teman-temanku yang menetap di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pertengahan bulan November 2004 adalah awal dari liburan kuliah atau di Australia sering disebut dengan Summer holiday (liburan musim panas). Summer holiday di Australia biasanya maksimum selama 3 bulan lamanya. Saat itu adalah pertama kali aku pulang ke tanah air dari studi luar negeri. Rindu sekali rasanya dengan makanan tanah air, teman-teman, dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku pulang dengan pesawat Singapore Airlines dengan tujuan akhir Bandara Juanda, Surabaya. Aku tiba di Surabaya sekitar pukul 11 pagi, dan terlihat supir utusan ayah sudah sejak jam 10 pagi menunggu dengan sabar kedatanganku. Ayah dan ibu tidak menjemputku saat itu karena hari kedatanganku tidak jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, ditambah lagi dengan macetnya lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong yang membuat mereka malas untuk ikut menjemputku di bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah supirku sudah tidak asing lagi denganku, karena supir kami ini sudah bekerja dengan ayah sejak aku berumur 5 tahun. Dia sudah aku anggap seperti pamanku sendiri. Aku sangat menghormatinya meskipun pekerjaannya hanya seorang supir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat mencari makan di kota Surabaya. Tempat favoritku tetap di restoran kwee tiau Apeng. Suasana restoran nampak tidak ramai, mungkin masih pagi hari. Di malam hari terutama di malam minggu, restoran ini akan penuh dengan antrean panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seabis makan, aku meminta supirku untuk langsung jos pulang ke Malang. Badanku terasa letih sekali karena perjalanan yang panjang. Sepanjang perjalanan kami menghabiskan waktu mengobrol santai. Bahasa jawa supirku masih terkesan medok sekali. Dahulu semasa sma, bahasa jawaku juga lumayan medok. Tetapi sejak kuliah di Jakarta, aku jarang memakai bahasa jawaku, sehingga terkesan sedikit luntur. Tapi setiap kata-kata jawa yang terucap oleh supirku masih bisa aku mengerti 100%, hanya saja aku membalasnya dengan separuh jawa separuh bahasa Indo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemacetan lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong sempat menyita perjalanan pulang kami. Aku tiba di rumahku di kota Malang sekitar jam 4 sore. Sesampai di gerbang rumah, supirku menekan klakson, memberi peringatan orang di dalam rumah untuk membuka pintu gerbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kurang dari 2 menit, pintu gerbang terbuka dan aku membuka jendela mobilku memberi sapaan hangat kepada bibiku. Bibiku yang satu ini juga lama ikut dengan ayah dan ibu. Bibiku ini bernama Tutik, dan sudah berumur sekitar 50 tahun lebih. Bibi Tutik jago sekali memasak masakan Indonesia. Makanan bibi yang paling aku rindukan selama aku kuliah di Jakarta dan Melbourne. Aku sudah membuat daftar panjang masakan Bibi Tutik selama 3 bulan liburan musim panas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bersalaman dan bercanda ria dengan Bibi Tutik, tiba-tiba sosok gadis muda keluar dari pintu rumah memberikan salam kepadaku. Aku sempat tercengang oleh wajah cantik gadis yang masih terasa asing bagiku. Ternyata gadis muda ini adalah pembantu rumah yang baru, karena pembantu sebelumnya telah menikah dan pindah bersama suaminya. Aku menafsir bahwa umur gadis ini sekitar 17 atau baru 18 tahun. Setelah diperkenalkan oleh Bibi Tutik, pembantu baruku ini bernama Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti berperawakan sedang, sekitar 158 cm. Kulitnya sawo matang. Matanya hitam dan lebar sehingga tambak bersinar-sinar. Rambutnya hitam sebahu. Besar payudaranya bisa aku tafsirkan sekitar 32C. Pinggulnya mantap dan kakinya mulus tanpa ada borok. Wajahnya cantik berhidung mancung, hanya saja bibirnya sedikit tebal. Tapi mungkin itu yang membuatnya unik. Aku sempat tidak mengerti mengapa ibu bisa menemukan pembantu secantik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti membantuku membawa koper bagasiku masuk, dan menanyakan diriku apakah ada cucian atau pakaian kotor yang akan dicuci. Sepertinya Yanti telah diberi info oleh ibuku bahwa aku biasanya selalu membawa pakaian kotor sewaktu pulang dari Jakarta. Jadi tidak heran ibu bisa menduga bahwa aku pasti juga membawa baju kotor pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku unpack 2 koper dan memisah-misahkan pakaian kotor dengan pakaian bersih, dan juga menata rapi oleh-oleh dari Australia. Aku sudah menyiapkan semua sovenir-sovenir untuk ayah, ibu, bibi Tutik, supir ayah. Dan tentu saja oleh-oleh yang pertamanya buat pembantu lama yang kini sudah tidak bekerja lagi dengan kita, saya berikan kepada Yanti. Ayah aku belikan topi cowboy dari kulit kangguru. Menurutku cocok untuk ayah, terutama disaat ayah sedang berkunjung di kebun apelnya. Ibu aku belikan kulit domba yang halus untuk hiasan lantai kamarnya. Supir ayah aku belikan korek api berlogokan kangguru dan kaos bergambarkan benua Australia. Sedangkan bibi Tutik dan Yanti, aku belikan 2 parfum lokal untuk setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti tampak hepi banget diberi oleh-oleh parfum dariku. Aku memang sengaja memilih parfum dengan botol yang unik, sehingga terlihat sedikit mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dan ibu pulang dari kantor sekitar jam 6 sore. Malam itu bibi Tutik aku minta untuk memasak petai udang kecap favoritku. Aku melepas rindu dengan ayah dan ibu. Kami berbincang-bincang sampai larut malam. Tak terasa kami telah berbincang-bincang sampai jam 11 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku berpamitan dengan ayah dan ibu. Badanku sangat letih. Aku sudah hampir 36 jam belum tidur. Aku tidak terbiasa tidur di dalam pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu aku hendak menuju ke kamar tidurku, aku sempat berjalan berpas-pasan dengan Yanti. Melihat aku hendak berpas-pasan dengannya, Yanti langsung membungkukkan sedikit badannya sambil berjalan. Mata kami tidak saling memandang satu sama lain. Menurut tradisi kami, tidak sopan pembantu bertatap pandang dengan majikan saat berjalan berpas-pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, meskipun badan letih, aku masih belum langsung tidur. Aku sedang melihat-lihat photo-photoku dan teman-teman di Melbourne di handphoneku. Aku sempat kangen sedikit dengan Melbourne. Aku juga sempat berpikir mengenai Yanti, dan penasaran sekali bagaimana ibu bisa menemukan pembantu secantik Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya aku bangun jam 10 pagi. Aku sudah tidak ingat sudah berapa jam aku tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana rumah sedikit hening. Ayah dan ibu sudah pasti balik ke kantor lagi. Aku memanggil-manggil bibi Tutik, dan tidak ada jawaban darinya. Tak lama kemudian Yanti muncul dari kebun belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nyo Anton wis mangan? (tuan muda Anton sudah makan?)" tiba-tiba Yanti bertanya memecahkan suasana hening di rumah. Istilah 'Nyo' adalah kependekan dari 'Sinyo' (bahasa Belanda rancu) yang sering dipake di Jawa yang artinya tuan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha membalas pertanyaan Yanti dengan bahasa Jawa. Tapi aku sudah tidak terbiasa berbincang-bincang dengan 100% bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Durung, aku sek tas tangi kok. Mana bibi? Aku sudah laper nih! (Belon, aku baru aja bangun tidur. Mana bibi? Aku sudah lapar nih)" jawabku separuh Jawa separuh Indo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bibik melok nyonya. Ora ero budal nang endi. Nyonya mau tetep pesen nang aku lek Nyo Anton pengen tuku apo gawe mangan isuk (Bibi ikut nyonya. Tidak tau pigi kemana. Nyonya tadi titip pesan kepada saya kalo tuan Anton ingin beli apa untuk makan pagi)" kata Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu aku berharap bibi Tutik memasak untukku. Tapi apa boleh buat, aku akhirnya meminta Yanti untuk beli nasi pecel favoritku di dekat rumah. Hanya sekitar 100 meter dari rumahku. Setelah memberi uang kepadanya, Yanti pun langsung segera berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu Yanti kembali, aku menyalakan TV sambil menonton acara-acara di MetroTV, RCTI, Trans TV, dan lain-lain. Rindu sekali aku dengan siaran-siaran televisi Indonesia. Aku sudah tidak sabar untuk menonton acara favoritku seperti Extravaganza, Empat Mata, dan banyak pula yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sekitar 20 menit, Yanti telah kembali. Sambil makan nasi pecel aku kembali menonton TV, sedangkan Yanti juga kembali ke kebun belakang kira-kira mencuci atau menjemur pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku sempat mencuri-curi pandang ke kebun belakang. Terlihat wajahnya berkeringat karena terik matahari. Seperti yang aku duga, Yanti sedang menjemur pakaian. Aku merasa kasihan terhadapnya, karena rata-rata pakaian yang dijemurnya adalah milikku. Kulihat Yanti sedang berjinjit-jinjit sambil menjemur pakaian. Kaos yang dikenakan Yanti sedikit pendek, sehingga aku bisa melihat perut dan pusarnya. Perut Yanti ramping sekali. Payudaranya sedikit menonjol kedepan. Aku sedikit bergairah melihat kelakuan Yanti saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi tidak berkonsentrasi menonton TV, mataku tetap melirik saja ke arah Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara bibi Tutik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anton sek tas tangi?! Cek siange tangine. (Anton baru bangun. Kok siang banget bangunnya)" suara bibi Tutik membuyarkan semuanya.&lt;br /&gt;"Bibi teko endi? Tak carik-carik mau. (Bibi dari mana? Dari tadi aku cari-cari)" jawabku.&lt;br /&gt;"Bibi sek tas melok nyonya nang pasar. Mari ngono barengi nyonya nang omahe koncone nyonya diluk. (Bibi tadi ikut nyonya ke pasar. Setelah itu nemenin nyonya ke rumah temannya sebentar)" jawab bibi.&lt;br /&gt;"Anton gelem opo siang iki? Gelem sambel lalapan Tutik? (Anton pengen apa siang ini? Pengen sambel lalapan Tutik)" tanya bibi. Maklum memang sambel lalapan bikinan bibi Tutik tiada duanya. Makanya aku menamakannya 'Sambel Lalapan Tutik'. Aku pernah berpikir untuk membuka depot khusus masakan bibi Tutik. Mungkin suatu hari nanti rencanaku ini bisa terwujud.&lt;br /&gt;"Wuahhh ... gelem bibi. Wis kangen aku mbek sambel lalapan tutik. Goreng ikan pindang mbek goreng tempe sisan yo. (Wuahhh ... mau bibi. Dah kangen aku ama sambel lalapan tutik. Goreng ikan pindang dan goreng tempe juga yah)" jawabku dengan girangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari, waktuku hanya terbuang menonton TV, makan masakan-masakan bibi Tutik, dan jalan-jalan ama teman-teman lama. Kadang-kadang aku berkunjung ke rumah sodara ayah, sodara ibu, dan sepupu-sepupuku. Lama kelamaan bahasa Jawaku kembali lagi seperti yang dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada suatu hari, sekitar pertengahan bulan December 2006 ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sebulan lamanya, aku hanya bisa memandang sosok Yanti dari kejauhan. Semakin banyak memandang, semakin tumbuh rasa penasaran yang besar pula. Yanti tampak semakin lama semakin cantik di mataku. Dan maaf, kata-kata yang sebenarnya adalah Yanti semakin membuatku bernafsu. Ingin sekali aku memiliki dirinya, jiwa dan raganya. Aku seperti kerasukan saat ini, tiap kali aku melihat Yanti, otakku selalu terbayang-bayang dirinya saat terlanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, seingatku itu hari Jumat. Aku bangun kesiangan, lewat jam 11 pagi. Kepalaku pening karena bangun kesiangan. Kulihat sekeliling, bibi Tutik sedang tidak ada di rumah. Aku masa bodoh dengan keadaan sekitar yang sunyi. Aku duduk di sofa empuk di ruang keluarga, tapi kali ini aku tidak menyalakan tv. Kudengar Yanti sedang di halaman belakang seperti biasanya mencuci baju. Kali ini aku memberanikan niatku untuk mendekati, mungkin awalnya harus saling kenal dulu biar akrab. Aku tidak pernah ngobrol santai dengan Yanti selama ini, kebanyakan aku ngobrolnya dengan bibi Tutik. Karena mungkin aku telah dibesarkan juga oleh bibi Tutik, jadi apa saja bisa nyambung bila ngobrol dengan bibi Tutik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beranjak dari sofa dan menuju halaman belakang untuk mengajak Yanti ngobrol. Namun hanya terhitung beberapa langkah dari pintu belakang, aku terpeset dan terpelanting di belakang. Bunyi 'gubrakan' tubuhku lumayan keras, dan pinggangku sakitnya bukan main. Yanti terkejut melihat tubuhku yang terpelanting ke belakang. Aku meringis kesakitan, sambil memegangi pinggangku yang sakitnya bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nyo Anton ... kok iso moro-moro tibo? ... (tuan muda Anton ... kok bisa tiba-tiba jatuh? ...)" tanya Yanti panik.&lt;br /&gt;Aku hanya bisa meringis sambil menunjuk lantai yang masih basah.&lt;br /&gt;"Lahh ... nyo Anton mosok ora ketok lek tehel'e sek basa ngono ... endi seng loro? ... (lah ... tuan muda Anton masa ngga liat kalo lantainya masih basah ... mana yang sakit? ...)" tanya Yanti sekali lagi.&lt;br /&gt;Aku hanya bisanya meringis sambil memegang pinggulku yang masih saja sakit.&lt;br /&gt;"Mlebu sek nyo Anton ... tak urut'e cekno mendingan ... longgo'o ndek sofa sek ... Yanti golek obat urut ndek kamar nyonya? ... (masuk dulu tuan muda Anton ... aku urut biar mendingan ... duduk saja di sofa ... Yanti cari obat urut di kamar nyonya? ...)" pinta Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menurut saja dengan permintaan Yanti. Aku baringkan tubuhku di atas sofa empuk. Tak lama kemudian Yanti kembali sambil membawa minyak tawon. Dia memintaku berbaring dengan posisi telungkup, dan menyuruhku membuka setengah pakaian atasku. Saat ini aku ngga ada pikiran apa-apa, karena aku masih berkonsentrasi membuang rasa sakit di pinggangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti terus mengurut-urut pinggangku yang sakit lumayan lama, dan sekali-kali memijatnya. Aku akui pijatan dan urutan Yanti terasa nikmat, sehingga perlahan-lahan rasa sakitnya mulai menghilang. Ternyata pertolongan pertama yang ditawarkan Yanti sangat ampuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini rasa sakit di pinggangku perlahan-lahan membaik, meskipun masih ada sedikit rasa sakit. Namun rasa nikmat pijatan dan urutan Yanti membuat akal sehatku mati. Aku kemudian timbul rencana lain di dalam otakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yanti ... ora enak iki ndek sofa ... nang jero kamarku wae ... ndek sofa iki kudu arep melorot wae badanku ... (Yanti ... kagak enak nih di atas sofa ... di dalam kamarku aja ... di atas sofa seperti yang mau melorot saja badanku ...)" pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti hanya mengangguk pertanda setuju. Kemudian aku menuju ke kamarku. Yanti memintaku untuk menunggu di kamar dulu, dia mau menyelesaikan jemuran baju dulu, karena tanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar, otak kotorku sedang merencanakan taktik bagaimana mendapatkan tubuh Yanti. Segala cara dan taktik telat aku pikirkan, dan banyak sekali yang ada di otak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa saat Yanti mengetok pintu kamarku, dan aku menyambutnya dengan gembira.&lt;br /&gt;"Yanti, bibik Tutik nyang endi? Teko omah jam piro jerene? (Yanti, bibi Tutik pergi mana? Jam berapa nanti pulang katanya?)" tanyaku.&lt;br /&gt;"Bibik ono urusan'e, ketokan'e sesok jange teko omah maneh. Koyok'e urusan penting. (Bibi ada urusan, keliatannya besok baru pulang rumah lagi. Kayaknya urusan penting)" jawab Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban Yanti tersebut, aku girangnya bukan main. Berarti hanya aku dan Yanti saja yang ada di rumah saat ini. Papa/Mama pasti sedang di kantor, dan biasanya mereka baru pulang sekitar jam 6 sore, dan ini masih baru jam 12 siang lewat. Aku mencium bau kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yanti, pinggangku sek rodo loro ... tolong uruten maneh yo ... urutan-mu uenak tenan ... ora kalah mbek pijetan'e sing wis mahir (Yanti, pinggangku masih rada sakit nih ... tolong diurut lagi yah ... urutan-mu enak banget ... kagak kalah ama pijetan professional)" kataku sambil memujinya.&lt;br /&gt;"Nyo Anton iki ono-ono wae ... iki sing pertama Yanti mijetin wong liyo ... ora ono pengalaman'e (tuan muda Anton ini ada-ada aja ... ini baru pertama kali Yanti pijitin orang lain ... masih belon ada pengalaman)" tundas Yanti.&lt;br /&gt;"Walah walah ... sing pertama wae wes hebat ... pasti Yanti pisan hebat ndek bidang liyo (walah walah ... yang pertama kali aja sudah hebat ... pasti Yanti ada kehebatan di bidang lain) pujiku sekali lagi.&lt;br /&gt;"Nyo Anton iso wae seh ... (tuan muda Anton bisa aja sih)" jawab Yanti singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yanti ojok jeluk aku nganggo jeneng 'nyo' ... koyok cah cilik wae ... jeluk nganggo jeneng mas Anton wae ... (Yanti jangan panggil aku dengan nama 'nyo' ... kayak anak kecil aja ... panggil mas Anton aja)" pintaku. Yanti hanya menganggu tanda setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana kamar sempat hening, hanya terdengar bunyi napas Yanti yang sedang asyik mengurut pinggangku. Tiba-tiba Yanti bertanya "Wes mendingan saiki mas Anton? (Dah mendingan sekarang mas Anton)".&lt;br /&gt;Otakku langsung merespon pertanyaan Yanti dengan cepatnya. "Pinggangku wes mendingan, tapi roso-roso'ne pokangku rodo linu. Coba'en diurut pisan pokangku. (Pinggangku sudah mendingan, tapi rasanya pahaku rada linu. Coba diurut juga pahaku)" jawabku ngawur tapi mengena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa protes atau bertanya Yanti langsung mengurut pahaku. Pertama-tama paha kananku kemudian paha kiriku, saling bergantian. Posisi tubuhku kini terlentang, sehingga setiap urutan-urutan yang diberikan Yanti sangat terasa nikmat. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam celana dalamku, ingin berdiri saja maunya. Yah singkat kata, batang kontolku dah dari tadi ingin sekali berdiri, tapi masih tertahan oleh celana dalamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selang beberapa saat, dengan tanpa malu-malu, tanpa basa-basi, dan dengan pasang muka beton, aku mulai memberanikan diri.&lt;br /&gt;"Yanti, saiki pokangku wis ora linu maneh, tapi saiki endokku dadi rodo linu. Koyok'e nyambung teko pokang. Tolong sisan, tapi dielus-elus endokku lek ora keberatan. (Yanti, sekarang pahaku dah ngga linu lagi, tapi sekarang buah zakarku jadi rada linu. Kayaknya nyambung dari paha deh. Tolong juga, tapi dielus-elus saja buah zakarku kalo ngga keberatan.)", pintaku tidak tau diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti sempat terhenti, dan bengong aja melihat tingkah polahku yang tidak tau diri itu. Di raut wajahnya tidak tampak seperti protes atau marah, melainkan seperti kaget dan bengong seakan-akan bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok iso linu endok'e mas Anton ... emange endok'e mas Anton melok kepleset? (Kok bisa linu buah zakar mas Anton ... emangnya buah zakar mas Anton ikut terpeleset?)" tanya Yanti lugu.&lt;br /&gt;"Yah, koyok'e ngono. (Yah, kayaknya begitu)" jawabku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa banyak tanya lagi, Yanti perlahan-lahan mulai mengelus-elus buah zakarku dari luar celanaku. Rasanya tidak begitu nikmat, tapi ada getaran napsu yang muncul dari otakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uenak mas Anton? (Enak mas Anton?)" tanya Yanti. Aku menjawab dengan mengeleng-gelengkan kepalaku pertanda tidak enak.&lt;br /&gt;"Yo opo sek uenak? (Trus gimana yang enak?)" tanya Yanti lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir sejenak, kemudian aku perolotin celanaku berserta celana dalamku. Serentak melihat gelagatku, Yanti kaget bukan main dan secara reflek memejamkan matanya.&lt;br /&gt;"Mas Antonnn ... lopo kok mlorotin katok ... ora ono acara'ne ngomong dhisik ... (Mas Antonnn ... kenapa kok melorotin celana ... tanpa ada acara ngomong lagi)" protes Yanti dengan matanya yang masih terpejam.&lt;br /&gt;"Loh, Yanti sek tas mau takok yok opo cekno uenak ... lah ya aku plorotin wae katok'e ... cekno uenak elus-elusan'e (Lho, Yanti tadi tanya gimana caranya biar enak ... yah aku lepas saja celananya ... biar enak elus-elusannya)" jawabku menyakinkan Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti masih tetap memejamkan matanya, tapi tangannya mencoba meraba-raba pahaku mencari buah zakarku lagi. Setelah mendapatkan buah zakarku, Yanti kembali mengelus-elusnya lagi. Kali ini ... alamak ... enak banget. Terasa lembut sekali tangan Yanti. Serentak saja, batang penisku langsung tegak dan mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lah ... opo iki mas Anton ... kok atos soro? (Lho ... apa ini mas Anton ... kok keras banget?)" tanya Yanti heran dengan mata sambil terpejam.&lt;br /&gt;"Yo delok'en wae Yanti ... buka'en moto-mu cekno weruh ... ora bahaya kok (Yah liat aja Yanti ... buka dulu matanya biar tau ... ngga bahaya kok)" jawabku dengan jantungku berdegup-degup kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan Yanti membuka matanya, dan langsung terbelak kedua matanya sambil terheran-heran.&lt;br /&gt;"Lah ... manuk'e mas Anton kok iso ngaceng koyok ngono ... linu sisan tah? (Lho ... burung mas Anton kok bisa tegang kayak gitu ... linu juga tah?)" tanya Yanti lugu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iki jeneng'e manukku 'happy' alias seneng ... soale endok'e dielus-elus wong wedok sing ayu kayak Yanti (Ini namanya burungku 'happy' alias senang ... soalnya buah zakarnya dielus-elus wanita cantik kayak Yanti)" kataku mulai merayu.&lt;br /&gt;"Mas Anton iki ... (Mas Anton ini ...)" kata-katanya terputus dan terlihat wajah Yanti yang malu-malu atas pujianku itu. Yanti ternyata masih lugu dalam hal beginian, membuatku semakin yakin kalo Yanti ini masih ting-ting alias perawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disuruh olehku, Yanti mulai mengelus-elus batang penisku dengan lembut, kadang-kadang mengurut-urutnya. Tak karuan rasa, semakin dielus, semakin tegang dan tegak berdiri. Yanti dari tadi senyum-senyum saja, dan tampak wajahnya yang masih malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama dielus-elus oleh Yanti batang penisku berserta buah zakarnya, aku ingin melaju di langkah berikutnya. Aku semakin berani dan tidak sungkan-sungkan lagi. Sambil berbaring kutatap wajah cantik dan manis Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yanti ..." kataku.&lt;br /&gt;"Emmm ..." jawab Yanti singkat.&lt;br /&gt;"Saiki gantian yo ... (Sekarang gantian yah)" kataku.&lt;br /&gt;"Gantian yo opo? (Gantian gimana?)" tanya Yanti.&lt;br /&gt;"Hmmm ... ngene ... saiki gantian aku ... teko mau Yanti wis delok manukku mbek endokku ... sek dielus-elus maneh ... saiki gantian aku seng delok tempik'e Yanti (Hmmm ... gini ... sekarang gantian aku ... dari tadi Yanti dah liat burungku ama buah zakarku ... dan dielus-elus lagi ... sekarang gantian aku yang liat memek Yanti" kataku tanpa basa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emoh mas Anton ... isin aku ... ojok mas Anton ... (Ngga mau mas Anton ... malu aku ... jangan mas Anton)" tolak Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan Yanti yang setengah hati itu membuatku makin penasaran dan makin bernapsu. Aku beranjak dari ranjang, dan memaksa lembut Yanti untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjangku. Setelah berhasil merebahkan tubuhnya Yanti langsung bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Antonnn ... kate diapakno aku? (Mas Antonnn ... mau diapain aku?)" tanya Yanti pasrah.&lt;br /&gt;"Menengo wae Yanti ... ora aku apak-apak'no kok ... mek arep delok tempik'e Yanti ... ora adil lek teko mau manukku tok seng didelok (Diam aja Yanti ... ngga bakalan aku apa-apain kok .. cuman pengen liat memek Yanti aja ...ngga adil kalo dari tadi burungku saja yang diliat)" kataku bohong. Padahal dibalik benakku banyak hal yang aku ingin lakukan terhadap Yanti, terutama terhadap tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sekap roknya, dan aku tarik celana dalam dibalik roknya. Yanti berusaha menahannya, tapi usahanya sia-sia, karena dia menahannya dengan setengah hati alias tidak dengan sekuat tenaga. Kelakuan Yanti ini seperti lampu hijau untukku. Seakan-akan pasrah saja mau diapain olehku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil melepas celana dalamnya, aku tarik roknya ke atas perutnya, agar supaya aku bisa melihat jelas memeknya. Secara reflek Yanti menutup memeknya dengan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wes mas Antonnn ... isin tenan aku ... (Udahan mas Antonnn ... malu banget aku ...)" kata Yanti.&lt;br /&gt;"Durung Yanti ... ojok mbok ditutupi tok tempik'e ... ora ketokan ... (Belon Yanti ... jangan ditutup terus dong memeknya ... ngga keliatan)" kataku protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian tarik tangannya yang sedang menutupi memeknya. Yanti langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya, dan kedua pahanya menyilang. Yanti masih terus berusaha menyembunyikan memeknya dariku. Bisa aku maklumi perasaan malu yang sedang Yanti alami. Aku mencoba merayu dan menyakinkan Yanti apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ojok isin-isin Yanti ... ora ono sing ndelok kok ... men aku tok wae ... (Jangan malu-malu Yanti ... ngga ada siapa-siapa yang bisa liat kok ... cuman ada aku saja ...)" rayuku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Yanti mulai pasrah, dan kedua pahanya yang tadinya menyilang, sekarang sudah mulai kendor. Segera saja aku ambil kesempatan ini untuk mengendorkan pertahanan Yanti. Setelah aku berhasil membuka selangkangan Yanti ... alamak ... aku langsung menelan ludah. Memek Yanti begitu indah dan subur ditumbuhi oleh jembut-jembut yang masih lembut. Aku yakin jembut-jembut ini tidak pernah sekalipun Yanti cukur sejak pertama kali tumbuh, sehingga masih tampak halus lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba lagi membuka selangkangan Yanti lebih lebar lagi, aku ingin sekali menemukan biji etil Yanti. Aku merasa kesulitan menemukan biji etil Yanti dengan mata terlanjang. Ketika aku mencoba membuka bibir memek Yanti untuk menemukan biji etilnya, Yanti langsung protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Anton ... ojok mas ... (Mas ... jangan mas ...)" pinta Yanti. Aku semakin gemas dengan nada penolakan pasrah Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mengubris permintaan Yanti, dan semakin gencar bergerilya mencari biji etilnya. Ternyata tidak susah menemukan biji etilnya dengan mencari pakai tangan. Aku mainin biji etilnya dengan gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Anton ... wes mas ... uisin tenan aku ... (Mas Anton ... udahan mas ... malu banget aku)" mohon Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otakku sudah gelap, dan tetap memainkan biji etilnya. Ternyata tidak perlu memakan waktu lama untuk membuat memek Yanti basah. Mungkin ini pertama kalinya Yanti merasakan nafsu birahi alias horny. Dia seperti tidak tau harus bagaimana menghadapi situasi saat itu. Kedua tangan tidak lagi menutup wajahnya. Tangan kanannya bersembunyi di balik bantal, dan tangan kirinya meremas guling. Yanti menggigit bibir bawahnya, seolah-olah menahan geli. Tidak kudengar suara desahan dari mulut Yanti, tapi nafasnya kini sudah berubah menjadi memburu. Aku berasumsi bahwa Yanti masih belum bisa atau belum terbiasa mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yanti ... tempik mu wis buasah tenan saiki ... (Yanti ... memekmu dah basah banget sekarang)" pujiku.&lt;br /&gt;"Masss ... masss ... wes masss ... Yanti mbok opok'no ... jarene mbek delok tok ... saiki kok di dolen tempik ku (Masss ... masss ... udahan masss ... diapain Yanti ... katanya cuman mau liat aja ... sekarang kok dimainin memekku)" protes Yanti pasrah.&lt;br /&gt;"Aku wes kesengsem karo tempikmu iki ... gemesi wae ... tak elus-elus malah dadi buasah ... (Aku dah jatuh cinta ama memekmu ... bikin gemes aja ... dielus-elus malah jadi basah) ... " kataku sambil bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai aku melanjutkan kalimatku, Yanti secara reflek tiba-tiba menjerit "Mas Antonnn ... massssss ...". Yanti orgasme di atas ranjangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku biarkan Yanti mengambil nafas dulu biar sedikit tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yanti sek tas mau kok bengok ... loro tah? (Yanti barusan aja kok teriak ... sakit?" tanyaku pura-pura bego.&lt;br /&gt;"Ora loro mas ... sek tas-an Yanti koyok kesetrum ... rasa'e koyok nang surgo ... uenak tenan ... atiku saiki sek dek-dekan (Ngga sakit mas ... barusan Yanti kayak kena setrum ... rasanya seperti di surga ... enak banget ... jantungku sekarang masih deg-degan)" jawab Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saatnya giliranku untuk orgasme. Kontolku sudah sejak tadi tegang melihat kelakuan Yanti. Pekerjaanku masih belum tuntas. Aku bingung apa yang harus aku katakan ke Yanti bahwa aku ingin menyodok kontolku ini ke dalam memeknya yang masih perawan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku memutuskan untuk tidak bertanya atau berkata apapun. Aku mencoba untuk langsung main terobos saja. Aku kembali membuka selangkangan Yanti, dan mencoba mengarahkan kontolku ke mulut memeknya. Yanti protes lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Anton arep opo? (Mas Anton mau apa?)" tanya Yanti heran.&lt;br /&gt;"Oh ... aku gelem kesetrum sisan ... koyok Yanti seng mau (Oh ... aku juga mau kesetrum ... kayak Yanti tadi)" jawabku spontan.&lt;br /&gt;"Lah ... terus laopo manuk'e mas kate mlebu nang tempikku? (Lho ... trus kenapa burung mas mau masuk ke memekku?)" tanya Yanti heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti benar-benar masih bau kencur di dalam urusan seperti ini. Mungkin tidak ada orang yang pernah mengajarinya teori tentang hubungan seks atau biasanya disebut dengan hubungan pasutri (pasangan suami istri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku baru iso kesetrum lek manukku mlebu nang tempikmu (Aku baru bisa kesetrum kalo burungku masuk ke memekmu)" jawabku gombal.&lt;br /&gt;"Ojok mas ... engkuk loro ... jarene wong-wong (Jangan mas ... nanti sakit ... katanya orang-orang)" katanya.&lt;br /&gt;"Ojok wedhi Yanti ... tak mlebu pelan-pelan wae ... tak jamin ora loro (Jangan takut Yanti ... dimasukin pelan-pelan aja ... dijamin ngga sakit)" rayuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti diam saja dan pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian mengarahkan ujung penisku ke bibir vagina/memek Yanti. Yanti memejamkan matanya, dan kini giginya kembali menggigit bibir bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kananku memegang pangkal penisku agar batang kontolku tegak dengan mantap, dan tangan kiriku berusaha membuka bibir vagina Yanti, supaya aku bisa melihat lubang memeknya. Karena Yanti masih perawan, ngga mudah untuk menembuh pintu masuk gadis perawan. Hal ini sudah aku alami sekali dengan pacar lamaku. Aku ngga ingin melihat Yanti nantinya menangis seperti yang dialami oleh mantan pacarku yang dulu, setelah aku paksa masuk batang kontolku ke lubang memeknya yang masih perawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama aku basahi terlebih dahulu ujung penisku dengan air ludahku biar menjadi pelumas sementara, kemudian aku dorong masuk ujung penisku kira-kira sedalam 2 centi. Setelah berhasil masuk kira-kira kedalaman 2 centi, aku diam sejenak, kulihat Yanti sedikit meringis menahan perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perih Yanti?" tanyaku iba.&lt;br /&gt;"Rodok perih mas (Rada perih dikit mas)" jawab Yanti yang kini matanya kembali terbuka memandangku.&lt;br /&gt;"Tak mlebu alon-alon yah ... lek perih ngomong'o ... ojok meneng ae ... (Aku masukin pelan-pelan yah ... kalo perih bilang aja ... jangan diam aja) ..." suruhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana kamarku makin panas saja rasanya. Aku lepas bajuku, sehingga kini aku sudah terlanjang bebas. Kondisi Yanti masih lengkap, hanya roknya saja yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang penisku yang dari tadi sudah masuk 2 centi itu masih tampak keras saja. Aku kini tidak lagi memegangi batang kontolku, karena dengan menancap 2 centi saja di dalam memek Yanti dalam kondisi amat tegang, mudah untukku menembus semua batang kontolku. Tapi kini aku harus memasang taktik biar Yanti nantinya juga menikmati. Perih adalah maklum untuk gadis perawan yang sedang diperawani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua tanganku kini menahan tubuhku. Aku membungkuk dan menatapi wajah Yanti yang cantik. Yanti masih terlihat sedikit merintih karena rasa pedih yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menekan lagi batang penisku, masuk sedikit, kira-kira setangah sampai 1 centi. Yanti meringis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mainkan pinggulku maju dan mundur agar batang penisku maju mundur di dalam liang memek Yanti. Batang kontolku cuman mentok sampai kedalaman kira-kira 3 centi. Tapi aku terus bersabar sampai nanti tiba nanti saatnya yang tepat. Aku teruskan irama maju mundur batang kontolku di dalam memek Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan suara rintihan Yanti semakin memudar, dan wajah Yanti tidak lagi merintih. Ujung penisku terasa basah oleh cairan yang kental. Aku yakin cairan ini bukan air liurku yang tadi, melainkan cairan murni dari memek Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang batang kontolku bisa masuk perlahan-lahan lebih dalam lagi, dari 3 centi maju menjadi 4 centi, kemudian dari 4 centi masuk lebih dalam lagi menjadi 6 centi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sek perih Yanti? (Masih pedih Yanti?)" tanyaku. Yanti menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak lagi sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napas Yanti kini kembali memburu dan terengah-engah, dan tidak lagi menggigit bibir bawahnya. Tangan kanannya meremas sarung ranjangku dan tangan kirinya meremas selimutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyangan pinggulku aku percepat sedikit demi sedikit, memberikan sensasi erotis terhadap memek Yanti. Dalam sekejap kini aku bisa membuat batang kontolku kini terbenam semuanya di dalam lubang kenikmatan milik Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sek perih Yanti? (Masih pedih Yanti?)" tanyaku sekali lagi. Yanti kali ini tersenyum malu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.&lt;br /&gt;"Tempik mu wis uenak maneh? (Memekmu dah enakan lagi?)" tanyaku bercanda. Yanti mengangguk.&lt;br /&gt;"Yanti ... buka en klambimu ... mosok ga kroso panas tah? ... buka en ae cekno adem (Yanti ... buka dong bajumu ... masa ngga merasa panas? ... buka aja biar sejuk)" kataku. Aku sebenarnya ingin memperawani Yanti dalam keadaan benar-benar terlanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti menurut saja, dan kemudian dia melepas kaos bersama BH-nya, dan masih membiarkan roknya, karena batang kontolku masih sibuk menari-nari di dalam lubang memeknya. Tampak payudara Yanti yang merekah dengan ukuran 32C menurut tafsiranku. Tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Pas untuk ukuranku. Puting susunya berwarna coklat gelap. Typical atau khas payudara wanita asli Indonesia. Melihat puting susunya yang menantang seperti itu, membuatku gemas rasanya. Aku mencubit sambil memelintir puting susunya, dan Yanti protes atas tindakanku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masss ... loro masss ... (Masss ... sakit masss ...)" protes Yanti lembut. Aku pun kemudian senyum padanya, dan langsung menghentikan tindakanku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa sudah lama aku menggenjot tubuh Yanti siang itu. Tapi aku masih belum menampakkan tanda-tanda akan datangnya klimaksku. Aku sejak tadi berpikir antara iya atau tidak nantinya aku memuncratkan air maniku ke dalam memeknya. Sejujurnya aku berkeinginan hati untuk menyirami memek Yanti dengan air maniku, tapi aku juga rada kuatir akan konsekwensinya bila terjadi apa-apa dengannya, alias hamil nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafas Yanti semakin memburu saja, tapi wajahnya tampak makin gelap saja. Darah Yanti seakan-akan memanas dan terkumpul di atas kepalanya. Kali ini Yanti tak kuat untuk menahan genjotan-genjotan dan gesekan-gesekan nikmat yang diberikan oleh batang kontolku. Mulut Yanti kini tak terkontrol. Untuk pertama kalinya mulut Yanti mendesah atau merintih basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uhh ... ohhh ... masss ... masss ... kerih (geli) masss ..." rintih Yanti.&lt;br /&gt;"Aku kerih sisan Yanti ... Yanti wis arep ngoyo? (Aku geli juga Yanti ... Yanti sudah mau pipis?)" tanyaku penasaran melihatnya sudah seperti cacing kepanasan. Leher Yanti sudah mulai berkeringat. Sekujur badanku juga tidak kalah keringatnya. Semakin berkeringat, semakin seru saja aku menggagahi tubuh Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tau apa yang aku maksud dengan kata 'pipis', Yanti pun menganggukkan kepalanya. Yanti sudah akan memasuki tahap orgasme yang kedua kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai hitungan 2 menit, Yanti tiba-tiba memekik sambil tangan kanannya meremas biceps-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masss ... ampunnn masss ... kerih mbanget ... arep ngoyo ketok'e ... aahhh ... (Masss ... ampunnn masss ... geli banget ... ingin pipis rasanya ... ahhh ...)" pekik Yanti dengan tangan kanannya yang masih meremas biceps-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah lagi, Yanti telah mencapai orgasme keduanya. Memeknya semakin basah saja. Aku berhenti menggenjotnya dan mendiamkan batang kontolku tertanam dalam-dalam di dalam memeknya yang basah nan hangat. Kurasakan setiap denyutan daging-daging di dalam memek Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah buruan nafasnya mereda, aku cabut batang kontolku keluar dengan maksud untuk melepas roknya yang masih menempel di tubuhnya. Aku ingin melihatnya bugil tanpa busana apapun. Saat kutarik batang kontolku, aku melihat sedikit bercak darah di tengah-tengah batang kontolku, dipangkal kontolku, dan di daerah bulu jembutku. Kuperawani sudah Yanti, dan ini adalah bukti keperawanan Yanti yang telah aku renggut darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti kini bugil tanpa selembar kain apapun. Aku kembali memasukkan batang kontolku ke dalam memeknya. Masih terasa basah liang memek Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yanti ... saiki aku sing kate ngoyo ... siap-siap yo (Yanti ... sekarang aku yang harus pipis ... siap-siap yah)" kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti seperti tidak mengerti apa yang aku katakan, tapi kepala mengangguk saja (hanya menurut saja). Aku kembali menggenjoti liang memeknya lebih cepat dari biasanya. Kupercepat setiap hentakan-hentakan, dan bisa kurasakan kenikmatan gesekan-gesekan terhadap daging-daging di dalam memek Yanti. Memberikan sensasi yang luar biasa dasyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Yanti kembali memerah, dan kini nafasnya kembali memburu lagi. Kali ini Yanti sudah tidak malu-malu lagi untuk mendesah dan merintih nikmatnya bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yanti ... kepenak temenan nyenuk karo Yanti ... tempik-mu gurih tenan (Yanti ... enak/senang banget ngentot ama kamu ... memekmu gurih banget)" pujiku sambil terus menggenjot memeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masss Anton ... masss ... aku arep ngoyo maneh ... ahhh masss ... (Masss Anton ... masss ... aku pengen pipis lagi ... ahhh masss ...)" desah Yanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iku jenenge arep teko Yanti ... ora arep ngoyo (Itu namanya mau datang Yanti ... bukan mau pipis)" jawabku sambil tertawa renyah dan Yanti pun tersenyum bingung. Mungkin baginya istilah 'datang' masih terasa aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekujur tubuhku berkeringat dan tergolong basah kuyup. Sudah berapa tetes keringatku yang jatuh di perut dan dada Yanti. Posisiku menyetubuhinya masih tetap berada di atas. Sejak tadi aku belum menyuruhnya merubah posisi. Mungkin bagiku lebih nyaman untuk Yanti digagahi dengan posisiku di atas. Yanti masih termasuk bau kencur dalam masalah beginian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang kontolku makin lama terasa makin mengeras. Lahar mani di dalamnya ingin segera meletup keluar. Aku sudah tidak mampu untuk berpikir dengan akal sehat kembali. Otot-otot disekujur batang kontolku sudah tidak mampu lagi membentung lahar panas yang ingin segera menyembur keluar. Aku sudah tidak perduli lagi dengan rasa kuatirku tadi. Aku hanya ingin menyemburkan lahar panas ini secepat mungkin. Isi otakku sudah gelap rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yanti ... aku arep teko iki ... ora iso di tahan maneh ... saiki Yanti ... saikiii ... Yantiii ... (Yanti ... aku mau datang nih ... ngga bisa ditahan lagi ... sekarang Yanti ... sekaranggg ... Yantiii)" aku mengerang keras diiringi oleh semburan lahar panas dari batang kontolku yang mengisi semua liang memek Yanti. Semburan panas dari batang kontolku mendapat sambutan hangat dari Yanti. Aku memeluk erat tubuh Yanti, dan Yanti membalas memelukku sambil memekik memanggil namaku. Aku hanya dapat menduga bila Yanti mendapatkan orgasme-nya yang ketiga kali. Batang kontolku berkali-kali memuntahkan lahar panasnya di dalam lubang kenikmatan milik Yanti. Mungkin sekarang liang memek Yanti penuh sesak oleh lahar maniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sejenak, mengatur nafasku kembali. Tubuhku masih menindih tubuh Yanti. Kini semua keringatku bersatu dengan keringat Yanti. Aku memeluk Yanti, sambil menciumi lehernya. Batang kontolku masih menancap di dalam memek Yanti. Aku masih belum ingin mencabutnya sampai nanti batang kontolku sudah mulai meloyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yanti ... terima kasih ... " bisikku dalam bahasa Indo. Yanti hanya diam saja. Tak lama kemudian, aku mendengar Yanti menyedot ingusnya. Ternyata mata Yanti tampak berkaca-kaca. Aku menduga kuat Yanti ingin sekali menangis, dan tampak penyesalan di wajahnya. Melihat tingkah laku Yanti, aku berusaha memberinya comfort (kenyamanan), dan rayuan agar membuatnya lega atau tidak sedih kembali. Aku mengatakan kepada Yanti bahwa ini adalah rahasia kita berdua, dan mengatakan bahwa aku sayang kepadanya. Aku berjanji padanya bahwa ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya aku menyetubuhinya. Yanti begitu menurut dengan kata-kataku dengan polos dan lugu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit ada rasa penyesalan telah memperawani gadis cantik dan imut seperti Yanti. Aku meminta maaf kepadanya karena aku khilaf dan tidak dapat menahan keinginanku itu karena sejak lama aku memantau dan melihat sosok dirinya dari kejauhan. Begitu dekat dengannya, aku tidak mampu lagi menahan nafsu birahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama liburan musim panas tersebut, aku sering sekali mencuri-curi waktu dan tempat untuk bersetubuh dengan Yanti. Sejak pertama kali memperawaninya, agak susah untukku untuk menggagahi tubuh nikmatnya lagi. Yanti selalu menolak dengan alasan takut sakit atau apa gitu. Tapi dasar lelaki yang penuh dengan akal muslihat, aku tetap berhasil menikmati tubuhnya dan memeknya berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja, makin lama Yanti semakin menyukai berhubungan badan denganku. Banyak teknik yang aku ajarkan kepadanya, dari BJ, HJ, dan posisi bercinta yang lain (doggy style, woman on top, gaya menyamping, dll). Aku kadang meminta Yanti memberikan BJ atau HJ di ruang keluarga sambil aku menonton TV disaat tidak ada orang di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu pula, aku selalu memakai condom untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Aku tidak ingin aib ini sampai tercium oleh anggota keluargaku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sering kali aku bermain cinta dengan Yanti di liburan musim panas ini. Aku sempat mengganti tanggal pesawatku kembali ke Melbourne agar aku bisa lebih lama di Indonesia. Aku kembali ke Melbourne untuk melanjutkan studiku lagi sekitar akhir Februari. Semenjak kembali ke Melbourne lagi, aku kangen dengan Yanti, dan rindu bercinta dengannya. Kadang-kadang aku menelpon rumah di waktu siang hari (waktu Indonesia) untuk mengobrol dengan Yanti. Dan seputar obrolan kami adalah tentang 'gituan' aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studiku tinggal 1 semester lagi. Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan studiku ini, agar aku bisa kembali ke Indonesia bertemu kembali dengan Yanti. Sebenarnya aku sendiri tidak tau bagaimana masa depanku dengan Yanti. Tapi aku berkeinginan untuk tetap tinggal di Malang, paling tidak melanjutkan atau bekerja di kantor perusahaan papa. Dengan ini aku bisa senantiasa dekat dengan Yanti. Biarlah nanti waktu yang akan menentukan nasibku dengan Yanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-5067584509329576102?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/5067584509329576102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/nikmatnya-pembantuku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/5067584509329576102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/5067584509329576102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/nikmatnya-pembantuku.html' title='Nikmatnya Pembantuku'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-1582508435243904579</id><published>2010-06-11T09:56:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T09:57:46.490-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Pertunjukan Untuk Keponakan</title><content type='html'>Sebut saja namaku Dina. Aku seorang wanita karier yang telah berusia 40 tahun. Tinggi badanku 170 cm dengan berat badan 43 kg. Ukuran braku 34B. Bulu-bulu vaginaku termasuk sedikit, karenanya celah vaginaku dapat terlihat dengan mudah. Berkat rajinnya aku melakukan perawatan muka dan tubuh maka kulitku masih halus, putih, bersih dan kencang. Kebanyakan teman-temanku memujiku seperti baru berumur 33 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku tinggal sendiri di kawasan Surabaya bagian barat. Aku bercerai dengan suamiku sejak enam tahun yang lalu karena beda prinsip yang terlalu keras. Putra kami satu-satunya hasil dari perkawinan kami kutitipkan pada ibuku di kota asalku, Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu pada waktu masih muda, aku adalah seorang eksibisionis yaitu orang yang suka memamerkan tubuhnya pada orang lain. Hanya saja aku suka melakukannya seolah-olah aku sendiri tidak tahu kalau pakaianku tersingkap. Sifat itu menghilang ketika aku memasuki masa-masa berkerja, tetapi setelah bercerai selama enam tahun, sifat itu mulai kembali lagi. Kalau pulang ke rumah setelah kerja, aku suka melepaskan semua pakaian kerjaku setelah masuk pintu, lalu berjalan-jalan di dalam rumah hanya memakai bra dan celana dalam. Setelah itu, biasanya aku akan mandi tanpa menutup pintu kamar mandi dan keluar kamar mandi setelah selesai dalam keadaan telanjang sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Kalau tidak malas, aku akan memakai celana dalam dan bra atau gaun malam saja tanpa celana dalam dan bra. Tapi kalau malas, aku akan membiarkan tubuhku telanjang, lalu aku akan mulai makan, nonton tv ataupun bersantai. Aku juga suka tidur dengan pakaian yang sexy dan minim. Pernah aku tidur tanpa memakai pakaian sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan yang lalu, aku kedatangan tamu dari Semarang. Tamu itu adalah keponakanku sendiri. Umurnya baru 17 tahun, dia anak dari kakak laki-lakiku yang paling bungsu. Dia datang di saat liburan sekolahnya. Aku sangat gembira menyambutnya. Dia kusuruh tinggal di kamar sebelah kamar tidurku. Hari-hari awal semuanya berjalan seperti normal, tetapi satu minggu kemudian, ada yang sedikit aneh. Pakaian dalamku sering kutemukan tidak pada tempat dan urutannya. Kadang-kadang sedikit tidak rapi. Ada timbul kecurigaan kalau keponakanku itu memainkan pakaian dalamku, sebab kalau tidak siapa lagi. Kadang-kadang ada pakaian dalamku yang hilang lalu besoknya ditemukan kembali ditempatnya semula. Aku mulai merasa kalau keponakanku memiliki obsesi seks tentang aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam aku memutuskan untuk menguji keponakanku. Selesai mandi, aku segera mengambil celana dalam g-string warna merah dengan renda-renda yang sexy dan kukenakan. Setelah itu, aku memilih sebuah gaun malam berwarna pink dengan bahan satin. Gaun malam itu semi transparan, jadi tidak akan transparan bila dilihat dari dekat, tetapi akan menampakkan lekuk tubuhku bila ada latar cahayanya. Panjang gaun malam itu hanya 10 cm dari selangkanganku. Di bagian pundak hanya ada 2 tali tipis untuk menggantung gaun malam itu ke tubuhku. Bila kedua tali itu diturunkan dari pundakku, dijamin gaun malamku akan meluncur ke bawah dan menampakan tubuhku yang telanjang tanpa halangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku keluar ke ruang keluarga tempatku menonton tv dan segera duduk menonton tv. Mula-mula aku berusaha duduk dengan sopan dan berusaha menutupi selangkanganku dengan lipatan kakiku. Tak lama kemudian, keponakanku keluar dari kamarnya dan duduk di sebelahku. Sepanjang malam itu, kami berbincang-bincang sambil menonton tv, tetapi aku tahu kalau dia diam-diam mencuri lihat tubuhku lewat sudut mataku. Kadang-kadang aku menundukan badanku ke arah meja di depan seolah-olah menjangkau sesuatu yang akhirnya mempermudah dia melihat payudaraku lewat leher bajuku yang longgar. Tak lama kemudian, aku mencoba lebih berani lagi. Aku mengubah posisi tempat dudukku sehingga kali ini pakaian tidurku bagian belakang tersingkap dan memperlihatkan pantat dan tali g-string di pinggangku. Dari ujung mataku aku bisa melihat kalau keponakanku melihat bagian itu terus. Anehnya, aku mulai merasa terangsang. Mungkin ini akibat dari masa mudaku sebagai seorang eksibisionis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian aku pergi ke kamar kecil. Sengaja pintu kamar mandi tidak kututup sampai rapat, tetapi menyisakan sedikit celah. Dari pantulan tegel dinding, aku melihat bayangan keponakanku muncul di celah pintu dan mengintipku, walaupun saat itu aku membelakangi pintu. Setelah itu, aku menundukan kepalaku, pura-pura konsentrasi pada g-stringku agar dia tidak kaget. Kemudian aku membalikkan badanku, mengangkat gaun malamku dan menurunkan celana dalamku di depan matanya. Aku tidak tahu bagaimana rasa seorang lelaki melihat hal ini, tetapi dari banyak yang kudengar, sebetulnya lelaki paling menyukai saat ini yaitu pada saat perempuan mulai membuka pakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tetap menunduk, aku berjongkok dan menyemburkan air kencingku. Aku yakin dengan posisi seperti ini, keponakanku ini akan sangat menikmati pemandangan vaginaku yang mengeluarkan air kencing. Ini juga salah satu yang kudengar bahwa lelaki suka melihat perempuan kencing. Setelah kencingku selesai aku kembali berdiri, membetulkan g-stringku lalu kuturunkan gaun tidurku. Setelah itu, aku membalikan badanku lagi sambil membetulkan g-stringku bagian belakang. Sebetulnya aku memberikan kesempatan kepada keponakanku untuk pergi tapa terlihat aku. Benar saja, lagi-lagi dari pantulan tegel dinding aku melihat bayangan keponakanku menjauh ke arah ruang keluarga. Setelah semua selesai, aku kembali ke ruang keluarga dan berlagak seolah-olah tidak ada apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku berjalan ke arah sofa, aku melihat kalau muka keponakanku merah, Dalam hatiku aku tertawa karena teringat masa laluku sebagai eksebisionis. Waktu itu, semua laki-laki yang memandangku saat aku sedang "Beraksi" juga memperlihatkan reaksi yang sama. Untuk menghilangkan rasa gugupnya, aku melemparkan senyum kepadanya, dan dibalas dengan senyum yang kikuk. Setelah itu, aku kembali duduk di sofa dengan posisi yang lebih sopan dan melanjutkan acara nonton tv dan bincang-bincang kami. Tak lama kemudian, aku memutuskan untuk tidur, karena saat itu jam 11.30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di dalam kamar, aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Gaun malamku yang tersingkap saat aku naik ke tempat tidur kubiarkan saja sehingga memperlihatkan g-string yang kupakai. Tali gaun tidurku sebelah kiri melorot ke siku tangan juga tidak kuperbaiki sehingga puting payudaraku sebelah kiri nongol sedikit. Aku mulai menikmati kalau diintip oleh keponakanku di kamar mandi tadi. Mulai besok aku merencanakan sesuatu yang lebih enak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya adalah hari Minggu, jadi besoknya aku bangun dengan posisi pakaian yang tidak karuan. Setelah membetulkan tali bahu gaun malamku, aku keluar kamar. Di luar kamar, aku bertemu dengan keponakanku yang sudah bangun. Dia sedang menonton acara tv pagi. Aku menyapanya dan segera di balas dengan sapaannya juga. Setelah itu, aku mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Lagi-lagi pintu kamar mandi tidak kututup rapat. Seperti dugaanku, keponakanku kembali mengintipku. Aku kemudian membuka gaun malamku sehingga aku hanya mengenakan g-string. Gaunku itu kuletakan di tempat cucian. Setelah itu, dengan hanya memakai g-string, aku berdiri di depan wastafel dan menggosok gigiku. Saat menggosok gigi, payudaraku bergoyang-goyang karena gerakan tanganku yang menyikat gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keponakanku pasti melihatnya dengan jelas karena aku sudah mengatur posisi tubuhku agar dia dapat menikmati pemandangan ini. Setelah selesai, aku kemudian membuka g-stringku. Sementara g-stringku masih kupegang di tangan, aku kemudian kencing sambil berdiri. Air seniku kuarahkan ke lantai. Setelah itu, aku siram dan aku masuk ke tempat shower. Tempat shower itu sengaja tidak kututup juga. Aku kemudian mandi seperti biasa, tetapi saat menyabuni badan, aku menyabuni dengan perlahan-lahan. Gerakan tanganku kubuat sesensual mungkin. Bagian payudara dan vaginaku kusabuni agak lama. Setelah membilas badanku, aku masih melanjutkan acara mandi sambil diintip dengan mencuci rambut. Selesai semua itu, aku kemudian mengeringkan badan dan rambut, lalu melilitkan handuk di tubuhku. Sekilas aku melihat dari pantulan tegel dinding kalau keponakanku sudah pergi. Aku kemudian keluar dari kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat keluar aku melihat keponakanku duduk di depan tv sambil menikmati acara tv. Aku tahu sebetulnya dia hanya pura-pura. Mukanya merah seperti kemarin sewaktu habis mengintipku kencing. Aku kemudian masuk kamar tidurku. Pintu kamar tidurku kali ini tidak kututup rapat pula dengan harapan keponakanku akan mengintip baju. Lewat pantulan cermin di lemari pakaianku, aku melihat kalau bayangan keponakanku ada di depan pintu. Dia mengintipku lagi. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kubuka lilitan handukku sehingga aku telanjang bulat. Setelah itu, dengan handuk itu, aku terus mengeringkan rambutku yang basah sementara aku terus menuju ke meja rias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di meja rias, aku mengambil blower dan dengan blower itu, aku mengeringkan rambutku. Setelah kering, aku menuju ke lemari kemudian mengambil celana transparan yang berwarna putih. Setelah memakainya, aku kemudian mengambil sebuah strapless bra warna putih (bra yang tali bahunya bisa di lepas, tetapi kali ini aku tidak melepasnya) dengan kawat penyangga payudara di bagian bawah cupnya dan memakainya pula. Kemudian aku mengambil jubah pendek dari bahan satin berwarna putih dan kupakai. Setelah menalikan tali jubah itu ke pinggangku aku merapikan rambutku lagi sebelum keluar. Dari pantulan cermin aku melihat kalau bayangan keponakanku sudah tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku keluar kamar dan menyiapkan makan pagi untuk kami berdua. Keponakanku saat itu sudah di kamar mandi untuk mandi. Perkiraanku, di kamar mandi dia tidak cuma sekedar mandi, tetapi pasti memakai gaun malam dan g-stringku sambil mastubasi membayangkan badanku. Aku tertawa dengan geli karena merasa berhasil merangsang keponakanku. Saat membayangkan rasanya diintip saat mandi dan ganti baju, cairan kewanitaanku terasa mengalir di sela-sela vaginaku. Aku sendiri betul-betul terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat makan pagi siap dan keponakanku selesai mandi, aku menyuruhnya makan bersama. Saat makan, jubah satin yang kupakai melonggar di bagian leher, tetapi aku pura-pura tidak tahu. Aku tahu kalau keponakanku memperhatikan bra yang terlihat akibat bagian leher yang terus melonggar. Setelah makan selesai, aku membereskan piring sementara keponakanku duduk di sofa membaca buku. Setelah aku merasa semua sudah beres, aku kemudian mengajaknya untuk jalan-jalan menikmati liburannya.&lt;br /&gt;Sejak hari itu, aku selalu bermain kucing-kucingan dengan keponakanku. Kubiarkan dirinya mengintipku saat mandi, kencing atau ganti baju. Aku juga membiarkannya mencuri dan memakai pakaian dalamku sepanjang dia mengembalikannya baik ke lemariku maupun ke tempat cucian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pura-pura tidak tahu kalau dia melakukan semua itu. Hanya saat aku melakukan masturbasi saja yang tidak kubiarkan dia mengintip. Lagi pula biasanya aku melakukan masturbasi di malam hari saat hendak tidur. Sebetulnya ini karena aku malu menunjukkan kepadanya kalau aku sedang terangsang. Aku sangat menikmati situasi ini sampai saat dia harus pulang kembali ke Semarang, aku mengatakan kepadanya kalau aku sangat menyukai perhatiannya. Maksudku adalah aku suka diintip olehnya. Entah dia mengerti maksudku atau tidak, tetapi dia juga mengatakan kalau dia sangat menikmati liburan ini. Aku berharap untuk liburan selanjutnya, keponakanku mau datang lagi agar aku bisa menunjukan tubuhku lagi kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman ini sungguh indah dan menyegarkan masa laluku. Kalau ada kesempatan, aku akan berusaha untuk mengulanginya lagi hanya saja aku sekarang lebih suka diintip.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-1582508435243904579?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/1582508435243904579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/pertunjukan-untuk-keponakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/1582508435243904579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/1582508435243904579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/pertunjukan-untuk-keponakan.html' title='Pertunjukan Untuk Keponakan'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-6788594060507862234</id><published>2010-06-11T09:55:00.001-07:00</published><updated>2010-06-11T09:55:50.861-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daun Muda'/><title type='text'>Ditriduri Teman Papa</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;ni adalah pengalamanku waktu aku masih duduk di bangku SMU. Aku termasuk salah satu bunga sekolah di sekolahku n berprestasi di bidang seni. Rumahku sering didatangin tamu-tamu papaku, baik partner bisnis, karyawan atau temen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; Temen papa yg bernama Om Wawan sering datang ke rumah aku di sore hari, hanya sekedar ngobrol dan minum teh ama papa di kebun belakang rumahku. Konon, Om Wawan mempunyai sixth sense, bisa melihat dan melamar nasib, dan bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk2 halus. Kadang-kadang dia bawa anaknya atau istrinya juga, dan aku suka ikut nimbrung dgn mereka, topik apa aja mereka juga bahas. Om Wawan yg berkacamata tebal sudah lumayan tua, sekitar umur 65 thn, dan badannya agak gemuk dgn perut yg buncit dan napas yg bau. Tipe-tipe badan orang tua yang tidak fit lagi. Keriput di muka dan tangannya sudah terlihat jelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; Om Wawan suka ngelirik aku, curi-curi pandang mukaku lalu badanku. Aku risih sekali apalagi yg ngelirik adalah temen papaku sendiri yg sudah tua. Aku hanya suka membalas Om Wawan dgn senyuman, dan berkata ,"Om, jgn lihatin Nini sampe gt dong, kan malu." Om Wawan suka tersenyum mesum, "Habis Nini manis dan cakep sih, cowok yg mana gak suka liatin Nini." Dan aku jadi tersipu malu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; Suatu Sabtu sore hari, seperti biasanya, Om Wawan datang ke rumah aku utk ngobrol ama papa, tp wkt itu papa dan mama sedang keluar, jadi aku yg ngobrol ama Om Wawan. Tiba-tiba Om Wawan tanya aku, "Nini gak perawan lagi ya?" Trus aku kaget dan diam aja, lalu Om Wawan bilang ,"Gak apa apa kok, jujur aja, Om janji gak kasih tau papa mama deh." Aku diem aja dan merasa takut kalau Om Wawan bisa membaca pikiran aku. "Om sudah tau kok dari dulu, makhluk halus yg Om pelihara kasih tau ke Om, katanya kamu sudah gak perawan. Sudah banyak yg tidurin kamu. Dan ada penyakit di badan kamu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; Aku jadi kaget ketakutan krn dikasih tau ada penyakit di dlm badanku, "Penyakit apa Om? Parah gak? Bisa disembuhin gak?", tanyaku bertubi-tubi. "Yah, mayan parah lah" Aku hanya diem membisu karena sudah ketakutan. "Tp Nini gak usah takut, Om bisa sembuhin kok." Aku agak lega ,"Oh ya? Gimana?" "Nini harus ikut instruksi Om tanpa bantah, bisa gak?" "Ok, Nini akan ikut semua instruksi dari Om." "Nah, sekarang ambil segelas air putih buat Om." Perasaanku bercampur antara takut dan nervous, pergi ke dapur utk ambil segelas air.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; "Nih airnya Om" "Ok, Nini minum airnya dikit." Aku merasa aneh tapi hanya turut aja disuruh minum lalu Om Wawan minum air yg baru aku minum. "Ini Om lagi mencoba membersihkan penyakit di dalam tubuh kamu. Sekarang julurkan lidah kamu. Om mau liat." Aku menjulurkan lidahku, lalu Om Wawan menyedot dgn kuat lidahku. Ada sensasi aneh di dlm tubuhku. Lalu Om Wawan memasukkan tangannya di dlm celana dalamku, aku kaget! "Jangan takut, Nini. Om mau tau separah apa penyakit yg dijangkitin Nini. Ada makhluk halus di dalam tubuh Nini yg suka mengganggu kesehatan Nini." Aku ketakutan dikasih tau ada makhluk halus di dalam tubuhku, jadi aku diem saja Om Wawan menyentuh vaginaku. Aku merasa enak Om Wawan menyentuh vaginaku, dan aku merasa vaginaku dah basah, Om Wawan mengeluarin tangannya dan menjilat jarinya yg basah, "Nini dah basah ya?" Trus aku diem saja, lalu Om Wawan menaikin kausku, dan mengeluarkan pentilku dari BH, lalu dia mengemut pentilku dgn kuat, aku merasa enak dan tanpa sadar aku sudah mendesah keenakan. "Ke kamar Nini yuk, biar Om lebih leluasa mengobati Nini." Aku nurut saja ama kata2 Om Wawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; Begitu di kamarku, Om Wawan melepaskan celananya ,"Nini, kulumin kontol Om!" Aku enggan mengulumin kontolnya karena keliatan bau n kotor kontolnya. "Katanya mau diobatin penyakitnya? Kulum kontol Om buat ngusir makhluk halus di dlm tubuh Nini." Aku jadi nurut karena aku mau diobatin. Aku mengulum kontol Om yg lagi lemas ketiduran, aku mengemut kontol Om sampe mengeras dan Om Wawan mendesah keenakan ,"lbh cepat kulumnya... ashh ahhh... ngemut2 kontol Om lbh keras dan lebih cepat." Aku ikut instruksinya dan menahan napas dr bau kontol Om. Om mendesah keenakan terus, lalu Om Wawan menyuruh aku telanjang, karena ini adalah upacara utk mengusir makhluk halus. Om merebahkan aku di atas ranjang lalu dia menciumin aku, dia melumat bibirku dengan ganas, menciumin seluruh mukaku, melumat pentil aku kuat lalu menjilati vaginaku ,"aashhhh... enak Om.... ah ahh ashh hmm... Om, aku ga tahan lagi Om, ahhhh ashhhhhhhhhh.... masukin kontol Om dong...." Tapi Om Wawan sengaja ga mo masukin kontolnya, dia masih bermain2 dgn vaginaku dgn lidah dan jarinya... sampe aku memohon mohon, "Om, cepet dong... masukin kontol Om ke dalam memekku, aku dah ga tahan lagi... ahh ahhhh... tolong Om... cepet masukin"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; Lalu Om Wawan memasukin kontolnya di dalam vaginaku, "Oh... asiknya Om... ah ahahhh ashhhh" Om Wawan mengenjot pelan pelan, "Om, ahh ahh.... cepet dong ngenjotnya... ahhh ashhh ahhhhahhhh... lbh kuat dong..." "Wah, Nini binal sekali... Om baru tau..." Lalu dia mengenjot lbh cepat n kuat sambil melumat bibirku dan memeras tetekku kuat kuat. "Om lbh kuat meremas tetekku ahhhh ahhh"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; Kita ganti posisi ke doggy style dan aku on top.... Om Wawan sangat lihai dlm permainan ini... dia membuat aku lupa diri dan merasa high sekali... kita berdua meraung raung keenakan di dlm kamar... ahhh aaaaaaaaaahhhhhsssssahhhhhhhhh ihhhhhhh assshhhhh uhhhhhhhhahhhhha.....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; "Nini, Om sudah mau keluar.... Om crut di dlm memek Nini yah" "Iya, Om... boleh ahh ahhhh cepet, ahhh Nini juga udah mau keluar ahh ahhhh" Om Wawan mengenjot lebih cepet dan kuat, ahhh ahhhh tiba2 tubuhnya megenjang, tandanya dia sudah keluarin spermanya di dalam vaginaku... lalu Om Wawan mengeluarin kontolnya dan meletakan di dalam mulutku, aku mengulum kontolnya dgn asik dan Om Wawan mengerang dgn asik dan bergetar-getar keenakan. Lalu kita berbaring sejenak sambil berciuman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt; "Besok-besok Om mau ngentotin Nini lagi utk bersihin tubuh Nini dari makhluk halus."&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-6788594060507862234?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/6788594060507862234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/ditriduri-teman-papa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/6788594060507862234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/6788594060507862234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/ditriduri-teman-papa.html' title='Ditriduri Teman Papa'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-680777145803548771</id><published>2010-06-11T09:54:00.001-07:00</published><updated>2010-06-11T09:54:41.060-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sesama Wanita'/><title type='text'>Temanku, Saudaraku , Kekasihku</title><content type='html'>Perkenalkan namaku Maya aku punya teman bernama Jenny. Kami sudah berteman sejak SMA kalau dihitung2 sekarang sekitar 15 tahun. Dan kami selalu terbuka dalam segala hal. Persahabatan kami boleh dibilang sangat dekat bahkan kami sudah begitu akrab dengan saudara dan orang tua masing2 sudah seperti saudara selayaknya. Begitupun dengan kedua orang tua kami dan saudara2 kami sangat akrab satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami lulus kami tinggal di kota yang berbeda. Dia melanjutkan kuliah sedangkan aku lebih memilih bekerja secara langsung karena kemampuan ekonomi keluarga yang tidak mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pekerjaan aku banyak berurusan ke kota tempat tinggal dia sehingga kami kerap ketemu walaupun hanya untuk makan siang dan sekali2 aku menginap di kostnya karena letih menempuh perjalan yang agak jauh dengan sepeda motor ataupun hanya untuk sekedar tidur2 an melapas lelah. Dia sampai memberikan aku kunci cadangan kalau2 dia tidak ada di tempat dan aku mau kesana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerap kalau aku gajian aku membeli sesuatu untuk dia sekedar hadiah atau kadang kami makan ketempat yang agak lumayanlah untuk ukuran anak kost.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ketika aku ke tempat dia aku lihat dia sedang tiduran, berselimut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho jam segini kok tiduran? Kamu sakit ya?" sambil aku raba keningnya agak panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu sudah makan belum?" Tanya aku lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ga kepingin masih mual2?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok mual kamu ngidam toh? He..he" aku candain dia sambil aku raba badannya basah semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baju kamu basah. Ganti dulu gih" sambil aku ambilin baju di almari dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pertama kali aku liat dia telanjang di depan aku walaupun kami sudah temanan cukup lama. Memang badannya putih mulus beda sama aku yang kulitnya asia banget. (Kata orang kopi lebih mahal dari gula …tapi ga nyombong bule banyak yang suka boo sering muji katanya badanku seksi dengan payudara yang bisa dibilang lumayan lah…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis itu dia tiduran lagi dan aku selimutin dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku keluar dulu beli bubur ayam ya? Kamu minta apa lagi?" dia Cuma senyum dan menggeleng sambil bilang "Hati-hati !!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku suapin dia sambil memberikan minum teh hangat. Baru aku makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu hari ini jangan pulang ya, tidur disini saja!" pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya liat kamu begini ga mungkinlah aku pulang. Tapi aku pinjam baju kamu biar ini besok bisa dipake kerja lagi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini tidak seperti biasanya aku tidur disini, aku berbaring di sebelah dia sambil membaca buku dan dia tertidur lebih awal. Biasanya kami ngobrol sampe larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku liat dia agak gelisah tidurnya dengan keringat mengalir di kening. Tanpa tersadar aku elus2 kepala dia untuk menenangkan. Dan dia terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu kok tidurnya gelisah banget ada apa?" sambil aku ambil tissue dan mengelap keringat dia. Dia hanya memandang aku sebentar kemudian melanjutkan tidurnya. Dan akupun ikut berbaring di sebelahnya. Dan tanganku masing mengelus elus rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tau ada suatu perasaan aneh yang blm pernah aku rasakan walaupun kami sudah dekat begitu lama. Tiba2 dia terbangun lagi. Dan secara spontan dia meletakkan kepalanya di dada aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit bingung aku Tanya lagi "Kamu ada apa kok tidurnya begini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya pingin aja, biar lebih tenangan kamu ga suka ya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cuman tersenyum sambil tangan aku yang satunya pegang tangan dia dan yang satunya tetap mengelus2 rambut dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar aku kecup kening dia. Mungkin terbawa suasana. Dia hanya melihat dan tersenyum. Senyum termanis yang pernah aku lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia bilang "Aku sayang banget sama kamu. Kamu gimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg….aku agak kaget dan aku jawab "Ya sayang lah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya sedikit bergerak mengelus2 payudara aku, aku jadi agak terangsang karena tidak pakai bra. Tapi aku biarkan saja. Lama-lama nafasku agak cepat dan diapun begitu. Lalu aku turun dan mengecup bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak aku sangka dia membalas. Kami berpagutan lama sekali saling mempermainkan lidah kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan secepat kilat aku ubah posisi agar dia di bawah aku bergerak menciumi lehernya dia terus mendesah. Ssshhhhhhhhh……tanganku yang kiri bergrilya menuju payudaranya untuk meremas-remas sedangkan yang kanan tetap mengelus rambutnya. Lalu aku naik, aku gigit2 kecil kupingnya ku kecup dan kupermainkan lidah disana dia semakin menggelora ougghhhhh….sambil tanganku tetap memilin putingnya. Kecupanku pindah lagi ke lehernya dan kemudian satu persatu aku lepas pakainnya dan juga pakaiannku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku turun lagi menuju ke payudaranya yang kanan sambil aku cium-cium aku tarik2 putingnya dan tanganku yang kiri memilin putingnya sambil sesekali meremas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendesah ooouuughhhhhh sayang…..aku suka ini terus…oughhhh aku sayang kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata-kata itu aku menjadi lebih bernafsu. Aku ciumi payudaranya bergantian, aku kulum, aku tarik2 seperti bayi netek tangan yang satunya tetap meremas dan dia tambah mengigau kepalakupun makin di tekan ke teteknya. Terusin sayang oughhhhh…..ooooughhhhh shhhhhh…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tanganku yang kiri aku turunkan dan menjalar ke bawah bermain2 di permukaan V nya. Dia semakin menggelinjang dan aku semakin bernafsu melihat rona mukanya akupun semakin liar menghisap, menarik, meremas dan kadang mempermainkan lidahku di putingnya sambil tanganku yang dibawah meraba area V nya. Ouugghhhhhh sayang……ooughhhh aku ga tahan dan tiba2 dia mendapatkan orgasmenya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sasaranku turun. Aku ciumi dari perutrnya kemudian aku permainkan lidah di pusarnya, dia sedikit kegelian sambil tanganku yang satu tetap meremas tetenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin ke bawah dan sampilah di selangkangannya. Aku ciumin pahanya kiri kanan, terus makin ke bawah ke daerah V nya aku permainkan dengan lidah dia semakin menggeliat, memohon, dan pandangan matanya membuat aku semakin bernafsu melihat dia begitu memohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oooughhhhh sayang masukin jari kamu plssss aku pingin……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih mempermainkan lidah di sekeliling V nya dan tanganku yang satu mempermainkan tetenya meremas, menarik putingnya kadang aku pilin2. tangan yang satu tetap bermain di permukaan V nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oughhhh sayang….masukin jari kamu dong plsssss!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka sekali melihat dia memohon dan akhirnya aku tidak tega. Aku masukin 2 jari sambil aku permainkan lidah aku di klentitnya. Aku tusuk2 permukaannya pakai lidah sedangkan tanganku bermain di area dalam. Keluar masuk seirama dengan lidah aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengerang, menjerit pantatnya sesekali mengangkat dan kadang bergoyang dengan liarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala aku ditekan dengan ganasnya sampai aku sulit bernafas. Aku gerakkan kepalaku naik turun sambil menusukkan lidah aku di area Vnya dan mengocoknya dengan jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oughhhhhh…aaaaggghhhh sayang jarinya jangan dilepasin, kocok aku pls…aku suka ini….akkkhhhhhh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantanya semakin liar naik turun kadang memutar dan tangannya kadang menjambak kadang menekan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba dia aughhhh sayang…badannya bergetar dan dia orgasme dia menyiram aku dengan cairan kepuasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak aku hentikan sekarang aku isap kuat2 semua cairannya dan aku tarik2 kelentitnya. Dia meronta, kadang2 kepalanya mengangkat melihat aksi yang aku lakukan dan tanganya tetap menekan2 kepalaku seolah2 tidak mau dilepaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oughhh sayang ini milik kamu semua" dan jariku tetap di dalam bermain2 dan kadang dia menjepit dengan kuatnya. Aku permainkan lagi lidah aku. Aku tusuk dengan sekuatnya bersamaan dengan jari dia merontah oooughhhhh…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya aku meminta dia menungging…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang kamu nungging ya????"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia pun menungging dalam keadaan dia begitu aku isap seluruh daerah Vnya dari belakang dan aku sedot cairan kepuasan yang masih tersisa. Kemudian aku permainkan lidah aku dari belakang. Dia menggelinjang dan berteriak oughhhhh sayang….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku masukkan lagi 2 jari dari belakang sambil terus aku ciumi dia jariku dengan kuat menyodoknya dari belakang dia semakin liar pinggulnya, badannya semua bergerak, dan tangaku yang satunya mempermainkan teteknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengigau menjepit sayang….kocok yang dalam ouughhh aku suka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akupun memenuhi keinginannya sambil lidah tetap bermain2 dari belakang. Tiba2 dia meremas bantal dan dia menempelkan wajahnya di bantal dia berusaha menjerit aaaauuugggggggghhhhhhhh……saaaa aa…..yyyaaaangggg aaaaggghhhhhh cairannya keluar banyak sekali sampai meleleh di tanganku. Akhirnya aku masukkan lagi kepala aku keselangkangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami sama2 berbaring kelelahan. Dia tersenyum dan aku cium keningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu suka? Aku Tanya dia. "Iya..tks sayang" dan dia mengecup bibir aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kamipun tertidur sambil berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya aku bangun pagi2 sekali setelah membersihkan badan aku langsung keluar mencari sarapan untuk kami berdua dan sambil membeli obat penurun panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sarapan bersama dan sebelum aku berangkat kerja aku cium keningnya tapi ternyata dia lebih ganas dengan mencium bibirku. Trus dia memberikan senyum "Tks untuk yang semalam". Akupun tersenyum sambil menyuruhnya meminum obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kami berlanjut begitu lama dan bersukur tanpa pernah ada masalah. Aku kasi dia kebebasan untuk bergaul dan dia juga begitu kami sangat menghargai dan menikmati hubungan ini dan kami tetap keept agar jangan sampai orang lain tahu. Aku menjadi lebih sering tinggal di kostnya secara tidak langsung pekerjaan aku yang bertambah banyak jadi aku pulang kadang 2 atau tiga hari sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap malam kami berekspresi mewujudkan kasih sayang kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari aku ambil cuti 2 hari yang bertepatan dengan libur dia kuliah. Kami pergi ke tempat yang kami sudah idam2kan sejak SMA karena keindahannya. Kami menyawa hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berendam di kamar mandi tiba-tiba dia datang. Dia menyabuni seluruh badan aku dan yang paling lama dia menyabuni tetekku. Kadang ditekan, kadang di remas membuat aku tidak tahan. Aku tarik dia ke bathtub, kami berciuman sangat lama kemudian aku raba kebawah, dia mulai mendesah…ssshhhhh oughhhh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku permainkan permukaan V nya sebelum aku masukkan 2 jari sambil bibir kami tetap berpagutan dan tetek kami beradu membuat sensasi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia menjerit dan dia orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku begitu bahagia bila melihat dia puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kamipun melanjutkan mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya kami bertempur agak sedikit gila dengan inspirasi yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senderkan dia ke tembok, aku mencium dia dengan agak ganas karena permintaan dia mau sedikit liar malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencium bibirnya, lehernya, kupingnya sambil tete kami tetap beradu dan saling menekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku angkat satu kakinya aku masukkan jari kesana aku permainkan maju mundur ternyata rasanya lebih menekan dia menjerit, dan menarik kepala aku sambil mencium dengan lebih ganas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang dia melepaskan pagutan kami hanya untuk mendesah aooughhhh…oooughhh….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku dorong dia ke pinggir tempat tidur sambil kakinya tetap menggelantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku buka pahanya lebar-lebar. Aku masukkan 2 jari kanan ke Vnya dan 1 jari telunjuk ke anusnya sambil aku tusuk dengan lidah area V nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kaget dan menjerit, tapi aku diamkan jariku sebentar untuk membuat dia rileks sambil terus kucium V nya akhirnya aku gerakkan kedua jariku pelan2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mulai merontah tidak karuan, mendesah oooughhh sayanggg pantatnya naik turun makin lama kocokanku makin cepat bibirku tidak berhenti melumat V nyadia berteriak, mengerang, menekan kepalaku ssshhhhh ouuggghhhh sayang jangan tinggalin aku…oouughhhh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampai pada suatu titik dia tutup wajahnya dengan bantal dia gigit dan berteriak sambil pantatnya bergoyang naik turun tidak teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia orgasme..orgasme paling dalam karena mendapakan serangan dari dua arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cium keningnya. Sambil tersenyum. "Kamu suka?" aku Tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia langsung memeluk aku sambil bilang "I LOVE U"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I LOVE U TOO ….." sambil aku peluk dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dia lulus kuliah dia mendapat pekerjaan di hotel dan aku kebetulan mendapat tugas belajar 1thn keluar daerah. Jadi kami agak jarang bertemu tapi kami tetap melakukan komunikasi via telp. Kadang kalau sama2 pingin kami melakukan Phone Sex dan herannya kami bisa sama2 puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada suatu saat dia mengatakan bahwa dia mencintai seseorang. Pertama ada rasa takut kehilangan.. sedih…sampai aku tutup telpnya tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia telpon berkali2 aku tidak mau menjawab. Fikiranku tidak karuan. Ada rasa marah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama aku berfikir tentang hal ini. Aku mencintai dia bukan berati bisa memiliki dalam keadaan begini. Dia berhak memiliki masa depan yang lebih baik dan aku harus support itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku telpon dia dan menjelaskan semuanya. Dia sangat bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku berjanji kalau pulang nanti mau bertemu mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bertemu ada sedikit rasa cemburu tapi aku berusaha untuk tidak menampakkan itu. Kami hanya bercanda sambil menikmati makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 thn mereka pacaran akhirnya mereka menikah juga. Aku sangat bahagia bahkan aku turut sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan mereka. Dan sebagai hadiah aku memberikan mereka voucer hotel utk bulan madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 bln setelah pernikahan mereka suaminya berangkat ke negaranya dia orang binis jadi kadang 2 bulan disini 3 bln di negaranya. Lama2 dia goyah juga menghadapi situasi begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sering curhat, sampai masalah sedetilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari dia menelpon aku saat itu aku libur. Dia bilang mau curhat dan akupun datang ke tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menceritakan permasalahannya melihat mukanya sangat sedih aku reflek memeluknya dan mencium keningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sekali aku memeluknya dan aku merasa sangat rindu memperlakukan dia begini. Hanya ingin memeluknya dan mengecup keningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melarang aku pulang malam itu, katanya sudah kangen tidak pernah tidur bareng. Dan akupun memenuhi permintaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya kami nonton TV berdua dan dia duduk di sampingku. Tiba2 dia meletakkan kepalanya di pangkuanku. Aku elus2kepalanya rasanya agak canggung tapi aku rindu. Dan dia membimbing tanganku ke teteknya. Dia bilang "Aku kangen seperti dulu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa aku sadari aku meremas, aku mencium kupingnya aku lumat kemudian aku kebibirnya lidah akmi beradu dengan ganasnya dan tanganku beralih keperutnya aku elus2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendesah dan kamipun membuka pakaian aku tatap dia lama aku cium keningnya kemudian matanya bibirnya dan terus sampai dia bilang ouughhhhhhh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku permainkan tanganku di bawah kemudian akupun turun menuju ke area V nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku permainkan disana sangat lama aku pagut, aku hisap aku tusukkan lidahku, dan jariku bermain2 di permukaan. Dia merintih…memohon …puasin aku plsss kayak dulu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku naik lagi aku ciumin tetenya, aku remas dengan ganasnya, aku cium, aku tarik, aku sedot dan dia tetap merintih…memohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku turn kembali ke Vnya yang sudah basah aku masukkan 2 jari dan dia mendengus oooughhhhhh……kemudian aku masukkan lidah aku bersamaan dengan jari aku permainkan aku kocok, sambil tangan yang satunya meremas tetenya. Aku kocok makin keras ..makin cepat dan dia semakin liar pantatnya naik turun tanganya menekan aku sodok dia semakin keras. Sampai akhirnya dia menjerit panjang. Sayaaaaaangggg akkkkkk …..u dappp…pat aoughhhh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak berhenti, aku mau bikin dia benar2 puas. Bibirku tetap di Vnya tanganku tetap mengocok dan telunjuk kiriku ikut masuk ke anusnya, dia kaget ouuughhhhhhh sayanggggggg…..aku diamkan sesaat sambil tetap mencium Vnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku kocok bersamaan anus,v dan lidah aku, aku lihat dia makin menggelepar dia menikmati sekali dan aku suka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya memandang sayu terkadang kepalanya diangkat ouughhh terusin…terusin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian diapun menjerit dan mengeluarkan cairan yang menyemprot mukaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama tidak merasakan ini dan kamipun berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat suaminya datang tidak ada rasa cemburu sedikitpun dihati ini. Aku ikut senang. Terkadang kami jalan bertiga bahkan akhirnya suaminya menjadi salah satu costumer bisnis aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kami makin erat, dan kami tetap mencintai tetapi cinta yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kemudian dia memutuskan untuk ikut suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah akhir dari cerita aku. Walaupun sudah lama berlalu tetapi aku tetap keep dia di hati as my best friend, as my sister, as my lovely u are the best for me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senang kamu bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semoga aku segera menemukan kebahagiaan aku juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love n peace&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-680777145803548771?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/680777145803548771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/temanku-saudaraku-kekasihku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/680777145803548771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/680777145803548771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/temanku-saudaraku-kekasihku.html' title='Temanku, Saudaraku , Kekasihku'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-6442279678323458189</id><published>2010-06-11T09:50:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T09:52:27.430-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Tante Baik..Dech</title><content type='html'>Perkenalkanlah pembaca, nama saya Andi 22 tahun. Kejadian ini sebenarnya telah terjadi setahun yang lalu, dimana waktu itu saya sedang kerja praktek di sebuah perusahaan swasta. Waktu itu saya masih duduk di bangku kuliah di suatu universitas di Jogja, pada semester 7 saya harus melakukan magang / kerja praktek di sebuah perusahaan, kebetulan saya mendapat tempat di perusahaan swasta terkenal di jakarta selatan. Wah, kalau saya tinggal disana, biaya hidup pasti tinggi, belum biaya kost, buat makan sehari - hari dan buat yang lain. Maka dari itu, karena saya punya tante yang tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah Cilandak, maka saya memutuskan untuk sementara waktu tinggal di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanteku ini bernama tante Silvi, umurnya baru 25 tahun, belum lama menikah (kurang lebihnya baru setahun yang lalu). Tetapi karena suaminya yang bekerja di perusahaan pertambangan sering mendapat proyek di luar kota, sampai sekarang tanteku ini belum mendapat momongan. Karena saking sibuknya suaminya itu, terkadang sampai 2 minggu bahkan 1 bulan dihabiskan di luar kota. Tante silvi&lt;br /&gt;sebenarnya ingin ikut bareng suaminya kalau pas lagi ke luar kota, tapi karena tante Silvi juga seorang wanita karir yang bekerja di bank swasta, maka diurungkannya niatnya itu untuk menjaadi ibu rumah tangga saja, sehingga bisa sering ikut dengan suami kemanapun pergi. Tanteku Silvi orangnya manis, dibilang cantik enggak juga tetapi dibilang jelek ya enggak juga. Wajahnya bulat oriental, punya lesung pipi dan mata yang indah dengan tinggi 160 cm dan rambut lurus seperti bintang iklan shampoo saja, sehingga melihatnya berkali-kalipun tidak bakal bosan. Bodinya itu yang aduhai, mungkin karena belum pernah punya anak ya.. jadi kelihatannya masih bodi perawan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya aku akan mendapat kerja praktek selama 2 bulan, maka dalam 2 bulan itu aku meminta izin ke tante Silvi untuk sementara waktu bisa menumpang di rumahnya yang kebetulan juga tidak jauh dari lokasi tempat kerja praktekku. Pertama kali datang ke rumah tante Silvi, suaminya akan pergi ke kalimantan untuk menyelesaikan proyek tambangnya selama 2 bulan, dengan wajah yang sedih, tante Silvi melepas kepergian sang suami untuk sementara waktu. Suaminya bilang, “Tenang sajaa ma, kan ada dek Andi yang mau tinggal disini.. ga perlu takut kan ?? jadi ada yang bisa nemenin gitu” Tante silvi cuma mengangguk. Rumah tante Silvi lumayan bagus, ada 2 lantai dan punya beberapa kamar. Tetapi sayangnya pembantunya baru-baru ini pulang kampung sehingga belum ada pembantu penggantinya. Aku dipersilahkan untuk tidur di kamar dekat dengan kamar tante Silvi yang ada di ruang tengah. Kelihatannya sepiii banget rumah ini, jadi aku pikir aku mesti bikin suasana rumah bisa menjadi agak rame.. biar rumah ini gak kayak kuburan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu pertama, sepertinya suasana masih biasa-biasa saja, walaupun pas lagi di rumah aku sering nyetel music, nyetel film, ato maen gitar biar nambah rame.. Tapi karena kesibukan tante Silvi sehingga pas pulang kantor langsung makan lalu tidur, ato cuman nonton TV saja terus langsung tidur, Aku jadi kurang akrab dan merasa ga enak saja. Tinggal di rumah cuman berdua, tapi sedikit&lt;br /&gt;ngobrolnya… Hari jum’at, di akhir pekan aku pulang agak malam. Waktu sampai di rumah, kebetulan tante Silvi juga baru nyampe depan rumah, aku langsung bukain pintu gerbang agar tante silvi bisa langsung masukin mobilnya ke garasi. Hari itu kayaknya tanteku ini lagi suntuk banget, muka sepertinya pucat. Aku langsung berinisiatif buat bikinin teh manis hangat buat tanteku ini, pas tante masuk rumah langsung ia senderan di sofa panjang sambil nyalain TV. Aku datang dan langsung nawarin teh yang aku bikin tadi dan tante silvi langsung meminumnya. Ga lama aku pun ngobrol dengan tante, ga seperti biasanya tante kayak gini.. Jawab tante cuman kecapekan saja. trus aku ngobrol tentang praktek kerjaku di perusahaan itu lumayan, orang - orangnya enak. Sambil nonton TV aku dan tante silvi ngobrol kesana kemari, kasihan juga ya tanteku ini udah nikah tapi serasa hidup sendiri saja.. Ga berapa lama, tukang nasi goreng lewat, dan aku yang emang udah laper dari tadi langsung&lt;br /&gt;beli dan juga beliin tante yang juga belum makan malam. Sehabis makan, aku langsung mandi. Aku liat tante masih lemes banget, makannya juga ga habis dan langsung ketiduran di sofa. Aku berusaha bangunun tanteku agar segera pindah saja ke kamarnya karena di luar dingin dan banyak nyamuk, tapi karena sudah capek jadi ga bisa dibangunin. Setelah 1 jam, aku berpikir-pikir bat mindahin tante ke kamarnya, tapi ga enak.. trus karena kasihan juga, tanpa pikir panjang langsung kuangkat tante dipindahin ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewwaktu aku mau meletakkan tante ke tempat tidur, tanteku terbangun dan senyum ke aku, trus bilang “tante tidur di sofa juga gapapa, udah biasa”. Trus aku bilang “lebih baik di dalam saja tante, kan di luar dingin, banyak nyamuk lagi.. ” tante trus bilang makasih ke aku. “Oh ya, Ndi, kamu lagi mau ngapain ga ? kayaknya badan tante pegel-pegel nih.. mau ga mijitin kaki tante sebentar..?” tanya tante Silvi. “Hmm,… ya gapapa deh tante, aku belum mau tidur koq..!” Jawabku. Ga lama kemudian aku keluar dari kamar tante, karena tante akan mandi dulu biar agak segeran dikit. Trus ga lama kemudian aku dipanggil ke kamar tante, aku liat tante make piyama yang udah siap untuk tidur, tapi sebelum&lt;br /&gt;tidur aku disuruh mijitin bahu, tangan, dan kaki tante. “Ndi, tante tolong pijitin bentar ya.. Badan tante Pegel banget nih.., daripada manggil tukang urut, mending kamu aja deh gapapa..”. Aku langsung mijitin tangan tanteku dulu, tanggannya halus… ada bulu bulu halus yang numbuh di tangan, yang bikin aku jadi nafsu aja. Kemudian aku mijitin bahunya, dengan posisi tanteku telungkup. Badan tanteku ini putih bersih dan wangiii banget, ga tau habis make sabun apa, kok wangi banget.. Tante merasa nyaman karena pijitanku ini enak.. sampai-sampai pas belum selesai mijitin kakinya, tanteku sudah tertidur. Aku langsung ngambilin selimut buat tante. Ga lama kemudian aku juga ngerasa ngantuk dan kembali ke kamarku lalu tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya aku bangun agak siangan ga seperti biasa, karena emang hari ini hari sabtu dan perusahaan emang libur. Tau-tau di meja makan sudah tersedia teh hangat dan bubur ayam. Pikirku, “Wah, baek banget nih tante, pagi-pagi udah disiapin sarapan. ” Sehabis mandi, aku liat tante sudah nonton TV dan nungguin aku buat sarapan pagi bareng. aku langsung diajakin sarapan pagi dan aku lihat tante silvi sudah seger.. dan ga keliatan capek lagi. “Wah.. tanteku udah seger nih.. ” kataku.. Tante trus bilang makasih udah mijitin sampe-sampe ketiduran. Sehabis sarapan aku dan tante ngobrol-ngobrol bareng sambil nonton TV lagi. Siangnya aku diajakin nemenin tante belanja di supermarket dekat rumah. Sehabis belanja banyak, tanteku tidur siang dan aku ke kamar buat mainan game di laptop yang biasa aku bawa. Ga lama maen game, bete juga pikirku. Trus aku cari aja film bokep koleksiku hasil dari download dan dapet dari temen-temen kampus. Ada yang indo, asia, sampe bule-bule. Kurang lebih sejam aku nonton sendirian pake headphone biar suaranya ga kedengeran kemana-mana, sampe burungku bolak-balik mengeras. Hehehhe… Tau-tau tanteku masuk ke kamarku, katanya aku dari tadi dipanggil-panggil tapi ga ngejawab, jadi tanteku langsung masuk saja ke kamarku. Aduhh… ketahuan deh aku lagi nonton bokeps, tante langsung mendekat ke aku, dan bilang, “kamu ya ndi, nonton sendirian aja.. bagi - bagi tante dong !! ” Aku agak ga enak, aku pikir tante mau marah ke aku, tapi habis itu, aku diminta buat nonton bareng saja di kamar tante. Trus kami berdua nonton film bokep bareng di kamar tante yang lumayan besar. Ga lama nonton, tanteku lansung megang guling. Kayaknya tanteku ini udah teransang.. tingkahnya jadi aneh banget.. Aku jadi ga enak, sambil senyum-senyum aku nonton, trus tanteku yang ngelihatku langsung nyubit aku, kenapa senyum-senyum sendiri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama nonton, udah sekitar 1 jam-an, tanteku rupanya sudah ga tahan.. trus nanya ke aku, “Ndi, punyamu segede itu ga ? ” Aku jadi deg-degan, tau-tau tante nanya-nanya anuku. Aku cuman senyum aja, tapi Mukaku jadi memerah.. trus tanteku bilang, “Gapapa, jangan merah gitu dong mukanya, biasa aja.. Kan tante cuman nanya, tuh jadi tegang kan tititnya ? hihihi….” kata tante. “Engga papa tante, kan malu kan masa’ diliatin tante..??” Jawabku. “Yah, cemen.. ngeliat aja ga boleh apalagi gituan.. ?? Andi emang udah punya pacar blom sih ?? ” tanya tante ” ya udah do.. dooong tante ” jawabku gugup. Trus tante balik ngejawab “Belum punya pacar ya.. ?? masih perjaka dong !! hhiihii.. Apa kau mau&lt;br /&gt;liat punya tante dulu nih ??”.. tante langsung berdiri dan sambil ngangkat roknya, ngelepas celana dalemnya. Trus ngeliatin semuanya ke aku.. “Nih punya tante.. masih bagus kan ??” jawab tante. Aku jadi malu, tapi tetep aja aku liatin,.. Kesempatan kan ga dateng dua kali.. Memeknya keliatan merah dan agak basah, mungkin karena terangsang nonton film tadi. Jembutnya lumayan lebat tapi rapih, mungkin karena sering dicukur dan dirapihin kali. Aku gugup banget, baru kali ini liat punya cewe secara langsung.. aduh rasanya jantungku ini berdegub kencang !!. Kontolku jadi makin mengeras karena terangsang.. Ga lama langsung kupelorotin celana dan CD ku langsung sehingga tante Silvi ngelihat langsung kontolku yang sudah menegang kayak rudal. “Nah gitu dong jangan malu-malu.. ga Gentel kalo masih malu-malu gitu.. Tititmu lumayan gede juga ya.. sama kaya punya suami tante.. hehehe.. bulunya ga pernah dicukur ya Ndi ?? Kok semrawut gitu ?? .. Aku pegang ya ndi” kata tante. “Iiii ya tante,.. emang ga pernah aku cukur.. blom ada yang mau nyukurin sih tante.. Aku elus ya punya tante..” kataku, aku jadi ga gugup lagi. Tanteku langsung membuka baju dan roknya, kemudian mbuka BHnya .. “Aku jadi kagum ama tante, punya tante bagus ya.. aku mau jilatin nenennya ya..” Aku langsung saja ngejilatin abis nenenya gantian kiri dan kanan.. ukurannya lumayan gede, 36B. Aku semakin terangsang karena tante silvi terus saja ngelus-elus batang kemaluanku. Sambil ngulum abis toketnya, tanganku ga henti-hentinya ngelus-elus memek tanteku yang emang alus banget, dan bulu-bulunya sering aku tarik-tarik.. “Jangan ditarik dong sayang, kan atit.. ” Kata tante. “tapi enak kan tante.. ” jawabku. Kuubahkan posisiku, lalu aku jilatin memeknya yang kemerahan itu, trus aku tarik-tarik bulu jembut ya, aku buka belahan memeknya, ternyata itilnya gede juga, merah gitu. Langsung saja aku jilatin itilnya sampe sampe tante silvi menggelinjang keenakan. Ga lama kemudian aku masukin jari ku ke vaginanya. Kukocok -kocok sampe keluar airnya, Tanteku makin keenakan.. “Ochh… ohh..uhhhh…” Kemudian aku mainin itilnya pake lidah, kepalaku langsug dijepit pahanya, karena tanteku kegelian. ga lama kemudian, “Tante mau pipis nih.. adhuuhhh… adhuuh..” kata tante. Trus aku bilang saja “ya pipis aja disini gapapa tante.. ” jawabku. “Aahhhhh.. uuuhhhhh… enaaakkkk… nghhhhhhhh” suara tanteku yang mendesah-desah. trus tanteku pipis karena orgasme yangsangat amat.. karena keluar air banyak banget.. sampe netes-netes. Abis itu gantian, kontolku yang dikocok abis dan dikulum-kulum, ga berapa lama, cuma hanya 3 menit aku langsung ngecrot.. “Adhuhh tante .. kena muka tante deh.. maaf ya..” Tanteku senyum-senyum dan berterima kasih.. Ga lama kemudian HP tanteku bunyi, rupanya suaminya dari kalimantan nelfon. Aku buru-buru pake celana dan ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dari kamar mandi aku langsung duduk di depan sofa sambil nonton TV. Ga lama tante Silvi teriak dari kamar mau ambil handuk buat mandi “handuk putih tante dimana ya ? “. Rupanya dari tadi suaminya nelfonin. Mudah-mudahan saja ga terjadi nanya apa-apa deh. “Oh di jemur di belakang tante.. aku ambilin apa ??” jawabku. Tau-tau tante Silvi dengan masih telanjang bulat keluar dari kamarnya menuju belakang rumah. Aku heran ama tante, kok ga malu yaa, mungkin udah nanggung kali.. gapapa deh pikirku, lumayan ada pemandangan. heheheh… Tante langsung menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.Malam pun berlalu, aku pun kemudian tidur. Demikian juga dengan tante Silvi juga tidur sehabis mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu pagi, aku bangun dari tidur dan masih terbayang-bayang memek tanteku yang legit banget.. Waktu aku mau mandi, kran di kamar mandi rusak, jadi aku ketok-ketok pintu kamar tanteku buat numpang mandi. Tante Silvi cuman bilang saja langsung masuk karena ga dikunci. Aku langsung menuju&lt;br /&gt;kamar mandi di dalam kamar tante Silvi. Belum lama aku mandi, tau-tau tante Silvi ketok-ketok pintu toilet, “Ndi, buka bentar dong..” kata tante. Aku yang lagi nanggung mandi langsung berhenti buka pintu sedikit sambil ngeluarin kepala doang, karena masih telanjang. Tante Silvi tiba-tiba aja masuk ke dalam dan bilang “Tante kebelet pipis nih.. mau liat tante pipis ga ??, semalem tante tidur ga pake CD soalnya jadi udah kebelet pengen keluar jadi ga bisa ditahan.. daripada pipis di kasur, ntar kan repot..!!” jawab tante sambil ngebuka piyamanya langsung duduk di closet. ” Nih liat punya tante lagi pipis.. lucu yaa.. Itil tante gede ga sayang ??” canda tante. Aku langsung terangsang.. kontolku langsung bangun, dan tante ngeliatin aja sampe pipisnya abis. Aku bener-bener deg-degan. Sesudah selesai pipis, tanteku langsung megang kedua tanganku, dan tanganku ditempelkannya ke memeknya. “Ayo kita mandi bareng sayang.. ntar sekalian bulu jembut kamu tante rapihin.. kamu juga ntar gantian ya cukurin jembut tante.. kali ini tante pengen ga ada jembutnya.. yah.. yahh.. ” ajak tante. Langsung saja aku jawab “Iya tanteku sayang..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ngelus-elus toket dan memek tante Silvi yang udah telanjang bulat, demikian juga tante Silvi ngocok-ngocok kontolku yang dari tadi sudah ngaceng. Setelah elus-elusan, tante ngambil alat cukur yang biasa buat nyukur jembutnya. “Sayang, tante cukur ya.. mau model kayak gimana ?? kalo tante pengennya kamu, hmmmm.. dicukur abis aja yah sayang.. biar enak.. ntar punya tante dicukur abis&lt;br /&gt;juga.. OK ??” kata tante Silvi. ” iya deh apa aja tante.. yang penting enak buat gituan..” kataku.. “Looh.. kamu ngajakin tante gituan yaa ?? gituan apa hayoo ?? kamu pengen ML ama tante ya ?? nakal ya kamu sekarang… nanti saya sentil tititnya loohh..” canda tante. “Hehehehe..” jawabku singkat. Ga lama tante nyukurin abis jembutku yang tadinya gondrong, sekarang jadi alus ga ada bulunya sama sekali. “sekarang gantian yah sayang.. Memek tante udah gatel nih udha pengen dicukur.. Cukurnya hati-hati ya.. jangan sampe punya tante lecet.. Kalo lecet ntar ga dapet jatah kamu..!!” ancam tante. “Sebelum dicukur aku gesek-gesekin penisku ke itilnya tante yah.. biar ga kaget.. ” kontolku yang lagi ngaceng kutempelin ke itilnya tante Silvi, tante Silvi merem melek keenakan. “Punya tante itilnya yang gede, dadi enak buat mainan nih.. “. akuku. Trus aku langsung cukur jembut tante Silvi pelan pelan.. sesekali aku jilatin biar ga bosen.. tanteku kayaknya seneng banget.. sekarang memek tante udah ga ada bulunya sama sekali. Putih bersih dan aku bersihin pake sabun sirih, biar wangi.. jadinya memek tante silvi lucu, nongol itilnya dikit.. aku jadi makin terangsang saja. Abis itu aku dan tante silvi mandi bareng pake shower sambil ciuman pelukan sesekali aku kocok-kocok memek tante pake jari pas mandi. “uhh.. enak banget tante.. romantis .. tante emang ga ada duanya ” akuku. Jadinya aku mandi lama banget sampe ga kerasa lama banget. Abis mandi kami berdua keluar tanpa busana lanjutin ML di kasur kamar tante silvi. Langsung aku rebahin tante silvi, kemudian aku kangkangin kakinya, aku jilatin memeknya yang baru dicukur.. tante silvi mendesah-desah keenakan, kuremasremas toketnya sampe kenceng dua-duanya. Benar-benar pagi yang indah.. “Ayo dong masukin … masa cuma coli aja ??” ajak tante buru-buru. Rupanya tanteku ini udah gak tahan. Aku langsung genjot.. masukin kontolku ke memek tante silvi. Rupanya masih keset.. baru separo panjang kontolku juga masih keset, trus aku masukin sampe abis.. goyangan tante silvi bagai goyang gergaji dewi persik sehingga bikin aku keenakan bagai di surga dunia. enak tante.. ahhh.. uhhh..aaghhh….plok.. plokk…. ga lama, tante sudah pengen keluar.. crtt..ccrtt.. ppsss… keluarlah air kenikmatan dari memek tante yang semakin berdenyut-denyut ngenyot kontolku.. “hangattt.. enakkk..” kata tante. Aku ganti posisiku di bawah, tante silvi dengan goyangannya mengocok kontolku. Ga berapa lama, aku udah mau keluar. “Tante.. aku mau pipis nih.. di dalem apa di luar ?? ahh ahh..” … “Ntar tunggu bentar tante juga mau pipis.. ahhh.. uhhh..aggghhhrrr… ahhhh.. uuhhhhhh…. mmgghhhhh…mmhmhmhhhhh nih tante mau pipis.. Ayo sayang kita pipis bareng..” crrooot.. croottt… ssooorrr pssss… agghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh….. …… aku dan tante silvi orgasme bareng.. Langung aku peluk dan cium tante silvi erat-erat.. dan ga aku lepasin dulu kontolku dari memek tanteku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-6442279678323458189?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/6442279678323458189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/tante-baikdech.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/6442279678323458189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/6442279678323458189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/tante-baikdech.html' title='Tante Baik..Dech'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-3158009279343845900</id><published>2010-06-11T09:47:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T09:48:39.720-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Dibalik Jilbab Wanita (Khusus Edition)</title><content type='html'>“Tadi malam saya lewat rumah ibu dan mendengar suara menarik jadi saya mengintip. Ternyata, saya lihat ibu sedang mencolok-colokkan pisang ke itunya ibu sambil nyetel film BF. Saya sangat terangsang.Kalau ibu setuju, daripada pakai pisang saya juga mau dan penginbegituan dengan ibu”.&lt;br /&gt;Itu kalimat yang kutulis dalam HP dan siap dikirimkan dalam bentuk SMS ke sebuah nomor HP milik Bu Ruminah, tetanggku. Namun kendati tinggal memencet tombol agar pesan terkirim, aku sempat ragu. Jangan-jangan nanti Bu Rum (demikian Bu Ruminah biasa dipanggil) ngadu ke ibuku atau ke orang-orang tentang SMS yang kukirim, begitu aku membathin. Tapi, ah nggak mungkin dia berani cerita ke ibuku atau ke orang-orang. Sebab kalau dia cerita, kebiasaannya memuaskan diri dengan buah pisang kan jadi ketahuan. Begitu pikirku lagi. Yakin Bu Rum tidak mungkin menceritakan isi SMS itu ke orang lain, akhirnya kutekan panel tanda OK pada HP-ku dan terkirimlah SMS trsebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam hitungan menit, reaksi dari SMS yang kukirim langsung kudapat. HP ku berdering dan pada layar terlihat nama Bu Rum memanggil. Tetapi aku tidak berani mengangkat karena pasti ia mengenali suaraku hingga kudiamkan saja panggilannya. Setelah beberapa kali telefonnya tidak diangkat, akhirnya sebuah SMS masuk.&lt;br /&gt;“Tolong jawab. Nomor siapa ini”. Demikian bunyi SMS yang dikirimnya dan memacu niatku untuk kembali mengisenginya.&lt;br /&gt;“Pokoknya ibu sangat mengenal saya. Bener lho Bu, pisang saya jadi pengin banget dimasukkan ke itunya ibu seperti pisang yang ibu pegang tadi malam. Ibu pasti puas. Mau kan Bu?”. Ujarku dalam SMS yang kukirim berikutnya.&lt;br /&gt;“Huussh... jangan ngawur. Saya bukan wanita begituan dan saya kan sudah tua. Tolong kejadian itu jangan diceritakan ke orang lain. Tolong banget”. Ungkapnya dalam SMS berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya dia ketakutan kalau aku menceritakan kejadian yang sempat kupergoki itu hingga niat isengku makin menjadi.&lt;br /&gt;“Beres Bu, Saya tidak akan cerita ke siapa-siapa. Tapi sungguh saya sangat terangsang saat melihat memek ibu dicolok buah pisang. Bahkan lebih merangsang dibanding memek wanita bule yang ada di film BF. Jadi soal saya kepengin begituan dengan ibu memang bener-bener lho.” Kataku lagi dalam SMS yang kukirim selanjutnya. Tetapi balasan SMS dari Bu Rum pendek saja. “Sudah ya. Saya sangat berterima kasih kejadian itu tidak diceritakan ke siapapun,” ujarnya dalam SMS yang kuterima. Setelah itu beberapa kali kukirim SMS dengan kata-kata yang lebih panas. Termasuk kesediaanku untuk menjilati memek dan itilnya bila ia mau melayaniku. Namun Karena tetap tidak dijawab maka malam itu SMS an dengan Bu Rum tidak berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Ruminah yang biasa disapa Bu Rum adalah tetanggaku. Rumahnya hanya terpaut tiga rumah dari rumahku. Suaminya Pak Kirno, adalah pensiunan TNI dan pernah menjadi Satpam sebuah bank serta menjabat Ketua RW sebelum terkena stroke dan mengalami kelumpuhan. Sementara Bu Rum di samping menjadi ketua kelompok pengajian ibu-ibu di lingkungan RW tempat tinggalku, ia yang pernah mengenyam pendidikan pesantren itu juga mengajari ibu-ibu mengaji termasuk ibuku yang menjadi teman dekat dan sekaligus muridnya. Aku yakin orang-orang tidak bakalan percaya kalau kuceritakan bahwa Bu Rum ternyata suka melampiaskan hasrat seksnya dengan menggunakan pisang. Betapa tidak, wanita berusia 53 tahun itu, penampilan kesehariannya sangat santun. Selalu berkerudung dan menutup rapat auratnya. Hingga orang tidak akan percaya tentang kebiasaannya yang nyeleneh dalam soal seks terlebih di usianya yang sudah tergolong tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi aku benar-benar melihat dengan mata dan kepalaku sendiri tentang apa yang dilakukan dia yaitu memuasi diri dengan buah pisang. Bahkan saat itu, terus terang aku sangat terangsang. Terlebih saat ia meremasi sendiri kedua teteknya yang gede dan melihat memeknya yang dipenuhi rambut tebal dicolok-colok dengan buah pisang. Karena selalu terbayang oleh bagian-bagian tubuhnya yang membuatku terangsang, akhirnya aku iseng mengirim SMS. Karena beberapa SMS ku yang terakhir tidak dibalasnya, aku nyaris nekad dengan mengancamnya bahwa bila ia tidak mau melayaniku akan kuceritakan soal masturbasi dengan pisang itu kepada orang-orang. Hanya setelah kupikir, tindakanku itu bisa membuat dia kalap atau melapor ke polisi hingga kuurungkan niatku tersebut. Hanya aku tetap bertekad untuk mengisenginya dengan berkirim SMS kepadanya di tiap kesempatan. Hampir tiap hari, terkadang pagi, siang maupun malam, beberapa SMS kukirim kepadanya. Intinya mengungkapkan keinginanku untuk menjadi patner seksnya karena setelah memergoki dia main dengan pisang aku menjadi sangat terangsang dan terpaksa sering mengocok sendiri kontolku sambil membayangkan menyetubuhinya. Tetapi ia tetap tidak mau membalasnya. Pernah beberapa kali ia mencoba menelepon tetapi aku tidak berani mengangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, dari perkawinannya dengan Pak Kirno, Bu Rum hanya mempunyai satu anak Mbak Lasmi. Ia sudah berkeluarga dan mempunyai beberapa anak. Mbak Lasmi tinggal di tempat lain di sebuah kecamatan terpencil karena suaminya menjadi pegawai kecamatan di sana. Jadi status Bu Rum adalah nenek dari beberapa cucu. Puncak dari keisenganku mengrim SMS kepada Bu Rum terjadi ketika pengajian ibu-ibu di kampungku yang dilaksanakan secara bergiliran jatuh ke giliran ibuku. Karena acaranya berbarengan dengan halal bi halal setelah lebaran, pengajian yang diadakan di rumahku terbilang besar. Hidangan yang biasanya cuma snack kali ini dilengkapi ketupat dan opor ayam. Juga ustazahnya yang biasanya pembicara lokal, kali ini didatangkan dari luar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pagi rumahku ramai oleh ibu-ibu tetangga yang mempersiapkan acara tersebut termasuk Bu Rum. Adanya wanita itu di rumahku membuatku tidak berani mengirim SMS iseng padanya. Hanya secara sembunyi-sembunyi aku sering mencuri pandang menatapinya. Seperti kebiasaannya, saat itu Bu Rum memakai busana muslim dengan hiasan bordir yang apik. Yakni sebuah baju terusan warna krem yang longgar yang tidak menampakkan bentuk tubuhnya dipadu dengan celana panjang warna senada. Dengan kerudung yang tak pernah lepas menutup kepalanya, wanita bertubuh tinggi besar itu nampak anggun dan berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pengajian yang dimulai selepas ashar, baru berakhir menjelang maghrib. Sekira pukul 19.30 WIB, setelah acara beres-beres rumah selesai ibu memanggilku. “Win tolong ini diantar ke rumah Bu Rum ya.Tadi ia minta disisihkan lontong dan opornya karena katanya di rumah lagi tidak masak,” ujar ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali berkirim SMS gelap kepadanya, sebenarnya agak grogi untuk berhadapan langsung dengan Bu Rum. Terlebih mengingat kata-kata jorok dan porno serta ajakan main seks dalam setiap SMS yang kukirim. Tetapi aku juga tidak punya alasan untuk menolak perintah ibu hingga dengan terpaksa kulaksanakannya. Dua buah rantang besar berisi lontong dan opor kubawa ke rumah Bu Rum. Setelah beberapa kali mengetuk pintu dan menunggu agak lama, kulihat seseorang mengintip dari balik korden dan akhirnya membukakan pintu.Ternyata yang mengintip dan membukakan pintu adalah Bu Rum sendiri. “Ohkamu Win, ibu kira siapa. Ayo masuk,” ujarnya mempersilahkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Rum yang kalau berada di luar rumah berpakaian muslimah yang rapat,ternyata tidak begitu adanya kalau sedang di dalam rumah. Baju yang dipakainya hanya daster berbahan tipis dan tanpa lengan. Hingga BH hitam dan celana dalam putih yang dipakainya tampak menerawang. “Saya disuruh mengantarkan ini untuk Bu Rum,” kataku setelah berada di ruang tamu rumahnya. Tetapi Bu Rum tidak langsung menerima bingkisan makanan yang kusodorkan. Ia kembali membuka pintu dan keluar rumah. Setelah sesaat melihat sekeliling, ia kembali masuk dan mengunci pintu dari dalam. Ia juga mengajakku ke dalam, ke ruang tengah rumahnya. “Taruh saja bawaannya di meja Win. Ada yang ingin ibu bicarakan sama kamu,” katanya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg! Serasa berhenti detak jantungku. Pasti ia sudah tahu kalau yang berkirim SMS selama ini adalah aku, pikirku membathin. Gelisah akudibuatnya. “Duduk sini Win. Tidak ada siapa-siapa kok. Pak Kirno tadi dijemput Lasmi dan suaminya karena ia ingin banyak menghirup udara gunung yang segar. Mungkin agar bisa pulih,” ujarnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak sedikit plong mendengar bahwa Pak Kirno suaminya sedang tidak dirumah. Setidaknya kalau Bu Rum marah terkait soal SMS ku itu, suaminya tidak ikut mendengarnya. Hanya aku tetap tidak bisa membuang kegelisahan yang kurasakan. Seperti pesakitan yang menunggu vonis hakim, aku hanya duduk mematung di kursi sofa di ruang tengah rumah Bu Rum. Bu Rum duduk di kursi lain yang ada, dekat tempat aku duduk. Baru kusadari, daster yang dipakainya ternyata terlalu pendek. Pahanya yang mulus terlihat terlihat terbuka. Hanya aku tetap tidak dapat menikmati pemandangan yang mengundang itu karena suasana tegang yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi waktu di pengajian, ibu minta ijin ke ibumu agar kamu mau mengantar ibu ke rumah Lasmi tiga hari lagi untuk menjemput Pak Kirno.Rencananya mau pinjam mobil Pak RT dan kamu yang menyetir. Ibumu setuju dan memberi nomor HP milikmu. Tapi ibu jadi kaget, sebab ternyata nomornya sama dengan nomor yang suka dipakai SMS ke ibu beberapa hari ini. Jadi kamu Win yang suka SMS ke ibu,” ujarnya tenang dan disampaikan tanpa emosi. Namun meskipun begitu, sempat kecut juga nyaliku.&lt;br /&gt;“Eee…ee.. ti…eh… iya Bu,” jawabku terbata.&lt;br /&gt;“Oh syukurlah kalau begitu. Ibu takut banget apa yang kamu sempat lihat diceritakan ke orang-orang lain. Ibu pasti sangat malu. Terima kasih banyak ya Win kamu tidak cerita ke orang-orang,”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ternyata ia tidak marah soal itu. Aku jadi merasa plong. Bahkan dengan terbuka, Bu Rum akhirnya bercerita soal kenapa ia terpaksa menggunakan pisang untuk memuaskan dorongan seksnya. Diceritakannya, meski sudah tergolong berumur namun kebutuhan biologisnya belum padam benar. Padahal sudah lama Pak Kirno tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai suami. Bahkan jauh sebelum terkena stroke. Makanya setiap keinginan untuk itu datang ia selalu berusaha memuaskan sendiri termasuk menggunakan pisang.&lt;br /&gt;“Ibu malu banget lho sama kamu Win. Apalagi kalau kamu sampai cerita ke orang-orang. Mau ditaruh dimana muka ibu?” Kata Bu Rum lagi.&lt;br /&gt;“Tidak Bu, saya janji tidak akan cerita ke siapa pun soal itu,” ujarku meyakinkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saking senangnya rahasianya soal ngeseks dengan pisang tidak akan terbongkar ia langsung berpindah duduk menjejeriku di sofa yang kududuki. Digenggam dan diguncang-guncangkannya tanganku.&lt;br /&gt;“Terima kasih win, ibu sangat berterima kasih,” kata Bu Rum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beban yang semula seolah menghimpit dadaku langsung sirna melihat sikap Bu Rum. Hanya kembali aku sulit menjawab ketika ia menanyakan perihal kata-kata dalam beberapa SMS yang kukirimkan.&lt;br /&gt;“Kalau ibu boleh tahu, sebenarnya apa yang mendorongmu mengirim SMS itu kepada ibu?”&lt;br /&gt;“Eee… eee… sa… sa.. saya.. ee,” kembali aku terbata.&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa Win, jawab saja yang jujur. Ibu cuma ingin tahu,”&lt;br /&gt;“Saya mengirim SMS itu karena sangat terangsang setelah melihat ibu,” kataku akhirnya.&lt;br /&gt;Bu Rum kulihat terpana. Mungkin ia tidak percaya dengan jawaban yang kuberikan. Namun sebuah senyuman terlihat mengembang di wajahnya hingga aku tidak takut lagi.&lt;br /&gt;“Jadi kamu juga benar-benar ingin begituan dengan ibu?”&lt;br /&gt;“Eee… maksud saya.. ee. Iya kalau ibu bersedia,” jawabku mantap.&lt;br /&gt;Mendengar jawabanku Bu Rum langsung meraih dan mendekapku. Dalam kehangatan dekapannya, wajahku tepat berada di busungan buah dadanya yang terbungkus BH hitam. Wajahku membenam di busungan susunya yang memang berukuran besar. Diperlakukan seperti itu kontolku jadi langsung bangkit. Mengeras di balik celana dalam dan jins yang kupakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah Bu Rum melepaskan pelukan pada tubuhku, kulihat gaya duduknya makin sembrono. Kedua kakinya terbuka lebar hingga pahanya yang membulat besar terlihat sampai ke pangkalnya. Bahkan kulihat sesuatu yang membukit dan terbungkus celana dalam warna hitam. Aku tak berkedip menatapinya. Untuk ukuran wanita seusia dirinya, kaki dan bagian paha Bu Rum masih terhitung mulus. Memang ada lipatan-lipatan lemak dan kerutan mendekati ke pangkal paha. Tetapi tidak mengurangi hasratku untuk menatapi bagian yang merangsang itu termasuk ke bagian membukit yang tertutup celana dalam warna krem. Jembut di memeknya itu pasti sangat lebat karena banyak yang tidak tertampung celana dalam yang menutupinya hingga terlihat banyak yang keluar dari celana dalam yang dipakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Bu Rum tahu mataku begitu terpaku menatapi organ kewanitaannya. Mungkin karena telah yakin aku benar-benar mau menjadi pelepas dahaganya, ia pelorotkan sendiri celana dalam itu dan melepasnya.&lt;br /&gt;“Bu Rum sudah nenek-nenek lho Win. Tetapi kalau kamu pengin melihat memek ibu bolehlah. Sebenarnya ibu juga sudah lama tidak puas main sendiri dengan tangan dan pisang,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tanpa sungkan, setelah melepas sendiri celana dalamnya ia duduk mengangkang membuka lebar-lebar pahanya. Memamerkan memeknya yang berbulu sangat lebat. Ah tak kusangka akhirnya dapat melihat memek Bu Rum dalam jarak yang sangat dekat. Memek Bu Rum lebar dan membukit. Jembutnya sangat lebat dan hitam pekat. Kontras dengan pahanya yang kuning langsat sampai ke selangkangannya. Puas memandangi bagian paling merangsang di selangkangan wanita itu, keinginanku untuk menyentuhnya menjadi tak tertahan. Kujulurkan tanganku untuk menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuusap-usap jembutnya yang keriting dan tumbuh panjang. Jembut Bu Rum benar-benar super lebat menutupi memeknya. Hingga meski telah mengangkang, masih tidak terlihat lubang memeknya karena tertutup rambut lebat itu. Kuusap-usap dan kusibak jembut yang tumbuh sampai ke atas mendekati pusar wanita itu dan di bagian bawah mendekati lubang duburnya. Menimbulkan bunyi kemerisik. Untuk bisa melihat lubang memeknya, aku memang harus menyibak rambut-rambut yang menutupinya dengan kedua tanganku. Bibir luar memek Bu Rum tampak tebal dan kasar karena sudah banyak kerutan dan warnanya coklat kehitaman. Di bagian dalam lubang memeknya yang berwarna hitam kemerahan, ada lipatan-lipatan daging agak berlendir dan sebuah tonjolan. Ini rupanya yang disebut itil, pikirku. Tidak seperti ukuran memeknya yang besar, tebal dan tembem, itil Bu Rum relatif kecil. Hanya berbentuk tonjolan daging kemerahan di ujung atas celah bibir luar kemaluannya yang sudah berkerut-kerut. Kutoel-toel itilnya itu dengan jari telunjukku yang sebelumnya kubasahi dengan ludah. Ia mendesah dan sedikit menggelinjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sudah pernah begituan dengan perempuan Win? Ee.. maksud ibu ngentot dengan perempuan?”&lt;br /&gt;“Belum Bu,” jawabku sambil tetap menggerayangi dan mengobok-obok vaginanya.&lt;br /&gt;“Masa!? Kalau melihat memek wanita lain selain punya ibu?”&lt;br /&gt;“Juga belum Bu. Saya hanya melihatnya di film BF yang pernah saya tonton. Memangnya kenapa Bu?” Jawabku lagi.&lt;br /&gt;Sebenarnya aku berbohong.Sebab di rumah aku sering mengintip ibuku sendiri. Saat dia mandi atau berganti pakaian di kamarnya. Mendengar aku belum pernah berhubungan seks dengan perempuan dan belum pernah menyentuh vagina, entah kapan ia melakukannya, tanpa sepengetahuanku ternyata Bu Rum sudah melepas daster dan BH nya. Telanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya dan memintaku untuk melepas semua pakaian yang kukenakan.&lt;br /&gt;“Oooww.. punya kamu besar juga ya Win,” kata Bu Rum sambil membelai kontolku yang telah tegak mengacung setelah aku telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Rum tidak hanya membelai dan mengagumi kontolku yang telah keras terpacak. Setelah menjilat-jilat lubang di bagian ujung kepala penisku, ia memasukkan batang kontolku ke mulutnya. Aku jadi merinding menahan kenikmatan yang tak pernah terbayangkan. Tubuhku tergetar hebat. Sesekali kurasakan mulutnya mengempot dan menghisap batang kotolku yang kuyakin semakin mengembang. Lalu dikeluarkan dan dikocok-kocoknyanya perlahan. Ah, teramat sangat nikmat. Sangat berbeda bila aku mengocok sendiri kontolku. Saking tak tahan, tanpa sadar aku memegang dan mengusap-usap rambut Bu Rum yang semestinya tidak pantas kulakukan mengingat usia dan sekaligus statusnya sebagai guru mengaji ibu-ibu di kampungku termasuk ibuku. Tetapi Bu Rum tak peduli. Ia terus asyik dengan kontolku. Dikulum,dihisap dan dikocok-kocoknya perlahan dengan gemas. Seperti wanita yang baru melihat kejantanan milik pasangannya. Mungkin karena selama ini ia hanya bisa melakukannya dengan pisang setelah kotol suaminya tidak berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati kocokan dan kuluman Bu Rum pada kontolku, kuremasi teteknya. Tetek Bu Rum gede dan sudah menggelayut bentuknya. Namun sangat lembut dan enak di remas. Bahkan puting-putingnya langsung mengeras setelah beberapa kali aku memerah dan memilin-milinnya. Tak kusangka wanita yang dalam keseharian selalu tampil dengan busana muslim yang rapat dan menjadi guru mengaji ibu-ibu di kampungku ini juga lihai dalam urusan kulum mengulum kontol. Aku dibuat kelojotan menahan nikmat setiap ia menghisap dan memainkan lidahnya di ujung kepala kontolku. Bahkan saat Bu Rum mulai mengalihkan permainannya dengan menjilati kantung pelirku dan menghisapi biji-biji pelir kontolku, aku tak mampu bertahan lebih lama. Pertahananku nyaris jebol. Karenanya aku berusaha menarik diri agar air maniku tidak muncrat ke mulut atau wajah Bu Rum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Bu Rum menahan dan menekan pinggangku. “Mau keluar Win ? Muntahkan saja di mulut ibu,” ujarnya sambil langsung kembali menghisap penisku. Akhirnya, pertahananku benar-benar ambrol meski telah sekuat tenaga untuk menahannya karena merasa tidak enak mengeluarkan mani di mulut Bu Rum. Sambil mendesis dan mengerang nikmat pejuhku muncrat sangat banyak di rongga mulut Bu Rum. Cairan kental warna putih itu kulihat berleleran keluar dari mulut wanita itu. Tetapi ia tidak mempedulikannya. Bahkan menelannya dan dengan lidahnya berusaha menjilat sisa-sisa maniku yang berleleran keluar. Terpacu oleh kenikmatan yang baru kurasakan dan banyaknya mani yang keluar membuat tubuhku lemas seperti dilolosi tulang-tulangku. Aku terduduk menyandar di si kursi sofa tempat Bu Rum terduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana Win, enak?”&lt;br /&gt;“Enak banget Bu,”&lt;br /&gt;“Nanti gantian ya punya ibu dibikin enak sama kamu. Ibu ke kamar mandi dulu,” ujarnya berdiri dan melangkah ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kembali dari kamar mandi, Bu Rum menyodorkan segelas besar teh manis hangat. Sodoran teh manisnya langsung kusambut dan kuteguk.Terasa hangat dan nikmat setelah tenaga hampir terkuras dan kini kembali segar. Saat itu baru kusadari Bu Rum masih bugil tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.Aku kembali terpaku pada tubuh bahenolnya yang masih lumayan mulus. Wanita berpinggul besar dan berdada montok namun sudah agak kendur itu,meskipun sudah menjadi nenek masih sangat menggoda. Jembutnya yang keriting lebat terlihat basah. Mungkin habis dibersihkan di kamar mandi untuk menghilangkan bekas air maniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau lagi Win?” ujarnya mendekat dan berdiri tepat di tempat aku duduk. Kini memang giliranku untuk memuaskannya setelah kenikmatan yang diberikan padaku. Aku bingung harus memulai dari mana dan melakukan apa pada Bu Rum karena memang belum pernah pengalaman dengan perempuan. Hanya dari sejumlah film BF yang sering kutonton, wanita kelihatannya sangat suka kalau memeknya dijilat. Maka aku langsung turun dari kursi panjang dan berjongkok di depan Bu Rum. Memeknya yang besar membusung kini tepat di hadapan wajahku. Jembut keriting lebatnya terlihat basah. Dan Bu Rum, melihat aku hanya terbengong memandangi bukit kemaluannya, langsung mengangkat kaki kirinya dan di tumpukan pada kursi panjang. Karena pahanya yang terbuka kini aku bisa melihat lubang memeknya yang nampak sudah longgar. Lubang memeknya menyerupai lorong panjang. Bahkan kulihat itilnya yang mencuat di ujung atas belahan memeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku menyentuh dan mengusap memeknya. Bibir luar memeknya yang berwarna coklat kehitaman penuh kerutan dan terasa lebih tebal. Namun makin ke dalam lebih lembut dan basah serta warnanya agak memerah.Kudengar Bu Rum mendesah saat jariku menyelinap masuk menerobos lubang vaginanya. Rambut kepalaku diusap dan diremas-remasnya. Desahannya mengingatkanku pada suara wanita yang tengah disetubuhi di adegan film BF. Aku jadi terangsang. Kontolku kembali menggeliat dan bangkit. Sambil mendesah, Bu Rum tak hanya meremas dan menjambaki rambut kepalaku. Tetapi ia berusaha menarik dan mendekatkan wajahku kememeknya. Aku jadi tahu, nampaknya ia tidak ingin memeknya hanya dicolok-colok dengan jariku, Aku yang memang sudah kembali terangsang langsung mendekatkan mulutku dan mulai mengecupi lubang memek Bu Rum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata selain bibir luar vaginanya yang mengeras dan berkerut-kerut, di luar kelentitnya yang menonjol besar, ada sebentuk daging yang menjulur keluar dari lubang memeknya. Bentuknya nggedebleh mirip jengger ayam jantan. Pengetahuanku tentang bagian paling intim milik wanita memang sangat terbatas dan melihatnya dari jarak sangat dekat baru kali ini mendapat kesempatan. Satu-satunya memek wanita dewasa yang pernah kulihat adalah milik ibuku. Aku memang sering mengintipnya saat ibu mandi. Atau saat berganti baju di kamarnya dan pernah beberapa kali melihatnya dalam jarak cukup dekat saat dia tidur. Tetapi sepengetahuanku tidak ada jengger ayam di lubang memek ibuku. Jadi terasa agak aneh atas apa yang kulihat di lubang memek Bu Rum. Tetapi aku tak peduli. Hingga selain menjilati bibir vaginanya, jengger ayamnya juga tak luput dari sentuhan mulut dan lidahku. Bahkan aku langsung mengulum, menghisap dan menarik -nariknya dengan mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohhh… sshhh… aahhh… enak Win. Aaauuwww… ya.. ya.. aaahhh.. sshhh.. enak banget,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat senang karena ternyata Bu Rum menyukai dan keenakan oleh jilatan lidahku di lubang memeknya. Dari liang sanggamanya mulai keluar lendir yang terasa asin di lidahku. Tetapi itu pun tidak membuat surut langkah untuk terus mengobok-ngobok vaginanya dengan mulut dan lidahku. Aku terus mencerucupi dan menghisapnya hingga lendirnya banyak yang tertelan masuk ke kerongkonganku.Diperlakukan seperti itu Bu Rum seperti kesetanan. Tubuhnya tergetar hebat dan kulihat ia merintih, mendesah sambil meremasi sendiri kedua tetek besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu naik dan tiduran di sofa Win. Sshhh aahh jilatanmu di memek ibu enak banget,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dimintanya, aku naik ke sofa dan tiduran telentang dengan kaki menjuntai. Setelah itu Bu Rum ikutan naik. Tadinya kukira ia akan menyetubuhiku dengan posisi wanita di atas seperti yang pernah kulihat dalam adegan film mesum yang menggambarkan hubungan seks antara wanita dewasa dan bocah ingusan. Tetapi tidak. Ia berdiri dan memposisikan kedua kakinya diantara tubuhku. Lalu bertumpu di dinding tembok yang ada di belakang kursi sofa dan sedikit menurunkan tubuhnya. Rupanya, ia masih ingin mendapatkan jilatan di memeknya dengan posisi yang membuat dirinya lebih nyaman dan bergerak leluasa. Sebab saat memeknya telah berada tepat di depan wajahku, ia langsung membekapkannya ke mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kusangka, wanita yang sangat dihormati di kampungku karena selalu berbusana muslimah yang rapat dan menjadi guru mengaji ibu-ibu, di usianya yang sudah 53 tahun masih sangat menggebu. Pantesan ia suka menyogok-nyogok memeknya dengan pisang. Mungkin karena tidak tahan akibat tidak pernah disentuh oleh suaminya yang sudah tidak bisa melayaninya sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat gelagapan karena tidak mengira Bu Rum akan membekapkan memeknya ke wajahku. Tetapi setelah mengetahui apa yang diinginkannya, aku langsung menyambutnya meskipun tidak tahu harus bagaimana semestinya dilakukan. Seperti sebelumnya kembali kujulurkan lidah dan kembali kujilati lubang memeknya. Namun kali ini dengan lebih semangat. Daging jengger ayamnya yang keluar dan menggelambir kukulum. Lalu lidahku menjulur masuk sedalam-dalamnya di lubang vaginanya sampai hidung dan wajahku ikut belepotan oleh lendir yang keluar dari liang sanggamanya. Sambil terus mengobeli memeknya dengan lidah dan mulutku, pantat Bu Rum juga menjadi sasaran remasan tanganku. Meskipun sudah melorot, pantat Bu Rum yang besar terasa masih lumayan kenyal. Nampaknya ia menjadi keenakan. Bu Rum melenguh dan mendesah.&lt;br /&gt;“Iya Win…aahhh… sshhhh…aaahhhh… ssshh.. enak banget. Terus colok memek ibu dengan lidahmu sayang. Ahhh.. ya.. ya… oooohhhhh…. ssshhhh,” desahnya tertahan saat aku makin dalam menjulurkan lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar rintihan dan desahan Bu Rum, aku jadi makin bersemangat.Hanya karena tidak punya pengalaman, aku hanya menjilat dan mengisap bagian dalam memeknya sekena-kenanya. Rupanya karena terlalu menggebu, aku sempat menghisap itilnya dengan kuat. Bu Rum memekik. Tetapi tidak marah dan malah makin keenakan.&lt;br /&gt;“Ia Win itu itil ibu.. enak banget…sshhh ..aahhh.. aahhh. Terus Win hisap itil ibu… aaoooohhh …oooohhhh,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dimintanya, itil Bu Rum yang akhirnya paling sering menjadi sasaran jilatan dan hisapan mulutku. Bahkan sambil terus mencerucupi kelentitnya, dua jari tanganku kupakai untuk menyogok-nyogok bagian dalam memeknya. Saat itulah Bu Rum menjadi kelojotan dan beberapa saat kemudian ia memintaku berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah Win ibu nggak tahan. Bisa KO kalau diteruskan. Sekarang ibu pengin dientot dengan kontolmu. kamu juga pengin kan ngentot dengan ibu kan?”&lt;br /&gt;“Ii .. iya bu. Saya pengin banget. Ta.. ta.. tapi saya tidak tahu caranya,”&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa. Nanti ibu ajarin,” ujarnya seraya menggamit lenganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membawaku ke kamarnya. Kamar dengan ranjang spring bed berukuran besar dan tampak rapi tertutup sprei motif garis-garis. Di kamar Bu Rum, ada meja rias berukuran besar dengan berbagai alat make up di atasnya serta sebuah almari pakaian model antik di samping gambar Bu Rum dan suaminya dalam pose berpasangan mengenakan pakaian adat Jawa. Foto itu sepertinya dibuat saat usianya masih di bawah 40 tahun. Bu Rum terlihat sangat cantik dan seksi. Suaminya, Pak Kirno juga terlihat kekar dan tampan. Adanya gambar Pak Kirno suaminya di kamar itu, sebenarnya aku sempat grogi. Tetapi melihat Bu Rum sudah telentang di ranjang dan dalam posisi mengangkang, sayang kalau harus melepaskan kesempatan yang sudah berada di depan mata. Aku sudah sering mengocok sendiri kontolku sambil membayangkan ngentot dengan Bu Rum. Aku juga ingin mengetahui dan merasakan seperti apa rasanya ngentot sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kontol tegak mengacung aku naik ke ranjang. Hanya aku tetap bingung bagaimana harus memulai. Di antara kedua pahanya yang membuka lebar, memek Bu Rum tampak menganga menunggu batang zakar pria yang mau menyogoknya. Sepasang buah dadanya yang besar, dalam posisi telentang terlihat jadi nggedebleh dan hanya puting-putingnya yang hitam kecoklatan terlihat menantang. Melihat aku cuma mematung, rupanya Bu Rum menjadi tak sabar. Ditariknya tanganku hingga menjadikan tubuhku ambruk dan menindih tubuh montoknya.Beberapa saat kemudian kurasakan Bu Rum meraba selangkanganku dan meraih kontolku. Batang penisku yang sudah mengacung dikocok-kocoknya perlahan hingga makin mengeras dan membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh wanita itu, kepala penisku digesek-gesekkannya di sekitar bibir kemaluannya. Setelah tepat berada di bagian lubangnya, ia berbisik.”Tekan Win, biar kontol kamu masuk ke memek ibu,” bisiknya lirih di telingaku. Slessseeppp.. blleeesss. Tanpa banyak hambatan batang kontolku yang lumayan panjang dan besar seluruhnya masuk membenam. Mungkin karena lubang memek Bu Rum yang sudah kelewat longgar dan licin akibat banyaknya lendir yang keluar. Bagian dalam memek Bu Rum hangat dan basah. Dan tanpa ada yang memerintah, seperti semacam naluri, aku membuat gerakan naik turun pinggangku hingga kontolku sekan memompa lubang memek wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya begitu Win, terus entot sayang. Ah.. aahhh….aahhh.. kamu merasa enak juga kan,” Aku mengangguk dan tersenyum. Kulihat Bu Rum mulai mendesah-desah.Mungkin ia mulai merasakan enaknya sogokan kontolku. Dan bagiku,kenikmatan yang kurasakan juga tiada tara. Jauh lebih nikmat dibanding mengocok sendiri. Gesekan-gesekan batang kontolku pada dinding memeknya yang basah menghantarkan pada kenikmatan yang sulit kuucapkan. Aku terus mengaduk-aduk memeknya dengan kontolku. Mata Bu Rum membeliak-beliak dan meremasi sendiri teteknya. Melihat itu aku langsung menyosorkan mulutku untuk mengulum dan menghisapi salah satu putingnya. Pentil susunya yang berwarna coklat kehitaman terasa mengeras di bibirku.&lt;br /&gt;“Iya Win… terus hisap sayang… aahhh… aahhh,Kamu ternyata sudah pinter,” ujarnya terus mendesah.Makin lama kusogok dan kuaduk-aduk, lubang memek Bu Rum kurasakan makin basah. Rupanya semakin banyak lendir yang keluar. Bunyinya cepok…cepok… cepok… setiap kali batang kontolku masuk menyogok dan kutarik keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan ngentotin Bu Rum dengan posisi menindihnya, kuhentikan sogokanku pada memeknya. Pasti asyik dan tambah merangsang kalau bisa melihat memeknya yang tengah kusogok-sogok, pikirku membathin. Aku bangkit, turun dari ranjang. Dan tanpa meminta persetujuannya, kaki Bu Rum kutarik dan kuposisikan menjuntai di tepi ranjang. Tindakanku itu membuat Bu Rum agak kaget. Namun tidak marah dan bahkan sepertinya ia menunggu tindakan yang akan kulakukan selanjutnya. Namun setelah pahanya kembali kukangkangkan dan kontolku kembali kuarahkan ke lubang vaginanya, Bu Rum tersenyum. “Kamu pengin ngentot sambil ngelihatin memek ibu Win? Iya sayang, kamu boleh melakukan apa saja pada ibu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata menyetubuhi sambil berdiri dan melihat ketelanjangan lawan mainnya benar-benar lebih asyik. Lebih merangsang karena bisa melihat keluar masuknya kontol di lubang memek. Saat kontolku kutekan, bibir memeknya yang berkerut-kerut seperti ikut melesak masuk. Namun saat kutarik, seluruh bagian dalam memeknya seakan ikut keluar termasuk jengger ayamnya yang menggelambir. Pemandangan itu membuat aku kian terangsang dan kian bersemangat untuk memompanya. Teteknya juga ikut terguncang-guncang mengikuti hentakan yang kulakukan. Aku makin bernafsu dan makin cepat irama kocokan dan sodokan kontolku di liang sanggamanya. Bu Rum tak dapat menyembunyikan kenikmatan yang dirasakan. Ia merintih dan mendesah dengan mata membeliak-beliak menahan nikmat. Sesekali ia remasi sendiri susunya sambil mengerang-erang. Aku juga memperoleh nikmat yang sulit kulukiskan. Meski lubang memek Bu Rum sudah longgar tetapi tetap memberi kenikmatan tersendiri hingga pertahananku nyaris kembali jebol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sshhh … aahh… sshhh… aaakkhhh… memek ibu enak banget. Saya nggak kuat bu,” ujarku mendesahsambil terus memompanya.&lt;br /&gt;“Tahan sebentar Win. Aaahhh.. sshhh… kontolmu juga enak banget,”Bu Rum bangkit memeluk serta menarik pinggangku hingga tubuhku ambruk menindihnya. Kedua kakinya yang panjang langsung membelit pinggangku dan menekannya dengan kuat. Selanjutnya Bu Rum membuat gerakan memutar pada pinggul dan pantatnya. Memutar dan seperti mengayak. Akibatnya batang kontolku yang berada di kedalaman lubang memeknya serasa diperah. Kenikmatan yang kurasakan kian memuncak. Terlebih ketika dinding- dinding vaginanya tak hanya memerah tetapi juga mengempot dan menghisap. Kenikmatan yang diberikan benar-benar makin tak tertahan.”&lt;br /&gt;Ooohh… aahh… aahhh.. ssshhh… aakkhh enak banget. Saya …aaahhh nggak kuat Bu. Ohhh enakkkhhh bangeet,”&lt;br /&gt;“I..iiya Win, ibu juga mau nyampe. Tahan ya sebentar ya..aaahhh…sshhh.. sshhhh…aahhh….ssshh ….aaaoookkkh,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyangan pantat dan pinggul Bu Rum makin kencang. Dan puncaknya, ia memeluk erat tubuhku sambil mengangkat pinggangnya tinggi-tinggi. Saat itu, di antara rintihan dan erangannya yang makin menjadi kurasakan tubuhnya mengejang dan empotan memeknya pada kontolku kian memeras. Maka muncratlah spermaku di kehangatan lubang memeknya berbarengan dengan semburan hangat dari bagian paling dalam vagina guru mengaji ibuku.Karena kenikmatan yang aku dapatkan, cukup lama aku terkapar di ranjang Bu Rum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku terbangun, Bu Rum sudah menyiapkan segelas teh panas dan mengajakku menyantap lontong dan opor ayam bikinan ibuku. Kami menyantapnya dengan nikmat. Bahkan dua bungkus rokok kegemaranku telah tersedia di meja makan. Kata Bu Rum, ia menyempatkan membelinya di warung Lik Karni saat aku tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Bu Rum benar-benar melampiaskan hasratnya yang tertahan cukup lama. Sesudah makan aku diajaknya bergumul di karpet di ruang tengah di depan televisi lalu berlanjut di ranjang kamar tidurnya. Aku bak seorang murid baru yang cerdas dan cepat pintar menerima pelajaran. Ia mengaku sangat menikmati dan merasa puas oleh sogokan-sogokan kontolku di memeknya yang memiliki jengger ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu kira udah nggak bakalan merasakan enaknya yang seperti ini lagi. Karena sudah lima tahun lebih sejak bapak kena stroke tidak pernah mendapatkannya. Makanya terpaksa pakai pisang dan kadang kontol karet kalau lagi kepengen,” katanya sambil meremas gemas kontolku setelah persetubuhan yang keempat kalinya malam itu.Ternyata wanita yang selalu tampil bak muslimah yang taat itu, juga memiliki beberapa koleksi film porno. Ia sempat menyetel sejumlah koleksinya untuk ditonton bersamaku saat istirahat setelah ngentot yang ketiga di depan televisi. Namun yang mengejutkan, karena “nonton bareng” film porno aku jadi tahu kalau ibuku juga penggemar film porno.Itu terlontar secara tak disengaja oleh Bu Rum. Kata Bu Rum yang paling banyak dikoleksi adalah yang menggambarkan adegan incest atau hubungan seks antar anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Bu Rum memutar dua film. Film pertama menggambarkan adegan seks antara pria muda berkulit hitam dengan wanita tua kulit putih. Sang wanita kulit putih dibuat merintih dan mengerang karena sogokan kontol pria pasangannya yang perkasa. Bahkan akhirnya si wanita merelakan anusnya dijebol kontol panjang sang negro muda. Film kedua yang merupakan semi film cerita mengisahkan wanita STW yang bekerja di perusahaan penebangan hutan. Suaminya selalu pergi cukup lama dan hanya beberapa hari tinggal di rumah karena pekerjaannya itu.Si ibu yang sering merasa kesepian saat suaminya pergi, sering mengobel-ngobel sendiri memek dan itilnya saat hasrat seksnya datang.Ulah si ibu sering dipergoki secara diam-diam oleh pria remaja yang merupakan anak sulungnya. Maka di satu kesempatan, saat tengah bermasturbasi dan sang anak tak tahan menahan nafsu ia mendekati sang ibu. Keduanya larut dalam permainan panas di dapur, ranjang dan bahkan di kamar mandi tanpa peduli bahwa sebenarnya mereka pasangan ibu dan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pemutaran film yang kedua, kukatakan pada Bu Rum bahwa dibanding film yang pertama, adegan seks ibu dan anak yang paling bagus. Tetapi komentarku itu membuat Bu Rum keceplosan. Tanpa sadar ia menyebut bahwa film porno itu dipinjam dari Bu Narsih (nama ibuku). Saat itu ia berusaha meralat. Ia mungkin baru bahwa yang diajaknya bicara adalah aku anak Bu Narsih. Tetapi akhirnya Bu Rum tersenyum dan berterusterang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keinginan manusia akan seks kan manusiwai Win. Seperti ibu dan ibumu,meskipun sudah berumur tetapi kebutuhan akan itu masih belum padam,”kata Bu Rum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku memang sudah 3,5 tahun menjada setelah ayah meninggal akibat menderita diabetes cukup lama. Untuk menikah lagi mungkin malu karena cucunya sudah tiga yang diperoleh dari Mbak Ratri, kakak perempuanku.Bahkan salah satu cucunya sudah duduk di bangku SLTP. Maka ia memilih memendam hasratnya dan lebih menyibukkan diri pada usaha jual beli perhiasan berlian yang menjadi usahanya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bu Rum, koleksi film-film porno yang dimiliki ibuku cukup banyak. Koleksi film seksnya yang berthema hubungan seks sedarah tergolong lengkap. Bahkan Bu Rum mengaku, ia mengenal penis palsu dari karet yang dikenal dengan sebutan dildo juga dari ibuku. “Pergaulan ibumu kan luas terutama dengan ibu-ibu dari kalangan menengah atas. Mungkin dari ibu-ibu yang menjadi sasaran bisnisnya itu ia jadi mengenal banyak hal,” ujar Bu Rum menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sangat kaget, tetapi aku tidak mencoba memperlihatkannya di hadapan Bu Rum. Sebab sebagai anaknya aku tidak pernah melihat ibu nonton film porno atau barang-barang berbau seks yang dimilikinya. Di kamar tidur ibu memang ada televisi berukuran besar dan perangkat pemutar DVD. Tetapi kebanyakan film-filmnya adalah film hindustan karena ibu penggemar berat bintang Shah Ruk Khan. Berarti ia memiliki tempat penyimpanan khusus, ujarku membathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 03.00 dini hari, dengan tubuh lunglai aku meninggalkan rumah Bu Rum dengan mengendap agar tidak dipergoki warga lainnya. Ibuku membukakan pintu sambil menggerutu. Katanya mengganggu orang tidur.Tetapi wajahnya kulihat tidak seperti orang bangun tidur. Bahkan televisi di kamarnya terdengar masih menyala. Seperti kebiasaanya saat tidur ia selalu mengenakan daster longgar.Tetapi saat itu dasternya kelewat tipis hingga terlihat membayang lekuk-liku tubuhnya yang aduhai. Ternyata ia juga tidak memakai kutang dan celana dalam sampai-sampai kulihat tonjolan putingnya pada sepasang buah dadanya yang hampir sama besar dengan punya Bu Rum. Ah bisa jadi ibu bukannya tidur. Tetapi lagi asyik mengocok-ngocok memeknya dengan kontol karetnya sambil nonton adegan seorang ibu yang tengah ngentot sama anak lelakinya. Hanya karena terlalu kecapaian, aku langsung masuk kamar dan tidur&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-3158009279343845900?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/3158009279343845900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/dibalik-jilbab-wanita-khusus-edition.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/3158009279343845900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/3158009279343845900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/dibalik-jilbab-wanita-khusus-edition.html' title='Dibalik Jilbab Wanita (Khusus Edition)'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-5876968219255777586</id><published>2010-06-11T09:16:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T09:17:39.480-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Dengan Majikan Aku</title><content type='html'>Entah kenapa aku jadi menuliskan cerita ini. Cerita yang kupikir sangat sulit untuk kulupakan. Kejadiannya 2 tahun yang lalu. Saat itu aku memang masih gadis desa yang baru saja ke kota. Kota yang menjadi tujuanku adalah Cianjur. Kota yang memang belum terlalu berkembang, namun kupikir aku akan betah. Aku tak tentu tujuan, tapi akhirnya aku memilih menjadi seorang pembantu rumah tangga. Kudapatkan pekerjaan itu di sebuah rumah yang memang tidak terlalu besar. Majikanku itu memang sudah menikah dan punya anak. Ia berprofesi sebagai seorang guru olahraga di SD. Tapi mungkin karena rumah yang ditempati mereka bertiga kurang besar, ditambah lagi ibu majikanku itu sudah tua, maka istri dan anaknya yang masih kecil itu tinggal di rumah terpisah bersama ibu majikanku. Aku berhasil mendapat pekerjaan ini memang karena bagaimana pun seorang pria tentu sulit merawat rumah sendirian, karena istrinya itu memang jarang datang berkunjung (entah bagaimana kehidupan seks mereka itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya inilah awal perkenalanku:&lt;br /&gt;Aku melangkah masuk ke rumah itu. Bu Titin, mempersilakanku masuk. Ia tampaknya setuju jika aku bekerja di rumah suaminya itu. Setelah berbincang beberapa saat, suaminya pulang. Dan saat itulah aku melihat suami Bu Titin. Dia pun melihat ke arahku. Oh Tuhan, suaminya benar-benar tampan dan seksi. Mungkin karena ia adalah seorang guru olahraga. Pantas saja ia menjaga bentuk tubuhnya itu.&lt;br /&gt;"Tin, siapa dia? Pembantu buatku yang baru ya?"&lt;br /&gt;"Iya, Mas. Aku bingung cari-cari, eh akhirnya ketemu juga," kata Bu Titin.&lt;br /&gt;"Lastri, perkenalkan ini suamiku, Yayan."&lt;br /&gt;"Lastri Pak," kataku malu-malu.&lt;br /&gt;Aku benar-benar terpesona oleh penampilannya itu. Ditambah lagi saat itu dia seperti mandi keringat. Benar-benar bau kejantanannya membuatku bergairah.&lt;br /&gt;"Yayan," katanya sambil menjulurkan tangannya yang kekar itu padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, aku telah 2 minggu bekerja di rumah Mas Yayan. Aku benar-benar bahagia bisa menjadi pembantu Mas Yayan. Ia tipe pria idamanku. Aku pun merasa beruntung pula karena Bu Titin memang tidak pernah tinggal satu rumah bersama Mas Yayan seperti yang sudah kutuliskan tadi. Paling-paling hari Sabtu Bu Titin datang berkunjung dengan anaknya. Setelah itu pulang lagi. Jika Mas Yayan sudah berangkat, aku sering masuk ke kamarnya. Kuperhatikan selama ini, ia selalu memakai baju-baju ketat dan celana pendek yang super ketat yang sangat seksi menonjolkan otot-otot tubuhnya. Aku ingin tahu, apakah baju-baju seperti itu yang menjadi kegemarannya, soalnya setiap kali bajunya kucuci, aku cuma mencuci baju-baju seperti itu. Dan benarlah, semua jenis bajunya memang seperti itu. Kadang-kadang aku juga sering melihat album fotonya, dan ya ampun! ada sebuah album foto yang disimpannya di bawah tempat tidur. Album itu kutemukan tak sengaja waktu aku hendak mengganti sepreinya. Kurasa album itu dirahasiakan olehnya, soalnya foto-fotonya benar-benar super erotis. Bagaimana tidak, ia berpose bertelanjang bulat tanpa memakai pakaian sehelai pun di setiap foto-fotonya. Langsung saja gairahku memuncak melihatnya. Oh Mas Yayan, aku ingin sekali melihatmu bukan hanya di foto seperti ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali mencuci bajunya, aku tak langsung mencucinya. Kadang kudekap rapat-rapat baju dan celananya itu. Apalagi yang basah karena keringatnya. Oh benar-benar jantan. Lalu celana dalamnya pun sering kucium dan kujilati. Kadang jika beruntung, kutemukan bulu-bulu kemaluannya tertinggal di celana dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba suatu hari, datanglah keberuntunganku. Mas Yayan waktu itu pulang agak sore. Ia memakai kaos ketat berwarna putih yang benar-benar seksi ditambah celana street yang memperlihatkan pahanya yang kekar dan berbulu itu.&lt;br /&gt;"Darimana Mas?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Oh aku dari tempat fitness," katanya sambil masuk ke kamar tidurnya.&lt;br /&gt;"Ehm.. pantas aja Mas badannya sangat bagus," kataku malu-malu.&lt;br /&gt;Mas Yayan terdiam sejenak. Lantas ia memandangku.&lt;br /&gt;"Memangnya kamu senang melihat tubuhku ini?"&lt;br /&gt;"Ya tentu Mas. Sejak pertama kali kita kenalan, aku langsung mengagumi Mas," kataku mantap.&lt;br /&gt;"Kalau boleh aku tahu, bagian mana dari tubuhku yang kamu suka, Lastri?"&lt;br /&gt;"Aku suka lengan Mas yang kekar dan dada Mas yang bidang. Aku kadang suka jengah loh Mas kalau melihat Mas melepas pakaian Mas. Kadang aku ingin sekali menyentuhnya. Maaf Mas kalau aku lancang."&lt;br /&gt;Ia tersenyum, "Wah nggak nyangka, aku punya pengagum."&lt;br /&gt;"Mas kelihatannya lelah. Boleh aku pijetin?"&lt;br /&gt;"Boleh, kamu pijetin aku sambil nonton film asyik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun segera mengambil sebuah VCD dan menyalakan TV. Lalu ia memasangnya. Tak berapa lama, di layar muncul film erotis. Oh aku makin bergairah. Ia tersenyum lagi memandangku. "Ayo kamu naik ke tempat tidurku. Pijati badanku yang pegal-pegal ini." Aku benar-benar menikmati sensasi itu. Sambil tanganku memegang-megang tubuh pria yang selama ini jadi obsesiku, aku nonton film seperti itu. Terus terang aku baru pertama kali melihat film yang begituan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah film selesai, Mas Yayan mematikan televisi. Ia lantas berkata,&lt;br /&gt;"Kamu benar - benar cantik. Terus terang aku ingin sekali kita bisa seperti ini sejak kita ketemu."&lt;br /&gt;"Ah Mas bisa aja."&lt;br /&gt;Lantas Mas Yayan menarik kaos ketat yang membungkus rapat tubuhnya itu. Dan terlihatlah oleh mataku, tubuh seksi berotot dan berkeringat yang selama ini aku impikan.&lt;br /&gt;"Oh," desahku.&lt;br /&gt;"Gimana? Kalau mau pegang, pegang aja."&lt;br /&gt;Langsung saja kupegang lengan-lengannya yang kekar itu. Dadanya yang bidang dan perutnya yang seksi. Mataku langsung tertuju kepada puting susunya. Berbulu sangat lebat sekali, membuatku makin dan makin bergairah.&lt;br /&gt;"Ah.. ah.." katanya begitu kupegang dadanya itu.&lt;br /&gt;"Lastri, aku.. aku.. sudah lama tidak merasakan seperti ini bersama istriku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Yayan lalu menarikku ke depan tubuhnya, "Lepas bajumu!" katanya singkat. Lalu kutelanjangi diriku sepenuhnya. Kudengar decak kagumnya melihat tubuhku yang memang sintal dan aduhai ini. "Las, kamu.. kamu.." Ia langsung menjilati wajahku dan kami pun berciuman lama sekali. Bibirnya begitu seksi dan lidahnya pintar sekali bergoyang-goyang. Sesekali kumisnya yang cukup tebal itu menyentuh lidahku. "Las, jilati seluruh tubuhku yang berkeringat ini!" Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Langsung kujilati dadanya yang bidang itu. Puting susunya yang menjadi tujuan utamaku. Ah benar-benar nikmat rasanya. Lidahku mempermainkan putingnya itu. Kuhisap-hisap dan rasanya enak. Bulu-bulu putingnya itu kukulum berkali-kali hingga kudengar erangannya. Kujilat dan kujilat lagi hingga puas. Setelah itu kujilat bagian tubuhnya yang lain. Dari otot lengannya, ketiaknya yang juga penuh dengan bulu-bulu, perutnya, dan kuperosotkan celananya. Ternyata ia masih memakai celana dalam dan penisnya sudah tegang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak membuka celana dalamnya dulu. Biar kupanjangkan waktu yang menggairahkan ini. Kujilati pahanya, kakinya, hingga punggung dan pantatnya. Kujilati hingga tubuhnya benar-benar sudah terlumat oleh lidahku. Ia mengerang-ngerang tak kuat menahan gairah. Aku lalu menarik celana dalamnya keluar. "Las, kulum tititku ini!" desahnya tak teratur. Aku tidak terkejut, dugaanku selama ini benar. Batang kemaluannya itu panjang sekali. Mungkin mencapai 25 cm. Di sekelilingnya ditutupi bulu-bulu kemaluan yang rimbun sekali. Aku lantas menjilat-jilat kepalanya yang sudah keras sekali itu. Kumasukkan ke dalam mulutku dan kutarik keluar lagi. Begitu seirama dengan jari-jariku meraba puttng susunya. Ia benar-benar kegirangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup lama aku menikmati penisnya itu, ia pun orgasme. Spermanya sangat banyak sekali. Muncrat langsung ke wajahku. Tak kusia-siakan, kujilati semuanya dan kutelan habis. Ia lagi-lagi tersenyum padaku. Oh pria impianku. Tak berapa lama, ia lalu melumat habis seluruh tubuhku. Payudaraku dijamah dan diremas-remas oleh lengannya itu. Setelah puas menjilatinya, ia pun menjilati vaginaku yang masih perawan. Lalu adegan bersenggama pun dimulai. Penisnya masuk ke dalam vaginaku. Ah benar-benar nikmat. Darah keperawananku keluar. Itu telah menjadi miliknya. Ia benar-benar hebat. Kami mencoba berbagai cara hingga ia dan aku mencapai puncak orgasme berkali-kali. Kami terus dan terus melakukannya hingga tak sadar waktu sudah tengah malam. Kami benar-benar puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sejak hari itu, hampir setiap hari aku melakukannya dengan Mas Yayan. Aku tidak lagi tidur di kamar pembantu yang disediakan untukku. Aku selalu tidur di kamarnya, di sampingnya. Aku sadar tugasku sebagai pembantu adalah melayani kebutuhan Mas Yayan apapun yang dia inginkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-5876968219255777586?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/5876968219255777586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/dengan-majikan-aku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/5876968219255777586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/5876968219255777586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/dengan-majikan-aku.html' title='Dengan Majikan Aku'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-6518372198689499110</id><published>2010-06-11T09:14:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T09:15:05.788-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Pengalaman Swinger</title><content type='html'>Mungkin saya termasuk aneh atau punya kelainan. Bayangkan, sudah punya istri cantik masih merindukan wanita lain. Kurang ajarnya, wanita itu adalah kakak ipar sendiri. Kalau dibanding-bandingkan maka jelas istri saya memiliki beberapa kelebihan. Selain lebih muda, di mata saya lebih cantik dan manis. Postur tubuhnya lebih ramping dan berisi. Sedangkan kakak ipar saya yang sudah punya dua anak itu badannya sedikit gemuk, tetapi kulitnya lebih mulus. Entah apanya yang sering membuat saya membayangkan berhubungan intim dengan dia. Perasaan itu sudah muncul ketika saya masih berpacaran dengan adiknya. Semula saya mengira setelah menikah dan punya anak perasaan itu akan hilang sendiri. Ternyata lima tahun kemudian setelah punya anak berusia empat tahun, perasaan khusus terhadap kakak ipar saya tidak menghilang. Bahkan terasa tambah mendalam. Ketika menggauli istri saya seringkali tanpa sadar membayangkan yang saya sebadani adalah kakak ipar, dan biasanya saya akan mencapai puncak kenikmatan paling tinggi. Ketika bertemu saya sering secara sembunyi-sembunyi menikmati lekuk-lekuk tubuhnya. Mulai dari pinggulnya yang bulat besar hingga buah dadanya yang proporsional dengan bentuk tubuhnya. Sesekali saya sukses mencuri lihat paha atau belahan buah dadanya yang putih mulus. Jika sudah demikian maka jantung akan berdetak sangat kencang. Nafsu saya menjadi begitu bergelora.&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika saya mengintip saat dia mandi di rumah saya lewat lubang kunci pintu kamar mandi. Namun karena takut ketahuan istri dan orang lain, itu saya lakukan tanpa konsentrasi sehingga tidak puas. Keinginan untuk menikmati tubuh kakak ipar makin menguat. Namun saya masih menganggap itu hanya angan-angan karena rasanya mustahil dia mau suka rela berselingkuh dengan adik ipar sendiri. Namun entah kenapa di lubuk hati yang paling dalam saya punya keyakinan mimpi gila-gilaan itu akan kesampaian. Cuma saya belum tahu bagaimana cara mewujudkan. Kalau pun suatu waktu itu terjadi saya tidak ingin prosesnya terjadi melalui kekerasan atau paksaan. Saya ingin melakukan suka sama suka, penuh kerelaan dan kesadaran, serta saling menikmati. Mungkin setan telah menunjukkan jalannya ketika suatu hari istri saya bilang kakaknya ingin meminjam VCD porno. Kebetulan saya punya cukup banyak VCD yang saya koleksi sejak masih bujangan. Sebelum berhubungan intim saya dan istri biasa nonton VCD dulu untuk pemanasan meningkatkan gairah dan rangsangan. ''Kenapa kakakmu tiba-tiba pengin nonton VCD gituan ?'' tanya saya pada istri saya. ''Nggak tahu.'' ''Barangkali setelah sterilisasi nafsunya gede,'' komentar saya asal-asalan. Beberapa keping VCD pun saya pinjamkan. Ini salah satu jalan untuk mencapai mimpi saya. Tetapi harus sabar karena semua memerlukan proses dan waktu agak panjang. Setelah itu secara rutin kakak ipar saya meminjam VCD porno. Rata-rata seminggu sekali. ''Dia lihat sendiri atau sama suaminya ?'' tanya saya. ''Ya sama suaminya dong,'' jawab istri saya. ''Kamu cerita sama dia ya sebelum main kita nonton VCD biru ?'' ''Iya ...,'' jawab istri saya malu-malu. ''Wah rahasia kok diceritakan sama orang lain.'' ''Kan sama saudara sendiri nggak apa-apa.'' ''Eh ... kamu bilang sama dia, kapan-kapan kita nonton bareng yuk ...'' ''Maksudmu ?'' ''Ya dia dan suaminya nonton bareng sama kita.'' ''Huss ... malu ah ...'' ''Kenapa malu ? Toh kita sama-sama suami istri dan seks itu kan hal wajar dan normal ...'' Sampai di situ saya sengaja tidak memperpanjang pembicaraan.&lt;br /&gt;Saya hanya bisa menunggu sambil berharap mudah-mudahan saran itu benar-benar disampaikan kepada kakaknya. Sebulan setelah itu kakak ipar dan suaminya berkunjung ke rumah kami dan menginap. Istri saya mengatakan mereka memenuhi saran saya untuk nonton VCD porno bersama-sama. Diam-diam saya bersorak dalam hati. Satu langkah maju telah terjadi. Namun saya mengingatkan diri sendiri, harus tetap sabar dan berhati-hati. Kalau tidak maka rencana bisa buyar. Malam itu setelah anak-anak tidur kami nonton VCD porno bersama-sama. Saya lihat pada adegan-adegan yang hot kakak ipar tampak terpesona. Tanpa sadar dia mendekati suaminya. Beberapa VCD telah diputar. Tampak nafsu mereka sudah tak terkendali. Saling mengelus dan meremas. Istri saya juga demikian. Sejak tadi tangannya sudah menelusup di balik sarung saya memegangi senjata kebanggaan saya. ''Mbak silakan pakai kamar belakang,'' kata saya kepada kakak ipar setelah melihat mereka kelihatan tak bisa menahan diri lagi. Tanpa berkata sepatah pun kakak ipar menarik tangan suaminya masuk kamar yang saya tunjukkan. ''Sekarang kita gimana ?'' tanya saya menggoda istri saya. ''Ya main dong ...'' Kami berdua segera masuk kamar satunya lagi. Anak-anak kami kebetulan tidur di lantai dua sehingga suara-suara birahi kami tak akan mengganggu tidur mereka. Ketika saya berpacu dengan istri saya, di kamar belakang kakak ipar dan suaminya juga melakukan hal serupa. Jeritan dan erangan kenikmatan wanita yang diam-diam saya rindukan itu kedengaran sampai telinga saya. Saya pun jadi makin terangsang. Malam itu istri saya kembali saya bayangkan sebagai kakak ipar. Saya bikin dia orgasme berkali-kali dalam permainan seks yang panjang dan melelahkan tetapi sangat menyenangkan. Selanjutnya kegiatan bersama itu kami lakukan rutin, minimal seminggu sekali. Sesekali di rumah kakak ipar sebagai variasi. Dua keluarga tampak rukun, meski diam-diam saya menyimpan suatu keinginan lain.&lt;br /&gt;Saat anak-anak liburan sekolah saya mengusulkan wisata bersama ke daerah pegunungan. Istri saya, kakak ipar dan suaminya setuju. Tak lupa saya membawa beberapa VCD porno baru pinjaman teman serta playernya. Setelah seharian bermain kesana-kemari anak-anak kelelahan sehingga mereka cepat tertidur. Apalagi udaranya dingin. Sedangkan kami orang tua menghabiskan malam untuk mengobrol tentang banyak hal. ''Eh ... dingin-dingin begini enaknya nonton lagi yuk,'' kata saya. ''Nonton apa ?'' tanya suami kakak ipar. ''Biasa. VCD gituan. Kebetulan saya punya beberapa VCD baru.'' Mereka setuju. Kemudian kami berkumpul di kamar saya, sedangkan anak-anak ditidurkan di kamar kakak ipar yang bersebelahan. Jadilah di tengah udara dingin kami memanaskan diri dengan melihat adegan-adegan persetubuhan yang panas beserta segala variasinya. Sampai pada keping ketiga tampak kakak ipar sudah tak tahan lagi. Dia merapat ke suaminya, berciuman. Istri saya terpengaruh. Wanita itu mulai meraba-raba selangkangan saya. Senjata kebanggaan saya sudah mengeras. ''Ayo kita pindah ....'' bisik istri saya. ''Husss .. pindah kemana. Di sebelah ada anak-anak. Di sini saja.'' Akhirnya kami bergulat di sofa. Tak risih meski di tempat tidur tidak jauh dari kami kakak ipar dan suaminya juga melakukan hal serupa. Bahkan mereka tampak sangat bergairah. Pakaian kakak ipar sudah tak karuan lagi. Saya bisa melirik paha dan perutnya putih mulus. Mereka berpagutan dengan ganas sehingga sprei tempat tidur juga awut-awutan. Istri saya duduk mengangkangkan paha. Saya tahu, ia minta dioral.&lt;br /&gt;Mulut dan lidah saya pun mulai mempermainkan perangkat kelaminnya tanpa melepas celana dalam. ''Ohhhh ... terus .. enakkkkkk, Mas ....'' lenguh istri saya merasa sangat nikmat. Sementara itu ekor mata saya melirik aksi kakak ipar dan suaminya yang berkebalikan dengan saya dan istri. Kakak ipar tampak amat bergairah mengaraoke penis suaminya. Saya pun melanjutkan menggarap vagina dan wilayah sekitarnya milik istri saya. Lidah saya makin dalam mempermainkan lubang, mengisap-isap, dan sesekali menggigit klitoris. ''Ooh ... ahhhhh .... ahhhh ........'' istri saya mengerang keras tanpa merasa malu meski di dekatnya ada kakak kandungnya yang juga sedang bergulat dengan suaminya. Satu demi satu saya lepas pakaiannya yang menghalangi. Pertama celana dalamnya, lalu rok bawahnya. Lenguhan istri saya bersahut-sahutan dengan erangan suami kakak ipar. Beberapa saat kemudian posisi berubah. Istri saya gantian mengulum penis saya, sedangkan suami kakak ipar mulai menggarap kelamin istrinya. Erangan saya pun berlomba dengan erangan kakak ipar. Setengah jam kemudian saya mulai menusuk istri saya. Tak lama disusul suami kakak ipar yang melakukan hal serupa terhadap istrinya. Lenguhan dua perempuan kakak beradik yang dilanda kenikmatan terdengar bergantian. ''Mas, batangmu enakkk sekali ....''' bisik istri saya. ''Lubangmu juga enak,'' jawabku. Sembari menaikturunkan pinggul tanganku meremas-remas payudara istri saya yang meski tidak terlalu besar tetapi padat dan tampak merangsang. Setelah beberapa saat bertahan dalam posisi konvensional, lalu saya memutar tubuh istri saya dan menyetubuhi dari belakang. Saya melirik ke tempat tidur. Posisi kakak ipar berada di atas suaminya. Teriakan dan gerakan naik turunnya sangat merangsang saya untuk merasakan betapa enaknya menyetubuhi kakak ipar. Namun saya harus menunggu saat yang tepat.&lt;br /&gt;Kira-kira ketika istri saya, kakak ipar dan suaminya sudah berada di dekat puncak kenikmatannya, sehingga kesadarannya agak berkurang. Sambil menggenjot istri saya dari belakang saya terus melirik mereka berdua. Entah sudah berapa kali istri saya mencapai puncaknya, saya sudah tak begitu memperhatikan lagi. ''Ayo kita ke tempat tidur,'' bisik saya pada istri saya. ''Kan dipakai .... '' Saya segera menggendong tubuhnya, lalu menelentangkan di tempat tidur di samping kakaknya yang sedang digarap suaminya. Mula-mula keduanya agak kaget atas kehadiran kami. Tetapi kemudian kami mulai asyik dengan pasangan masing-masing. Tak perduli dan tak malu. Malah suara-suara erotis di sebelah kami makin meningkatkan gairah seksual. Di tengah-tengah nafsu yang menggelora saya menggamit suami kakak ipar saya. Dia menoleh sambil menyeringai menahan nikmat. ''Ssst ... kita tukar ....'' ''Hhhh .... '' dia terbengong tak paham. Lalu saya mengambil keputusan. Penis saya cabut dari vagina istri saya, kemudian bergeser mendekati kakak ipar saya yang masih merem-melek menikmati tusukan suaminya. ''Mas sama istri saya, saya gantian dengan Mbak ...,'' kata saya. Tanpa memedulikan kebengongannya saya langsung memeluk tibuh mulus kakak ipar yang sudah sekian lama saya rindukan. Saya ciumi lehernya, pipinya, bibirnya, dan saya kulum puting susunya yang mengeras. Mula-mula kakak ipar saya kaget dan hendak memberontak. Tapi mulutnya segera saya tutup dengan bibir saya. Kemudian penis saya masukkan pelan-pelan ke vaginanya yang telah basah kuyup.&lt;br /&gt;Setelah itu saya melakukan gerakan memompa naik-turun sambil sesekali memutar. Ternyata vaginanya masih sangat enak. Untuk menambah gairah kedua payudaranya saya remas dan sesekali saya gigit putingnya. ''Ohhh .... ahhhh ..... hhhhh ... shhhh ....,'' suaranya mulai tak karuan menahan gempuran hebat saya. Di samping saya, suami kakak ipar saya tampaknya juga tak mau kehilangan waktu percuma. Dia pun menyetubuhi istri saya dengan penuh semangat. Tak ada keraguan lagi. Yang ada hanya bagaimana menuntaskan nafsu yang sudah memuncak di ubun-ubun. Saya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Impian menggauli kakak ipar kesampaian sudah. Hampir satu jam kami bertempur dengan berbagai gaya. Mulai konvensional, miring, hingga menungging. Suami kakak ipar saya lebih dulu menyelesaikan permainannya. Beberapa menit kemudian saya menyusul dengan menyemprotkan begitu banyak sperma ke dalam vagina kakak ipar saya. Rasanya belum pernah saya mengeluarkan begitu banyak sperma sebagaimana malam itu. Kakak ipar pun tampak melenguh puas. Vaginanya menjempit penis saya cukup lama. Setelah peristiwa malam itu, kami menjadi terbiasa mengadakan hubungan seks bersama-sama dan bisa ditebak akhirnya kami bergantian pasangan secara sukarela. Tak ada paksaan sama sekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-6518372198689499110?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/6518372198689499110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/pengalaman-swinger.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/6518372198689499110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/6518372198689499110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/pengalaman-swinger.html' title='Pengalaman Swinger'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-6014305363301884375</id><published>2010-06-11T09:13:00.001-07:00</published><updated>2010-06-11T09:13:58.329-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Ibu Kost Kekasihku</title><content type='html'>Saya ingin menceritakan pengalaman saya waktu masih kuliah semester lima di Bandung sekitar 4 tahun yang lalu....&lt;br /&gt;nama saya sebut saja Yandi dan berasal dari Banjarmasin an waktu itu saya kost didekat daerah dago.&lt;br /&gt;Tempat kostnya lumayan bagus dan ibu kos saya waktu itu berumur sekitar 28 tahun. suaminya sudah meninggal karena kecelakaan lalu linta dan dia belum sempat dikarunia anak..... untuk membiayai kehidupan sehari - hari dia bekerja di bank swasta di bandung....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya saya kost di daerah Cihampelas dan karena ribut dengan salah satu anak kos,saya coba cari tempat kos lain. Rumah kos baru ini saya ketahui ariu salah seorang teman yang masih sodara sepupu ibu kos saya. waktu pertama kali saya datang ketempat kos,ibu kos saya (sebut saja namanya Icha)agak ragu-ragu karena dia sebenarnya berencana untuk menerima wanita. maklum dia hanya tinggal sendiri ditemani seorang pembantu. untung akhirnya Mba icha mau menerima saya karena tahu saya adalah teman baik sodara sepupunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran,mba icha tingginya 165 cm,dengan wajah yang cantik. kulitnya putih dan badanya juga sangat seksi dengan ukuran payudara yang lebih besar dari wanita indonesia pada umumnya. belum lama saya tinggal disana saya mulai tahu kalau mbak icha dibalik penampilan luarnya yang cukup alim,ternyata mempunyai libido seks yang cukup tinggi. Waktu itu saya sedang dirumah sendiri dan saya suruh pembantu untuk membelikan makanan diluar,saya iseng dan masuk kekamarnya dan membuka lemari pakaiannya,di lacinya,dibwah tumpukan pakaian dalamnya ternyata terdapat 2 buah vibrator yang mungkin sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.Mbak Icha juga mempunyai beberapa pakaian dalam dan baju tidur yang sangat seksi.Hal ini sebenarnya sudah saya ketahui dengan memperhatikan pakaian-pakaian dalamn ya bila dijemur di halaman belakang rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirumah pun mba icha cukup bebas,dia hampir tidak pernah menggunakan bra bila dirumah walaupun dia tahu saya ada di dirumah. di balik baju kaos ketat atau baju tidur yang dikenakannya seringkali putingnya terlihat menonjol dan saya sendiri kadang kadang risih untuk melihatnya. kalau keluar kamar mandipun mba icha biasanya hanya mengenakan handuk yang tidak terlalu besar dan dililitkan di badannya sehingga kemontokan buah dadanya dan kemulusan pahanya terlihat jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi waktu saya sedang sarapan mbak icha masuk keruangan makan sehabis melakukan senam aerobik dihalaman belakang. dia mengenakan baju senam berwarna merah muda dengan bahan yang cukup tipis tanpa lapisan dalam lagi. Karena bajunya basah oleh keringat,waktu dia masuk saya cukup kaget,karena buah dada dan putingnya terlihat jelas sekali dibalik baju senamnya. Saya yakin dia sadar akan hal itu dan sengaja mengenakan baju senam itu untuk menggoda saya. waktu saya menoleh kedadanya,mbak icha langsung bertanya " hayo,lihat apa kamu??" saya sendiri hanya tersenyum dan berkata,"Ngga lihat apa - apa kok,lagian mba pakai baju kok transparan betul sih?". Mbak icha balik bertanya"memangnya kamu gak suka lihat yang begini?". "Ya saya suka dong mba namanya juga laki-laki". waktu itu saya malu sekali dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke hal yang lainnya,tetapi sepanjang sarapan harus diakui klw saya berkali-kali mencoba untuk mencuri pandang ke arah dadanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya ketika saya sedang menonton TV di ruang depan mbak icha menghampiri saya dengan menggunakan baju tidurnya yang berwarna putih.dia ikut menonton TV, dan selang beberapa lama dia berkata kepada saya,"Yan,aku pegal-pegal semua nih badannya,mungkin karena aerobik tadi pagi,bantu pijitin mbak yah?". Dengan spontan saya berkata "boleh mbak,dimana??","ke kamar mbak aja deh",katanya. Sebenarnya saya sudah menunggu kesempatan ini sejak lama,tetapi memang karena saya pemalu, saya tidak pernah berani coba-coba mengutarakan hal ini ke Mbak icha. Saya mengikuti mbak icha kekamarnya dan dia menyuruh saya duduk ditempat tidurnya.mbak icha kemudian mengambil baby oil dari laci sebelah tempat tidurnya dan memberikan kesaya.Saya bilank klw bajunya nanti kotor klw pake baby oil,tujuan saya sebenarnya adalah supaya mba icha mau melepaskan baju tidurnya.Mba icha langsung mengangkat baju tidurnya dihadapan saya,dan yang mengejutkan,dia hanya mengenakan celana dalam G-String berwarna putih yang tidak cukup untuk menutupi bulu kemaluannya yang lebat. Di kiri kanan celananya masih tampak bulu kemaluannya,tubuhnya inda sekali,payudaranya besar dan bentuk yang indah dan puting berwarna coklat kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana Yan,menurut kamu badanku bagus?"&lt;br /&gt;sayapun mengangguk sambil menelan ludah.Baru pertama kali ini saya melihat tubuh wanita dalam keadaan yang hampir telanjang bulat. biasanya saya hanya melihat di film(waktu itu belum ada internet seperti sekarang). mba icha kemudian merebahkan badannya dan saya mulai memijitnya dari belakana setelah terlebih dahulu mengoleskan baby oil. Luar biasa,kulitnya mulus sekali dan sekujur tubuhnya ditumbuhi oleh bulu - bulu halus yang menambah keseksiannya. Pada waktu saya memijit kaki dan pahanya,mba icha membuka kakinya lebih lebar,dan saya dapat melihat kemalluannya yang tercetak jelas pada celana dalamnya yang kecil itu.Belum lagu bulu kemaluannya yang keluar menambah indah pemandangan itu. saya terus memijit paha bagian dalamnya dan saya sengaja untuk tidak sampai keselangkannya agar dia terangsang secara perlahan-lahan.Mba icha mengeluarkan lenguhan-lenguhan lembut dan saya tahu dia menikmati pijitan saya.kakinya juga dibuka lebih lebar dan mengharapkan tangan saya menyentuh kemaluannya,tetap saja saya sengaja untuk tidak menyentuh kemaluannya.Dari kemaluannya sudah mulai keluar sedikit cairan yang membasahi celana dalamnya,saya tau dia klw dia sudah terangsang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya minta mba icha membalikkan badannya,dia langusng menurut dan saya usapkan baby oil di dada dan perutnya.Payudaranya cukup kenyal dan waktu saya memainkan jari-jari saya diputingnya dia menutup matanya dan terlihat benar-benar menikmati apa yang saya lakukan.Kemudian mbak icha bangun dan meminta saya membuka pakaian saya. dia berkata klw dia sudah benar-benar terangsang dan sejak kematian suaminya dia tidak pernah tidur dengan seorang priapun.Aku minta mbak icha yang melucuti pakaianku,dengan cepat mbak icha membuka baju kaos yang aku kenakan dan kemudian celana pendek dan celana dalamku."Kamu juga sudah terangsang yah Yan?". "ia dong mbak,dari tadi juga sudah berdiri begin",kataku sambil tertawa.Mbak icha pun kemudian memegang kemaluanku dan mulai melakukan oral seks kepadaku.Terus terang itu adalah hal pertama kali seorang perempuan melakukan hal itu kepada saya.waktu SMA saya pernah punya pacar tapi tidak pernah melakukan hal-hal sejauh itu,paling-paling juga kami hanya gandengan tangan dan berciuman.mbak icha ternyata ahli sekali dan saya merakan kenikmatan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa lama kemudian,mbak icha melepaskan celana dalamnya dan menyuruhku tiduran di ranjang dan dia naik diatasku. kakinya dibuka lebar di atas kepalaku sambil llidahnya menjilati kemaluanku. pinggulnya diturunkan dan kemaluannya hanya beberapa senti diatas mukaku.Sungguh pemandangan yang sangat indah,langsung saja aku menjilati kemaluan dan clitorisnya dari bawah.ternyata rasanya tidak jijik seperti yang aku bayangkan sebelumnya.cairannya sedikit asin dan tidak berbau,aku tahu kalau dari kesehariannya yang resik,mbak icha pasti juga rajin menjaga kebersihan kemaluannya.&lt;br /&gt;Aku terus menjilati kemaluannya dan mulai memeberanikan diri menjilati bagian dalamnya dengan membuka kemaluannya dengan jariku lebih lebar.Mbak icha sangat menikmati dan dia juga menjilati kemaluanku dengan lebih ganas lagi. Kemudian dia bangun dan memintaku memasukkan kemaluanku kedalam vaginyanya."ayo dong yan,aku sudah tidak tahan lagi nih". aku bilank kalau aku belum pernah melakukan hal ini dan mbak icha berkata"Kamu tiduran aja,nanti mba yang ajarin kamu." Kemudian mbak icha duduk diatas ku dan dengan perlahan memasukkan kemaluanku.Rasanya nikmat sekali dan mbak icha mulai menggoyangkan pinggulnya.aku memejamkan mataku dan berpikir kalau beginilah rasanya berhubungan dengan wanita. kalau sebelumnya hanya imajinasi semata,sekarang aku merasakan bagaimana nikmatinya berhubungan dengan wanita secantik mbak icha.&lt;br /&gt;Malam itu kami berhubungan badan dua kali,setelah kami selesai yang pertama,mbak icha mengajak saya mandi dan kemudian mengganti seprei dengan yang baru karena kotor oleh keringat dan baby oil yang digunakan tadi.kemudian kita lanjut lagi dan saya mencoba gaya-gaya lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian malam itu,mbak icha sering mengajak saya tidur dikamarnya dan hubungan seks diantara kami menjadi hal yang rutin kami lakukan.Mbak icha juga mengajak saya melakukannya diseluruh bagian rumah,dari ruang tamu sampai halaman belakang.biasanya bila melakukan di luar kamar, kami melakukannya malam hari setelah pembantu tidur.Pernah sekali pembantu rumah tangga memergoki kami diruang tengah waktu dia mau mengambil minuman di dapur. cepat cepat dia memalingkan mukanya dan balik kekamarnya. setelah itu dia tidak pernah keluar malam-malam dan itu lebih membuat kami lebih bebas melakukkanya di rumah.Sewaktu pembantu mudik pada saat lebaran kami menghabiskan waktu dirumah tanpa mengenakan pakaian selembarpun.Mbak icha yang mengusulkan hal itu dan begitu sampai rumah mbak icha langsung melucuti semua pakaian yang dikenakannya sepulang dari kantor...&lt;br /&gt;saya juuga mulai sering pergi dengan mbak icha dan waktu itu hubungan kami sudah layaknya seperti orang pacaran. diapun sudah tidak mau disapa dengan mbak,dan dia minta saya memanggilnya dengan nama depannya sendiri.Dia juga tidak mau lagi menerima uang kos dari saya dan uang kiriman dari orang tua dapat saya gunakan untuk bepergian dengan dia.satu hal yang ingin saya ceritakan,dia jarang sekali mengenakan celana dalam bila pergi keluar rumah,kecuali kalau kekantor.Pernah juga beberapa kali saya minta dia ke kantor dengan tidak mengenakan celana dalam dibalik roknya,dan dia menuruti,kalau saja karyawan laki-laki di bank tempat dia bekerja tahu kalau dibalik roknya yang lumayan pendek itu tidak ada apa-apanya lagi...Kalau bra,biasanya dia kenakkan bila tidak akan terlihat jelas dan di risih bila banyak lelaki memandang ke arah dadanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUbungan kami masih berlangsung sampai sekarang walaupun orang tuaku tidak menyetujui karena usianya yang jauh lebih tua dan statunya yang janda.Saya sekarang bekerja di Banjarmasin dan bila akhir pekan saya selalu menghabiskan waktu saya di bandung.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;muuf klw cerita ini sangat standar dan tidak membuat para pembaca berdiri,,&lt;br /&gt;harap dimaklumi karena masih newbiee....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-6014305363301884375?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/6014305363301884375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/ibu-kost-kekasihku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/6014305363301884375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/6014305363301884375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/ibu-kost-kekasihku.html' title='Ibu Kost Kekasihku'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-3507145145197379852</id><published>2010-06-11T09:09:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T09:11:42.330-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Kepuasan Dalam Perselingkuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TBJgAGJbLLI/AAAAAAAAAJY/pYijTcJFS4s/s1600/c2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TBJgAGJbLLI/AAAAAAAAAJY/pYijTcJFS4s/s320/c2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481549251229723826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Awalnya aku hanya iseng mengobrol mengisi waktu luang di waktu jam istirahat, Namun lama-kelamaan Dewi salah satu staffku yang agak manis malah penasaran dan bertanya lebih jauh tentang orgasme. Ya sebuah misteri yang kelihatannya mudah namun susah diungkapkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Memang banyak sekali wanita yang belum sadar akan arti pentingnya sebuah orgasme, bahkan menurut penelitian hanya 30% wanita yang dapat meraih orgasme, banyak hal-hal yang mempengaruhi wanita dalam meraih orgasme, baik dari faktor si wanitanya ataupun dari faktor prianya atau bahkan dari suasana, perasaan, dll. Termasuk Dewi salah satu staffku ini, selama menikah 2 tahun lalu, dia belum tahu apa itu orgasme, yang dia tahu hanya rasa enak saat penis suaminya memasuki kewanitaannya, Dan berakhir saat penis suaminya menyemprotkan cairan hangat kedalam kewanitaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritanya, lalu aku korek lebih jauh tentang perasaan, foreplay, gaya, waktu, dan lain-lain tentang hubungannya dengan suaminya, Dengan malu-malu Dewi pun menceritakan dengan jujur bahwa selama ini memang dia sendiri penasaran dengan apa yang namanya orgasme namun dia tak tahu harus bagaimana, yang jelas saat berhubungan dengan suaminya dia cukup foreplay, bahkan suaminya senang mengoral kewanitaannya sampai banjir, dan selama penis suaminya masuk sama sekali tidak ada rasa sakit, yang ada hanya enak saja namun tidak bertepi, rasanya menggantung tidak ada ujung, dan tahu-tahu sudah berakhir dengan keluarnya sperma suaminya ke dalam kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kira-kira berapa lama penis suami kamu bertahan dalam kewanitaan kamu?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Mungkin sekitar 10 menit" jawabnya pasti.&lt;br /&gt;"Gaya apa yang dipakai suami kamu?"&lt;br /&gt;"Macam-macam, Pak, malah sampai menungging segala"&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya yang polos.&lt;br /&gt;"Kira-kira berapa besar penis suami kamu?"&lt;br /&gt;"Berapa ya?, saya tidak tahu Pak!" jawabnya bingung.&lt;br /&gt;Akupun jadi bingung dengan jawabannya, tapi aku ada tidak kekurangan akal.&lt;br /&gt;"Waktu kamu genggam punya suami kamu pakai tangan, masih ada lebihnya tidak?"&lt;br /&gt;Dewi diam sejenak, mungkin sedang mengingat-ingat.&lt;br /&gt;"Kayanya masih ada lebih, pas kepalanya, Pak!"&lt;br /&gt;Aku tak dapat menahan senyumku.&lt;br /&gt;"Maksud kamu, 'helm'nya masih nongol?"&lt;br /&gt;"Ya!" Dewipun tersenyum juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suruh tangannya menggenggam, aku pandangi secara seksama tangannya yang sedang mengepal, yang berada dalam genggamanku, sungguh halus sekali, Namun aku sadar bahwa aku ditempat umum.&lt;br /&gt;"Aku perkirakan penis suami kamu berukuran 10-14 cm, berarti masih normal, Wi!"&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan kekerasannya?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;"Keras sekali, Pak, seperti batu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sejenak mencoba berfikir tentang penghambatnya meraih orgasme, sebab dari pembicaraan tadi sepertinya tidak ada masalah dalam kehidupan seksnya, tapi kenapa Dewi tidak bisa meraih orgasmenya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok diam Pak?"&lt;br /&gt;"Aku lagi mikir penyebabnya."&lt;br /&gt;"Apa mungkin masalah lamanya, Pak? Sebab sepertinya saya sedikit lagi mau mencapai ujung rasa enak, tapi suami saya keburu keluar" terangnya.&lt;br /&gt;Aku diam sejenak, mencoba mencerna kata-katanya, tapi tak lama Dewi sendiri membantahnya.&lt;br /&gt;"Tapi, tidak mungkin kali, Pak, sebab biarpun kadang lebih lama dari sepuluh menit, tapi tetap saya merasa hampir di ujung terus, tanpa pernah terselesaikan."&lt;br /&gt;Aku sedikit mengerti maksudnya,&lt;br /&gt;"Maksud kamu, kalau 10 menit kamu maunya semenit lagi? Namun kalau 12 menit atau 15 menit pun kamu maunya tetap semenit lagi?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Ya, betul, kenapa ya Pak?"&lt;br /&gt;Aku kini mulai mengerti posisi sebenarnya, kemungkinan besar ada titik dalam vaginanya yang belum tersentuh secara maksimal, Itu kesimpulan sementara, Namun aku belum sempat mengucapkan apa-apa, keburu jam istirahat kerja habis.&lt;br /&gt;"Ya udah Wi, nanti kita terusin via SMS, oke?"&lt;br /&gt;"Oke deh!" sahutnya riang sambil meninggalkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di meja kerjaku, aku kembali memikirkan benar-benar masalah yang Dewi hadapi, sebenarnya ada niat untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, karena setelah aku pikir-pikir Dewi punya kelebihan di Buah dada dan pantatnya yang besar juga kulitnya yang bersih dengan bulu-bulu halus, Namun Dewi akrab dengan istriku, dan aku sendiri kenal sudah lama dengannya dan suaminya, ini yang jadi masalah, Lama aku berfikir, akhirnya aku putuskan untuk mencoba menolongnya semampuku tanpa mengharapkan apapun darinya, Aku yakin aku bisa membantunya berbekal pada pengalamanku selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kirim SMS kepadanya, "Wi, Sepertinya masalah kamu agak kompleks, Kalau sempat, bisa tidak nanti pulang kerja kita cari tempat yg enak utk mengobrol?"&lt;br /&gt;5 menit aku tunggu belum ada jawaban juga, Aku jadi tegang sendiri, jangan-jangan dia marah, karena aku dianggap kurang ajar, Tapi untunglah tak lama HPku bergetar 2x pertanda SMS masuk, Aku langsung lihat pengirimnya Dewi, aku baca isinya.&lt;br /&gt;"Boleh, tapi jangan di tempat sepi ya.., kata nenek itu berbahaya"&lt;br /&gt;Aku tersenyum membaca balasannya yang sedikit bergurau, lalu aku balas kembali,&lt;br /&gt;"Wi, jangan salah tangkap ajakanku ya.. aku cuma tidak enak saja kalau kita terlalu mencolok, karena kamu istri orang &amp;amp; aku suami orang juga"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata Pukul 5 sore kami janjian ketemu di sebuah rumah makan yang nyaman di daerah Jakarta timur, Suasana rumah makan yang agak temaram menambah rileks obrolan kami, Sambil makan kami melanjutkan obrolan kami yang tadi siang, Aku utarakan kesimpulan sementaraku bahwa ada kurang sentuhan di area vaginanya, aku sarankan agar nanti malam mencari titik tersebut dan jika sudah ketemu aku suruh Dewi meminta kepada suaminya untuk menekan lebih kuat saat hubungan intim, Dewi mengangguk mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut Bapak, apakah body saya cukup bagus?"&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Dewi bertanya seperti itu. Aku kaget mendengarnya, berarti kemungkinan Dewi kurang percaya diri dengan tubuhnya, dan menurut yang aku tahu ini sangat berbahaya untuk meraih orgasme.&lt;br /&gt;"Wi, dalam sebuah hubungan intim, Jangan merasa body kamu jelek atau vagina kamu tidak wangi atau buah dada kamu jelek atau apa saja yang menurut kamu negatif, itu faktor yang sangat penting dalam meraih orgasme, Ingat Wi, kalau tubuh kamu tidak bagus kan tidak mungkin suami kamu mau mencumbu kamu, dan mau berhubungan dengan kamu!"&lt;br /&gt;"Justru kamu harus berfikir bahwa wajah dan tubuh kamu sangat bagus, buktinya suami kamu minta melulu, kan?"&lt;br /&gt;"Tapi, saya tidak nyaman dengan perut saya yang tidak ramping"&lt;br /&gt;"Wi, yang lebih gendut dari kamu banyak, ingat itu, lagian menurutku perut kamu tidak terlalu gendut, Biasa saja!" jawabku tegas.&lt;br /&gt;"Pokoknya malam ini, kamu coba untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri kamu, dan saat ada sentuhan nikmat yang kamu bilang tidak berujung, suruh suami kamu menekannya lebih kuat, itu saja dulu, besok aku tunggu kabarnya!"&lt;br /&gt;Aku jadi terkesan menyuruh, mungkin karena dikantor Dewi bawahanku, sehingga menjadi kebiasaan. Karena waktu sudah menunjukan jam 19.00 kami pun pulang ke rumah masing-masing, aku antar Dewi sampai tempat dia biasa menunggu angkot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, Aku baru saja ngopi dan HP baru aku aktifkan, Sudah ada pesan dari Dewi, bunyinya singkat, "Belum berhasil, Pak!".&lt;br /&gt;Aku lihat dikirim jam 23.10 malam, berarti kemungkinan Dewi mengirimnya saat baru selesai berhubungan dengan suaminya.&lt;br /&gt;Sampai dikantor aku baru membalas SMSnya.&lt;br /&gt;"Memang kenapa?"&lt;br /&gt;Tak lama Dewi pun membalasnya.&lt;br /&gt;"Tidak tahu kenapa, apa nanti sore kita bisa ketemu lagi, Pak?, saya merasa nyaman mengobrol dengan Bapak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berfikir tentang arti pesannya, Apakah dia mengajakku selingkuh? Atau hanya perasaanku saja? Atau memang dia hanya ingin mengobrol saja? Sebagai lelaki jelas aku tidak mungkin menampiknya, Sorenya kami janjian di tempat yang kemaren, dan ungkapan Dewi yang jujur sangat mengagetkanku.&lt;br /&gt;"Pak, terus terang, keinginan saya untuk meriah orgasme jadi tambah kuat, tapi herannya malah saya inginnya dari Bapak, Entahlah saya yakin sekali saya bisa meraihnya bersama Bapak"&lt;br /&gt;Jantungku terasa berhenti berdetak mendengarnya, belum selesai aku menenangkan pikiranku, Dewi kembali melanjutkan pembicaraannya.&lt;br /&gt;"Tapi bukan berarti saya ingin berhubungan dengan Bapak lho, saya hanya ingin tahu kenapa perasaan saya begini?"&lt;br /&gt;Aku hanya diam, namun aku mengambil kesimpulan dalam hati bahwa kemungkinan Dewi terkesan dengan aku karena aku atasannya, bisa saja dia tanpa sadar kagum dengan cara kerjaku, atau apalah yang berhubungan dengan pekerjaan, Karena kalau secara fisik tidak mungkin, jauh lebih ganteng dan atletis suaminya dari pada aku.&lt;br /&gt;Namun hal ini tidak aku ungkapkan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening diantara kami beberapa saat, tapi tiba-tiba saja tangan Dewi meraih tanganku,&lt;br /&gt;"Pak." Hanya itu yang keluar dari mulutnya&lt;br /&gt;Tatapan mata kami beradu, Aku melihat ada gairah disana, Aku balas meremas jarinya, Sentuhan halus kulitnya terasa menimbulkan percik-percik gairah di antara kami, Akhirnya aku beranikan diri untuk mengajaknya,&lt;br /&gt;"Wi, Bagaimana kalau kita diskusi langsung dengan praktek untuk meraih orgasme kamu?" suaraku terasa agak bergetar, mungkin agak canggung.&lt;br /&gt;"Terserah Bapak deh" jawabnya manja sambil mencubit tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucuk dicinta ulampun tiba, aku segera membayar makanan kami dan langsung menuju hotel, sepanjang jalan ke hotel, jari-jari kami saling bertaut mengantarkan kehangatan ke jiwa kami, Dan setelah sampai di kamar hotel yang asri, Kami lamgsung mulai.. Meskipun awalnya agak canggung, Namun akhirnya kami dapat menikmati semuanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam keadaan berpakaian, aku memeluk tubuh Dewi yang padat, bibir kami saling melumat lembut, kadang lidah kami saling kait dan saling dorong, sehingga gairah di dada kami semakin membuncah, Satu per satu pakaian kami bertebaran dilantai, seiring dengan nafsu kami yang semakin menggebu, Kini Seluruh organ tubuhku bekerja untuk memenuhi hasrat Dewi, aku rebahkan tubuh mulusnya di ranjang, sungguh pemandangan yang indah dan mendebarkan, dengan kulit tubuh yang putih bersih kontras dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya apalagi di kemaluannya yang begitu lebat menghitam. Aku langsung mengelus buah dadanya yang padat dengan lembut, sementara mulut dan lidahku menciumi dan menjilati centi demi centi tubuhnya tanpa terlewati,&lt;br /&gt;"Tubuh kamu bagus sekali, Wi!" Aku mencoba memberinya rasa percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Jilatanku sudah sampai pada vaginanya, aku sibakkan bulunya dengan lidahku, aku kemut lembut klitorisnya, kadang lidahku menusuk langsung vaginanya, Jari-jariku ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting buah dadanya yang semakin mencuat, Sehingga membuat Dewi mengerang dalam nikmat, Sementara Dewi pun tidak tinggal diam, dia balas mengelus dadaku, kadang ujung dadaku di pilinnya, Tangan yang satunya lagi meremas-remas dan mengocok senjataku sehingga semakin meregang kaku dalam genggamannya, Yang aku yakin berdasarkan ceritanya pasti punyaku lebih besar dari pada punya suaminya, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku lupa bahwa aku punya tugas untuk mengantarnya meraih orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Dewi sendiri yang tidak tahan dan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang senjataku untuk dibimbing kedalam liang surganya, Perlahan, centi demi centi, senjataku memenuhi rongga vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat disenjataku, Cengkraman vaginanya yang begitu kuat terasa mengurut senjataku, Dewi terus menggoyangkan pantatnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama Dewi berteriak histeris dan menggigit pundakku, tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas orgasmenya,&lt;br /&gt;Aku berhasil mengantarnya meraih orgasme, Tubuhnya diam sejenak diatas tubuhku.&lt;br /&gt;"Terima kasih, Pak" ia mencium keningku.&lt;br /&gt;"Saya masih mau lagi" ucapnya serak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh diluar dugaan, mungkin karena baru kali ini dia meraih orgasme, Dewi begitu liar, hanya beberapa detik, tubuhnya mulai bergoyang diatas tubuhku, Dan anehnya lagi, Hampir disetiap gaya Dewi bisa meraih orgasmenya begitu cepat, Mungkin ada 6 kali dia sudah orgasme tapi dia belum puas juga, sementara aku sendiri bersusah payah menahan orgasmeku, Aku benar-benar ingin memuaskan dahaganya, Apalagi saat gaya doggy, sambil meremas buah pantatnya yang bulat, aku benar-benar tak kuat lagi menahan semprotan dalam spermaku, sentuhan buah pantatnya di pangkal senjataku menambah sensasi tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wi, aku mau keluar, di dalam atau di luar?" sambil aku mempercepat kocokanku.&lt;br /&gt;"Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!" erangnya.&lt;br /&gt;Akhirnya Seluruh tubuhku bagai tersetrum nikmat, aku melepas orgasmeku, menyemburkan cairan hangat ke dalam kemaluan Dewi yang telah basah berbarengan dengan kedutan-kedutan kecil hangat dari dalam liang vagina Dewi.&lt;br /&gt;Yah, kami orgasme berbarengan, Sungguh nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Dewi kelihatannya belum puas juga, aku sampai bingung sendiri, biasanya istriku sekali orgasme tidak bisa lagi orgasme, Namun memang pernah aku baca ada wanita yang seperti Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya waktu jualah yang harus memisahkan kami, kembali ke kehidupan nyata, Aku dengan istriku dan Dewi dengan suaminya, Namun sejak saat itu hubungan kami semakin hangat membara, Ada satu kelebihan Dewi yang tidak bisa aku lupakan, Vaginanya sangat mencengkram meskipun sudah puluhan kali kami berhubungan, Pernah aku Tanya katanya dia sering minum jamu, Dan Dewi sendiri pun jelas sangat membutuhkan orgasme dariku, Karena terakhir cerita dia belum bisa meraih dengan suaminya, entahlah sampai kapan..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-3507145145197379852?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/3507145145197379852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/kepuasan-dalam-perselingkuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/3507145145197379852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/3507145145197379852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/kepuasan-dalam-perselingkuhan.html' title='Kepuasan Dalam Perselingkuhan'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TBJgAGJbLLI/AAAAAAAAAJY/pYijTcJFS4s/s72-c/c2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-1054549407202033688</id><published>2010-06-11T09:06:00.001-07:00</published><updated>2010-06-11T09:09:05.986-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Daun Muda'/><title type='text'>Keponakan Sopirku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TBJfaeuswTI/AAAAAAAAAJQ/2H6YkO0D8Yo/s1600/FunPhotoBox_011246chvwdf.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 239px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TBJfaeuswTI/AAAAAAAAAJQ/2H6YkO0D8Yo/s320/FunPhotoBox_011246chvwdf.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481548604993487154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Kisahku yang nyata kali ini tentang kebodohanku yang mudah2an tidak akan pernah terulang lagi,semoga. Namaku dita usia saat ini 20 th asli Bandung,tinggal di daerah Setiabudi Regency, dan saat ini kuliah sastra inggris semester 4 di salah satu pts Bandung, kisah ini pertama kali saya melakukan hubungan intim dengan laki2 usia 17tahun. Sesuai dengan kisahku di cerita berjudul" terangsang untuk pertama kalinya di usia 19 tahun.(akibat kepolosanku)"Kali ini kisah nyataku tentang keponakan Mang Sardi(sopirku yg beberapa bulan lalu menjadi objek seks ku) yang baru datang dari kampung,tepatnya dari daerah subang, sebut saja namanya Dedi(samaran)usia dia itu kira2 seumur 17 tahunan, dan disini ia hanya membantu2 karena ga ada biaya sekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal para pembaca tau saja kalo beberapa waktu lalu kami(saya dan mang sardi)sering melakukan suatu kegiatan seks semacam belai2an dan raba2an,tapi tetap mempertahankan kegadisanku,sampai kira2 pada bulan Agustus lalu saya masih mempertahankannya namun sejak kehadiran kemenakan Mang Sardi semuanya jadi berubah.. Kisahnya kira2 sbb : saat itu di rumah ga ada siapa2 karena semuanya menghadiri upacara 17 Agustus 2002 di balai kota(tempat papah kerja)dan hanya saya seorang,karena tugas disuruh jagain rumah sama papah sedangkan yang berangkat ke balai kota mamah-papah,adikku dan Mang Sardi(sopir kami) tiba2 tepat jam 9 pagi2 pintu diketok pas saya bangun tidur , dan saya punya kebiasaan kalo tidur hanya berpakaian daster saja,tanpa bh dan tanpa cd , langsung saya menuju ke bawah ternyata hanya seorang anak kira2 sma-an kalo ditaksir usianya mungkin 17 tahunan, lalu saya buka dan tanya mau ke siapa, dia jawab kalo dia itu mau ketemu pamannya yaitu Mang Sardi sopirku,lalu saya persilahkan masuk, dia memperkenalkan diri dengan nama Dedi(sengaja disamarkan)dan setelah itu (saya betul2 ga sadar kalo saya hanya berdaster saja karena bangun tidur)dia kupersilahkan duduk di ruang tamu dan sayapun ikut duduk sambil dia menjelaskan kedatangannya dan sedikit cerita2, disaat cerita2 gitu tatapan matanya tertuju terus ke pahaku yang saat itu memang agak keliatan karena daster yg kupakai hanya sejengkal diatas lututku apalagi saya ga pake cd saat itu memang agak transparan karena bahan dasternya tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya hanya menutupkan kedua kaki ini saat itu. Lalu saya jelaskan kalo mau menginap disini harus bisa beres2 alias kerja dan diapun menganguk,lalu saya suruh dedi menyapu ruangan tamu untuk pertama kalinya dia disini sambil saya minta ijin untuk mandi. setelah saya habis mandi saat itu kira2 jam 10 pagi saya liat Dedi beres menyapu dan dia kupersilahkan untuk tidur di ruangan atas yang memang telah dipersiapkan oleh mamah untuk kamar tamu yang berdekatan sekali dengan kamarku yang hanya dibatasi dinding tripleks karena semula itu satu ruangan dengan kamarku,karena terlalu besar jadi dibagi dua. setelah dia masuk kekamar itu,kemudian saya ke kamarku untuk berpakaian sambil melepaskan handuk yg tadi melilit ke tubuhku, disaat saya akan memakai bh tiba2 Dedi lewat di depan pintu kamarku yang agak terbuka sedikit dan dia sempat melirik ke kamarku, saya sendiripun jadi malu sekali saat itu dan refleks menutup pintu itu dengan kakiku karena pas dia liat saya hanya bertelanjang dada dan tidak pake apa2. pas sudah berpakaian gitu saya pun ke bawah yang ternyata saya liat Dedi lagi menonton acara tivi di ruang keluarga sambil duduk bersila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya pun menyapanya dan menawarkan makan kalo2 dia belum makan. dia menggeleng dan tersenyum lalu saya pun ikut nonton tivi bersamanya,hanya saya diatas kursi panjang disebelah kiri dia bersila. saat itu jam dinding menunjukkan pukul 11 siang dan terdengan phone bunyi disampingku ketika saya angkat ternyata papah dan papah bilang beliau akan ke rumah tanteku yang kebetulan dekat dengan lokasi balai kota dan akan pulang kira2 magrib,jadi waktu begitu panjang dari jam 11 sampe magrib,saya tidak kasih tau kalo Dedi kemenakan Mang Sardi ada disini karena lupa. Setelah saya meletakkan gagang telepon saya tanya ke Dedi begini"kamu bisa memijit kaki mbak ngga?" dia jawab"mmm....blum pernah mbak soalnya dikampung Dedi hanya bertani"katanya jujur. saya tersenyum dan bertanya lagi"gini Ded, mbak tadi malem udah pulang dari kampus jadi kaki pegel2 karena naik turun tangga,Dedi mau ga pijitin kaki mbak??" lalu"saya akan coba mbak"katanya lagi. saat itu saya berpakaian kaos oblong dan celana hawai karena santai ga akan kemana-mana,setelah itupun saya menjulurkan kedua kaki sambil tetep duduk di kursi panjang dan Dedi dibawah sambil bersila menghadap ke arah kaki dan mulai memijatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil dipijat begitu saya menyandar ke sandaran kursi sambil terpejam beberapa detik,kalo diperhatikan si dedi itu hitam manis sesuai dengan wajah polosnya seorang abg hanya saja dari kampung jadi tangannya agak kasar mungkin banyak kerja kasar dikampungnya. tapi walau kasar tangannya itu,disaat memijat kaki ku terasa enak,dan sesekali saya lirik dia terkadang melihat celah celana hawaiku,dan kadang melihat celah ketiakku yang mungkin terlihat pinggiran payudaraku yang putih mulus dan itu yang membuatku tambah penasaran untuk terus menyuruhnya memijat lebih jauh lagi seperti yang dilakukan sama pamannya yaitu Mang Sardi. Sewaktu saya memejamkan mata untuk beberapa saat ternyata yang saya rasakan tangan kanannya sudah ada di atas lututku sebelah kanan dan hampir mengenai pahaku yang paling dalam sejenak saya merasa geli dan sedikit menggerakan kaki kananku dan dia terhenti lalu bertanya"ada apa mbak??sakit ya"tanyanya polos,saya hanya menggeleng lalu bilang"ga apa2 Ded,teruskan saja deh!!enak kok jadi agak mendingan pegel2nya"jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah saya berkata begitu Dedi meneruskan pijatannya,kali ini giliran tangan kirinya masuk ke atas lutut kiriku dan kali itu dua2nya tangannya meremas dan meimjat-mijat pahaku dan rasanya nikmat sekali dan dia berlama-lama memijatnya ga tau kenapa dia seperti mempermainkan rangsanganku saat itu sehingga ga terasa kemaluanku mulai basah saat Dedi meremas kedua pahaku yang sesekali menyenggol kemaluanku. lama2 tubuh saya makin ga karuan ketika sesekali tangan itu menyenggol kemaluanku dan secara tak sadar saya menggerakan tubuh beraturan dan Dedi pun seakan menikmati pijatannya itu namun disadarkan dengan dering telepon sehingga terperanjat saya meraih gagang telepon yang ada disampingku tapi pijatan tangan Dedi di pahaku tidak berhenti malah dia meneruskannya dengan perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya jawab ternyata temenku si Asri yang mau main ke rumahku ,lalu aku jawab dengan tidak karuan(karena remasan dan pijatan Dedi semakin mendekati kemaluan yang masih ber CD) "jangan kesini Sri,soalnya aku lagi sibuk kerja"jawabku di phone lalu Asri mnengerti dan aku meletakan phonenya. sesaat Dedi terhenti dan bertanya"mbak mau pergi???kalo gitu saya berhenti pijatnya mbak!!!",saya menggeleng dan bilang"jangan berhenti Ded, teruskan saja!!!"dia tersenyum dan menganguk lalu bertanya"mending badan mbak ikut dipijat,misalnya punggung atau bahu,gimana mbak???"justru itu yang ditunggu-tunggu,begitu kata hatiku saat itu, dan saya pun spontan melepaskan kaos oblongku dan celana hawaiku tanpa malu2 lagi karena saya pikir saat itu yang ada dihadapanku anak kecil lagipula toh Dedi ini kemenakannya mang Sardi, sopir keluargaku yang sekaligus pemuas rangsanganku disaat senggang. yang tersisa saat itu hanyalah celana dalam dan beha saja dengan posisi telungkup di atas kursi panjang saya suruh Dedi mulai memijat daerah punggungku, dan mulailah dedi memijatnya dari mulai kaki ke bahu dan sesekali ke pinggang mendekati pinggiran payudara sebelah dalam lalu satu saat saya bilang gini"tali behanya dilepas aja Ded,kalo kamu kagok" diapun melepaskannya pengait beha ku saat itu tanpa bilang apa2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan sesaat dia mengelus rata punggungku saat itu dia seperti sengaja memijat ke daerah dada kiriku dan sayapun agak memiringkan badan saat itu sehingga saat itu betul2 kejadian gila yang pernah kami lakukan,yaitu tangan kanan Dedi menyentuh payudara kanan dengan posisi badanku memiring dan terdengar nafas Dedi yang tidak beraturan dan cepat sambil sesekali tangan kanannya itu mengelus2 dada kananku lama,sementara tangan kirinya mengelus-elus pantatku yang masih bercelana dalam renda2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesaat saya mendongkakan wajah ke atas liat jam dinding sudah jam 12 siang,dan masih lama papah pulang pikirku saat itu,lalu ketika tubuh saya miring begitu lama2 saya menghadapkan badan ke atas seperti posisi tidur terlentang,masih di kursi panjang sementara si Dedi dihadapanku hanya melongo saja ketika secara menyeluruh melihat tubuhku setengah telanjang yaitu hanya bercelana dalam saja,putih mulus tanpa noda dengan bagian payudaraku memancung(bukannya sombong)tubuhku ini terawat dengan baik tiap hari Senin fitness di Eldorado,Bandung Utara,dengan rambut tergeraiku yang acak2an dan bagian kemaluanku yang kelihatan basah dibalik celana dalam renda2 semakin merangsang mata Dedi saat itu,asal tau saja kalo Dedi itu laki-laki kedua yang melihat bentuk tubuhku seperti itu setelah pamannya Mang Sardi,sopirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula Dedi mau menyudahinya namun saya menarik tangannya dan menyuruh untuk tetap di tempat,saat itu saya masih perawan tulen karena dengan pamannya saya hanya main belai-belaian saja,namun kalo teman2 kampusku cerita,mereka sudah pengalaman dalam berhubungan badan,sehingga menambah kepenasarananku untuk mencobanya,walaupun saya ga boleh pacaran sama mamah-papah,karena ketatnya disiplin keluarga kami,jadi apa salahnya mencoba dengan Dedi laki2 usia 17 tahun kemenakan Mang Sardi sopirku itu. walaupun banyak sekali teman2 laki2 yang mencoba mendekatiku tapi tidak berhasil karena selalu ditentang sama ortuku,jadi saya mencari pelarian ke orang yang dekat seperti Mang Sardi dan kebetulan kemenakannya, Dedi. Sesaat Dedi memandangi badan mulus saya ini sambil posisi berlutut saya bimbing tangannya itu ke payudara dan kusuruh dia belai2 disana sambil saya memejamkan mata,sementara diluar mulai turun hujan dan agak mendung sehingga lama2 saya merasa dingin dan mengajak Dedi ke ruang atas yaitu ke kamarku. Dedi menganguk dan kusuruh dia membawakan kaos oblong,beha dan celana hawai yang kulepaskan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya dikamar Dedi kusuruh membuka kemeja lusuhnya(kelihatan lusuh karena dari kampung)dia semula menolak karena malu, tapi aku bujuk sambil membelai rambutnya dia mau juga membukanya,sementara celana nya masih melekat dan terlihat kemaluannya tegang. saya tersenyum melihat itu. lalu saya raih kedua tangannya itu untuk naik ke ranjangku yang empuk dan Dedi nurut saja saat itu dan mulai kubimbing meraih pinggang dan payudaraku,dan saya merebahkan diri sambil tangan Dedi aktif membelai2 perut seperti memijat dan ke dada kiri kanan lalu lama2 turun tangannya ke kemaluan yang masih ber cd,dan aku suruh dia untuk menurunkan celana dalamku dia ga mau karena malu,dan aku turunkan sendiri celana dalamku saat itu dan mulailah Dedi memandang kemaluanku itu seperti terpana,mungkin belum pernah melihat sebelumnya saya pikir.dan memang hanya mang Sardi dan Dedi yang tau kemaluanku. O YA saat itu 11 hari setelah mens ku,jadi betapa menggebu-gebu gairah seks ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kemaluanku ini bulunya jarang dan indah seperti yang disebutkan mang Sardi beberapa waktu lalu,berwarna kemerahan dan agak putih warna sekelilingnya karena bulunya jarang,demikian kata teman2ku di kampus saat mandi bareng mereka(tentu saja teman2ku cewe semua)lalu saya suruh Dedi untuk mulai membelai kemaluanku saat itu semula Dedi malu2 tapi saya bimbing tangannya sehingga mau juga akhirnya,sambil sesekali kusuruh untuk menciumi kemaluanku dan payudaraku. Sempat terpikir olehku ketika Dedi mulai mengelus kemaluanku yang agak basah itu,untuk mengulum penisnya. Dedi adalah laki2 kedua yang membelai kemaluanku setelah mang Sardi, entah kenapa saya begitu pasrah dan ingin merasakan hubungan badan seperti yang dikatakan teman2 kampusku saat itu,dan saya hanya terpejam menikmati setiap jilatan,belaian dan remasan tangannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan-akan meminta Dedi untuk melakukan lebih dari sekedar belai-belai dan jilat-jilat.dengan bertelanjang dada yang kurus Dedi masih tetap bercelana panjang,terlihat dia mulai berani menaiki tubuh indahku ini waktu itu,dan saya terpejam menikmati gesekan jarinya di kemaluanku yang basah sekali dan ciuman mulutnya ke payudaraku yang semakin mancung dan keras itu, saya hanya terpejam dan sesekali mengeluarkan Suara ...ssss..ssss....a.h.h.h.....d ed...ded...seperti itu kira2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lama sekali Dedi bermain seperti itu dan dia mulai berani mencoba menciumi bibirku yang mungil ini tapi aku menolaknya untuk dicium hanya leherku saja yang menjadi sasaran Dedi saat itu dan benar2 menggairahkan rasanya,mungkin lebih nikmat ketimbang dengan Mang Sardi yang sudah tua itu. Dan diam2 saya membuka celana panjangnya yang hanya melepaskan pengait peniti saja(maklum dari kampung)dan ternyata dia ga pake celana kolor dan kelihatan sekali penisnya tegang dan ada basah berwarna bening yang ukurannya lebih kecil sedikit dibanding mang Sardi,saya lalu meraihnya dan mengusapnya lembut penis Dedi,dia menelan ludah dan memejamkan mata tanda terangsang dan menikmati setiap usapan lembutku saat itu,lalu saya tanya "kamu sudah pernah dipegang begini sama perempuan??"dia hanya menggeleng sambil memejamkan mata.saya tersenyum dan kembali mengusap penisnya dan mulai mengocoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disaat mengocok penisnya itu dia berhenti dari kegiatan meremas-remas tubuhku dan dia tertidur terlentang disampingku saat itu sambil mulutnya meracau tak tentu dan semakin lama kocokanku dia semakin bergetar tubuhnya dan mengeluarkan cairan sperma seperti ketika pertama kali saya mengocok kemaluan mang Sardi lalu kami berhenti beraktivitas sementara saya ambil minum ke bawah(haus)sambil bertelanjang saya lihat Dedi tertidur setelah mengeluarkan spermanya mungkin kelelahan.Dibawah saya nyalakan tivi, o ya saat itu sekitar pukul 15 sore hari dan hujan turun dengan deras sekali,sedangkan papah akan pulang sekitar magrib jadi ada waktu beberapa jam, begitu pikirku saat itu, yang masih jadi pertanyaan kepenasarananku saat itu ingin sekali mencoba berhubungan badan,yaitu memasukan burung Dedi ke kemaluanku..... setelah kira2 setengah jam saya nonton tivi sambil dibalut selimut tubuh telanjangku ini lalu saya ke atas dan saya lihat Dedi benar2 tertidur pulas,sekilas saya lihat wajahnya yang polos ciri khas abg , dia sama sekali polos tidak pake baju saya lihat kemaluannya tidak tegang lagi karena tertidur,lalu saya raih penisnya dan mulai memainkannya disaat dia tidur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekilas ingin merasakan mengemut dengan mulutku karena dengan mang Sardi saya merasa jijik untuk melakukannya sedangkan penis Dedi agak bersih dan mengkilap,saya mencoba memasukan penisnya itu ke mulut mungilku saat itu yang terasa masih belum tegang dan setelah untuk pertama kalinya saya mengemut penisnya terasa asin dan aneh rasanya tapi lama2 seperti menegang burung Dedi dan dia terbangun saat saya memaju mundurkan penisnya di mulutku...sambil sesekali meringgis dia seperti menahan nikmat,dan saya pun seperti bergairah kembali setelah tadi merasakan oprgasme dengan jari2 Dedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya ingin mencoba memasukan penis dedi ke kemaluanku yang selama ini belum pernah dicoba sama sekali, saya mulai mengarahkan penis dedi ke mulut kemaluanku dan mencoba memasukannya Dedi hanya terdiam dengan tingkah lakuku itu dan saya minta ke dia untuk ikut membantu memasukan penisnya ke kemaluanku..diapun ikut berpartisipasi mencobanya dan pada akhirnya berhasil masuk dengan susah payah dan rasanya sakit sekali walaupun penis Dedi tidak cukup besar tapi cukup perih rasanya saat itu semakin menusuk semakin perih tidak seperti bayanganku..dan disertai dengan jeritan kepedihanku maka mengalirlah darah perawanku yang cukup banyak ke seprai tapi semakin lama dedi mengenjotnya semakin nikmat rasanya tidak seperti ketika pertama kali Dedi merobeknya dan cukup lama kami melakukan gerak maju mundur badan, kira2 20 menit lalu ada semprotan nikmat dan menghangatkan di dalam kemaluanku itu pertanda sperma dedi keluar di kemaluanku tak lama akupun merasakan seperti ingin pipis dan nikmat sekali rasanya,akhirnya dedi melepaskan penisnya dari kemaluanku dan terkulai lemas disamping saya yang tidur diatas seprei penuh darah perawanku,sepintas saya menyesal dan sempat menangis disaat Dedi tidur,jam menunjukan jam 5 sore hari artinya papah akan pulang lalu saya bangunkan dia dan ganti seprei dengan yang baru dan Dedipun ke kamar sebelah untuk meneruskan tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas terpikir kenikmatan ini akibat dari perbuatanku yang tidak bisa menahan gejolak nafsu seks,dan saya ambil hikmahnya dari kejadian tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/274229548515917605-1054549407202033688?l=swingerpartner.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://swingerpartner.blogspot.com/feeds/1054549407202033688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/keponakan-sopirku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/1054549407202033688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/274229548515917605/posts/default/1054549407202033688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://swingerpartner.blogspot.com/2010/06/keponakan-sopirku.html' title='Keponakan Sopirku'/><author><name>JASA PIJAT</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TF2Z0WBB8-I/AAAAAAAAAK8/ud7J_1uSl4o/S220/n100000777994933_296.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TBJfaeuswTI/AAAAAAAAAJQ/2H6YkO0D8Yo/s72-c/FunPhotoBox_011246chvwdf.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-274229548515917605.post-4542832609705095498</id><published>2010-06-11T09:04:00.000-07:00</published><updated>2010-06-11T09:06:25.781-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Tukar Pasangan Asing</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;Nama saya Dikky, saya berumur 28 tahun, baru 3 (tiga) bulan bekerja di suatu perusahaan asing di Jakarta, atasan saya Mr. Richard Handerson, berasal dari Amerika, kira-kira berumur 40 tahun. Dalam waktu singkat Rich demikian teman-teman di kantor suka memanggilnya, telah sangat akrab dengan saya, karena kebetulan kami mempunyai hobi yang sama yaitu bermain golf. Perusahaan tempat kami bekerja adalah suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang advertising. Menurut cerita-cerita teman-teman istri Richard, yang berasal dari Amerika juga, sangat cantik dan badannya sangat seksi, seperti bintang film Hollywood . Aku sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan istri Richard, hanya melihat fotonya yang terletak di meja kerja Richard. Suatu hari saya memasang foto saya berdua denga Nina istri saya, yang berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya. Pada waktu Richard melihat foto itu, secara spontan dia memuji kecantikan Nina dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Richard sering melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Richard mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.&lt;br /&gt;"Dik, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nina juga, sekalian makan malam".&lt;br /&gt;"Lho, ada acara apa boss?", kataku sok akrab.&lt;br /&gt;"Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu".&lt;br /&gt;"Okelah!", kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Nina. Pada mulanya Nina agak segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah kuyakinkan bahwa Richard dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Nina mau juga pergi.&lt;br /&gt;"Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?".&lt;br /&gt;"Tau, katanya sih, ada proyek apa...., yang mau didiskusikan" .&lt;br /&gt;"Oooo..., gitu ya", sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit pipinya dengan gemas. Kalau melihat Nina, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu senam so..., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat kencang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TBJe1b6wgGI/AAAAAAAAAJI/9nWleX17Leg/s1600/robby-3some.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 241px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_LQJuhN4sac4/TBJe1b6wgGI/AAAAAAAAAJI/9nWleX17Leg/s320/robby-3some.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481547968583598178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Richard yang terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik, sementara Nina memakai stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Sesampai di Apertemen no.1009, aku segera menekan bel yang berada di depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yang sangat cantik, dengan tinggi sedang dan berbadan langsing, yang dengan suara medok menegur kami.&lt;br /&gt;"Oh Dikky dan Nina yah?,silakan. .., masuk..., silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Richard".&lt;br /&gt;Ternyata Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Richard. Dengan agak tergagap, aku menyapanya.&lt;br /&gt;"Hallo Mam..., kenalin, ini Nina istriku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Nina berkenalan dengan Lill
